NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bisikan di Antara Botol Kuno

Bab 16: Bisikan di Antara Botol Kuno

​Aroma kayu cendana dan sisa tembakau mahal yang menguar dari jas wol Adrian langsung membungkus indra penciuman Aline. Hawa hangat dari dada bidang sang mafia yang menempel di punggungnya terasa begitu nyata, kontras dengan lantai beton bawah tanah yang sedingin es. Aline memaku tubuhnya, membiarkan napasnya sengaja memburu pendek dan tidak teratur—sebuah respons biologis yang pas untuk seorang gadis desa yang sedang ketakutan sekaligus canggung karena dipeluk oleh majikannya yang paling ditakuti.

​Di bawah remang lampu kuning yang bergantung di langit-langit bunker, keheningan merayap di antara ribuan botol wine kuno. Tidak ada suara langkah kaki pengawal, tidak ada deru mesin dari atas. Hanya ada suara helaan napas mereka berdua yang menciptakan kepulan uap putih tipis di udara dingin.

​"T-Tuan Besar..." cicit Aline, suaranya bergetar halus di balik kacamata tebalnya yang mulai berembun. Ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit ke depan, berpura-pura sungkan. "M-Maaf... posisi begini ndak sopan sekali. Saya ndak pantes bersandar di tubuh Tuan Besar... Nanti baju Tuan kotor kena apron saya..."

​"Kubilang diam, Nona Sanyoto," potong Adrian. Suara baritonnya yang berat terdengar bergema rendah langsung di belakang kepala Aline, mengirimkan getaran tak kasat mata ke tengkuk gadis itu. Cengkeraman tangan Adrian di bahu Aline justru semakin mengetat, mengunci tubuh mungil itu agar tetap menempel erat pada kehangatan tubuhnya. "Jika kau bergeser sepuluh senti saja dari sudut ini, embusan sirkulator udara dingin di atas akan membuatmu terkena hipotermia dalam waktu tiga puluh menit. Aku tidak butuh pelayan yang mati di gudangku."

​Aline akhirnya memilih patuh, merapatkan tubuhnya ke dada Adrian sembari memeluk lututnya sendiri di balik selimut jas wol hitam itu. Namun, di dalam kegelapan matanya yang tersembunyi di balik lensa tebal, otak siber Aline sedang bekerja keras. Kedekatan fisik yang terpaksa ini memberikan keuntungan taktis yang jarang terjadi: ia bisa merasakan detak jantung Adrian secara langsung.

​Detak jantung pria itu konstan, kuat, dan tenang. Menandakan kontrol emosi yang luar biasa dari seorang pembunuh profesional. Namun, setiap kali embusan angin dingin menerpa rak kayu di depan mereka, Aline bisa merasakan otot dada Adrian sedikit menegang secara tidak sadar.

​"Tempat ini... mengingatkanku pada sesuatu," Adrian tiba-kira berbisik. Nada suaranya berubah, tidak lagi penuh dengan ancaman kejam yang biasa ia tunjukkan di ruang makan, melainkan dipenuhi oleh sejenis melankolia yang sangat dalam dan melelahkan. Pria itu seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri, melupakan sejenak bahwa gadis yang ia dekap hanyalah seorang pelayan udik dari desa.

​Aline memasang telinganya tajam-tajam. Ia tidak mengubah posisinya, tetap bersikap kaku. "M-Mengingatkan soal apa, Tuan Besar? Apa Tuan pernah kekunci di tempat dingin juga dulu?"

​Adrian terkekeh pendek, sebuah tawa hambar tanpa rasa humor yang terdengar sangat dingin. "Bukan terkunci. Tapi mengunci diri. Bertahun-tahun lalu... ada seorang wanita bodoh yang selalu menyelinap ke tempat terpencil seperti ini hanya untuk menyembunyikan tangisnya dari dunia. Dia selalu mengira aku tidak tahu."

​Jantung Aline berdesir tajam di balik rongga dadanya. Kak Rena.

​Ingatannya langsung melayang pada cerita-cerita lama di buku harian kakaknya. Rena Shandika adalah wanita yang kuat di depan umum, namun ia memiliki kebiasaan menyendiri di ruangan-ruangan sunyi dan dingin jika beban emosinya sebagai tangan kanan klan mafia sudah terlalu berat. Apakah Adrian sedang membicarakan kakaknya?

​"W-Wanita itu... siapa, Tuan Besar? Apa dia... Ibu dari Tuan Muda dan Nona Muda?" Aline sengaja memancing dengan pertanyaan polos yang wajar ditanyakan oleh orang luar yang penasaran.

