membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
...16: AKADEMI BELA DIRI GUNUNG LANGIT...
...****************...
"Hah... Malam ini perutku benar-benar kenyang untuk memulai kembali perjalanan, aku sangat malas bergerak melanjutkan perjalanan!." ucap Kenzie sembari menepuk perutnya yang sudah kembali rata berkat kecepatan regenerasi tubuhnya.
"Kenzie... kamu benar-benar seorang monster sejati," gumam Rava sembari menggelengkan kepala kagum, menatap sisa-sisa tulang banteng bertanduk baja yang sudah bersih tak tersisa di tangan Kenzie.
Kenzie menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Eh? Apa maksudmu? Aku sedikit terkejut mendengarnya!" Padahal di dalam hatinya, ia tersenyum puas sebab mendapatkan pujian dari orang lain.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedang memuji kekuatanmu yang di luar nalar itu," kata Rava meluruskan agar tidak menyinggung pemuda kuat di depannya. "Oh iya, Kenzie. Jika boleh tahu, setelah keluar dari hutan ini, sebenarnya tujuan perjalananmu mau ke mana?"
Kenzie memegang dengkulnya lalu melirik ke arah langit malam yang bertabur bintang. Ia tampak berpikir keras, merenungi titah Arvendel. "Hmmm... Sepertinya aku belum menemukan tempat tujuan yang pasti."
Mendengar hal itu, mata Rava seketika berbinar. "Kalau begitu, karena kami berdua sedang dalam perjalanan pulang menuju Akademi Bela Diri Gunung Langit, bagaimana jika kamu ikut bersama kami dan mendaftar sebagai murid baru di sana? Kebetulan sekali akademi sedang mengadakan pendaftaran murid baru tanpa batas usia besok. Jika kamu belum bernaung di sekte atau perguruan manapun?, tempat kami adalah pilihan terbaik!" ajak Rava mencoba merayu Kenzie agar mau ikut.
"Benar! Bagaimana kalau kamu ikut kami saja?" sahut Liera ikut mengompori dengan antusias. "Jika kamu masuk ke Akademi Gunung Langit, kita akan sering bertemu, berlatih bersama, bahkan bisa mengambil misi berburu bersama. Bagaimana? Apakah kamu tertarik?"
Kenzie mengetuk-ngetuk dagunya secara perlahan. Master memang menyuruhku masuk ke akademi, dan kebetulan dua orang ini menawarkan jalan. Kurasa tidak ada salahnya, batin Kenzie.
"Mmm... Bagaimana, ya? Memang saat ini aku tidak terikat di akademi mana pun, tapi... Ahh, sudahlah! Aku akan ikut kalian saja, lagipula aku memang tidak memiliki arah tujuan yang pasti," jawab Kenzie apa adanya dengan raut wajah polos.
Mendengar keputusan Kenzie, Rava dan Liera saling memandang dan kompak menganggukkan kepala penuh kemenangan. Di dalam benak mereka, mereka sangat senang karena berhasil membawa seorang pemuda jenius yang sangat kuat untuk bergabung ke akademi. Mereka berharap tindakan ini bisa membuat mereka mendapatkan pujian atau hadiah dari guru mereka.
...----------------...
Berselang beberapa menit kemudian, saat mereka bertiga sedang asyik mengobrol santai di dekat sisa api unggun, hawa dingin di sekitar hutan mendadak bergeser. Desiran angin malam membawa keharuman kelopak bunga yang lembut.
Dari kegelapan vegetasi, muncul sesosok wanita muda berkuncir kuda dengan langkah kaki yang teramat anggun. Rambut panjangnya yang berwarna merah muda tampak berkilau indah di bawah terpaan cahaya bulan, membingkai wajahnya yang cantik namun memancarkan ketegasan seorang petarung papan atas. Wanita anggun itu sengaja datang ke perbatasan hutan untuk menjenguk kedua juniornya yang tak kunjung kembali dari misi berbahaya.
"Ternyata, kalian berdua malah sedang duduk santai dan bersenang-senang di tempat berbahaya ini," ucap wanita berambut merah muda itu. Sosoknya tidak lain adalah Wulan Tsuyoki.
