Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam belas
Daniela sudah tak memiliki tenaga lagi. Tenaganya sudah terkuras habis saat melakukan perlawanan tadi, meski semuanya sia-sia. Dia membalikkan tubuh, memunggungi Darren.
Tangan lelaki itu yang berniat merengkuh tubuhnya langsung ditepis kasar dengan sisa tenaga yang ia punya. Darren tidak memberikan perlawanan. Dia pasrah sekarang jika Daniela membencinya. Di dalam hati ia berjanji, akan mulai memperlakukan Daniela dengan lebih manusiawi.
Hingga akhirnya, Darren mulai memejamkan mata dan terlelap.
Perlahan Daniela bangkit dari tempat tidur sambil menahan perih di area sensitifnya. Ia memunguti seluruh pakaian yang tercecer di lantai dan terseok-seok berjalan ke kamar mandi.
Daniela menyetel keran air hangat yang ditampung ke dalam bathtub. Lalu menuangkan beberapa wewangian aromaterapi dan cairan bath foam. Setelah dirasa cukup, barulah ia menceburkan diri ke dalamnya.
Sejenak ia memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang sesak. Kejadian tragis tadi kembali terbayang di pelupuk matanya.
"Aku sangat membencimu, Darren!" desisnya.
"Aku sangat membencimu! AKU BENCIII...!!!"
Tanpa sadar ia berteriak sembari memukul-mukul air di samping tubuhnya. Isak tangisnya pecah di dalam kamar mandi yang sunyi itu. Rasa benci dan terhina kini sudah menjalar hingga ke ubun-ubunnya.
"Aku bersumpah, tak akan pernah melupakan kejadian ini! Aku tak ingin lagi mengenalmu, manusia jahat!"
Setelah menumpahkan semua kebenciannya dan merasa lebih relaks, ia keluar dari bathtub dan membersihkan tubuhnya di bawah shower. Menggosok seluruh permukaan kulitnya, seakan ingin menghilangkan jejak yang ditinggalkan lelaki itu.
Selesai dengan semuanya, Daniela mengenakan rok kulitnya. Tapi kemudian ia bingung karena corset top brokat hitamnya sudah terkoyak, sama sekali tak bisa diselamatkan. Sama seperti hatinya yang terkoyak dan terluka dalam. Entah kapan bisa pulih kembali.
Tapi tatapannya tertuju pada kemeja milik Darren yang ikut terbawa ke kamar mandi.
Tanpa ragu, Daniela mengambil kemeja putih itu lalu memakainya. Ukuran kemeja Darren yang besar tampak longgar di tubuhnya yang ramping, menjuntai hingga sebatas paha.
Ia mengambil gunting di dalam wadah tempat menyimpan beberapa peralatan mandi yang sudah disiapkan pihak hotel, kemudian menggunting corset top brokat hitam itu menjadi helaian persegi panjang. Lalu menyambungkannya hingga bisa dijadikan ikat pinggang.
"Ini jauh lebih baik, aku jadi tak terlihat seperti orang-orangan sawah," gumamnya.
Daniela keluar dari kamar mandi dengan langkah mengendap-endap. Kemarahannya timbul saat melihat ke arah ranjang. Laki-laki yang kini sangat dibencinya benar-benar sudah terlelap, napasnya terdengar begitu teratur dalam tidur yang nyenyak. Ingin sekali Daniela mengambil gunting tadi dan menancapkannya ke jantung laki-laki itu. Tapi pikirannya masih waras.
Sambil menenteng sepatunya, tak lupa ia mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari dompet Darren dan key card agar ia bisa menggunakan lift untuk turun ke lobi. Daniela terpaksa mengambil uang itu karena tasnya tadi ia titipkan pada Haruni saat di Neon Beats.
Daniela membuka pintu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Setelah pintu tertutup kembali, barulah ia mengenakan sepatu dan kacamata hitamnya. Untung tadi kacamata hitam yang ia selipkan di korsetnya terbanting tapi tak ikut hancur. Setelah itu dengan langkah cepat, ia menyusuri koridor hotel menuju lift.
Tiba di lobi, ia menghampiri meja resepsionis.
"Mas, saya mau titip ini. Tadi orangnya sedang tidur pulas, saya tak tega membangunkannya," kata Daniela sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab di balik kacamata.
"Baik, Bu," katanya sambil menerima benda itu dari tangan Daniela.
***
Di luar, Daniela menaiki taksi konvensional yang ada di sekitar situ.
"Pak, boleh pinjam teleponnya sebentar? Saya ingin menelepon teman," kata Daniela.
Sesaat sopir taksi itu menatap Daniela, lalu mengangguk dan menyerahkan ponselnya. Daniela langsung menerimanya dan menekan beberapa angka untuk menelepon Haruni. Untung saja tak berapa lama Haruni menjawab teleponnya.
