NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 : Kami Bahkan Belum Melakukannya...

Ruangan itu masih dipenuhi sisa aura gelap dan perak yang perlahan memudar.

Reliza turun dari atas ranjang dengan gerakan tenang. Rambut hitamnya jatuh halus di bahu, matanya yang gelap menyapu ruangan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Ferisu masih belum sadar.

Namun napasnya lebih stabil dari sebelumnya. Itu fakta yang tidak bisa disangkal. Dan justru itulah yang membuat suasana semakin rumit.

Noa berdiri paling dekat dengan ranjang. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Kau…” suaranya rendah, bergetar menahan sesuatu. “Apa yang barusan kau lakukan?”

Reliza memiringkan kepala sedikit.

“Aku menyelamatkannya.”

Erica melangkah maju. Suhu ruangan kembali turun beberapa derajat, embun tipis muncul di lantai marmer.

“Menyelamatkan?” ulangnya, jelas tidak terima. “Tanpa izin? Tanpa penjelasan?”

Reliza tersenyum tipis.

“Izin?”

Tatapannya bergeser ke Licia.

Licia tidak berbicara. Namun sorot matanya yang biasanya lembut kini tajam dan sulit ditebak.

“Kalian terlalu lambat,” lanjut Reliza santai. “Dia butuh dorongan untuk membuka segel jiwanya. Aku hanya mempercepatnya.”

Noa mendekat satu langkah.

“Itu bukan keputusanmu.”

Reliza menatapnya langsung.

“Kalau aku tidak melakukannya, kau punya cara lain?”

Kalimat itu menusuk.

Noa terdiam.

Erica menggertakkan gigi.

“Itu bukan poinnya!”

Suaranya meninggi sedikit, dan kristal es tipis terbentuk di udara di sekitar tangannya sebelum ia menyadarinya dan menarik napas dalam untuk menenangkan diri.

“Bukan hanya soal menyelamatkannya,” lanjut Erica, lebih pelan tapi jelas emosional. “Kau… kau melakukannya seolah-olah dia hanya milikmu.”

Reliza tidak membantah.

Sebaliknya, ia menjawab dengan tenang,

“Bukankah memang begitu?”

Keheningan berat jatuh di ruangan itu.

Licia akhirnya berbicara.

“Tidak.”

Satu kata.

Tegas.

Semua menoleh padanya.

Licia berdiri, langkahnya pelan namun pasti. Ia tidak meninggikan suara, tapi setiap katanya terdengar jelas.

“Ferisu-sama bukan benda yang bisa diklaim,” ucapnya. “Ia membuat pilihannya sendiri.”

Reliza memandangnya dengan tatapan menilai.

“Dan kau yakin… kau siap menerima pilihan itu?”

Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.

Untuk sesaat, tak seorang pun berbicara. Karena ada kebenaran pahit di dalamnya.

Erica menoleh ke arah Ferisu yang masih tak sadar. Wajahnya memerah, entah karena marah atau karena sesuatu yang lain.

“Kami bahkan belum pernah…” Ia berhenti, jelas kesal pada dirinya sendiri karena hampir mengatakannya terlalu jelas.

Noa mengalihkan pandangan, wajahnya sedikit mengeras.

“Ini bukan kompetisi.”

Reliza tertawa pelan.

“Benarkah?”

Tatapannya menyapu mereka bertiga sekali lagi.

“Kalau bukan, kenapa wajah kalian seperti itu?”

Sunyi.

Kecemburuan memang tidak terlihat seperti luka fisik.

Tapi rasanya tetap tajam.

Licia menarik napas perlahan, berusaha menjaga ketenangannya.

“Yang kau lakukan memang membantu,” akunya jujur. “Napasnya lebih stabil.”

Reliza tidak terlihat terkejut.

“Tapi caramu salah,” lanjut Licia. “Kau tidak berdiri sendirian di sisinya.”

Reliza terdiam beberapa detik.

Aura gelapnya sedikit berkurang.

Lalu—

Tubuhnya bergetar halus.

Rambut hitamnya perlahan memudar kembali menjadi silver. Warna gelap di matanya tersapu, berganti biru lembut yang familiar.

Eliza terhuyung ke belakang sedikit sebelum Noa refleks menahannya agar tidak jatuh.

“Apa yang… terjadi?” suara Eliza kembali seperti biasa, bingung dan sedikit lemah.

Erica mendesah pelan, antara lega dan kesal.

Noa membantu Eliza berdiri stabil.

“Nanti kita jelaskan.”

Licia kembali menatap Ferisu. Dada pria itu naik dan turun lebih stabil sekarang. Ada perubahan. Kecil. Tapi nyata.

Erica menyilangkan tangan, masih cemberut.

“Kalau dia bangun nanti… kita akan minta penjelasan.”

Noa mengangguk.

“Ya.”

Licia tersenyum tipis.

