NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Konfrontasi Tingkat Tinggi

****

Deru langkah kaki Saka yang lebar dan kokoh perlahan menghilang di balik undakan tangga menuju lantai dua gedung administrasi, meninggalkan atmosfer kantin bawah yang mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Aku masih terduduk kaku di atas kursi plastik biru dengan kedua telapak tangan yang saling meremas satu sama lain, mencoba menyalurkan rasa cemas yang kian membuncah hingga membuat dadaku terasa sesak. Risa langsung mengambil tempat duduk di sebelahku, merangkul pundakku dengan erat untuk memberikan sisa-sisa kekuatan mental yang dia miliki.

"Mik, lo harus kuat. Saka bukan tipe berandal bodoh yang maju perang tanpa persiapan. Lo dengar sendiri kan tadi? Dia punya draf rekaman suara itu di kantong almamaternya," bisik Risa, mencoba menenangkan gemetar di tubuhku meskipun aku bisa mendengar dengan jelas bahwa nada suaranya sendiri ikut bergetar ketakutan.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, sementara mataku tetap terfokus menatap ke arah koridor atas. Di dalam benakku, bayang-bayang tentang apa yang akan terjadi di dalam ruang Kepala Sekolah terus berputar liar. Kedatangan Bapak Dirgantara—sosok pengusaha besar yang memegang kendali atas subsidi yayasan beasiswaku—bersama dua perwakilan dinas pendidikan kota, bukanlah musuh sepadan yang bisa digertak dengan otot atau solidaritas anak-anak pangkalan IPS. Ini adalah pertempuran melawan tembok kekuasaan modal dan relasi dunia nyata yang sesungguhnya.

Sementara itu, di dalam ruang Kepala Sekolah, ketegangan psikologis sudah berada di titik didih tertinggi. Ruangan kedap suara yang biasanya dipenuhi oleh aroma harum pengharum ruangan itu kini terasa begitu menekan. Di balik meja jati besarnya, Pak Malik duduk dengan gurat wajah yang sangat tegang dan penuh beban pikiran. Di hadapan beliau, di atas sofa kulit cokelat tua, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal bergaris rapi yang memancarkan aura otoritas mutlak yang luar biasa pekat.

Dia adalah Bapak Dirgantara, ayah kandung Devan.

Di sebelah kanannya, dua orang pria paruh baya berseragam dinas resmi dengan tanda pangkat kementerian pendidikan duduk tegak sambil memegang draf berkas laporan pengaduan. Dan di sudut sofa lainnya, Devan Dirgantara duduk dengan posisi tegap yang kaku. Senyuman ramah penuh manipulasinya telah hilang total, digantikan oleh sorot mata dingin nan tajam yang dipenuhi oleh rasa puas karena merasa angin kemenangan telah kembali berembus ke pihaknya.

*Tok! Tok! Tok!*

Ketukan pintu yang tegas memecah kesunyian ruangan tersebut. Sebelum Pak Malik sempat memberikan izin untuk masuk, pintu kaca buram itu sudah didorong terbuka secara konstan dari luar.

Saka Aditya melangkah masuk ke dalam ruangan dengan gerakan kaki yang sangat kokoh, tegap, dan penuh dominasi berandal yang tak tersentuh oleh rasa takut mati sedikit pun. Almamater biru tuanya terkancing sangat rapi, kemeja putihnya dimasukkan dengan sempurna ke dalam celana abu-abu, menampilkan visualisasi seorang siswa yang patuh pada aturan hukum sekolah. Namun, potongan rambut pendek barunya yang hitam bersih justru membuat aura keagresifannya yang tulus memancar semakin kuat di bawah siraman lampu ruangan.

"Selamat siang, Pak Malik," ucap Saka dengan nada suara bariton yang berat, serak, namun memiliki intonasi yang sangat tenang dan teratur. Dia berjalan lebar mendekati meja, mengabaikan sepenuhnya tatapan mematikan yang dilayangkan oleh Devan dan ayahnya.

"Saka Aditya! Silakan berdiri di sana!" perintah Pak Malik dengan nada suara yang berat, memberikan isyarat tangan agar Saka menepi di dekat pembatas meja kerja beliau. Beliau kemudian melirik ke arah Bapak Dirgantara dengan pandangan yang sarat akan rasa sungkan. "Bapak Dirgantara, ini adalah siswa yang bersangkutan atas insiden perusakan draf dokumen kontrak yayasan di ruang tamu tata usaha tadi pagi."

Bapak Dirgantara perlahan memajukan posisi duduknya, menopang kedua tangannya di atas tongkat berkepala perak miliknya, lalu melemparkan pandangan mata yang sangat dingin, meremehkan, dan penuh tekanan mental ke arah sosok tegap Saka.

