NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Alasan pertemuan selanjutnya.

Malam mulai turun perlahan saat lampu-lampu di gedung perusahaan satu per satu menyala. Namun, ruang kerja di lantai paling atas itu masih terang.

Nara duduk di depan laptopnya, menelusuri laporan demi laporan yang terus berdatangan. Jas kerjanya sudah ia lepaskan dan disampirkan di kursi sebelah, menyisakan kemeja putih yang lengannya kini tergulung rapi sampai siku. Pandangannya lelah, tetapi jemarinya tetap bergerak di atas touchpad.

Tok ... Tok ... Tok. Ketukan pelan, terdengar dari pintu.

"Masuk."

Tiwi muncul sambil membawa beberapa map tambahan. "Ini revisi kontrak yang tadi Anda minta."

Nara menerimanya tanpa banyak bicara. Namun, sebelum Tiwi berbalik pergi, suaranya kembali terdengar.

"Bagaimana mobilku?"

Tiwi berhenti. "Masih dicek di bengkel, Nona."

"Belum selesai?"

"Katanya ada beberapa bagian yang harus diperiksa lebih detail."

Nara mengangkat wajah perlahan. "Mobil baru diperiksa selama itu?"

Tiwi tampak ragu sesaat. "Pak Budi mendapat kabar dari pihak bengkel, katanya ada sesuatu yang janggal di bagian mesin."

Menutup map di tangannya pelan, tatapan Nara jatuh ke meja, tapi pikirannya melayang ke pagi tadi.

Suara mesin yang mati mendadak, uap tipis yang sempat mengepul dari balik kap. Dan ... pemuda bernama Sagara yang mengantarnya hingga tiba di kantor tepat waktu.

"Dia memang bilang ada yang aneh," gumam Nara hampir tak terdengar.

Tiwi mengerjap bingung. "Nona bicara apa?"

"Tidak ada," jawab Nara cepat. Ia lalu berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar di samping ruangan. Kota di bawah sana dipenuhi cahaya kendaraan dan gedung tinggi yang tak pernah tidur.

Biasanya pemandangan itu membuatnya tenang, tapi malam ini berbeda. Perasaannya tak nyaman sejak tadi siang.

"Tiwi."

"Iya, Nona?"

"Besok pagi aku mau laporan lengkap soal mobil itu."

"Baik."

"Dan ...." Nara berhenti sejenak. "Cari tahu siapa yang terakhir memeriksa mobilku sebelum pagi tadi."

Tiwi langsung mengangguk. "Saya mengerti."

Ia hendak keluar. Namun, Nara yang sempat berpikir ulang kembali memanggilnya kembali. "Tiwi."

Asisten muda itu menoleh lagi. "Iya, Nona. Apa ada hal lain?"

Nara masih berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di dada. Pantulan cahaya kota membuat wajahnya terlihat semakin dingin. Ia terdiam beberapa saat, seolah memikirkan sesuatu. "Aku ingin memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi."

Tiwi tampak sedikit bingung. "Maksud, Nona?"

Tatapan Nara mengeras. Mobil itu mogok tepat sebelum rapat luar biasa dimulai. Terlalu pas untuk disebut kebetulan. Dan Ia tidak pernah percaya pada kebetulan.

"Besok aku akan datang langsung ke bengkel itu," lanjutnya tenang. "Kau cukup kirim alamatnya."

Alis Tiwi langsung terangkat. "Nona mau datang sendiri?"

"Ada masalah?"

"Bukan begitu, hanya saja ...." Tiwi tampak ragu. "Tempatnya mungkin tidak seperti yang biasa Nona datangi."

Nara menoleh sekilas. "Aku tetap harus pergi ke sana," ucapnya tegas. "Untuk mencari jawaban," gumamnya dalam hati.

Tiwi akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Nona. Saya akan mengatur ulang jadwal Anda besok pagi."

"Dan kau bisa pulang lebih dulu."

"Selamat malam, Nona."

Setelah asistennya keluar, ruangan kembali sunyi. Nara memijat pelipisnya pelan. Kecurigaannya mulai tumbuh perlahan.

Di dunia bisnis keluarganya, terlalu banyak orang tersenyum sambil menyimpan niat lain di belakang. Karena itu ia tidak bisa mengabaikan firasatnya sendiri.

Jika memang ada seseorang yang sengaja membuat mobilnya bermasalah, berarti orang itu tahu jadwal rapat penting pagi tadi.

