NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27 Seseorang Yang Kamu Percaya

Aditya tidak kembali ke kelas setelah dari bertemu dengan Ayahnya. Ia masih terpuruk dan ingin menenangkan diri di atap sekolah. Ia duduk di sudut dengan pandangan kosong menatap layar ponselnya yang sesekali mati dan ia hidupkan lagi. Hanya sekedar ingin mengingat kenangan manis di masa lalunya yang singkat dan samar bersama Ibunya. Ia terduduk dan termenung cukup lama. Memikirkan sanga Ibu, apakah ia juga merasakan hal yang sama seperti Ayahnya? Sekali pun tidak pernah memikirkan dirinya. Karena itu selama bertahun-tahun ia tidak pernah menelpon atau menemuinya.

Semakin Adit pikirkan, hatinya semakin terasa sakit. Lantas, kenapa ia dilahirkan jika memang tidak diinginkan? Setidaknya itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Waktu semakin berlalu, namun Adit sama sekali tidak peduli. Ia hanya sedang terpuruk dan terluka saat ini. Ia hanya ingin mencoba menerima dan kembali seperti biasa di hadapan semua orang. Tapi semakin ia pikirkan semakin ia merasa begitu rapuh dan tidak berdaya.

Disaat seperti ini, hanya satu orang yang membuat Adit merasa tenang saat memikirkannya. Yaitu, Santi Ibunya Aksa. Entah kenapa rasanya Adit begitu merindukan sosok Santi saat ini. Kata-katanya yang penuh positif, sikapnya yang hangat dan perhatiannya yang sangat membuat Adit merasa tenang. Walaupun dia bukan orang tuanya, walaupun ia hanya orang asing yang baru dikenalnya. Namun entah kenapa ia begitu memikirkannya dan begitu merindukannya. Mungkin karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang tuanya.

Terik matahari semakin menyengat. Adit menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menaruh hpnya di saku celana dan bangkit berdiri menatap jauh ke depan melihat hamparan bumi yang ditanami oleh bangunan-bangunan tinggi.

"Padahal cuaca hari ini sangat bagus, " gumam Aditya kemudian mencoba tersenyum meski terasa berat.

Sementara itu, jam istirahat pertama sudah lama berakhir semua siswa kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Namun, saat wali kelas datang untuk mengabsen, ia mendapati Aditya tidak ada dikelas setelah saat ini.

"Dimana Aditya? Tidak ada yang tahu dia dimana? Apa dia bolos lagi? Hadeuh anak ini! Dia pikir sekolah ini tempat bermain yang bisa seenaknya ia datangi dan tinggali begitu saja. Kemarin dia juga bolos sama Devina kan?" ujar wali kelas merasa cukup frustasi menghadapi Aditya karena sebentar lagi ujian tiba dan ia masih bermain-main bukannya belajar dengan benar.

"Iyah, Pak. Maafkan aku, " balas Devina menyesal.

"Untuk kamu dan Aditya, nanti di jam kedua istirahat temui Bapak di ruang guru, " sahutnya kemudian.

"Baik, Pak. " Devina hanya bisa menerima konsekuensi dari perbuatannya kemarin yang kabur dan membolos bersama Aditya.

Aksa baru tahu tentang Devina yang bolos bersama Adit. Karena ia pikir kemarin pas ia datang ke rumah sakit itu adalah waktu setelah jam sekolah berakhir. Lantas, Aksa hanya bisa memahaminya dan memaklumi tanpa adanya rasa ingin bertanya kepada Devina tentang hal itu. Justru ia malah tersenyum lucu karena tindakan konyol yang telah dibuat nya itu.

Lantas, ketika jam istirahat kedua sudah tiba, Devina hendak pergi ke ruang guru sendiri. Namun, wali kelas menyuruhnya untuk pergi bersama Aditya. Devina mencarinya kemana-mana tapi tidak ia temukan sosok itu dimana pun.

"Aduuh! Dimana sih nih, anak? Bikin repot saja kerjaan nya, " Devina menggerutu kesal karena sudah lelah mencari-cari tapi tidak ketemu juga.