"Jadi... kamu yang namanya Saka Aditya? Berandal jurusan IPS yang sudah berani mengacaukan kepengurusan OSIS anak saya dan merusak dokumen resmi hukum milik yayasan keluarga saya di dalam sekolah ini?" suara Bapak Dirgantara terdengar sangat berat, lambat, namun memiliki penekanan tak terbantahkan khas orang yang terbiasa mengontrol nasib hidup orang lain lewat modal finansial.

Saka tidak mundur satu senti pun di bawah intimidasi tingkat tinggi tersebut. Sebuah seringai sinis nan sangat tajam justru perlahan-lahan terukir di sudut bibirnya yang kokoh. Dia melepaskan lipatan tangannya, lalu berdiri tegak dengan pose siaga yang sangat mengintimidasi balik pihak lawan.

"Benar, Pak Dirgantara. Saya yang merobek kertas draf kontrak sampah itu tadi pagi di ruang tata usaha," jawab Saka dengan nada suara yang sangat teratur dan santai, tanpa ada setitik pun getaran ketakutan di dalam pita suaranya. "Dan saya melakukan itu karena dokumen yang dibawa oleh anjing korporat Anda tadi pagi bukan draf beasiswa biasa, melainkan surat pemerasan emosional tingkat tinggi yang bertujuan untuk mengurung kembali kebebasan Mikaela di luar sekolah."

"Jaga mulut kamu, Saka! Di hadapan kamu ini adalah donatur utama yayasan sekolah kita dan perwakilan resmi dari dinas pendidikan kota!" bentak salah satu petugas dinas ber-badge resmi sambil memukul meja kaca sofa dengan keras. "Tindakan kamu yang merusak dokumen resmi dan melakukan pengancaman fisik di lingkungan sekolah sudah lebih dari cukup untuk membuat kami mengeluarkan surat rekomendasi pemecatan permanen dan pencabutan hak belajar kamu di seluruh dinas kota hari ini juga!"

Devan yang mendengar kalimat tegas dari petugas dinas tersebut langsung menaikkan sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai tipis penuh kemenangan psikologis yang mutlak. Dia menatap Saka dengan kilat mata yang seolah berbisik: *Permainan kamu sudah berakhir, Saka. Di depan kekuasaan ayah saya, kamu bukan apa-apa selain sampah jalanan yang bisa dibuang kapan saja.*

Namun, alih-alih meledak dalam pukulan otot ugal-ugalan yang biasa dia lakukan saat terdesak, Saka justru menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan tawa lirih yang sangat dingin nan beracun memecah ketegangan di dalam ruang Kepala Sekolah yang sunyi.

Saka merogoh saku bagian dalam almamater rapinya dengan satu gerakan tangan yang sangat cepat dan taktis. Dia tidak mengeluarkan senjata tajam atau draf berkas anggaran OSIS yang dia gunakan untuk mengancam Yudha semalam. Tangan kokoh Saka mengeluarkan sebuah alat perekam suara digital persegi panjang berwarna hitam dengan lampu indikator kecil yang berkedip biru halus.

Saka meletakkan benda hitam itu tepat di atas meja kerja jati milik Pak Malik dengan suara hantaman yang konstan.

"Silakan Anda sekalian keluarkan surat pemecatan permanen saya dari dinas pendidikan kota hari ini juga. Saya gak punya beban apa-apa buat kehilangan sisa masa SMA saya di sekolah ini," tutur Saka dengan nada suara yang merendah, sangat lambat, namun sarat akan ancaman maut yang seketika membuat atmosfer ruangan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Saka memajukan tubuh tingginya, menatap lurus ke dalam manik mata Bapak Dirgantara dengan kilat mata elangnya yang memancarkan obsesi perlindungan yang teramat pekat dan tak terkalahkan di dunia nyata.

"Tapi sebelum draf pemecatan saya ditandatangani... saya pastikan alat perekam suara digital di atas meja ini sudah memutarkan seluruh durasi tiga puluh menit rekaman audio pemerasan emosional, ancaman manipulasi hukum sekolah, dan tindakan intimidasi psikologis yang dilakukan oleh Devan Dirgantara kepada Mikaela di ruang OSIS dua minggu lalu," geram Saka dengan keagresifan tulus yang mutlak. "Di dalam alat ini juga ada rekaman tambahan dari kejadian kejar-kejaran maut di jalan raya komplek dua hari lalu, di mana Devan nekat mencoba menabrakkan mobil mewahnya demi memuaskan obsesi posesif beracunnya."

Wajah Bapak Dirgantara yang semula dipenuhi keangkuhan kelas atas, seketika berubah menjadi sangat kaku dan pucat mendengar detail amunisi yang dibawa oleh Saka. Sementara Devan refleks berdiri dari kursinya dengan mata membelalak lebar penuh kepanikan yang luar biasa hebat. Topeng ketenangannya hancur lebur tanpa sisa untuk yang kedua kalinya.