Tatapan Nara perlahan turun ke jalanan kota di bawah sana. Lalu tanpa sadar, wajah pria yang mengantarnya pagi tadi kembali muncul di kepalanya.

Pintu ruangan kembali diketuk. Nara yang masih berdiri di dekat jendela menoleh singkat. "Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan setelan jas abu gelap yang masih rapi meski hari sudah malam. Wajah tampannya tampak tenang, sementara senyum tipis terukir Samar di bibirnya.

"Kamu masih di sini?" Suara pria itu terdengar lembut.

Nara menatapnya sekilas dengan ekspresi datar. "Ada apa, Oppa? Apa terjadi sesuatu?" Nada suaranya tetap dingin.

Pria tampan bermata sipit itu adalah Han Seokjin, kakak sepupu Nara. Mendiang ibu Seokjin adalah Kakak kandung Ayah Nara.

Delapan belas tahun yang lalu, saat keluarga Dhanubrata berlibur ke pulau pribadi mereka. Pesawat pribadi yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin, hingga pesawat itu terjatuh. Seluruh penumpangnya tewas. Sementara Nara dan Seokjin selamat karena sudah lebih dulu tiba bersama Kakek Dhanubrata.

Seokjin berjalan mendekat sambil melonggarkan sedikit dasinya. "Aku dengar mobilmu mogok."

"Kabar di kantor cepat sekali menyebar."

"Aku khawatir."

Nara berbalik menuju meja kerjanya. "Aku baik-baik saja."

Seokjin memperhatikannya beberapa saat. "Kakek bilang kau hampir terlambat rapat besar pagi ini karena kejadian itu."

Nara duduk kembali di kursinya. "Dan aku tetap berhasil memimpin rapatnya."

"Aku tidak bilang kau gagal," ucap Seokjin cepat. "Aku percaya padamu."

Hening sesaat memenuhi ruangan.

Han Seokjin mengenal Nara terlalu baik. Tatapan dingin dan jawaban singkat seperti itu biasanya muncul saat wanita sedang memikirkan sesuatu.

"Kau mencurigai sesuatu?" tanya Seokjin.

Gerakan tangan Nara terhenti. "Aku belum tahu."

"Itu berarti iya," balas Seokjin cepat.

Nara menatap Seokjin penuh arti. "Mobil itu terbilang masih baru," ujarnya pelan. "Tidak masuk akal kalau tiba-tiba mogok di tengah jalan."

Seokjin mengangguk kecil. Wajahnya ikut serius. "Aku akan suruh orang untuk mengeceknya."

"Tidak perlu, Oppa. Biar aku sendiri yang mencari tahu."

"Kau tetap keras kepala."

"Dan Oppa terlalu mencemaskan hal kecil," jawab Nara.

Seokjin tersenyum samar mendengar itu. Tatapannya kemudian jatuh pada wajah Nara yang tampak lelah meski berusaha menyembunyikannya. "Kau belum makan, kan?"

"Aku sibuk."

"Itu bukan jawaban, Nara."

Nara mendecih pelan. "Aku tidak lapar."

Menggeleng kecil, Seokjin berjalan mendekat ke arah Nara. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja sepupunya itu sambil melipat tangan di dada. "Seharian kau bekerja, lalu bilang tidak lapar?" tanyanya pelan. "Bahkan wajahmu sudah pucat seperti itu."

"Aku baik-baik saja."

"Kau selalu bilang begitu," balas Seokjin cepat.

Nara terdiam. Tatapannya kembali jatuh pada berkas-berkas di atas meja, berusaha menghindari mata Seokjin yang terus menatapnya penuh perhatian.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

"Ayo makan malam denganku."

Kalimat itu membuat Nara mendongak dengan cepat. "Apa?"

"Makan malam," ulang Seokjin santai. "Aku lapar dan kebetulan ada seseorang yang perlu dipaksa makan."

Nara menghela napas pelan. "Oppa, aku masih banyak pekerjaan."

"Pekerjaanmu tidak akan selesai malam ini."

"Aku berencana untuk lembur."

"Dan pingsan besok pagi?"

Nara memutar bola mata malas. "Berlebihan."

"Aku hanya mengajakmu makan malam," ucap Seokjin pelan. "Tidak lebih."

Entah kenapa, ucapan sederhana itu justru membuat jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat. Ia memalingkan wajahnya. "Aku sedang tidak mood keluar."

"Kau tahu bukan, aku tidak menerima penolakan."

"Oppa ini keras kepala sekali," decak Nara.

"Aku belajar darimu."

