Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: BADAI BARU DI RUANG ICU
Suara kepanikan Mami Kinanti dari seberang telepon genggam itu seketika merenggut seluruh ketenangan yang baru saja terbangun di dalam ruang kerja lantai lima puluh. Dafa Mahardika berdiri mematung, ponselnya masih menempel erat di telinga, sementara rahangnya kembali mengeras sempurna. Berita tentang Pak Handoko yang tiba-tiba pingsan dan mengeluarkan busa di kamar mandi adalah sebuah hantaman tidak terduga yang langsung mengacaukan seluruh rencana siang ini.
Nazya, yang awalnya berada di dalam dekapan hangat Dafa, refleks mendongak. Indera perasanya menangkap perubahan drastis pada raut wajah suaminya. Sebaris ketakutan yang teramat sangat seketika menyergap dada janda muda itu.
"Mas Dafa... ada apa?" bisik Nazya, suaranya bergetar halus menahan debar jantungnya yang mendadak menggila. "Siapa yang telepon? Apakah ada masalah lagi di rumah?"
Dafa menurunkan ponselnya perlahan, mematikan sambungan telepon, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih istrinya. Pria itu tahu, ia tidak bisa menyembunyikan berita besar ini dari Nazya. Namun, ia juga harus menjaga agar mental Nazya tidak tumbang di tempat ini setelah apa yang baru saja terjadi di lobi bawah.
Dafa mencengkeram kedua bahu Nazya dengan lembut namun kokoh. "Nazya, dengarkan aku. Mami baru saja menelepon. Ayahmu... Ayah Handoko tiba-tiba tidak sadarkan diri di rumah. Ambulans pribadi milik keluarga kita sudah dalam perjalanan ke sana untuk membawanya ke Rumah Sakit Pusat Mahardika."
DEG!
Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Nazya seketika lemas kehilangan daya. Map kulit cokelat yang sejak tadi didekapnya erat di dada, langsung terlepas dan jatuh membentur lantai marmer dengan suara pelan. Dunia di sekeliling Nazya mendadak berputar hebat. Ayahnya—satu-satunya jangkar hidup yang ia miliki di dunia ini, satu-satunya orang yang selalu memeluknya saat dunia memperlakukannya dengan kejam—kini sedang bertaruh nyawa.
"Ayah... Ayah kenapa, Mas?" air mata Nazya meluncur deras tanpa bisa ditahan, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah panik. "Tadi pagi... tadi pagi Ayah masih tersenyum sama Nazya. Ayah masih baik-baik saja! Mas Dafa, tolong bawa Nazya pulang... Nazya mau ketemu Ayah!"
"Iya, kita pergi sekarang. Tenang, Nazya, aku di sini," ucap Dafa tegas. Pria itu langsung menyambar jas hitamnya di sandaran kursi, lalu dengan gerakan sigap, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Nazya, mengangkat tubuh ramping istrinya itu ke dalam gendongan bridal yang protektif.
Dafa melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari Mikael dan para sekretaris di luar. Fokusnya siang ini hanya satu: membawa istrinya secepat mungkin ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Toyota Alphard hitam yang melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh, suasana di dalam kabin terasa begitu mencekam. Nazya tidak berhenti menangis, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada bidang Dafa, sementara tangan kurusnya meremas kemeja suaminya hingga kusut.
Dafa tidak banyak bicara, namun tangan besarnya terus mengusap punggung dan rambut Nazya dengan ritme yang menenangkan, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Sifat posesif dan pelindung Dafa bergejolak hebat. Ia benci melihat wanitanya hancur seperti ini, dan ia bersumpah akan mengerahkan seluruh dokter terbaik di negeri ini demi menyelamatkan nyawa mertuanya.
Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu lobi darurat Rumah Sakit Pusat Mahardika, Dafa langsung kembali menggendong Nazya masuk. Di sana, Mami Kinanti sudah menunggu dengan wajah yang cemas dan mata yang berkaca-kaca.
"Dafa! Nazya!" panggil Kinanti bergegas mendekat saat melihat kedatangan putra dan menantunya.
