NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Pedang dan Persahabatan

Pagi hari di Sekte Gunung Langit begitu tenang, hanya suara desir angin yang menyapu dedaunan maple memenuhi halaman pelatihan. Di tengah-tengah itu, Kenzie berdiri tegap, tubuhnya dilapisi keringat akibat latihan pedang sejak fajar menyingsing. Setiap ayunan pedangnya membawa semilir angin tipis yang menyapu rerumputan di sekitarnya, seolah pedang itu menari bersama napas bumi.

Namun, ketenangan itu segera pecah oleh langkah kaki yang terdengar berat namun penuh percaya diri. Seorang pemuda berseragam murid inti muncul dari balik pohon maple. Ia berdiri tegak dengan tangan menyilang, pandangan matanya tajam menusuk ke arah Kenzie.

"Aku ingin berduel denganmu," ucap pemuda itu tanpa basa-basi.

Kenzie menghentikan ayunan pedangnya dan memandang pemuda tersebut dengan tenang. Sorot matanya tetap dingin, namun tak mengabaikan keberadaan lawannya.

"Aku Yu Zan," lanjut pemuda itu. "Murid inti dari Gunung Maple. Aku datang menantangmu bertarung denganku di arena."

Kenzie menghela napas sejenak, lalu menjawab pelan, “Maaf, aku belum bisa menerima tantanganmu.”

Jawaban itu membuat Yu Zan mengerutkan dahi. Ia melangkah mendekat, suaranya kini lebih keras.

“Jujur saja, aku kurang suka padamu,” katanya terus terang. “Sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki di Gunung Maple, entah kenapa, aku merasa tak nyaman dengan kehadiranmu.”

Kenzie tak menanggapi langsung. Ia menundukkan wajahnya, membiarkan kata-kata itu tenggelam bersama angin. Tapi Yu Zan tidak berhenti.

“Karena itu, aku harap kamu bisa menerima tantangan ini. Aku ingin melihat kemampuanmu secara langsung.”

Setelah beberapa detik hening, Kenzie akhirnya mengangkat wajahnya.

“Baik,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku menerima tantanganmu. Tapi aku tidak ingin melakukannya di depan publik. Kita akan berduel di taman belakang Gunung Maple, besok pagi di jam yang sama. Hanya kau dan aku, tanpa penonton.”

Yu Zan sempat mengangkat alis, lalu mengangguk.

“Baik, aku terima. besok pagi di jam yang sama, aku menantikan hari esok,” katanya, lalu berbalik pergi dan meninggalkan perkataan terakhirnya "jangan sampai kamu melupakannya." yu zan pun pergi dan meninggalkan perkataan terakhirnya.

Kenzie yang masih termenung dengan keadaan yang baru saja terjadi, mulai merasa heran dan penuh kekhawatiran, sebab ia merasa belum cukup kuat untuk mengalahkan seorang senior, apalagi murid tersebut adalah murid inti di gunung maple.

Walaupun demikian Kenzie tetap berpikir positif dan membuat dirinya sendiri tetap yakin akan kekuatan yang dimilikinya

berselang beberapa saat, ketika waktu telah memasuki siang, Kenzie pun memilih untuk istirahat dari latihannya, kemudian setelah selesai dari istirahatnya ia pergi jalan-jalan mengelilingi gunung maple

Hingga pada saat itu ia bertemu dengan Wulan Tsuyoki, di sebuah taman bunga yang sangat indah dan penuh dengan suasana kebahagiaan dan kesejukan.

Akan tetapi Kenzie tak menegur Wulan. Dirinya hanya melewatinya, sebab ia teringat kembali dengan hari di mana ia pertama kali bertemu dengan Wulan, pada saat itu yang selalu terlintas di kepalanya saat melihat wajah Wulan adalah sebuah kata "aku sedikit tertarik denganmu" kata tersebut selalu saja muncul di kepalanya seakan meninggalkan jejak aneh.

Saat hendak pergi melewati Wulan yang ada di taman, seketika Wulan menoleh pada Kenzie dan hendak menghentikan langkahnya, akan tetapi Kenzie tak merespon, ia hanya berjalan terus tanpa memalingkan wajahnya dari Kenzie.

Singkat cerita, saat Kenzie berhasil menghindar dari Wulan, dirinya kini pergi ke sebuah paviliun yang menjadi tempat penyimpanan senjata di gunung maple.

di sana ia bertemu seorang tetua pandai besi, yang menjaga paviliun senjata tersebut.

"salam hormat tetua, namaku Kenzie seorang murid luar" ucap Kenzie dengan hormat

"Kenzie ya.... Apa tujuanmu datang kesini?." tanyanya pada Kenzie

Ia meminta izin pada tetua tersebut untuk memasuki paviliun senjata sambil melihat senjata yang ada di dalamnya

"aku kebetulan lewat sini dan ketika aku melihat paviliun ini aku merasa tertarik untuk melihat di dalam paviliun ini." ucapnya pada tetua tersebut

"apa yang kamu inginkan, apakah kamu menginginkan senjata yang ada di dalam paviliun ini?." tanyanya lagi pada Kenzie

"bukan tetua... saya hanya ingin melihat senjata di dalam sana saja, sebenarnya saya hanya penasaran saja dengan senjata di dalam, dan tak ada maksud apa-apa." ucap Kenzie sambil meyakinkan tetua tersebut.

