Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat
Ternyata Will yang memegangnya.
Pakaiannya basah dan merah. Tapi kepalanya utuh.
Tidak pecah.
Tidak hancur.
Seperti tidak pernah dipukul sedetik yang lalu.
Yang tersisa hanya sisa darah di pakaiannya.
Goblin besar itu membeku.
Matanya membelalak. Bukan karena marah. Tapi karena takut.
Ia yakin sudah memukul Will dengan niat membunuh.
Ia merasakan hantaman pentungannya menghancurkan kepalanya.
Ia melihat tubuh anak itu jatuh.
Tapi sekarang...
Will berdiri. Matanya merah. Bukan merah karena darah. Tapi merah menyala, seperti bara yang baru saja bangun.
Tanpa membuang waktu, Will mengangkat tangannya dan langsung memukulnya dengan sekali pukul.
Telapak tangan Will mengenai dada goblin besar itu. Terdengar suara pecah tulang, daging, semuanya hancur dalam sekejap.
Tubuh goblin besar itu terpental ke belakang, menabrak pohon besar, lalu jatuh ke tanah dengan lubang menganga di dadanya.
Tidak bergerak. Tidak bernafas. Ia langsung mati.
Will berdiri di tempatnya. Napasnya berat.
Ia menurunkan pandangan ke tangannya sendiri.
Tangannya berlumuran darah. Bukan darahnya. Tapi darah goblin itu.
Ia menggenggam. Membuka. Menggenggam lagi.
Tubuhnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah, ia merasa dirinya lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku... membunuhnya,"
Will menatap tubuh goblin besar itu. Lalu ke tangannya. Lalu ke sekeliling hutan yang mulai sunyi kembali.
Ia teringat saat latihan dulu, Aisa pernah mengajarinya soal Imaginary.
"Imaginary membuat penggunanya tidak bisa mati secara alami. Bisa hidup tanpa organ vital dan meregenerasi organ vitalnya,"
Will ingat, saat latihan membunuh monster, kepala monster itu hancur. Tapi monster itu tidak roboh. Masih berdiri dan bergerak, sambil meregenerasi kepalanya perlahan.
"Tapi Imaginary juga punya kemampuan menetralisir itu," kata Aisa saat itu.
"Jika seseorang membunuh target dengan niat membunuh, kemampuan keabadian tadi tidak akan bekerja. Target akan mati,"
"Dengan niat membunuh, kemampuan untuk netralisir keabadian dari Imaginary akan aktif,"
"Bahkan, monster yang tidak akan mati selama imajinasi itu masih ada. Bisa dinetralisir juga, dan monster itu mati tanpa bisa hidup kembali,"
Tapi hari ini...
Will seharusnya mati.
Ia tahu, Goblin besar itu berniat membunuhnya.
Pukulan itu diayunkan dengan kekuatan penuh, dengan niat menghancurkan.
Tapi sekarang, ia hidup kembali dari kematian.
Kepalanya pulih. Tubuhnya utuh.
Lalu Will teringat sesuatu yang lain.
"Apa karena kekuatan Daimos yang kumiliki?" gumam Will, bingung.
Ia menatap tangannya sendiri.
Will tidak tahu.
Tapi, ia tidak punya waktu untuk berpikir lama.
Di kejauhan, suara teriakan goblin masih terdengar.
Clara sedang berlari.
Will menggenggam tangannya. Darah hijau goblin masih menetes.
"Nanti aku cari tahu. Sekarang... aku harus menyelamatkan Clara,"
Ia berlari menuju arah suara.
Clara terus berlari.
Napasnya tersengal.
Kakinya mulai terasa berat.
Pisaunya masih tergenggam erat, tapi tangannya sudah gemetar kelelahan.
Goblin-goblin di belakangnya tidak berhenti.
Suara geraman dan jeritan mereka semakin dekat.
"Sejauh manapun Clara berlari, dia pasti mencapai batasnya," pikir Will dalam hati.
Ia mempercepat langkah. Tubuhnya melesat di antara pepohonan, melompati akar-akar yang menjalar, menghindari dahan-dahan rendah.
"Aku harus sampai sebelum dia kehabisan tenaga,"
Di depan, Clara mulai kehilangan keseimbangan.
Sepatunya tergelincir di tanah licin.
Ia terjatuh, lalu memaksakan diri untuk berdiri lagi.
Tapi kakinya tidak mau bergerak.
Ia menoleh ke belakang.
Goblin-goblin itu sudah dekat. Mata kuning mereka menyala di kegelapan hutan.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Clara menggigit bibir.
