Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebiasaan Aneh Star
Awalnya semua orang mengira kejadian di arena beberapa hari lalu hanyalah kebetulan. Star memang terkadang sulit ditebak. Sebagai kuda juara, ia memiliki ego yang besar. Tidak jarang ia menolak latihan jika suasana hatinya sedang buruk. Kadang ia sengaja memperlambat langkah, kadang mengabaikan perintah pelatih, atau berdiri diam seolah tidak peduli pada siapa pun. Namun selama bertahun-tahun, satu hal tidak pernah berubah. Star selalu patuh pada Noah.
Mereka tumbuh bersama. Noah yang memilihnya sejak masih kecil. Noah yang melatihnya. Noah pula yang membawanya meraih kemenangan demi kemenangan hingga nama Star Blackwood dikenal di dunia berkuda nasional. Karena itu, tidak ada seorang pun yang mengira hubungan mereka bisa berubah.
Namun kali ini...ada sesuatu yang berbeda. Dan semakin hari, semakin aneh.
Pagi itu Noah sudah berada di arena sejak pukul enam. Kabut tipis masih menggantung di atas padang rumput Blackwood Ranch. Udara dingin menusuk kulit, sementara embun masih menempel di pagar-pagar kayu yang mengelilingi arena latihan. Beberapa pelatih senior berdiri di pinggir arena sambil mengobrol pelan.
Di tengah arena, Star tampak gelisah. Kuda hitam besar itu terus menghentakkan kaki depannya ke pasir.
Satu kali, dua kali, lalu semakin sering. Ekornya bergerak tidak sabar. Telinganya bergerak ke belakang, tanda bahwa ia sedang tidak nyaman.
Noah berdiri tepat di sampingnya. Tangannya mengusap leher Star perlahan. "Ada apa denganmu?"
Biasanya Star akan mendengus pelan lalu tenang. Tetapi kali ini...ia justru mengibaskan kepalanya keras.
Hampir mengenai wajah Noah.
Noah mengernyit. Sudah tiga hari ini Star menunjukkan perilaku yang aneh. Nafsu makannya normal, tubuhnya sehat, tidak ada cedera. Tetapi suasana hatinya berubah drastis. Ia menjadi mudah marah, mudah gelisah, dan yang paling aneh...ia seperti menolak disentuh.
"Tenang," kata Noah lagi. Suaranya tetap rendah dan tegas.
Ia mengambil tali kekang, mengusap moncong Star, lalu perlahan menaiki pelana. Baru saja ia duduk dengan sempurna...Star tiba-tiba melonjak.
"Whoa!"
Tubuh besar itu berdiri dengan kedua kaki depannya terangkat tinggi. Noah berusaha menyeimbangkan tubuh. Namun Star kembali melonjak lebih keras.
Brak!
Noah terlempar dari pelana dan jatuh ke pasir. Suara benturan membuat semua orang terkejut.
Beberapa pelatih berlari mendekat.
"Tuan Noah!"
"Anda tidak apa-apa?"
Pasir masih beterbangan di udara ketika Noah mendarat dengan bahu lebih dulu. Rasa nyeri menjalar di lengan kirinya, tetapi ia mengabaikannya. Dengan satu gerakan cepat, ia bangkit berdiri lalu menepuk-nepuk jaket dan celananya yang dipenuhi pasir.
"Aku tidak apa-apa," ujarnya singkat.
Namun suaranya terdengar jauh lebih dingin dari biasanya. Ekspresinya berubah gelap. Rahangnya mengeras. Tatapan abu-abunya kembali tertuju pada Star yang kini berdiri di tengah arena. Karena ini pertama kalinya. Untuk pertama kalinya Star menjatuhkannya. Dan itu terjadi di depan banyak orang.
Selama bertahun-tahun mereka bekerja bersama. Noah mengenal setiap kebiasaan Star. Ia tahu kapan kuda itu lelah, kapan sedang ingin bermain, bahkan kapan ia hanya berpura-pura keras kepala untuk mendapatkan perhatian lebih. Star memang memiliki ego besar, tetapi ia tidak pernah menolak Noah, tidak pernah. Apalagi sampai menjatuhkannya dari pelana.