Dafa mendudukkan Nazya di atas sebuah kursi roda medis yang sudah disiapkan perawat, lalu menatap ibunya dengan pandangan menuntut. "Mami, bagaimana kondisi Ayah Handoko? Di mana dia sekarang?"
"Ayahmu sudah berada di dalam ruang resusitasi ICU, sayang," jawab Kinanti sambil menggenggam tangan Nazya yang sedingin es. "Dokter sedang melakukan tindakan darurat pembilasan lambung. Tadi... tadi saat pelayan mendobrak pintu kamar mandi karena mendengar suara jatuhnya tubuh, Mami melihat ada botol obat serangga yang sudah terbuka di dekat wastafel. Mulut Ayahmu... sudah dipenuhi busa."
Mendengar kata 'obat serangga', Nazya seketika membekukan seluruh gerakannya. Isakan tangannya terhenti, digantikan oleh rasa syok yang teramat sangat hingga matanya membelalak sempurna.
Obat serangga? Bunuh diri?
Pikiran Nazya langsung melayang pada percakapannya dengan sang ayah beberapa malam lalu. Ayahnya berkali-kali mengatakan betapa bersyukur dirinya melihat Nazya hidup bahagia bersama Dafa, namun di sisi lain, ayahnya juga sering menggumamkan kalimat bersalah karena merasa dirinya hanya menjadi beban finansial dan beban hidup yang menyusahkan bagi pernikahan siri Nazya. Apakah karena rasa bersalah yang teramat dalam itu, ayahnya memilih untuk mengakhiri hidupnya?
"Gak... gak mungkin..." bisik Nazya menggelengkan kepalanya histeris. "Ayah gak mungkin melakukan itu! Ayah janji mau melihat kaki Nazya sembuh! Ayah janji, Mas!" Jeritan pilu Nazya menggema di koridor rumah sakit yang sunyi, membuat Kinanti langsung memeluk menantunya itu dengan erat, ikut menangis merasakan kepedihan yang luar biasa.
Dua jam berlalu dalam ketegangan yang merayap lambat. Waktu seolah berjalan seperti siksaan bagi Nazya. Ia tetap setia duduk di atas kursi rodanya di depan pintu kaca ganda ruang ICU yang tertutup rapat, menolak untuk dipindahkan ke kamar perawatan biasa meskipun Dafa sudah membujuknya berkali-kali.
Dafa berdiri bersandar di dinding koridor rumah sakit, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana. Sepasang mata elangnya tidak pernah lepas dari sosok Nazya yang kini tampak begitu rapuh, dengan kepala yang bersandar pada bahu Mami Kinanti yang terus membisikkan doa-doa penenang.
Atmosfer rumah sakit yang dingin dan bau antiseptik yang menyengat seolah menambah beban berat di pundak mereka. Alur cerita berjalan begitu santai namun sarat akan emosi yang menguras batin. Tahap demi tahap, kita diperlihatkan bagaimana Nazya mulai menyalahkan dirinya sendiri atas kemalangan yang menimpa ayahnya.
TING.
Lampu indikator di atas pintu ruang ICU yang tadinya berwarna merah pekat, kini berubah menjadi hijau. Pintu ganda itu terbuka, menampilkan sosok dokter spesialis penyakit dalam berambut paku yang mengenakan jubah hijau medis lengkap dengan masker yang menggantung di lehernya. Wajah sang dokter tampak sangat kelelahan setelah melakukan pertempuran panjang di dalam ruang steril.
Nazya dengan cepat memutar roda kursi rodanya menggunakan sisa-sisa tenaganya, mendekati dokter tersebut. "Dokter... bagaimana keadaan ayah saya? Ayah saya selamat, kan, Dok? Tolong katakan kalau Ayah baik-baik saja..."
Dokter itu menatap Nazya, lalu beralih menatap Dafa yang kini sudah berdiri tegak di samping kursi roda istrinya. Sang dokter menghela napas panjang, sebuah gestur yang seketika menjatuhkan kembali batu berat ke dalam dada Nazya.
