Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Pak, saya mau nanya," ucap Ziva sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi di tengah pelajaran Bahasa Inggris.
"Iya Ziva, apa yang mau kamu tanyakan?" jawab Pak Ilham, guru muda yang baru mengajar beberapa bulan itu dengan sabar.
"Bahasa Inggrisnya 'aku sayang kamu' itu I lope your ya, Pak?" tanya Ziva dengan nada polos yang dibuat-buat.
Pak Ilham membetulkan letak kacamatanya.
"Bukan Ziva, yang benar itu I love you."
"Aduhhh, aku juga sayang Bapak kok!" sahut Ziva cepat dengan kerlingan mata genit. Sontak, Pak Ilham hanya bisa tersenyum simpul, sudah terbiasa dengan kelakuan muridnya yang satu ini.
"Saya sudah punya calon istri, Ziva," balas Pak Ilham tenang.
"Nggak papa Pak, nanti saya tikung. Kan tikungan masih banyak, yang penting nggak ada rambu dilarang belok," ucap Ziva spontan, memicu sorak-sorai dari teman sekelasnya.
"Gas pol, Ziv! Jangan kasih kendor!" teriak Daniel dari kursi belakang.
"Pepet terus sampai janur kuning melengkung!" timpal yang lain.
Pak Ilham menggelengkan kepala. "Saya sangat mencintai calon istri saya."
"Nggak papa, cinta bisa tumbuh seiring dengan sentuhan kok pak. Nanti saya akan sentuh Bapak setiap tahun satu kali," ucap Ziva dengan wajah serius yang justru terlihat kocak.
"Nggak gitu konsepnya, bego! Harusnya cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu!" tegur Karlota kesal melihat tingkah sahabatnya yang makin melantur.
Ziva menoleh ke Karlota dengan wajah cengo.
"Lah, sudah ganti konsep kah? Kok nggak ada yang kasih tahu gue?"
Setelah Pak Ilham izin ke kantor, suasana kelas 11 IPS 3 berubah menjadi pasar. Daniel tiba-tiba memulai topik yang sedang hangat di jagat maya.
"Dari kisah seseorang, kita bisa ambil kesimpulan kalau wanita nggak akan pernah cukup dengan satu laki-laki," ucapnya dengan nada puitis yang dipaksakan.
Ziva mengalihkan pandangannya pada Daniel.
"Maksud lo siapa?"
"Lo nggak tahu video yang lagi viral di TikTok?" tanya Daniel tak percaya.
"Alah, percuma lo nanya video viral ke Ziva. Isi TikTok dia cuma kartun dua bocah tuyul botak semua," celetuk Karlota, membongkar aib Ziva yang hobi menonton Upin & Ipin bahkan saat di kamar mandi.
"Ck, sirik aja lo!" sungut Ziva. Ia pun akhirnya penasaran dan membuka ponselnya. Setelah mencari kata kunci 'video viral', matanya melotot sempurna.
"WHAT THE FUCK!" teriak Ziva lantang. Ia baru saja melihat berita tentang perselingkuhan istri dari seorang pemain sepak bola kebanggaan negara.
"Anj*r, ini beneran?" gumam Ziva lirih. "Wah, parah ini mah. Udah punya suami ganteng, effort-nya kebangetan, sayang banget sama istrinya, aset negara pula! Kok bisa diselingkuhin? Kurang apa coba suaminya?"
"Makanya gue bilang, cewek itu emang nggak cukup satu laki-laki," celetuk Demian tiba-tiba.
Ziva langsung menoleh dengan tatapan membunuh. "APA LO BILANG, DEMIAN?!"
"Heh Demit! Gue ini PEREMPUAN!" Ziva berdiri, mendekati meja Demian.
"Denger ya, buka kuping lo lebar-lebar! Nggak semua cewek bisa selingkuh! Banyak laki-laki juga yang selingkuh gara-gara alasan fisik. Kalau mau punya cewek secantik bidadari, ya modalin! Sekali lagi lo bilang cewek nggak setia, gue tendang lo dari kelas ini!"
"Wahai kaum hawa, mari kita kasih pelajaran buat anak demit ini!" seru Ziva memprovokasi teman-temannya.
Dalam sekejap, Demian dikerubungi para siswi yang sudah gatal ingin menjambak dan mencubitnya. Suasana kelas menjadi kacau balau. Rangga sebagai ketua kelas mencoba melerai, namun ia justru ikut terseret ke dalam kerumunan brutal itu.
"STOP! WOY, BANTUIN GUE!" teriak Rangga saat dirinya ikut terjepit.
"Ziva, udah! Lo nggak liat muka Demian udah kayak demit beneran?" Daniel mencoba menarik Ziva, mendekapnya agar menjauh dari Demian.
"Lepasin gue, Daniel! Gue belum puas narik rambutnya sampai botak!" seru Ziva memberontak.
BRAK!
Pintu kelas terbanting terbuka dengan keras. Semua aktivitas berhenti seketika. Tiga laki-laki dengan postur tegap berdiri di ambang pintu. Atmosfer kelas mendadak turun hingga titik beku. Di tengah berdiri Mahendra, dengan tatapan mata elang yang mampu mengintimidasi siapa saja.
Glek.
Rangga menelan ludah. Ia memberanikan diri maju dengan kaki gemetar. "Ma... maaf, ada apa ya?" tanya Rangga menahan napas.
Tak ada jawaban.
Mahendra justru melangkah masuk dengan tangan di saku celana. Tatapannya tertuju lurus pada Daniel yang masih mendekap Ziva untuk meredam emosinya.
"Lepas!" ucap Mahendra tegas. Suaranya dingin, mutlak, dan tak terbantahkan.
Daniel spontan melepaskan dekapannya dan mundur beberapa langkah. Ziva menatap Mahendra dengan bingung, "Kak Mahen—"
"AAKH! TURUNIN GUE!" Ziva terlonjak kaget saat tubuhnya tiba-tiba diangkat paksa dan diposisikan dalam gendongan koala oleh Mahendra.
"Woy! Tolongin gue! Karlota, tolongin Ziva! Lepasin!" teriak Ziva saat Mahendra membawanya keluar kelas dengan langkah lebar.
Karlota dan yang lainnya hanya terpaku, tak ada yang berani bergerak menghadapi aura mengerikan Mahendra.
Setelah pintu tertutup kembali, barulah mereka bisa bernapas lega.
"Ziva ada hubungan apa sama dia?" tanya Demian sambil meringis kesakitan.
"Gue nggak tahu," jawab Karlota lirih, masih syok.
"Tadi tatapan matanya tajam banget, kayak mau nelen gue hidup-hidup gara-gara gue megang Ziva," gumam Daniel sambil mengelus dadanya.
"Untung gue masih hidup."
"Udah, mending lo ke UKS, Dem. Muka lo udah nggak berbentuk," ucap Rangga mengakhiri keributan pagi itu, sementara pikirannya masih bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi pada Ziva di tangan Mahendra.