"Saka! Jangan berani lo memutar benda itu di depan dinas!" bentak Devan dengan suara yang melengking frustrasi, berniat merangsek maju untuk merebut alat perekam tersebut sebelum tangan kokoh Saka dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya dengan satu sentakan kasar yang sangat agresif hingga membuat Devan mengaduh kesakitan.

"Diam di tempat lo, mantan Ketua OSIS bangsat," bisik Saka tepat di telinga Devan, melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga Devan terdorong mundur jatuh terduduk kembali di sofa.

Saka kembali menatap Pak Malik dan dua perwakilan dinas pendidikan yang kini melotot tak percaya menatap dinamika kekuasaan yang berbalik cepat di depan meja kerja mereka. "Salinan draf rekaman suara ini sudah aman tersimpan di dalam tiga server pangkalan anak-anak IPS belakang pasar lama. Kalau sampai sore ini saya dikeluarkan dari sekolah, atau kalau sampai yayasan keluarga Dirgantara nekat menyentuh, memotong, atau merusak jalur beasiswa kuliah Mikaela tahun depan... saya bersumpah gak bakal ragu buat menyebarkan seluruh isi audio rekaman maut ini ke jalur media massa dan platform publik luar kota."

Saka melangkah satu langkah terakhir tepat di depan sofa Bapak Dirgantara, menundukkan tubuh tegapnya sedikit untuk memberikan tekanan psikologis yang mutlak tanpa ada lagi sekat formalitas sekolah.

"Mari kita lihat bersama-sama, Pak Dirgantara... apakah surat pemecatan seorang berandal IPS kayak saya ini sebanding dengan kehancuran total reputasi bisnis saham, nama baik keluarga besar Dirgantara, dan draf tuntutan hukum pidana atas percobaan pembunuhan di jalan raya yang bakal dihadapi oleh anak kesayangan Anda ini di media nasional? Hak perlindungan dan masa depan Mikaela udah resmi dikunci di bawah tangan gue mulai detik ini, dan gak akan ada satu pun kekuatan modal yang bisa membelinya dari gue. Paham?!" tegas Saka dengan seringai dingin nan sangat tajam yang mengunci mati seluruh pergerakan kubu musuhnya.

Bapak Dirgantara mematikan seluruh argumen hukumnya, wajahnya memerah padam menahan rasa malu, amarah, dan kekalahan telak yang luar biasa hebat karena gertakan mentalnya dipatahkan seutuhnya oleh keagresifan taktis dan perlindungan total dari seorang Saka Aditya sore itu. Dua perwakilan dinas pendidikan kota perlahan menurunkan draf berkas laporan mereka dengan tangan yang sedikit bergetar, menyadari bahwa konfrontasi asmara berkarakter *red flag* perlindungan posesif ini telah resmi dimenangkan secara mutlak oleh si berandal patuh aturan, tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi kekuatan modal mana pun untuk bisa mengusik kembali kebebasan hidup diriku di luar sana.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Boom! Skakmat total tingkat korporat dan dinas pendidikan resmi diledakkan oleh Saka Aditya di Bab 30 ini, guys!** Sumpah, puas dan merinding banget pas ngetik bagian konfrontasi di dalam ruang Kepala Sekolah ini. Taktik cerdas, taktis, dan sangat agresif yang ditunjukkan Saka di depan Bapak Dirgantara bener-bener membuktikan kalau pesona *bad boy* versi rapi-posesif miliknya memiliki level kekuatan mental yang gak ada tandingannya di dunia nyata!

> Dia siap mempertaruhkan masa depan sekolahnya sendiri, bahkan menantang balik kekuatan modal raksasa keluarga Devan dengan amunisi draf rekaman suara rahasia yang tersimpan aman di pangkalan IPS. Momen pas Saka mematahkan gertakan dinas dan membungkam Devan bener-bener nunjukin kalau kebebasan dan masa depan Mikaela adalah hak milik perlindungan mutlak yang tidak akan pernah bisa diusik oleh siapa pun lagi.

> Kira-kira setelah kekalahan telak dan memalukan di depan dinas pendidikan ini, keputusan ekstrem apa yang bakal diambil oleh Bapak Dirgantara untuk menyelamatkan nama baik keluarganya? Apakah Devan bakal bener-bener dikunci di dalam rumah selama-lamanya? Yuk, ikuti terus perkembangan kelanjutan kisah penuh proteksi beracun yang bikin candu ini di bab selanjutnya besok pagi ya! Jangan lupa klik tombol **Like** di bawah dan ramaikan kolom **Komentar** dengan sorak kemenangan kalian buat Saka!

>

1
Indah Sari Nurwahyuningtyas
tapi bagus ga si kalo si saka sama devan kerja sama buat dapetin Mikaela kan jadi seru
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!