Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan di Ambang Badai
Matahari siang merayap tepat ke ubun-ubun, membakar cakrawala dengan panas yang menyengat.
Udara di sekitar rumah panggung itu terasa statis, hanya sesekali digerakkan oleh embus angin kering yang membawa aroma getah damar yang tajam.
Di halaman, langkah kaki terdengar mendekat. Kakek, Nenek, Arkala, dan Arunika baru saja kembali dari kebun dengan sisa-sisa peluh yang membasahi kening.
Arunika berjalan paling depan dengan langkah yang tenang dan pelan.
Di tangannya, ia mendekap beberapa tangkai bunga liar berwarna pucat yang ia temukan di pinggiran kebun.
Wajahnya tetap kalem, nyaris tanpa ekspresi yang berlebihan, namun matanya memancarkan keteduhan yang dalam. Ia meletakkan bunga-bunga itu ke dalam sebuah vas kecil di meja kayu yang terletak di bawah naungan pohon damar besar.
Senja, yang sejak kepergok oleh Arkala di gudang tadi pagi merasa jantungnya tidak pernah berhenti berdegup kencang, mencoba memasang wajah senormal mungkin.
Namun, setiap kali matanya bersitatap dengan pintu gudang yang kini sudah terkunci, rasa mual itu kembali datang.
"Adit, mari makan siang ke dalam, kakek dan nenek memanggilmu untuk makan siang bersama" ajak Arunika dengan suara lembut dan rendah.
Senja bangkit dengan kaki yang terasa berat. Ia kemudian masuk menuju dapur dan duduk di kursi kayu, ternyata di hadapannya Arkala telah duduk terlebih dahulu.
Di tengah keheningan siang itu, Arunika duduk sembari memperhatikan jemarinya. Ia mencoba membersihkan sisa getah kuning di depan wastafel yang menempel di sela kukunya dengan ujung serbet, gerakannya pelan namun saksama.
"Getah damar hari ini sangat lengket," ucap Arunika pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri setelah membersihkan tangannya dan menghampiri meja makan. "Sudah dicuci berkali-kali pun, rasanya masih tertinggal di kulit."
Deg.
Senja yang saat itu sedang meneguk air putih, mendadak tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sesak, gelasnya beradu dengan meja kayu hingga menimbulkan bunyi klotak yang nyaring.
Kalimat sederhana tentang "getah yang lengket" itu memicu kilatan ingatan yang baru saja muncul di kepalanya: seorang anak laki-laki yang sedang mengoleskan getah damar ke kursi sekolah, lalu dengan sengaja menempelkannya ke rambut seorang gadis kecil.
"Adit? Pelan-pelan," ujar Arunika tenang, sembari menyodorkan selembar tisu. Terdapat kepanikan di wajahnya, dan juga terdapat perhatian yang tulus di seberang sana.
"Nggak apa-apa... hanya tersedak," bisik Senja parau. Wajahnya yang semula merah kini berubah menjadi pucat pasi.
Dari seberang meja, Arkala tidak sedetik pun melepaskan pandangannya. Matanya yang tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik Adit.
Arkala masih ingat betul bagaimana ia memergoki pemuda kota itu keluar dari gudang dengan wajah linglung pagi tadi. Kecurigaannya kini berubah menjadi kewaspadaan yang mencekam.
Untuk mencairkan suasana yang mendadak beku, Kakek terkekeh pelan sembari menyuap nasi. "Soal getah yang lengket itu, Kakek jadi teringat kejadian lama. Waktu kita masih di desa yang dulu, belasan tahun silam."
Senja merasakan dunianya seolah berhenti berputar. Tangannya yang berada di bawah meja mulai gemetar hebat.
"Ada seorang anak laki-laki yang jahil sekali ke Arunika kecil kita," lanjut Kakek dengan nada melankolis.
"Dia sangat jahil. Dia mengambil getah damar, lalu ditempelkan ke kursi teman sebangkunya. Kasihan sekali Arunika kecil pada waktu itu, rambutnya sampai harus dipotong pendek karena getahnya tidak bisa lepas. Dia menangis sampai sesak napas di bawah pohon, lalu pulang dan mengadu kepada kakek."
Warna wajah Senja kini benar-benar hilang. Ia merasa ingin muntah. Ingatan tentang anak laki-laki yang tertawa dingin kini mendapatkan konfirmasi langsung dari lisan Kakek.
Arkala menyadari perubahan drastis pada wajah Adit. Ia menyipitkan mata, lalu dengan nada yang sengaja dibuat tajam, ia memotong. "Lalu, Kek? Apa anak itu tidak merasa bersalah? Atau dia justru senang melihat orang lain menderita?"
