Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Benteng Keceriaan
Suasana di dalam mobil yang tadinya penuh dengan tensi menggoda dan ejekan nakal seketika membeku. Tawa kecil Gisel yang baru saja menghiasi udara malam mendadak terhenti saat ponsel di pangkuannya bergetar hebat. Nama 'Rian' terpampang di layar.
Gisel mengangkatnya dengan dahi berkerut. "Halo, Rian? Kenapa telepon malam-malam begini? Kakak lagi jalan pul—"
"Kak! Kak Gisel! Ibu, Kak... Ibu kumat lagi!" suara Rian di seberang sana pecah oleh tangisan. "Ibu pingsan di kamar mandi, napasnya sesak banget. Rian takut, Kak! Rian udah panggil ambulans, sekarang kami otw ke RS Medika!"
Ponsel Gisel hampir terjatuh dari genggamannya. Seluruh oksigen di dalam mobil seolah tersedot keluar. Wajah Gisel yang tadinya merona merah karena menggoda Arsel, kini berubah pucat pasi seputih kertas.
"Rian... tenang, Rian. Kakak ke sana sekarang. Kakak ke sana..." suara Gisel bergetar hebat, nyaris tak terdengar.
Arsel yang menyadari perubahan drastis itu segera mematikan egonya. Ia melihat tangan Gisel gemetar hebat saat mencoba mencari alamat rumah sakit yang dikirimkan adiknya lewat pesan singkat.
"Gisella? Ada apa?" tanya Arsel, suaranya kini melunak, penuh kekhawatiran yang tulus.
Gisel tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya dengan tangan yang bergetar. Air mata pertama jatuh membasahi pipinya yang tadi dipoles *make-up* mahal. Isakan kecil mulai lolos dari bibirnya, yang kemudian berubah menjadi tangis sejadi-jadinya.
"Pak... tolong... Ibu saya..." Gisel menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya terguncang hebat. "Tolong antar saya ke RS Medika, Pak. Saya mohon..."
Tanpa membuang waktu, Arsel menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia melakukan manuver tajam di tengah jalanan yang mulai lengang, melesat menuju alamat yang dituju. Di sampingnya, Gisel sudah kehilangan seluruh energinya. Gadis ceriwis yang selalu punya jawaban untuk setiap hinaan Arsel itu kini tampak sangat rapuh dan kecil.
"Jangan tinggalin Gisel, Bu... jangan kayak Ayah..." rintih Gisel di sela tangisnya.
Arsel tetap fokus pada kemudi, namun telinganya menangkap setiap rintihan pilu Gisel. Ia belum pernah melihat Gisel sehancur ini.
"Ibu harus kuat... Gisel janji bakal kerja keras... Gisel udah dapet uangnya, Bu... Ibu jangan pergi dulu..." Gisel meracau, air matanya menghapus riasan cantiknya, meninggalkan jejak hitam maskara di pipinya.
Ia menoleh ke arah Arsel dengan mata yang membengkak. "Pak Arsel, saya nggak mau kehilangan Ibu. Ayah udah ninggalin saya pas saya masih butuh dia karena kecelakaan itu... Saya nggak sanggup kalau Ibu juga pergi sekarang. Tolong... suruh dokter lakuin apa aja, Pak. Saya mohon..."
Hati Arsel yang selama ini dianggap sedingin es, kini terasa nyeri. Ia meraih tangan Gisel yang dingin dan gemetar, menggenggamnya erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi.
"Dengarkan saya, Gisella," suara Arsel terdengar tenang namun sangat kokoh. "Ibumu akan baik-baik saja. Kita akan sampai dalam lima menit. Saya akan pastikan dokter terbaik yang menanganinya. Jangan bicara soal kematian. Fokus pada napasmu, oke?"
Genggaman tangan Arsel yang besar dan hangat memberikan sedikit kekuatan pada Gisel. Gadis itu menyandarkan kepalanya di jok mobil, mencoba mengatur napasnya yang tersengal karena serangan panik.
Sesampainya di rumah sakit, Arsel bahkan tidak memedulikan posisi parkir mobil mewahnya. Ia langsung keluar dan membukakan pintu untuk Gisel yang kakinya terasa lemas. Gisel berlari menuju ruang instalasi gawat darurat (IGD), di mana ia melihat Rian duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.
"Rian! Ibu gimana?!" Gisel memeluk adiknya erat. Keduanya menangis di tengah lorong rumah sakit yang dingin.
Arsel berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia segera menghubungi asisten pribadinya dan juga manajemen rumah sakit yang kebetulan merupakan salah satu rekanan bisnisnya untuk memastikan Ibu Sarah mendapatkan fasilitas VVIP dan penanganan prioritas tanpa perlu memikirkan administrasi.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar. Gisel langsung menyergapnya. "Dokter, gimana Ibu saya?"
"Kondisinya sempat kritis karena gagal napas, tapi berkat penanganan cepat, sekarang sudah stabil. Pasien harus segera dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi ketat," jelas Dokter tersebut.
Gisel terduduk di kursi tunggu, seluruh tenaganya seolah habis. Ia menangis lagi, namun kali ini tangis syukur. Arsel mendekat, melepaskan jas tuxedo-nya yang mahal, dan menyampirkannya ke bahu Gisel yang terbuka karena gaun malamnya.
Gisel mendongak, menatap Arsel yang kini berdiri di depannya tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung.
"Terima kasih, Pak Arsel... kalau nggak ada Bapak, saya nggak tahu harus gimana," bisik Gisel dengan suara serak.
Arsel berjongkok di depan Gisel, menyejajarkan matanya dengan mata gadis itu. Ia menghapus sisa air mata di pipi Gisel dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Jangan berterima kasih. Sekarang kamu tenanglah. Ibumu sudah aman," ujar Arsel.
Di titik terendah dalam hidupnya, Gisel menyadari satu hal. Arsel bukan lagi sekadar target dalam kontrak gila Nyonya Widya. Pria ini adalah tempatnya bersandar saat dunianya runtuh. Dan bagi Arsel, melihat Gisel menangis seperti tadi membuatnya sadar bahwa ia akan melakukan apa pun—benar-benar apa pun—untuk menjaga senyum ceriwis gadis itu tetap ada, bukan karena kontrak, tapi karena ia tidak sanggup melihat Gisel hancur lagi.
Malam itu, di lorong rumah sakit yang sunyi, sebuah ikatan baru terbentuk. Jauh lebih kuat daripada sekadar ciuman sandiwara atau godaan 10 jam.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