Melihat kedatangan wanita asing yang luar biasa cantik itu, Kenzie sama sekali tidak salah tingkah. Ia hanya memasang wajah datar yang terkesan abai, bersikap santai sembari terus mengunyah sisa potongan daging kecil di tangannya.
Berbanding terbalik dengan Kenzie, Rava dan Liera seketika gelagapan setengah mati. Tubuh mereka menegang, dan dengan terburu-buru mereka langsung berdiri lalu membungkuk hormat dengan sangat khusyuk. "Kak Senior Wulan!"
Kenzie hanya memperhatikan tingkah laku kedua temannya itu dengan tatapan heran dan tenang, seolah adegan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Sepertinya kalian berdua sudah mulai melupakan peraturan guru kalian di akademi, hingga berani bermalas-malasan di tempat seperti ini," sebuah suara wanita yang lebih matang, sarat akan wibawa dan tekanan batin yang kuat, mendadak terdengar dari arah belakang Wulan.
Sesosok wanita paruh baya dengan pakaian jubah sutra yang elegan melangkah maju. Wanita itu memiliki aura kultivasi yang sangat padat, memancarkan tatapan mata yang mendominasi dan mengintimidasi siapa saja yang melihatnya.
"Master?!" ucap Rava dan Liera serentak dengan nada suara yang bergetar ngeri saat melihat kedatangan guru kandung mereka.
"Sedang apa kalian di sini? Dan kenapa berlama-lama di hutan yang penuh dengan ancaman binatang buas ini?!" tanya wanita itu dengan nada tegas tanpa toleransi.
Di saat Rava dan Liera gemetar ketakutan, Kenzie justru menunjukkan tabiatnya yang paling menyebalkan. Dengan santainya, ia duduk selonjoran sembari mengorek telinganya, lalu berganti mengorek hidungnya dengan wajah polos tanpa dosa, seolah-olah mengabaikan kehadiran sosok ahli beladiri kuat yang ada di hadapannya.
Mata tajam wanita itu seketika tertuju pada Kenzie. Di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya mengapa ada seorang pemuda asing yang bisa bersikap se-relaks dan se-acuh ini di bawah tekanan auranya yang sengaja dilepaskan tipis-tipis.
Penasaran, wanita itu berinisiatif untuk membuka komunikasi terlebih dahulu. "Oh? Siapakah nama pemuda gagah perkasa yang ada di hadapanku ini? Jika boleh tahu, siapa namamu, Nak?" tanya wanita tersebut dengan nada menyelidik.
Kenzie menguap lebar, menatap wanita itu dengan wajah mengantuk yang teramat menyebalkan. "Anda bisa memanggilku Kenzie," jawabnya singkat dan luar biasa polos.
Bocah yang aneh. Auranya tidak terbaca, penampilannya juga sangat biasa dan tidak terlihat seperti keturunan klan mewah, batin wanita itu sembari memberikan penilaian instan terhadap fisik Kenzie. Ia kemudian tersenyum elegan. "Perkenalkan, namaku Helena, salah satu Master Guru di Akademi Gunung Langit. Dan di sebelahku ini adalah murid bimbingan kesayanganku, Wulan Tsuyoki."
Mendengar nama Wulan disebut, Kenzie tidak terlalu memedulikan perkenalan Helena. Fokus matanya justru bergeser seratus persen menatap lekat pada gadis berambut merah muda di sebelah Helena. Pada awalnya, Kenzie menganggap kedatangan Wulan sedikit mengganggu waktu santainya, namun melihat keanggunan dan tatapan dingin Wulan yang tampak "tidak tersentuh", jiwa lelaki Kenzie mendadak merasa tertantang. Ia mendadak tertarik untuk mendekati gadis itu.
Melihat perilaku Kenzie yang teramat buruk dan tidak sopan karena mengabaikan kata-katanya, Helena mencoba menahan diri dan menghiraukannya. Namun, satu detik kemudian...
Srett!
Secara mengejutkan, Kenzie langsung berdiri tegak, membuang semua tampang menyebalkannya, lalu membungkuk memberi hormat dengan gerakan yang teramat sempurna dan penuh tata krama di hadapan Helena. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat demi melancarkan rencana terselubung di otaknya.