"Entahlah, Nak. Anak itu sepertinya tidak memiliki perasaan seperti itu, buktinya tidak ada permintaan maaf dari di ke Arunika," sahut Kakek sembari menggeleng sedih.
"Teruskan ceritanya, Kek. Sepertinya Adit sangat tertarik mendengar kisah itu," pancing Arkala lagi, matanya terus menghujam Senja yang kini tampak seperti orang yang baru saja melihat ajalnya sendiri.
Tentu saja Arkala sudah tahu cerita itu hanya saja dia penasaran dengan ekspresi lebih lanjut dari Adit.
"Aku... aku izin ke bawah sebentar. Mau cari udara segar," potong Senja dengan suara yang nyaris hilang. Ia bangkit dengan terburu-buru, membuat kursinya berderit nyaring.
Senja berjalan menjauh, menuju bagian halaman yang paling teduh di dekat pohon damar.
Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di kepalanya, bayangan anak laki-laki itu kini memiliki wajah yang sama dengannya.
Arkala melihat hal itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia sangat menyayangi Arunika, dan kenyataan bahwa pemuda di depannya ini mungkin adalah orang yang pernah menghancurkan masa kecil gadis itu membuat darahnya mendidih.
Arkala kini berada di tingkat "Siaga 1". Ia takut jika dugaannya benar, Arunika akan kembali terluka dan menjauh darinya.
Kakek menatap kepergian Senja dengan dahi berkerut. "Kenapa dengan Nak Adit? Sepertinya dia benar-benar tidak sehat."
"Ika," panggil Kakek pada Arunika. "Tolong susul Adit. Bawakan teh hangat ini. Tanyakan pelan-pelan dia kenapa, barangkali pusingnya kumat lagi karena panas."
Arunika mengangguk patuh.
Ia mengambil cangkir teh itu dengan tenang, lalu berjalan perlahan menghampiri Senja. Angin berembus kencang, menerbangkan helai-helai rambut Arunika yang indah—rambut yang dulu pernah dipotong paksa karena sebuah kekejaman.
"Adit? Ini teh dari Kakek. Diminum dulu supaya tenang," ujar Arunika lembut saat ia sudah berdiri di dekat Senja.
Senja berbalik perlahan.
Matanya yang merah menatap Arunika dengan tatapan yang penuh dengan luka dan rasa bersalah. Ia melihat ketenangan di mata gadis itu, dan hal itu justru membuatnya merasa seperti monster.
"Terima kasih, Ka," bisik Senja parau.
"Kamu sepertinya memikirkan sesuatu yang berat".
Senja menatap Arunika lama. "Ka... apa kamu benar-benar ingat siapa yang melakukan itu padamu? Dan apakah kamu... bisa memaafkannya?"
"Kenapa kamu menanyakan itu, apakah kamu orangnya? tapi tidak mungkin kan dit?" Arunika ketawa
Adit hanya terdiam lalu berkata "Tentu saja tidak, aku hanya penasaran gimana reaksimu itu pasti meninggalkan trauma berat bukan bagimu" Ucap Adit.
"Tidak juga, aku punya memori yang lebih buruk dari itu, tapi apakah itu yang membuat kamu terlihat banyak pikiran?" Ucap Arunika.
"Tidak, hanya saja aku tadi tiba tiba merasa pusing dan butuh udara segar untuk bernafas, aku juga lagi memikirkan projek yang bermasalah akhir-akhir ini makanya mungkin aku jadi lesu dan kelihatan banyak pikiran".
"Ooo begitu. Semoga urusan pekerjaan mu bisa selesai ya" Ucap Arunika
Senja mengangguk setuju. "Tapi apakah kejadian yang diceritakan kakek meninggalkan bekas trauma kepadamu" Ucap Senja.
Arunika terdiam.
Ia menatap hamparan pohon damar di depan mereka. "Memaafkan bukan berarti melupakan, Adit. Bekasnya memang sudah tidak ada, tapi rasa takutnya terkadang masih muncul saat angin bertiup terlalu kencang seperti ini."
Mendengar itu, Senja merasa dunianya runtuh. Ia kini yakin sepenuhnya. Ia adalah pelaku itu, dan Arunika adalah korbannya.
Di bawah terik siang yang melankolis itu, sebuah kebenaran pahit mulai terkuak sepenuhnya di dalam batin Senja, meninggalkan dirinya dalam kehancuran, sementara Arkala terus mengawasi dari kejauhan dengan kecurigaan yang kian mengental.