"baiklah kalau begitu, saya yang akan menjadi pemandu mu dan memperkenalkan senjata apa saja yang ada di dalam" ucap tetua itu sambil membawa jalan "silahkan ikuti saya"

"baik tetua terimakasih kasih" ucap kenzie

Kini Kenzie pun di beri izin, dan tak hanya itu dirinya langsung di pandu oleh tetua tersebut dan di perkenalkan dengan senjata pajangan di sana, mulai dari senjata kelas rendah, menengah, atas, antik dan legendaris yang sangat langka.

Singkat cerita setelah melihat-lihat senjata yang ada di dalam paviliun, Kenzie tak begitu terkesan, ia hanya merasa biasa-biasa saja pada senjata yang ada di dalamnya.

Sampai ia pun bertanya pada tetua tersebut "maaf tetua bolehkah saya bertanya pada anda" ucapnya dengan sopan

"apa yang ingin kamu tanyakan padaku?." jawabannya dengan penasaran

"apakah aku bisa membuat senjataku sendiri?." tanya Kenzie penuh harapan

"yah kamu bisa membuat senjata milikmu sendiri.... Akan tetapi material yang kamu butuhkan akan sangat mahal untuk membuatnya, itu juga tergantung senjata seperti apa yang akan kamu buat." ucap tetua tersebut

"aku hanya ingin membuat pedang bermodel ringan, tapi berbahan padat dan berat agar ayunannya semakin tepat dan tajam, serta lebih fleksibel ketika di gunakan" ucap Kenzie menjawab

"baiklah kalau begitu, kamu hanya perlu besi baja putih dan baja hitam, serta di kombinasikan oleh tulang kura-kura setengah naga, agar senjata kamu sesuai dengan yang kamu inginkan." ucap tetua tersebut

"baiklah tetua, aku akan mencoba meminta dengan pemimpin gunung guru mei li, agar material tersebut bisa cepat terkumpul... Apakah aku boleh tau nama tetua?."

"baiklah kalau begitu... namaku Chiang Qiren panggil saja aku tetua qiren."

"baiklah tetua qiren, kalau begitu aku pamit undur diri dulu" ucap Kenzie sambil hormat dan pergi meninggalkan paviliun.

__..__

Keesokan harinya.

   Taman belakang Gunung Maple sepi pagi itu, hanya dikelilingi angin gugur yang membawa aroma tanah dan dedaunan tua. Di bawah pohon maple yang daunnya mulai memerah, Kenzie berdiri sendirian, memegang pedangnya dengan tangan kanan. Ia mengenakan pakaian hitam abu-abu tanpa simbol sekte—pakaian latihan biasa, tapi menyatu dengan latar alam.

Langkah kaki terdengar dari arah utara. Yu Zan muncul, mengenakan jubah murid inti dengan warna ungu tua dan sabuk putih berlapis simbol Gunung Maple, rambut emasnya tertiup angin. sambil tersenyum kecil, entah karena semangat atau ketegangan yang tak bisa disembunyikan.

“Kau datang tepat waktu,” katanya.

Kenzie hanya mengangguk. “Kita mulai?”

Tanpa kata-kata pembuka, duel pun dimulai.

Yu Zan melesat lebih dulu dengan pedang panjangnya. Gerakannya cepat, namun tidak terburu-buru. Ia menguasai teknik pedang Tebasan Daun Terjatuh dari Gunung Maple, teknik yang terkenal dengan kecepatan dan keakuratan. Kenzie menangkis setiap serangan dengan tenang, tubuhnya bergeser mengikuti arah angin seperti ranting bambu yang lentur.

Namun, dalam lima menit pertama, Kenzie mulai terlihat terdesak. Meskipun ia telah belajar Langkah Pembunuh Langit, kecepatannya masih kalah dari teknik Yu Zan yang sudah matang. Serangan Yu Zan pun mulai mengenai pakaian dan lengan Kenzie, meninggalkan sobekan dan luka kecil.

“Kau hebat… tapi terlalu kaku,” ucap Yu Zan sembari mengayunkan pedangnya dengan lintasan miring. Pedang itu nyaris mengenai wajah Kenzie, yang beruntung dapat mundur secepatnya.

Kenzie menggertakkan gigi. Ia berusaha menggunakan teknik Kabut Langit dari jurus Pedang Bulan Berkabut, tapi setiap percobaan dipatahkan oleh gerakan Yu Zan yang lebih tajam dan terlatih. Pada menit ke-12, akhirnya Kenzie kehilangan pijakan, dan pedangnya terlepas dari genggaman.

