NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Membunuh Kepercayaan

☘️ FLASHBACK

Di tengah belantara pedalaman yang terhampar luas, tempat lembaga pendidikan kepolisian itu berdiri, akses ke dunia luar terasa sangat terbatas.

Sinyal telepon seluler hampir tidak menjangkau wilayah asrama dan area latihan, terhalang oleh rimbunnya pepohonan tinggi dan kontur tanah yang berbukit‑bukit.

Bagi Zehar dan rekan‑rekannya, mendengar suara orang terkasih atau sekadar mengirim kabar singkat adalah kemewahan yang tidak bisa didapatkan setiap hari.

Satu‑satunya tempat yang memungkinkan untuk melakukan panggilan telepon adalah sebuah pos tugas yang terletak sekitar sepuluh kilometer dari pusat asrama, bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama satu setengah jam atau menggunakan kendaraan dinas jika ada kesempatan.

Karena keterbatasan waktu dan aturan yang ketat, kesempatan untuk pergi ke sana hanya diberikan sekali dalam dua minggu, dan bahkan itu pun harus mendapat izin tertulis dari komandan pengawas.

Pada hari libur yang langka itu, langit masih berwarna kelabu saat Zehar sudah bersiap berangkat.

Ia memakai sepatu bot yang sudah agak usang karena sering dipakai berjalan melintasi jalur berbatu dan berlumpur.

Di dadanya terasa campuran rasa lelah dan semangat. Lelah karena harus menempuh perjalanan jauh di tengah udara dingin pagi hari, namun bersemangat karena sudah lama sekali ia tidak bisa berbicara langsung dengan Alesha.

Selama ini komunikasi hanya lewat pesan singkat yang seringkali tertunda pengirimannya, tidak cukup untuk menyampaikan banyak hal atau sekadar mendengar nada bicara satu sama lain.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, ia akhirnya tiba di pos tugas itu.

Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu dengan satu buah ponsel genggam tua yang di letakkan di dinding ruang petugas jaga. Posisi yang paling aman untuk mendapatkan jaringan.

Zehar menunggu gilirannya dengan sabar, jantungnya berdebar sedikit lebih kencang.

Ia sudah menghitung‑hitung jam di kepalanya, jika tidak salah, di kota tempat Alesha tinggal saat ini pukulnya sudah menunjukkan lewat pukul empat sore.

Berdasarkan kebiasaan yang ia ingat selama masih berkuliah bersama, pada jam‑jam seperti itu Alesha biasanya sudah selesai mengikuti kuliah, memiliki waktu luang untuk beristirahat di rumah atau sekadar membaca buku.

Ia yakin gadis itu pasti akan mengangkat teleponnya.

Begitu mendapat giliran, Zehar segera memutar nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Ia menempelkan ponsel itu ke telinga, mendengarkan nada sambung yang berdering lambat, satu kali, dua kali, terus berulang tanpa ada jawaban dari seberang sana.

Keningnya sedikit berkerut, ia mencoba lagi dengan menekan tombol panggil sekali lagi, berharap ada kesalahan sambungan.

Namun hasilnya tetap sama, telepon itu terus berdering hingga akhirnya terputus sendiri karena terlalu lama tidak diangkat.

“Sudah dicoba beberapa kali, Mas?” tanya petugas jaga yang duduk di dekatnya, melihat ekspresi Zehar yang mulai berubah.

“Sudah tiga kali, Pak. Tidak ada jawaban. Padahal jam segini biasanya dia ada waktu luang,” jawab Zehar dengan nada yang mulai terasa gelisah.

Ia masih menunggu sekitar sepuluh menit sebelum mencoba menghubungi kembali. Kali ini nadanya terdengar sama, tidak ada siapa pun yang mengangkat.

Di benaknya yang sudah terpisah jauh dari kenyataan baru Alesha, bermunculan berbagai pikiran yang tidak-tidak.

Selama ia mengenal Alesha, gadis itu adalah orang yang sangat teratur, jarang sekali meninggalkan panggilan tanpa alasan yang jelas.

Apakah ada hal yang terjadi?

Apakah dia sedang sibuk dengan hal lain, atau justru mulai berubah hati karena lamanya jarak yang memisahkan?