Itulah sebabnya keheningan yang muncul di arena terasa aneh.
Para pelatih saling pandang. Beberapa pekerja yang sedang mengangkut jerami berhenti berjalan. Bahkan Harold, pelatih senior yang biasanya santai, kini memasang wajah serius. Mereka semua menyadari satu hal yang sama, ada sesuatu yang salah.
Star mendengus keras. Suara napasnya terdengar berat, tatapannya liar, pupil matanya membesar. Ia mengibaskan kepalanya ke kanan dan kiri, surai hitamnya beterbangan mengikuti gerakan tubuhnya yang gelisah. Seolah tidak ingin disentuh siapa pun.
Seolah siapa pun yang mencoba mendekat akan dianggap ancaman.
Noah mengambil satu langkah maju. "Star."
Biasanya hanya dengan mendengar suaranya, Star akan langsung tenang. Tetapi tidak kali ini. Kuda hitam itu justru mundur beberapa langkah. Lalu menghentakkan kaki depannya keras ke pasir. Debu beterbangan, peringatan. Noah membeku untuk sesaat, ada perasaan asing yang menusuk dadanya.
Bukan marah, bukan kecewa. Melainkan... kehilangan.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa tidak dikenali oleh kudanya sendiri. Tatapan Star yang biasanya penuh kepercayaan kini berubah waspada. Seolah ada jarak yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka. Dan Noah tidak tahu kapan jarak itu muncul. Atau bagaimana cara menghilangkannya.
Suasana arena menjadi semakin tegang. Angin pagi berembus dingin melewati hamparan pasir. Tak seorang pun berani bergerak. Karena mereka semua sedang melihat sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan. Noah Blackwood. Pria yang selama ini dikenal mampu menaklukkan kuda paling liar sekalipun. Kini berdiri berhadapan dengan Star...dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa pelatih berlari mendekat. Noah langsung berdiri. Tidak terluka, tetapi ekspresinya berubah gelap. Karena ini pertama kalinya. Untuk pertama kalinya Star menjatuhkannya. Dan itu terjadi di depan banyak orang. Star mendengus keras, tatapannya liar. Seolah tidak ingin disentuh siapa pun.
"Kemungkinan dia stres." Salah satu dokter hewan berkata.
"Tidak." Pelatih senior menggeleng.
"Dia tidak terlihat stres."
"Kalau sakit?"
"Pemeriksaan kemarin normal."
Mereka berdiskusi hampir satu jam. Tetapi tidak ada jawaban. Star sehat, makan lahap, tidak demam, tidak cedera. Namun entah kenapa...ia berubah menjadi sangat sulit dikendalikan.
Hari berikutnya lebih buruk. Pelatih senior mencoba melatihnya. Star menolak, ia bahkan menggigit tali kekang sampai putus. Pelatih kedua mencoba, Star berdiri dengan dua kaki belakangnya. Pelatih ketiga mendekat, Star mengibaskan kepalanya dengan marah. Tidak ada yang berhasil.
Noah mulai kehilangan kesabaran. "Semua keluar." Suaranya dingin.
Para pelatih saling berpandangan, lalu meninggalkan kandang. Kini hanya Noah dan Star. Pria itu berdiri diam, menatap kuda kesayangannya.
"Kenapa?"
Star mendengus memalingkan kepala. Noah mengusap wajahnya. Sudah bertahun-tahun mereka bersama. Ia mengenal Star lebih dari siapa pun. Kuda itu keras kepala, sombong, kadang menyebalkan. Tetapi tidak pernah seperti ini. Dan yang paling membuat Noah frustrasi...ia tidak tahu penyebabnya.
Siang harinya Ellara datang membawa ember berisi apel. Ia tidak tahu Noah sedang berada di sana. Begitu melihat suasana kandang yang tegang, ia berhenti.
