Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Danu celingukan sambil memastikan tidak ada orang yang melihatnya, dia tampak seperti maling mengendap-endap menuju sebuah rak yang berisi begitu banyak pembalut wanita.
Ya, dia tengah berjuang mengambil salah satu pembalut itu. Seumur-umur baru kali ini dia melakukannya, sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal konyol ini meski sudah empat kali berpacaran dengan wanita.
Danu sempat bingung, pembalut mana yang harus dia beli. ada begitu banyak macam pembalut yang berbeda, ada pink, ada ungu,ada Oren, ada juga yang biru. Ada yang sayap, ada juga yang tidak. Ada yang malam pula. ukurannya pun berbeda-beda.
Danu jadi menggaruk kepalanya bingung, kenapa dia tadi tidak tanya dulu Lila biasanya pakai yang mana?
"Mau beliin pacar ya mas"
Seorang ibu-ibu tampak menegurnya, Danu tersenyum canggung sambil mengagguk pelan.
"Pacarnya usia berapa?"
"Dua puluh tahunan"
Ibu itu sempat terkejut, namun tetap memilihkan pembalut untuk Danu.
"Ini. Putri saya biasanya memakai itu, lebih nyaman"
'Nyaman?' memang ada bantalnya ya? Dimana bagian nyamannya? meski berpikir begitu, Danu tetap berterima kasih. Setidaknya dia tidak perlu pusing memilih salah satu dari sekian banyak pembalut di tak ini.
"Terima kasih Bu"
"Sama-sama"
Danu menutupi Pembalut itu di dalam bajunya. Dia juga mengambil beberapa camilan dan roti agar nanti di kasir pembalut itu tidak terlihat mencolok.
Begitu urusan pembalut selesai, Danu segera ke toko baju, dia mencarikan rok dan juga dalaman untuk Lila. Kali ini dia tidak mau malu, dia meminta penjaga toko mengambilkan barang itu dan langsung membayarnya.
Di toilet kediaman Pak Rektor, Lila sudah gelisah, selain tidak nyaman dengan noda di rok miliknya, dia juga takut para lelaki yang tadi mengganggu dia datang lagi.
Dia rasanya ingin marah dengan Ryan, dia masih tidak bisa di hubungi sampai sekarang. Apa Ryan tidak mencarinya? Kenapa lelaki itu tiba menghilang? Apa itu yang di namakan suka? memang pilihannya sudah tepat dengan memilih Mas Danu yang dewasa dan bertanggung jawab.
Setelah begitu lama menanti, akhirnya suara Mas Danu terdengar juga, Lila langsung membuka kamar mandi yang dia kunci dari dalam.
Lila begitu terharu karena Danu mau membelikan barang-barang ini untuknya.
"Terima kasih mas"
Lila ingin memeluk dan mencium pipi Danu, namun Danu mundur duluan.
"Sudah sana ganti, habis ini kita pulang"
"Iya" Jawab Lila jutek, mengelak terus, mengelak terus.
Lila mengambil paperbag yang di bawa Danu dengan kasar, dia langsung masuk lagi untuk memakainya.
Danu menunggu di luar, begitu Lila selesai Lila langsung berjalan begitu saja tanpa menoleh ataupun menyapa Danu. Lila sangat kesal dengan Danu, dia terus menolaknya, padahal sering khilaf juga.
Mas Danu persis seperti kucing piaraannya dulu, suka malu-malu tapi mau. Benar-benar Munafik kalau kata pak Yuda.
Danu sedikit berlari mengikuti Lila, anak itu terlihat ngambek, padahal dia sudah banyak membantu, bukannya berterima kasih dia justru ngambek.
"Mengasuh bocil memang begini" Gumam Danu.
Lila masuk ke mobil Danu tanpa kata, mulutnya manyun ke depan, rasanya Danu ingin sekali mengikat mulut itu dengan lidahnya. Eh?
Astaga! Apa yang dia pikirkan? Pasti ini efek samping karena Lila sering menggodanya.
"Kenapa diam? Ayo jalan mas! Lila sudah ngantuk"
Danu ingin tertawa sendiri melihat sikap Lila sekarang.Dia sangat menggemaskan kalau sedang marah begini.
"Kalau ngantuk, turunin aja joknya, kamu bisa langsung tidur"
"Nggak mau! Nanti mas mengambil kesempatan dalam kesempitan ke Lila"
'Astaga! Bukannya Lila yang selalu melakukan itu padanya'
"Turunin aja, mas kan nyetir, nggak mungkin juga mas begitu"
'Tapi Lila maunya mas begitu' Jerit Lila dalam hati.