Pikiran‑pikiran negatif itu mulai menyelinap masuk, didorong oleh rasa rindu yang menumpuk dan ketidakpastian karena kurangnya informasi.

Tanpa ia ketahui, di tempat yang ribuan kilometer jauhnya, Alesha saat itu sedang berada di tengah kesibukan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Pukul empat sore adalah jam‑jam tersibuk di kafe tempat ia bekerja. Pengunjung mulai berdatangan banyak, terutama mereka yang pulang kerja atau sekadar ingin bersantai sambil minum kopi.

Ia sedang sibuk melayani pesanan, mengantar makanan ke meja, dan membersihkan bekas gelas yang kosong.

Ponselnya sengaja ia heningkan dan simpan di dalam laci ruang ganti agar tidak mengganggu pekerjaannya.

Ia benar‑benar tidak tahu bahwa saat itu Zehar sudah menempuh perjalanan jauh hanya untuk meneleponnya, menunggu dengan penuh harapan namun hanya mendapatkan keheningan di ujung sambungan.

Setelah hampir satu jam mencoba terus‑menerus namun tetap gagal, Zehar akhirnya harus menyerah.

Waktu yang diberikan untuknya sudah habis, ia harus segera kembali ke asrama sebelum larut malam dan melewati jalur hutan yang tidak aman jika gelap.

Dalam perjalanan pulang, pikirannya terus melayang ke mana‑mana. Ia merasa kecewa, bukan karena tidak bisa bicara saja, tapi karena ketidakjelasan yang menyelimuti hatinya.

Di benaknya terbentuk kesimpulan sepihak, jika Alesha memang benar‑benar memiliki waktu luang seperti yang ia bayangkan, pasti dia sudah mengangkat telepon.

Apakah gadis itu sudah mulai menganggap kehadirannya tidak lagi penting?

Apakah kehidupan baru di sana membuatnya melupakan janji yang pernah diucapkan bersama?

Dua hari kemudian, saat Alesha baru memiliki waktu luang dan menyalakan ponselnya, ia baru saja melohat pesan singkat yang masuk dari nomor Zehar, pesan yang ia sempat kirim dari pos hari itu.

Isinya singkat, namun nada katanya terasa berbeda dari biasanya.

Dari: Zehar

“Sudah berusaha menghubungi berkali‑kali tapi tidak ada jawaban. Jika memang sedang sibuk, beri tahu waktunya yang tepat. Jangan membuat saya menunggu tanpa kepastian.”

Membaca pesan itu, hati Alesha langsung terasa terenyuh sekaligus bingung.

Ia segera membalas dengan penjelasan sejelas mungkin, meski harus singkat mengingat menyesuaikan waktu Zehar yang keterbatasan dengan waktu.

Dari: Alesha

“Maafkan aku, sore sedang bekerja dan ponsel harus ku heningkan. Tidak tahu kamu akan menelepon. Bisa hubungi sekitar jam sebelas malam, aku sudah bebas dari segala kesibukan.”

Namun, balasan itu baru sampai ke tangan Zehar setelah lewat tiga hari lagi karena keterlambatan pengiriman jaringan.

Saat itu Zehar sudah terlanjur merasa kesal dan memendam rasa curiga.

Ia membaca kalimat 'sedang bekerja' dengan perasaan yang bingung.

Bekerja?

Sejak kapan Alesha mulai bekerja?

Selama ini dalam setiap kabar yang diterimanya, tidak pernah disebutkan hal itu. Ia hanya mendengar bahwa kuliah berjalan lancar dan keadaan keluarga baik‑baik saja.

Hal baru ini justru memicu lebih banyak pertanyaan di kepalanya.

Ketika akhirnya mereka bisa berbicara lewat sambungan telepon seminggu kemudian, percakapan itu tidak berjalan hangat seperti yang diharapkan keduanya.

Zehar membuka pembicaraan dengan nada yang terasa kaku, berbeda dari suaranya yang lembut dan penuh rindu biasanya.

“Jadi, kamu sekarang sudah mulai bekerja? Sejak kapan hal ini terjadi?” tanya Zehar langsung ke pokok permasalahan, tanpa basa‑basi.

Di ujung sana, Alesha terdiam sejenak. Ia menyadari ia tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya, namun kini harus menjelaskan di tengah kesalahpahaman yang sudah terbentuk.