"Apa yang terjadi?"
Salah satu pekerja berbisik, "Star mengamuk lagi."
Ellara mengerutkan dahi, ia mengintip dari balik pintu. Noah sedang berdiri dengan wajah kesal. Sementara Star berjalan mondar-mandir. Telinganya tegak, tubuhnya tegang. Entah kenapa...Ellara merasa Star tampak gelisah. Bukan marah, bukan takut, tetapi seperti sedang mencari sesuatu. Ia membuka pintu perlahan. Noah langsung menoleh.
"Jangan masuk."
Tetapi Ellara sudah terlanjur melangkah. Star yang tadinya mondar-mandir tiba-tiba berhenti. Kepalanya terangkat, tatapannya langsung mengarah ke Ellara. Beberapa detik hening. Lalu...kuda hitam besar itu berjalan mendekat. Perlahan, tenang.
Ellara tersenyum kecil. "Halo."
Ia mengulurkan tangan. Star mendengus pelan, lalu menggesekkan moncongnya ke telapak tangan Ellara.
Noah membeku. Para pekerja yang mengintip dari luar ikut terdiam. Ellara mengusap leher Star. Dan ajaibnya...seluruh tubuh kuda itu perlahan rileks. Ia tidak lagi gelisah. Tidak menghentakkan kaki, tidak memberontak. Hanya berdiri diam menikmati sentuhan Ellara.
Noah menatap pemandangan itu cukup lama. Sulit dipercaya. Karena lima menit lalu...Star hampir menendang pelatih senior. Tetapi sekarang...ia seperti anak kecil yang mencari perhatian.
Ellara menoleh. "Lihat? Dia baik-baik saja."
Noah tidak menjawab. Karena yang ia lihat...bukan Star yang baik-baik saja. Melainkan Star yang berubah ketika Ellara datang. Dan itu jauh lebih aneh.
Malam harinya Noah duduk di ruang kerja. Laporan kompetisi terbuka di mejanya. Tetapi ia tidak membaca satu kata pun, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan. Kenapa Star hanya mendengarkan Ellara?Ia mencoba mencari penjelasan. Mungkin kebetulan. Mungkin karena Ellara sering merawatnya. Tetapi semakin dipikirkan... semakin tidak masuk akal. Karena Star bahkan tidak sepatuh itu pada dirinya.
Noah menyandarkan kepala ke kursi. Lalu mengingat kejadian siang tadi. Cara Star berjalan mendekati Ellara. Cara ia menundukkan kepala. Cara ia menjadi tenang. Seolah...Ellara adalah tempat yang paling aman baginya. Dan entah kenapa...Noah merasa sedikit iri.
Di sisi lain mansion... Bianca sedang meminum teh sore bersama Edward Blackwood.
"Aku dengar Star kembali bermasalah."
Edward mengangguk.
"Noah sedang pusing."
Bianca tersenyum kecil.
"Tapi anehnya..." Ia berhenti sejenak. "Kudanya justru tenang saat Ellara ada."
Edward mengangkat alis. "Pekerja baru itu?"
"Ya."
Bianca mengaduk tehnya perlahan. Tatapannya menerawang. Sebenarnya ia sudah beberapa kali melihat sendiri. Saat Ellara datang...Star berubah. Dan bukan hanya Star. Noah juga. Pria itu lebih sering tersenyum, lebih sabar, lebih banyak bicara hal-hal kecil. Tetapi cukup membuat Bianca merasa asing.
Karena selama bertahun-tahun...ia tidak pernah melihat Noah seperti itu.
Bianca meletakkan cangkirnya, lalu tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya tidak sepenuhnya tenang. Kenapa Star hanya mendengarkannya? Dan...kenapa Noah mulai terlihat seperti pria yang berbeda sejak Ellara datang? Bianca belum tahu jawabannya. Tetapi untuk pertama kalinya...ia benar-benar ingin mencari tahu. Karena firasatnya mengatakan...Ellara Dawson akan menjadi masalah yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.