Yu Zan menempelkan ujung pedangnya ke leher Kenzie.

“Jika ini duel resmi… kau sudah kalah,” ucapnya.

Kenzie terengah, tapi ia mengangguk dan tersenyum kecil. “Terima kasih untuk pelajarannya.”

Namun, yang mengejutkan, Yu Zan tidak langsung menarik pedangnya. Ia justru menatap Kenzie lama, seolah ada sesuatu yang baru ia sadari.

“Meski aku tak suka padamu sebelumnya… tapi sekarang aku mengerti kenapa banyak orang membencimu dan tak menyukaimu. Aku juga melihat tekad di matamu yang terpancar keluar, pantas saja tetua Li mei menerima dirimu sebagai murid resminya. Dan aku melihat kau bertarung dengan hati, bukan dengan ego.”

Kenzie tidak menjawab. Tapi Yu Zan menurunkan pedangnya dan duduk di atas batu.

“Sepertinya… aku salah menilai. Boleh kupanggil kau teman mulai sekarang?”

Kenzie terdiam sebentar, lalu ikut duduk di sampingnya. “Aku tak keberatan.”

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Tak ada lagi ketegangan. Mereka bahkan mulai berlatih bersama pada hari itu dan saling berbagi teknik. Yu Zan, yang dahulu keras kepala dan penuh prasangka, kini mulai membuka diri. Sementara Kenzie, yang tertutup dan sering menyendiri, menemukan kenyamanan dalam pertemanan barunya.

Sore hari, setelah latihan bersama selesai, Kenzie meninggalkan halaman pelatihan dan menuju ke puncak bukit Gunung Maple. Di sana, Wulan telah menunggunya, mengenakan jubah biru muda dengan rambut merah mudanya diikat sederhana ke belakang. Mata birunya menatap langit senja yang mulai berwarna jingga.

“Kau datang juga,” ucap Wulan sambil tersenyum lembut.

Kenzie hendak mau menghindari Wulan namun ia sudah terlanjur berpapasan sama Wulan mau tak mau ia duduk di sebelahnya.

Sementara itu angin membawa aroma bunga liar yang tumbuh di antara batu-batu gunung.

“aku dengar dari beberapa murid, kau baru saja kalah dari Yu Zan ya?” goda Wulan.

Kenzie tertawa kecil. “Itu bukan kekalahan yang memalukan. Malah aku belajar banyak darinya.”

Wulan mengangguk, lalu diam sejenak lalu mulai bertanya kembali, “Kenzie, apa kau pernah merasa… tidak punya arah?”

Pertanyaan itu membuat Kenzie terdiam.

“Dulu aku berpikir hidupku hanya untuk melindungi satu orang,” jawabnya. “Tapi sekarang aku sadar, hidup ini lebih luas. Ada hal-hal yang bahkan tidak bisa kulindungi, meski aku berusaha sekuat tenaga.”

Wulan memandangnya lama, lalu berbisik, “Kadang aku takut pada takdirku. Takdir yang akan mengarahkan aku pada jalan yang.... Aku takut kehilangan diriku sendiri.”

Kenzie menatap Wulan. “Kalau kau kehilangan dirimu… maka biarkan aku membantumu mencarinya kembali.”

Wulan tersenyum, kali ini tak lagi menggoda, tapi hangat dan tulus. “Terima kasih, Kenzie.”

Dua anak muda itu pun duduk dalam diam, menikmati senja. Tak ada kata cinta, tapi ketenangan itu sudah cukup memberi tanda bahwa hubungan mereka mulai tumbuh… perlahan tapi pasti.

Walaupun Kenzie sebelumnya merasa ngeri dengan Wulan, akan tetapi kini Kenzie mulai menerima keadaan yang sedang terjadi.

___..___

Namun jauh di belahan benua lain, di wilayah terlarang yang tersembunyi oleh kabut abadi, seorang pemuda berambut hitam dan bermata merah berdiri di atas takhta batu

Di hadapannya, seorang gadis berambut biru berdiri, menggenggam pedang biru salju yang terlihat dingin dan menyimpan ketajamannya

“Pangeran Kegelapan… saatnya dunia mengenal siapa dirimu sebenarnya,” ucap gadis itu, suaranya setenang malam tanpa bintang.

Pemuda itu—yang wajahnya mirip dengan Kenzie—tersenyum tipis.

“Sudah tiga tahun berlalu. Tapi Kakaku tak pernah datang menghampiriku, malam ini aku akan keluar menelan terang. Dan dunia akan tahu siapa diriku sebenarnya.”

Dan bayangan pun menyelimuti langit di atas mereka, seolah dunia baru telah menunggu untuk dibuka kembali.

1
Ibar, {iba'rat Askar}
singgungan para petinggi istana yang tak ingin hasil bumi di sembunyikan🤭
Ibar, {iba'rat Askar}
lelucon hirarki para petani menanam hasil panen atau barang untuk di jual kembali jika harga melonjak naik
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
Ibar, {iba'rat Askar}
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!