“Dan mungkin… kita juga harus jujur tentang perasaan kita masing-masing.”

Erica langsung memalingkan wajahnya.

“J-jangan sembarang ngomong.”

Noa hanya menghela napas panjang.

Di atas ranjang—

Jari Ferisu bergerak lagi. Kali ini lebih jelas. Seolah jauh di dalam kesadarannya, ia bisa merasakan—bukan hanya bahaya yang mendekat.

Tapi juga hati-hati yang mulai terbakar… tepat di sampingnya. Dan mungkin, pertempuran berikutnya bukan hanya tentang dunia.

Tapi juga tentang siapa yang akan berdiri paling dekat saat ia membuka mata.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Gelap.

Bukan gelap yang menakutkan.

Lebih seperti ruang kosong tanpa batas, tempat suara terdengar jauh dan waktu tidak terasa bergerak.

Ferisu berdiri di sana sendirian.

Di bawah kakinya, lantai menyerupai permukaan kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya—kadang sebagai dirinya sekarang, kadang sebagai sosok dari kehidupan sebelumnya.

Retakan tipis masih terlihat menyebar di permukaan itu.

Tapi—

Ada sesuatu yang berbeda.

Sebuah aliran hangat dan dingin sekaligus mengalir dari dalam dadanya.

Ferisu mengangkat tangannya perlahan. Di antara jemarinya, partikel sihir berpendar. Bukan cahaya terang seperti biasanya.

Melainkan untaian energi gelap pekat, bercampur dengan kilau roh yang bergetar lembut di sekelilingnya.

Elemen kegelapan.

Dan energi roh.

Menyatu.

“Apa aku sudah bisa memakai kekuatanku lagi?” gumamnya pelan.

Ia mengepalkan tangan.

Energi itu mengikuti perintahnya—belum sepenuhnya stabil, namun jelas bukan ilusi.

Sensasi yang lama hilang kini kembali terasa. Kekuatan yang dulu akrab dengan jiwanya, kini merespons lagi, meski hanya sebagian kecil.

Ferisu menatap telapak tangannya dengan kening berkerut.

Ini bukan kekuatanku sepenuhnya. Ini seperti… dorongan dari luar.

Ia menutup mata dan mencoba merasakan asalnya. Sumbernya bukan dari retakan dimensi. Bukan dari kontrak roh yang sudah ada.

Energi ini terasa berbeda. Lebih personal. Lebih… dekat.

“Siapa yang mengirim ini?” gumamnya.

Dalam benaknya, satu per satu wajah muncul.

Licia, Erica, Noa, Eliza.

Tidak ada satu pun dari keempat tunangannya yang memiliki afinitas dengan elemen ini.

Ferisu membuka mata perlahan.

Di kejauhan ruang kesadarannya, bayangan samar bergetar—seolah ada pintu yang baru saja tertutup.

Atau mungkin baru saja dibuka.

Ia melangkah maju satu langkah.

Retakan di bawah kakinya tidak lagi melebar. Justru sedikit menyatu kembali, seakan energi baru itu menambalnya perlahan.

“Setidaknya sedikit kembali,” bisiknya.

Ia merasakan inti sihirnya yang sebelumnya hampir kosong kini memiliki percikan baru. Tidak besar. Tidak cukup untuk bertarung.

Namun cukup untuk berdiri.

Cukup untuk tidak hancur.

Ferisu mengangkat tangannya sekali lagi. Energi kegelapan berputar lembut di sekitarnya, tidak liar seperti milik entitas retakan, melainkan terkontrol… seolah mengenalnya.

Aneh.

Tapi tidak terasa asing.

Justru ada rasa familiar yang samar, seperti seseorang yang berdiri sangat dekat di belakangnya—tanpa menunjukkan diri.

“Kalau ini bantuan…” gumamnya pelan, “maka aku berutang.”

Bayangan di kejauhan kembali bergetar. Namun tidak ada sosok yang muncul. Hanya keheningan.

Ferisu menarik napas panjang.

Walau tubuhnya di dunia nyata masih terbaring tak sadar, di ruang ini ia bisa berdiri tegak.

Sedikit dari kekuatannya telah kembali.

Bukan karena ia berhasil sendiri.

Bukan karena kontrak roh.

Tapi karena sesuatu—atau seseorang—telah mendorong segelnya terbuka sedikit.

Ia mengepalkan tangan.

Retakan di ruang kesadaran itu berhenti menyebar. Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan di hutan—Ferisu merasa tidak lagi berada di ambang kehancuran.

Namun satu pertanyaan tetap menggantung.

Jika bukan salah satu dari mereka…

Lalu siapa?

Dan kenapa kekuatan itu terasa begitu… ingin memilikinya?

Ruang gelap itu bergetar halus.

Seolah menjawab tanpa suara—bahwa ini baru permulaan.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!