NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. Kemenangan Kecil Kiera

"DADDY! Cukup ya! Jangan mulai deh!" raung Arsenio sekali lagi, kali ini sembari menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan. Suara baritonnya yang biasa sanggup mengintimidasi jajaran direksi direktur kini terdengar cempreng mirip remaja tanggung yang ketahuan menyimpan foto gebetan di bawah kasur.

Bima Yudhistira sama sekali tidak merasa bersalah. Pria paruh baya itu justru menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, melipat kedua tangannya di depan dada, dan tertawa puas hingga bahunya berguncang. "Lho, Daddy kan cuma menyapa tamumu, Arsen. Lagipula, jarang-jarang kan ada perempuan yang tahan bertaruh nyawa menghadapi anak manja gila kontrol seperti kamu?"

Kiera yang masih setia memegangi perutnya yang kaku karena terlalu banyak tertawa, berusaha keras menghentikan suaranya agar tidak dianggap tidak sopan. Namun, pemandangan CEO bertangan besi yang kini wajahnya sewarna kepiting rebus benar-benar terlalu berharga untuk dilewatkan.

“Mampus lu, singa sumbu pendek! Di kantor boleh jadi tiran, di rumah ternyata cuma jadi bahan bulian daddynya,” batin Kiera bersorak riang gembira.

Alea Yudhistira hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suami dan anaknya. Ia beralih menatap Kiera dengan pandangan keibuan yang sangat hangat, lalu menepuk ruang kosong di sofa tepat di sebelahnya. "Kiera, ayo duduk dulu di sini. Abaikan saja dua laki-laki stres itu. Anggap saja mereka pajangan dinding."

"Ah, iya, terima kasih, Ibu Alea," jawab Kiera santai. Dengan langkah anggun yang kontras dengan rasa canggung di hatinya, ia berjalan mendekat dan mendudukkan diri di sofa mewah yang rasanya selembut awan.

Arsenio yang melihat asistennya kini duduk berdampingan dengan sang Mommy langsung merengut ketus. Tingkat NPD-nya yang terusik membuat pria itu tidak mau kalah saing. Dengan gerakan cepat—namun sedikit tertahan karena perutnya masih agak linu—Arsenio ikut duduk di sofa tunggal di seberang mereka, sengaja menyilangkan kaki jenjangnya dengan angkuh dan menatap Kiera dengan pandangan menghakimi.

"Jangan pasang wajah sok polos begitu, Kiera. Kamu di sini hanya bertamu lima menit, setelah itu sopir akan mengantarmu pulang," ketus Arsenio, mencoba mengklaim kembali kekuasaannya yang sudah hancur lebur.

"Arsenio, jaga mulutmu ya. Tamu Mommy dilarang diusir," tegur Alea halus namun sarat akan ancaman mutlak. Alea kemudian menyodorkan secangkir teh melati hangat yang baru saja dituang oleh pelayan ke hadapan Kiera. "Diminum dulu, Kiera. Pasti lelah ya, menghadapi drama anak ini seharian?"

Kiera menerima cangkir porselen murni itu dengan hati-hati, menghirup aroma melati yang sangat menenangkan. "Terima kasih banyak, Ibu Alea. Sebenarnya tidak lelah kok, Bu. Hanya saja... malam ini memang penuh dengan kejutan alam yang cukup... dramatis." Kiera sengaja menekankan kata 'dramatis' sambil melirik Arsenio dari sudut matanya dengan kerlingan jahil.

Arsenio hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia tahu betul 'kejutan alam' yang dimaksud Kiera adalah insiden boker darurat dua ribu perak di pom bensin Sudirman. Tangannya refleks mengepal di atas lutut, matanya melotot memberi sinyal ancaman pembunuhan karakter jika Kiera berani melanjutkan kalimatnya.

Bima yang menyadari ketegangan aneh di antara keduanya langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja marmer. Seringai jahilnya belum luntur. "Kejutan dramatis apa, Kiera? Coba cerita ke Daddy. Siapa tahu Arsen berbuat bodoh lagi di luar kantor. Daddy siap memotong fasilitas kartunya lagi kalau dia macam-macam sama kamu."

Arsenio mematung, menatap Kiera dengan pandangan mata memohon tingkat dewa. Untuk kedua kalinya malam ini, harga diri sang tiran agung digantungkan sepenuhnya pada belas kasihan seorang asisten ugal-ugalan.

Kiera menahan senyum kemenangannya. Menikmati ekspresi ketakutan di wajah tampan Arsenio adalah kepuasan batin terbaik abad ini. Namun, karena ia masih menyayangi kelangsungan kariernya, Kiera memutuskan untuk kembali menjadi pahlawan palsu.

"Oh, itu... maksud saya, tadi di jalan ada sedikit kendala kemacetan total yang membuat Pak Arsenio sempat tegang, Bapak Bima," dusta Kiera dengan wajah tanpa dosa, lalu menyesap teh hangatnya dengan tenang.