​Adrian terdiam cukup lama. Keheningan di antara mereka mendadak terasa begitu pekat dan menekan. Aline bahkan bisa merasakan detak jantung Adrian sempat melompati satu ketukan—sebuah fluktuasi emosional yang sangat langka dari sang predator tertinggi.

​"Dia bukan ibu mereka," jawab Adrian pendek, suaranya mendadak kembali dingin dan menutup rapat celah emosi yang sempat terbuka tadi. "Dia hanya masa lalu yang sudah membusuk di tanah. Dan aroma tubuhmu semalam di perpustakaan... formula minyak sialan itu... mengapa kau memakainya?"

​Pertanyaan Adrian beralih menjadi interogasi psikologis yang tajam. Tatapan matanya yang hitam kelam menunduk, menguliti wajah Aline dari atas.

​Aline sudah mengantisipasi hal ini. Ia menenggelamkan separuh wajahnya di balik kerah jas wol Adrian, berpura-pura sedih. "I-Ini minyak kelapa campur melati liar, Tuan... Mendiang ibu saya yang buat di desa dulu sebelum meninggal. Di desa saya, pohon melati liar tumbuh banyak di dekat kuburan tua. Ibu bilang, wanginya bisa menenangkan pikiran kalau kita lagi capek kerja di ladang... S-Saya ndak tahu kalau Tuan Besar ndak suka baunya. Mulai besok saya ndak akan pakai lagi, Tuan..."

​Adrian menatap lekat-lekat ke arah kacamata tebal Aline. Alasan itu terdengar sangat masuk akal bagi seorang gadis desa yang miskin dan tak punya modal untuk membeli parfum modern. Namun, bagi Adrian, kebetulan ini terasa terlalu mengiris hatinya. Mengapa wangi yang dibawa oleh gadis udik ini harus sama persis dengan wangi terakhir yang melekat di tubuh Rena di malam berdarah itu?

​Perang batin di dalam kepala Adrian membuat pria itu tanpa sadar menundukkan kepalanya lebih dalam, menghirup lamat-lamat aroma melati yang menguar dari rambut Aline demi mencari sisa-sisa kedamaian emosional yang telah hilang dari hidupnya selama bertahun-tahun. Rasa nyaman psikologis yang dibawa oleh kehadiran Aline perlahan-lahan membuat kelopak mata sang mafia yang biasanya selalu waspada itu mulai terasa berat. Kelelahan setelah berhari-hari mengurus konflik klan mafia dan dokumen korporasi akhirnya mencapai titik jenuh di bawah efek penenang alami dari aroma tersebut.

​Dua jam berlalu dalam keheningan yang membeku.

​Di atas sana, di kamar monitor utama, Kenzo akhirnya menekan tombol Enter di tabletnya untuk mengembalikan pasokan listrik dan membuka kunci gerendel hidrolik pintu bunker bawah tanah, setelah merasa "waktu isolasi" yang mereka berikan sudah lebih dari cukup untuk membuat ayah mereka melunak.

​Klak! Klak! BZZZT!

​Lampu indikator digital di atas pintu baja mendadak berubah menjadi warna hijau cerah, dan pintu hidrolik yang tebal itu perlahan bergeser terbuka dengan suara desis udara yang keras.

​"Tuan Besar! Anda di dalam?!" Suara panik Pak Yusuf menggema di koridor semen, diikuti oleh langkah kaki tergesa-gesa dari empat pengawal bersenjata lengkap yang langsung merangsek masuk dengan lampu senter taktis yang menyala terang.

​Namun, begitu sorot lampu senter mereka menerangi sudut kanan ruangan, seluruh pengawal dan Pak Yusuf langsung menghentikan langkah mereka, membeku di tempat dengan mata terbelalak karena terkejut.

​Di sudut ruangan yang dingin itu, Adrian Dirgantara—sang bos mafia kejam yang tak pernah membiarkan siapapun berada di dalam jarak satu meter dari zona amannya—sedang tertidur dengan posisi duduk yang sangat tenang. Kepalanya miring, bersandar sepenuhnya di atas bahu mungil Aline Shandika. Jas wol hitam mahalnya menyelimuti tubuh mereka berdua, dan yang paling membuat Pak Yusuf syok adalah: jemari tangan kanan Adrian yang besar dan kekar itu sedang bertautan erat dengan jemari tangan kiri Aline di bawah lipatan kain jas, seolah-olah pria itu takut jika gadis desa itu akan pergi menghilang begitu ia membuka mata.

​Aline hanya bisa memasang wajah super canggung, pucat, dan pura-pura gemetar di balik kacamatanya, menatap Pak Yusuf dengan pandangan memelas seolah-olah ia baru saja melakukan kejahatan internasional terbesar abad ini.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!