“Sudah beberapa bulan terakhir, Zehar. Aku mulai bekerja paruh waktu agar bisa membantu kebutuhan hidup dan biaya kuliah.”

“Membantu kebutuhan hidup?” suara Zehar sedikit meninggi, terkejut sekaligus tidak mengerti.

“Selama ini kamu selalu bilang semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah. Kenapa tidak pernah kamu ceritakan bahwa kamu sudah harus bekerja? Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?”

Alesha menarik napas panjang, menahan rasa sesak di dada. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak ingin membebani, bahwa ia ingin Zehar fokus pada pendidikannya tanpa terganggu masalahnya, namun kata‑katanya terasa terhambat oleh nada bicara kekasihnya yang mulai terdengar menyalahkan.

“Bukan maksudku menyembunyikan, Zehar. Aku hanya ingin kamu tenang di sana, menjalani pelatihan dengan pikiran yang jernih. Aku sanggup mengurusnya sendiri, jadi tidak perlu kamu pikirkan,” jawab Alesha dengan suara yang sedikit bergetar.

“Tapi justru itu yang membuatku bingung dan curiga, Sayang.” bantah Zehar dengan nada yang makin terasa tajam, tapi perasaan khawatir yang lebih mendominasi.

Selama ini, yang ia tahu, Alesha tidak pernah menutupi apapun darinya.

“Kita adalah sepasang kekasih, bukan orang asing yang hanya bertemu sesekali. Jika ada perubahan besar seperti ini dalam hidupmu, seharusnya aku tahu. Hari ini kamu sibuk bekerja sehingga tidak bisa dihubungi, besok mungkin ada alasan lain lagi. Di sini aku sudah berjalan jauh, menahan lelah dan rindu hanya untuk mendengarkan suaramu, tapi apa yang kudapatkan? Ketidakjujuran dan penjelasan yang datang terlambat.”

“Kamu tidak mengerti kondisinya, Zehar!” jawab Alesha dengan suara yang sedikit meninggi karena tidak tahan lagi.

“Di sini tidak seperti dulu. Banyak hal yang berubah, dan aku berusaha menyelesaikannya dengan caraku sendiri agar tidak membebani siapa pun. Kamu justru berpikir macam‑macam tanpa tahu alasan yang sebenarnya!”

“Memangnya apa alasan yang cukup besar sehingga harus menyembunyikan hal penting seperti ini? Kalau tidak ada apa‑apa, mengapa harus ditutup‑tutupi?” balas Zehar tak mau kalah.

Percakapan itu berlangsung panas, keduanya sama‑sama memiliki alasan masing‑masing namun tidak mampu memahami sudut pandang satu sama lain.

Zehar yang berada jauh terjebak dalam ketidaktahuan, hanya bisa melihat potongan‑potongan informasi yang datang terlambat dan tidak lengkap, sehingga pikirannya terisi oleh dugaan‑dugaan yang salah.

Sementara Alesha, yang memikul beban berat sendirian, merasa usahanya menjaga ketenangan hati Zehar justru disalahartikan sebagai kebohongan dan pengingkaran.

Ketika waktu bicara yang terbatas itu akhirnya habis dan sambungan terputus secara tiba‑tiba karena sinyal yang melemah, hati keduanya terasa berat dan terluka.

Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan tuntas, hanya rasa kesal dan salah paham yang tersisa.

Zehar kembali ke asrama dengan perasaan gelisah, memendam keraguan yang perlahan tumbuh di hatinya.

Alesha pun menangis sendirian di kamarnya yang sempit, merasa bahwa jarak tidak hanya memisahkan tubuh mereka, tapi mulai perlahan membangun tembok pemisah di antara hati yang dulu terasa begitu dekat.

Sejak hari itu, kesalahpahaman‑kesalahpahaman kecil mulai menumpuk menjadi beban yang semakin berat.

Setiap kali ada kesulitan komunikasi, Zehar selalu mengaitkannya dengan dugaan yang sudah terbentuk, sedangkan Alesha merasa usahanya dijaga tidak pernah dihargai.

Jarak yang terpisah ribuan kilometer itu perlahan berubah menjadi jarak batin yang mulai membunuh kepercayaan dan kehangatan hubungan yang telah mereka bangun selama bertahun‑tahun.

 

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!