Devina hampir menyerah untuk mencari Aditya, ia pikir mungkin Aditya tidak ada disekolah saat ini. Namun, ia melihat tangga darurat menuju atap sekolah di lantai tiga sedikit terbuka. Makanya ia pun berniat memeriksa kesana. Devina tidak percaya kepada Aditya bisa sesantai itu tidur siang di sana. Sementara ia lelah sendiri mencarinya kemana-mana. Devina memicingkan tatapannya sambil menaruh kedua tangan nya di pinggang.

"Aditya? Loh sedang apa disini? Wali kelas nyariin loh. Ayo bangun! " seru Devina sedikit menyulut karena kesal.

Aditya sebenarnya tidak tidur ia hanya berbaring sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari atas sana dan menutupi matanya disebabkan silau matahari dengan tangannya.

Aditya terbangun dengan penampilan yang sangat kacau. Terlihat sangat jelas kedua matanya sembab dan memerah. "Ada apa? Kenapa wali kelas nyariin gue? " tanya Adit sedikit lesu dan malas menjawab.

"Ada apa? Loh habis nangis? " sahut Devina setelah melihat wajah Adit dengan jelas.

"Bukan begitu. Untuk apa gue nangis?" Aditya terkekeh menyangkalnya. Sebenarnya ia sangat malu mengakui dan ia tidak ingin dikasihani.

Namun, tidak bisa ia pungkiri berapa berat lukanya saat ini. Aditya yang biasa ceria tiba-tiba menangis sendirian di atap membuat Devina merasa cukup khawatir tentangnya. Karena ia seperti sedang melihat dirinya sendiri yang sama seperti Adit. Terkadang ia juga menangis ketika sendiri namun sering tersenyum di depan semua orang. Tanpa orang lain tahu bahwa ia sangat hancur kala itu.

Devina mendesah pelan lalu duduk di sampingnya. "Terlihat sangat jelas kalau loh habis nangis. Sebab itukah loh bolos kelas tadi?" ujar Devina ingin memahami lukanya alih-alih menyalahkan dan memarahinya.

"Ah, inilah sebabnya gue benci saat gue harus menangis. Memalukan ketika orang lain melihatnya, " balas Adit sambil menundukkan wajahnya.

Devina menatapnya cukup lama. Tidak mengalihkan pandangan dari wajah Adit. "Gue gak tahu mengapa loh menangis. Tapi, gue tahu bagaimana rasanya menangis sendirian, bersembunyi dari orang lain, karena tidak ingin orang lain tahu luka kita. Gue sangat tahu rasanya, " tukas Devina kemudian.

Adit mengangkat wajahnya lalu menoleh menangkap tatapan lembut darinya itu. "Sungguh? " tanya Adit lagi nampak sedikit terhibur dengan cerita Devina tentang dirinya yang juga mengalami hal yang sama.

Devina mengangguk. "Em! Memang sangat berat untuk dipikul sendirian. Dan sulit untuk diungkapkan kepada orang lain. Namun, sejak aku mempercayai Aksa dan mulai terbuka semua tentang luka gue padanya. Rasanya lebih ringan dibandingkan saat gue menangis di pojok sendirian. Karena itu, cobalah! Carilah seseorang yang dapat loh percayai untuk berbagi luka dan kesedihan loh, " sahut Devina memberinya sedikit nasihat.

Aditya tidak langsung menjawab dan hanya menatap Devina sangat dalam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca memancarkan cahaya yang terkena silau matahari. Devina sedikit gugup saat mendapatkan tatapan tersebut dari Adit. Sehingga ia bergegas beranjak berdiri sambil gelagapan.

"Sudahlah. Ayo, Pak Wira ingin kita menemuinya di ruang guru sekarang juga, " ujar Devina kemudian seraya melangkah lebih dulu meninggalkan Aditya yang masih terduduk diam menatap punggung Devina yang mulai menghilang dari pandangannya. Aditya menarik nafas panjang dan bergegas menyusul Devina ke ruang guru.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!