"Pihak medis sudah melakukan tindakan maksimal untuk mengeluarkan racun organofosfat dari dalam lambung Pak Handoko," jelas dokter itu dengan nada suara yang sangat hati-hati dan penuh empati. "Beruntung, dosis yang masuk belum sampai merusak seluruh organ vitalnya. Namun... karena kondisi jantung Pak Handoko yang memang sudah lemah sejak awal, tubuhnya mengalami syok kardiogenik yang cukup berat saat racun itu bereaksi."
Dokter itu terdiam sesaat, menatap lembar catatan medis di tangannya sebelum kembali menatap Dafa dan Nazya. "Saat ini, Pak Handoko dalam kondisi koma medis. Kami terpaksa memasangkan alat bantu napas ventilator penuh untuk menjaga suplai oksigen ke otaknya. Masa kritisnya adalah dua puluh empat jam ke depan. Jika dalam waktu dua puluh empat jam ini tubuhnya tidak menunjukkan respons positif... kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Kalimat terakhir dari dokter itu seketika memutus sisa-sisa tali kewarasan di dalam dada Nazya. Kemungkinan terburuk. Kata itu bergaung keras, meremukkan seluruh pertahanannya. Tubuh Nazya mendadak lunglai di atas kursi roda, pandangan matanya kosong menatap lantai koridor yang putih bersih.
Dafa dengan sigap berlutut di hadapan istrinya, meraih kedua tangan Nazya yang kini tidak lagi bergetar, melainkan terasa mati rasa tanpa kehidupan. "Nazya... tatap aku. Ayahmu pasti kuat. Dia akan melewati ini, mengerti?"
Nazya perlahan mengalihkan pandangan matanya yang kosong ke arah wajah tampan Dafa. Air matanya sudah kering, menyisakan jejak asin di pipinya yang pias. Dengan suara yang teramat datar dan dingin—sebuah nada suara yang belum pernah Dafa dengar dari istrinya yang lembut—Nazya berbisik.
"Mas Dafa... semua ini salah Nazya. Jika saja... jika saja dulu Nazya tidak menerima pernikahan ini, jika saja Nazya tidak membawa Ayah masuk ke dalam pusaran kehidupan mewah yang asing ini... Ayah tidak akan pernah merasa sehina dan seberharga ini hingga memilih untuk mati. Nazya... Nazya yang sudah membunuh Ayah secara perlahan dengan ketamakan Nazya untuk hidup bahagia."
Dafa membelalakkan matanya mendengar kalimat sakral bernada keputusasaan mutlak dari mulut Nazya. Belum sempat Dafa membalas kalimat mengerikan itu untuk menyadarkan pikiran istrinya, dari arah ujung koridor lift, sosok Mikael kembali berlari dengan langkah tergesa-gesa. Di tangannya, Mikael memegang sebuah kantong plastik bening kecil berkode bukti kepolisian.
"Pak Dafa... maaf saya harus mengganggu," ucap Mikael dengan napas memburu, berdiri di samping Dafa. "Tim identifikasi kita baru saja menggeledah sisa barang di kamar mandi rumah. Di dalam saku celana yang dipakai Pak Handoko sebelum pingsan... kami menemukan selembar kertas memo kecil ini. Dan ini... ini bukan surat wasiat bunuh diri, Pak."
Dafa mengernyitkan alisnya tajam, menyambar kantong plastik tersebut. Melalui lapisan plastik bening, sepasang mata elang Dafa dan mata kosong Nazya membaca tulisan tangan kasar di atas kertas yang ternoda sedikit percikan air itu. Tulisan itu bukan milik Pak Handoko, melainkan sebuah pesan ancaman cetak berdarah dingin:
‘Jika anak jandamu tidak membatalkan pemecatan Rendy dan memberikan kami uang tebusan lima miliar dalam waktu 24 jam... botol racun di tanganmu ini akan menjadi minuman terakhirmu, tua bangka. Pilih: anakmu yang hancur di tangan media, atau kamu yang mati.’