Ia mengangkat pisaunya, meskipun tahu itu tidak akan cukup.
"Maaf, Will. Aku tidak bisa melindungimu,"
Tiba-tiba.
Seekor goblin yang paling depan terpental ke samping. Tubuhnya terlempar ke batang pohon dan jatuh.
Goblin lain berhenti, mereka bingung melihat itu.
Tiba-tiba ada sosok yang muncul di antara Clara dan kawanan goblin itu.
Rambut berantakan. Pita biru di sisi kiri.
"Will...?" ucap Clara.
Will tidak menoleh. Matanya tertuju pada goblin-goblin di depannya.
Ia mengangkat tangannya.
"Pergi," katanya pelan.
"Helemoste,"
Salah satu Goblin berbicara dengan bahasa yang tidak mereka pahami.
Goblin-goblin itu menggeram. Tapi tidak ada yang maju. Mereka melihat sesuatu di mata Will, sesuatu yang membuat mereka takut.
Will melangkah maju satu langkah.
Goblin-goblin itu mundur.
Satu langkah lagi.
Mundur lagi.
Goblin paling besar di antara mereka, yang masih tersisa, mencoba menggeram. Tapi suaranya tidak keluar dengan percaya diri.
Will mengepalkan tangannya.
"Kubilang... pergi!"
Goblin itu melompat mundur, berbalik, dan berlari. Goblin-goblin lain mengikuti. Dalam hitungan detik, semuanya menghilang di balik pepohonan.
Will berdiri diam. Napasnya berat.
Di belakangnya, Clara masih berlutut di tanah. Matanya tidak lepas dari punggung Will.
"Will..."
Will menoleh. Wajahnya lelah. Tapi ia tersenyum tipis.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang kita harus segera pergi dari sini,"
Clara mengangguk. Ia memaksakan diri berdiri, meskipun kakinya masih terasa gemetar. Will mendekat, menawarkan bahunya untuk menopang. Clara tidak menolak.
Dengan cepat, mereka berjalan meninggalkan tempat itu. Tidak menoleh ke belakang.
Suasana hutan semakin gelap. Pepohonan yang tadinya hanya rimbun kini terasa seperti dinding-dinding raksasa yang mengepung mereka dari segala arah.
Angin berembus pelan, membawa hawa dingin dan aroma daun-daun basah.
Mereka berjalan berdampingan. Will sesekali menopang Clara yang kakinya masih terasa lemas.
Tiba-tiba, Clara mengendus udara.
Ia menoleh ke arah Will.
"Ada bau darah di bajumu," katanya.
Will menatap Clara.
Ia menunduk, melihat bajunya. Di bagian lengan dan dada, ada noda basah berwarna merah dari bajunya.
"Itu bekas darah," kata Will.
"Darah siapa?" tanya Clara.
Will terdiam sejenak.
"Goblin,"
Clara mengerutkan kening. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tapi matanya tetap waspada.
"Kau yakin tidak terluka?"
"Aku yakin,"
Clara mengangguk. "Baik. Ayo kita lanjutkan perjalanan,"
Mereka berjalan lagi. Noda darah di baju Will mulai mengering.
Akan tetapi, mereka tersesat.
Hutan semakin gelap. Pepohonan terlihat sama di setiap arah, batang besar, akar menjalar, semak berduri.
Tidak ada tanda-tanda bekas mereka lewat.
Tidak ada suara yang bisa menjadi petunjuk.
Will berhenti.
Ia melihat ke kanan, lalu ke kiri.
"Kita sudah lewat sini," katanya.
Clara mengerutkan kening. "Kau yakin?"
Will menunjuk ke sebuah pohon besar dengan akar melingkar tidak beraturan.
"Akar ini. Kita sudah melewatinya, sepuluh menit yang lalu,"
Clara mendekat, mengamati. Tidak ada yang istimewa. Tapi ia percaya pada Will.
"Kita benar-benar tersesat," ucap Clara pelan.
Will menghela napas. Langit mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga keemasan.
Sore akan segera berganti malam.
"Kita harus cari tempat berlindung dulu," kata Clara.
"Malam di hutan lebih berbahaya dari goblin,"
Will mengangguk. "Kau benar, tapi berlindung di mana?"
"Kita coba cari gua dulu, mungkin ada disekitar sini," jawab Clara.
Mereka melanjutkan perjalanan sambil mencari gua.
Setelah beberapa menit mencari, mereka menemukan gua saat malam hampir tiba.
Bersambung...