"Run, ini gue Daniela. Lo bisa jemput gue di gerbang perumahan Darren, kan? Nanti sekalian bawain tas gue."
"Daniela, ini beneran elo? Iya, bisa, sekarang juga gue on the way," jawab Haruni, suaranya terdengar sangat khawatir.
"Oke, gue tunggu."
Setelah itu, Daniela memutuskan sambungan teleponnya lalu memberikan kembali ponsel itu pada sopir taksi.
"Ini Pak, terima kasih."
"Sama-sama, Non. Sekarang mau diantar ke mana?"
"Jalan saja dulu Pak, nanti arahnya saya kasih tahu."
Mobil pun melaju sesuai arahan Daniela. Karena jalanan sudah mulai lengang, maka tak sampai tiga puluh menit Daniela sampai di gerbang salah satu perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan. Dia melihat mobil Haruni sudah berada di sana. Daniela pun turun dari taksi setelah membayar argonya, lalu langsung masuk ke mobil Haruni.
"Dan..."
"Stop, jangan tanya apa-apa dulu. Sekarang mana tas gue?"
Tanpa diminta dua kali, Haruni memberikannya. Daniela segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk menelepon Bi Ita. Beberapa lama Daniela menunggu teleponnya dijawab, tapi sepertinya Bi Ita sudah tidur. Daniela tak putus asa, dia terus menelepon hingga akhirnya setelah beberapa kali mencoba, panggilan itu dijawab juga.
"Halo..." Terdengar suara serak Bi Ita, khas orang bangun tidur.
"Bi, maaf saya ganggu tidur Bi Ita. Saya mau minta tolong."
"Iya nggak apa-apa, Non. Minta tolong apa?"
"Bi Ita sekarang juga masuk ke kamar saya!"
"Untuk apa, Non?" tanyanya bingung.
"Tolong jangan banyak tanya dulu, lakuin aja perintah saya."
"Ba-baik, Non."
Beberapa saat hening, hanya terdengar langkah kaki Bi Ita.
"Ini saya sudah ada di dalam kamar Non Dani," terdengar lagi suara Bi Ita.
"Sekarang, tolong ambilkan beberapa setel pakaian saya serta pakaian dalam sekalian. Lalu masukkan ke dalam koper kecil yang ada di atas lemari. Jangan lupa semua skincare yang ada di meja rias, masukin semua. Terus Bi Ita buka lacinya, di situ ada map plastik warna biru isinya surat-surat penting, itu juga masukin."
Daniela menunggu lagi. Sepertinya Bi Ita langsung melakukan apa yang dia minta.
"Terus apa lagi, Non?"
"Alat mandi, sepatu, sama perhiasan saya yang ada dalam kotak juga masukin semua ke koper."
"Sudah, Non."
"Oke, sekarang Bibi turun ke bawah, bawa kopernya sekalian. Saya tunggu di gerbang belakang. Jangan sampai ketahuan sekuriti ya, Bi. Hati-hati."
"Baik, Non."
Sambungan telepon pun diputus Daniela. Ia langsung bersiap keluar dari mobil.
"Hey, lo mau ke mana?"
"Tunggu bentar!" jawab Daniela tanpa penjelasan.
Setengah berlari wanita itu menuju gerbang belakang. Tak lama menunggu, Bi Ita pun datang sambil menyeret koper Daniela.
"Non, mau ke mana?" tanya Bi Ita setengah panik. Dia takut Daniela kabur dan nanti dia yang dimarahi tuannya.
"Saya mau liburan Bi, sama teman. Tapi Bibi nggak usah khawatir, Darren udah tahu kok. Aku udah minta izin sama dia," kata Daniela terpaksa berbohong.
"Benar, Tuan sudah tahu?"
Daniela hanya mengangguk. Lalu ia menyerahkan black card pemberian Darren ke Bi Ita.
"Nanti kalau Darren pulang, tolong kasihkan kartu ini. Kemarin saya meminjamnya."
Dengan perasaan yang masih gamang, Bi Ita menerima kartu itu.
"Non, berapa lama perginya?"
"Cuma sebentar kok. Paling satu mingguan. Udah ya Bi, aku buru-buru. Terima kasih. Bibi jaga kesehatan ya!"
Tanpa diketahui Bi Ita, Daniela menitikkan airmatanya sembari memeluk wanita itu. Setelah itu ia bergegas pergi, kembali memasuki mobil Haruni.
"Buruan jalan!"
Haruni pun hanya menurut. Mobil melaju di antara kesunyian malam yang hampir menuju pagi.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut
biar laa Darren pusing keliling keliling nyari Daniela ,,
salah sendiri makin terkam aj anak org ,,
sekarang kalang kabut kan pas istri nu udh kabuur😒😒😒