Sudut bibir Nara terangkat tipis. "Baiklah," ucapnya akhirnya. "Aku ikut."

Nara bangkit dari kursinya sambil mengambil tas. Keduanya lalu melangkah keluar untuk menikmati makan malam.

****

Malam semakin larut, tetapi bengkel di tengah kota masih belum sepi.

Suara musik dari ponsel yang disambung ke speaker bercampur dengan dentingan alat dan suara mesin yang sesekali menyala. Lampu putih menggantung menerangi ruangan yang dipenuhi aroma oli dan besi panas.

Sagara berdiri di depan mobil milik Nara dengan kap terbuka. Tangannya bergerak hati-hati memeriksa bagian mesin sambil sesekali mengernyit kecil.

Andi mendekat sambil membawa dua gelas kopi sachet.

"Masih belum ketemu masalahnya?"

Sagara menerima salah satu gelas itu. "Ketemu."

"Hah?" Andi langsung melirik mobil mewah tersebut. "Terus?"

Sagara meneguk kopinya sebentar sebelum menjawab. "Selangnya sengaja dikendorin."

Andi langsung menurunkan gelasnya. "Sengaja?"

Sagara mengangguk pelan. Tatapannya kembali turun pada mesin mobil. "Kalau cuma aus atau rusak biasa, bentuknya nggak bakal begini."

"Jadi ada orang yang ngerjain?"

"Kayaknya begitu."

Andi bersiul pelan. "Buset ... orang kaya emang ribet hidupnya.

Sagara terkekeh kecil, tetapi sorot matanya tetap serius. Pagi tadi ia memang sudah merasa ada yang aneh. Namun, setelah memeriksa lebih detail di bengkel, kecurigaannya semakin jelas.

Kerusakan itu terlalu rapi. Seolah seseorang hanya ingin mobil itu berhenti sementara. Tidak sampai menyebabkan kecelakaan besar.

Andi ikut bersandar di dekat mobil. "Lu mau bilang ke Pak Budi?"

"Pasti."

"Atau sama pemiliknya langsung?" tebak Andi, sambil terkekeh kecil.

Dahi Sagara berkerut, tidak mengerti maksud ucapan Andi. "Maksudnya?"

"Tadi si Bos bilang, besok yang ngambil nih mobil bukan Pak Budi, tapi pemiliknya langsung."

Sagara menatap Andi seolah tak percaya. "Serius?"

"Tanya aja sendiri sama Pak Bos," kekeh Andi.

"Makanya gue nanya sama Lu. Mau beneran ngasih tau yang sejujurnya?" lanjut Andi. "Soalnya kata bos yang punya ntuh mobil, cewe."

Sagara mengalihkan pandangannya pada mobil itu lagi. Bayangan wajah dingin Nara muncul tiba-tiba. Kebimbangan mulai menyergap perlahan. Antara mengatakan yang sejujurnya dan membuat wanita itu khawatir atau tetap diam, memilih mengatakan kebenarannya cukup pada Pak Budi.

****

Naraya Pramaswari Dhanubrata.

1
Hairil Anwar
mantap
Resa05
akhirnya rajin update thor
Kipas muter 8022
terima aje, lumayan
Kipas muter 8022
daripada dibalikin. mending kirim ke gw aja/Facepalm/
Kipas muter 8022
harus'y kirim ke rumah gw
Kipas muter 8022
masalahnya udah jatuh cinta🤣
Bu Dewi
up lagi donk kak😍😍
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
kalo ini mah montir kece nona 🤭
Sarung bantal90
Nyogok pake motor. 😄
Aquarius97 🕊️
calonnya Sagara tuh bang 🤭
Sarung bantal90
panggilin dokter cinta aja🤣
Sarung bantal90
emosi mulu nenk. lagi pms
Aquarius97 🕊️
sesuai Ama ekspektasi aku sih 🤭
Aquarius97 🕊️
aku langsung kebayang visual seokjin BTS 🤭
Aquarius97 🕊️
kadang emang gitu, ada serigala berbulu domba ...
sitanggang
2 chapter donk... nanggung klw 1 saja
Teteh Lia: Siap, kak. 🙏
total 1 replies
SaturdayNight🌠
pasti yang sabotase, kerna kebongkar
SaturdayNight🌠
koreksi; terdiam
SaturdayNight🌠
lagian lu terlalu ikut campur dan mudah diperdaya
SaturdayNight🌠
disamperin seok jong un, untung lom berangkat, bisa ribut kalo ketemu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!