Arsenio mengembuskan napas lega yang sangat panjang, bersandar pada sofanya dengan perasaan seolah baru saja lolos dari eksekusi mati. “Bagus, asisten sialan. Utang jas kamu malam ini saya potong sepuluh persen,” batin Arsenio tak tahu diri.

"Halah, paling-paling dia tantrum karena lapar atau ada hal tidak higienis yang menyentuh kulit sucinya," tebak Bima asal-asalan yang sialnya hampir mendekati kebenaran seratus persen. Bima kemudian terkekeh, berdiri dari duduknya. "Ya sudah, Daddy mau tidur duluan. Kiera, sering-sering main ke sini ya. Rumah ini butuh orang normal seperti kamu untuk menjinakkan singa manja ini."

"Baik, terima kasih, Bapak Bima. Selamat istirahat," jawab Kiera sopan.

Alea juga ikut bangkit, mengusap bahu Kiera dengan lembut. "Mommy juga ke kamar dulu ya, Kiera. Arsen, antarkan Kiera sampai ke mobil jemputan depan. Awas kalau kamu tinggal begitu saja!"

"Iya, Mom. Aku tahu," jawab Arsenio malas, menggunakan kata 'aku' dengan nada merajuk yang sangat tidak cocok dengan postur tubuhnya yang kekar.

Setelah kedua orang tuanya menghilang di balik tangga megah, atmosfer ruang tengah yang luas itu mendadak berubah menjadi medan perang dingin. Arsenio langsung bangkit berdiri, merapikan jas Tom Ford-nya yang kini sudah berbau samar asap pecel lele, lalu menatap Kiera dengan tatapan tiran andalannya yang telah kembali aktif.

"Sesi kunjungan resort gratis ini sudah selesai, Kiera Anandita," ucap Arsenio ketus, melangkah mendahului menuju pintu keluar. "Ikut aku ke depan sekarang."

Kiera meletakkan cangkir tehnya, lalu bangkit berdiri sambil merapikan gaun hijau zamrudnya. Ia mengekor di belakang punggung tegap sang bos, menyusuri kembali koridor mewah berlantai marmer yang super luas itu.

Begitu sampai di lobi teras depan, sebuah mobil sedan mewah milik keluarga Yudhistira sudah terparkir rapi dengan pintu penumpang yang sudah dibukakan oleh sopir pribadi keluarga.

Kiera bersiap melangkah masuk ke dalam mobil, namun sebelum ia sempat menginjakkan kakinya, Arsenio tiba-tiba menahan pintu mobil dengan satu tangan kekarnya, menghalangi jalur Kiera. Jarak mereka kembali mengikis, membuat Kiera mendongak menatap langsung ke dalam manik mata hitam pekat milik sang CEO.

"Malam ini... kamu sudah melakukan dua kebohongan publik di depan orang tua saya," desis Arsenio dengan suara bariton rendahnya yang kini terdengar sangat intim di bawah temaram lampu teras. Tingkat ego NPD-nya kembali merayap naik. "Jangan mengira saya akan berterima kasih secara resmi. Semua itu memang sudah menjadi kewajibanmu sebagai asisten pribadi untuk menjaga reputasi agung seorang Arsenio Yudhistira."

Kiera tidak gentar sedikit pun. Ia justru menaikkan dagunya, menatap Arsenio dengan senyuman miring yang sangat meremehkan. "Oh, benarkah begitu, Pak Bos yang paling sempurna? Padahal kalau bukan karena dua kebohongan saya tadi, reputasi agung Bapak sekarang sudah berubah jadi bahan lelucon grup WhatsApp keluarga Yudhistira, lho."

Arsenio tersentak, rahangnya mengeras menahan kesal karena skakmat verbal dari Kiera. Ia berdehem kaku, buru-buru menarik tangannya dari pintu mobil dan memasukkannya ke dalam saku celana demi menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang jemarinya saat menatap bibir ranum Kiera.

"Pulang sana. Dan awas kalau besok jam tujuh pagi kopi hitam saya belum ada di meja kerja. Mengerti?" perintah Arsenio ketus, mengalihkan pembicaraan dengan sangat tidak rapi.

"Siap, laksanakan, Pak Bos Sumbu Pendek!" sahut Kiera dengan nada ceria yang sengaja dibuat mengejek. Ia langsung masuk ke dalam mobil, menutup pintunya, dan melambaikan tangan lewat kaca jendela yang perlahan tertutup.

Mobil mewah itu mulai bergerak perlahan meninggalkan pekarangan istana Yudhistira. Arsenio berdiri sendirian di teras lobi yang luas, matanya tidak bisa lepas memandangi lampu belakang mobil yang semakin menjauh.

Pria itu menyentuh dada jasnya yang malam ini berbau asap terasi, merutuki detak jantungnya sendiri yang sialnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia memenangkan tender proyek triliunan rupiah.

“Sialan... kenapa wajah menyebalkan gadis ugal-ugalan itu mendadak susah hilang dari kepala saya?” batin Arsenio menggerutu frustrasi, menyadari bahwa benteng pertahanan egonya yang setinggi langit malam ini telah runtuh total, menyisakan retakan besar yang bersumber dari seorang Kiera Anandita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!