Lila memalingkan wajahnya ke jendela, dia sedang haid sekarang, rasanya dia ingin emosi, marah dan meledak dan mas Danu berhasil membuat dia kesal.
Alhasil dia hanya diam sambil memandang keluar jendela, dia tidak mau marah-marah di depan Mas Danu, bisa makin jauh Mas Danu dari genggamannya.
"Mau makan dulu?" Tanya Danu mencoba memecah keheningan, dia terbiasa mendengar ocehan dan rayuan Lila, jadi saat Lila diam, dia justru merasa kosong.
"Lila nggak lapar"
"Tadi kamu hanya makan satu kue kecil"
Lila langsung menatap tajam ke arah Danu, tatapan mengejek tentunya.
'Bilangnya tidak suka, tapi perhatian sekali, sampai dia makan apa saja mas Danu tahu'
Bilang tidak tidak, tapi sikapnya menunjukkan iya.
"Kenapa? Mas salah lagi?"
"Pikir saja sendiri"
Danu tidak tahu dia salah apa, masak iya hanya karena dia tadi menolak di cium? Bukankah dia juga sering melakukan itu?
Di saat suasana do mobil Danu makin dingin, mendadak mobil Danu berhenti tanpa di minta.
"Kog berhenti mas?"
"Bukan mas Lil, tapi mobilnya yang tidak mau jalan"
Danu keluar mengecek keadaan mobilnya.
"Kenapa harus mogok di tempat seperti ini?"Kesal Danu.
Lila ikut turun sambil menyalakan lampu ponselnya.
"Mobilnya mogok?"
"Hmmmm"
"Mas bisa benerin?"
Danu hanya mengedik kan bahunya.
"Parah ya mas?"
Danu kembali mengedikkan bahu lagi.
"Mas kesal ya sama Lila?"
Danu yang sedang membungkuk mengecek mesin langsung berdiri tegak, menatap Lila.
"Mas sedang benerin mobil Lila, mas tidak marahin kamu"
"Terus kenapa di tanya nggak jawab?" Lila mulai sesenggukan seperti anak kecil yang tidak di belikan es krim.
"Jangan menangis, mas kan sudah jawab tadi"
"Mas cuma ha hemmm ha hemmmmmm dari tadi, apa itu sebuah kata?"
Lila tidak tahu kenapa dia jadi cengeng, dia sangat sensitif sekali jika sedang datang bulan. Mungkin
Lila benar-benar menangis sekarang, Danu jadi makin bingung.
Dia berniat memeluk Lila, namun Lila menolak.
"Mas kotor"
"Hehehe maaf ya, mas bukannya tidak mau jawab, hanya saja mas sedang konsen lihat mesin mobil"
"Kalau begitu sebagai gantinya nanti kalau Mas tidak kotor, mas harus peluk Lila duluan"
"Haaa?"
Memang ada ya minta maaf dengan tebusan seperti itu. Tapi dari pada Lila menangis lagi dan membuat dia makin pusing, Danu iyakan saja.
Anehnya Lila langsung terserap lagi seperti biasa, dia kembali ke setelan awalnya.
"Janji ya mas"
Ucap Lila sambil memeluk lengan Danu
"Iya"
"Tadi katanya kotor? Sekarang justru nempel-nempel lagi" lanjut Danu dalam hati.
*****
Detik berganti menit, menit berganti jam dan sekarang sudah jam sebelas malam. Bulu kudu Lila mulai merinding, perutnya juga keroncongan, namun Danu belum juga berhasil membenarkan mobilnya.
Lila mengerik sesuatu di google map, dia mencari tempat istirahat terdekat di daerah sini.
Begitu menemukan sesuatu, Lila langsung keluar dari mobil lagi.
"Mas Lila mau tidur"
"Tidur di mobil Lil"
"Nggak mau"
"Lalu maunya kemana?"
Lila menunjukkan ponselnya ke Danu.
Lila sudah booking sebuah kamar hotel di hp nya. Ko
ALLAHU AKBAR, ASTAGHFIRULLAH!
"Ngapain kamu minta mas cak out di tempat seperti ini Lila!"
Lila jadi bingung, bukannya hotel tempat menginap ya? buat istirahat kan? Tapi kenapa mas Danu marah?