"Salam hormat setinggi-tingginya dariku untuk Master Helena yang agung dan menawan! Semoga kemurahan hati Anda sudi menerima hamba yang penuh kekurangan ini untuk diangkat menjadi murid Anda!" ucap Kenzie dengan suara yang dibuat-buat se-antusias mungkin.
Helena langsung tertegun, menatap Kenzie dengan raut wajah terheran-heran. Bagaimana bisa seorang pemuda yang sedetik lalu terlihat seperti berandalan malas yang hobi mengorek hidung, tiba-tiba berubah menjadi pemuda berbakat yang penuh sopan santun?
Di dalam pikirannya, Kenzie diam-diam menyeringai nakal. Hehehe, jika aku menjadi murid wanita tua ini, bukankah artinya aku akan menjadi adik seperguruan si rambut merah muda ini? Jalan pintas yang sangat jenius! Kenzie menyusun rencana licik untuk bisa mendekati Wulan Tsuyoki.
"Jika tujuanmu adalah ingin menjadi murid pribadiku, sebaiknya kamu mendaftarkan diri secara formal terlebih dahulu di gerbang akademi esok hari. Tunjukkan bakat dan potensimu di depan para tetua, agar aku memiliki alasan yang kuat dan sah untuk menunjukmu sebagai muridku," ujar Helena memperjelas regulasi akademi dengan tegas.
"Master! Sebaiknya Anda langsung mengikat Kenzie menjadi murid Anda sekarang juga, sebelum guru atau tetua lain di akademi melihatnya dan merebutnya dari tangan Anda!" sela Rava dengan cepat, mencoba membantu temannya.
Helena menoleh, menaikkan sebelah alisnya heran melihat muridnya begitu menggebu-gebu. "Oh? Apa yang membuatmu begitu serius meyakinkanku untuk langsung menerimanya tanpa tes?"
"Master, Tuan Kenzie ini kekuatannya sangat mengerikan! Dia bahkan sanggup menghadapi tiga ekor Banteng Bertanduk Baja sekaligus! Hanya dalam sekali serang tanpa menghunuskan pedang, dia menumbangkan mereka semua hingga kami bisa memakan dagingnya malam ini!" sahut Liera ikut meyakinkan sang guru.
Helena sedikit terkejut mendengarnya, namun sebagai seorang Master tingkat tinggi, ia tidak ingin terlihat mudah terkesan. "Baiklah, kalau begitu kita semua kembali ke akademi terlebih dahulu malam ini. Soal urusan menerimanya sebagai murid atau tidak, kita lihat saja besok saat dia menunjukkan potensi aslinya di panggung ujian."
Perjalanan malam itu dilanjutkan bersama-sama keluar dari perbatasan Hutan Celestara menuju area kaki gunung, menuju tempat kompleks Akademi Bela Diri berdiri.
Sesampainya mereka di area gerbang luar tempat pendaftaran dan penginapan para calon murid baru, suasana tampak sangat ramai meski malam sudah larut. Banyak jenius dari berbagai wilayah berkumpul di sana untuk mempersiapkan ujian esok hari.
Namun, ketenangan rombongan Helena mendadak pecah ketika dari arah loket pendaftaran terdengar suara keributan yang teramat bising. Seorang pemuda berpakaian mencolok sedang berdebat heboh dengan petugas pendaftaran dengan gaya bicara yang sangat nyablak dan tanpa filter.
"Woy, Pak Tua! Jangan pelit-pelit lah dengan kuota kamar! Badan sekeren dan se-atletis aku masa disuruh tidur di barak kelas bawah?! tidak estetik sama sekali untuk calon pendekar nomor satu di benua ini!" seru pemuda itu dengan menggebu-gebu sembari berkacak pinggang.
Mendengar ocehan tanpa henti dan kalimat ceplas-ceplos dari pemuda asing itu, langkah kaki Kenzie seketika terhenti. Kenzie langsung memasang kembali wajah datarnya yang super menyebalkan, menatap malas ke arah sumber suara.
Sial... Baru juga sampai, kenapa aku sudah harus bertemu dengan orang yang jenis keanehannya setingkat master?. batin Kenzie sembari menghela napas panjang, menatap pemuda yang membuat kegaduhan tersebut
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..