NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15. kesempatan dalam kesempitan

Chris segera membuka pintu dan mendapati sang pemilik kos berdiri seraya memasang ekspresi wajah penuh selidik dan tanya.

"Selamat malam, pak Jono. Tumben pak Jono kesini, ada apa ya Pak?" tanya Chris berusaha sopan dan pura-pura tidak tahu tujuan pemilik kos itu datang.

Chris berdiri di ambang pintu dengan senyum kaku. Pak Jono menatapnya tajam, lengan disilangkan di depan dada, sebelum akhirnya membuka mulut.

"Mas, aku kok krungu ono suara cah wedok nangis neng kene. Sopo kuwi, Mas?" tanya pak Jono sambil melihat-lihat ke setiap sudut ruangan. (Mas, aku kok mendengar ada suara wanita menangis disini. Siapa itu, Mas?)

Chris membeku sesaat, lalu mengusap tengkuknya bingung. Karena untuk kesekian kalinya ia mendengar pemilik kos itu selalu berkata dengan bahasa Jawa yang kental, yang terkadang membuat Chris tersenyum bodoh karena tidak tahu maksud dari ucapan itu. Namun, kali ini setidaknya Chris tahu apa maksud dari perkataan pak Jono kepadanya.

Lidahnya terasa beku untuk menjawab. Ia hanya bisa menelan ludah, mencoba menyusun kata. "Oh, itu. Maaf pak, itu tadi.. itu cuma suara.. suara.." Chris bersikeras untuk mencari alasan, tetapi saat ini tidak ada ide yang terlintas di pikirannya.

'Sialan!'

Pak Jono masih menatap dengan pandangan menyelidik, matanya menyipit.

"Hayo loh, ono cah wedok sing nangis nang kene, kan? Sopo kuwi, Mas?" (Hayo loh, ada wanita yang sedang nangis disini, kan? Siapa itu, Mas?)

Chris menggaruk belakang kepalanya, sedikit kikuk. "Itu Pak.. se- sebenarnya.." Chris melirik sekilas ke arah kedua teman-temannya, berniat meminta bantuan. Tapi ternyata Alif dan Riski hanya memberikan senyum kecut kepadanya. Mereka juga sama-sama bingung.

Chris masih terdiam di depan pintu, lidahnya kelu saat Pak Jono terus berbicara dalam bahasa Jawa yang makin lama makin terdengar seperti sandi rahasia baginya. Keringat mulai membasahi pelipisnya, entah kenapa otaknya tidak bisa berpikir mencari alasan yang tepat.

"Apa jangan-jangan, mas-mas iki lagi podo nyobo—" (Apa jangan-jangan, mas-mas ini sedang mencoba—)

"Mas Christian?"

Tiba-tiba, suara langkah pelan terdengar dari belakang. Maya muncul dari balik pintu kamar, wajahnya masih sembap. Ia melangkah mendekat dan berdiri di samping Chris, lalu tersenyum tipis ke arah Pak Jono.

Empat laki-laki yang tengah berbincang dengan suasana tegang itu menoleh 180 derajat ke arah sumber suara. Chris melotot karena nada suara itu terasa seperti mimpi untuknya. Sedangkan Alif dan Riski saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka sama-sama bergumam dengan wajah cengok.

"Hah?"

"Mas Christian, apa gara-gara aku, kamu kena masalah lagi?" Maya yang berdiri di samping Chris tiba-tiba saja memeluk lengan kanan pria itu.

Chris menoleh cepat, terbelalak. “Ma-ya…?” bisiknya, tak percaya. Chris tidak bisa berkata-kata. Kemampuan berbicara nya tiba-tiba menghilang karena sikap Maya. Ini merupakan pertama kalinya bagi Chris mendapati Maya bergelayut manja di lengannya.

"Mbak ne iki, sopo ne mas Chris nggeh?" Pak Jono bertanya curiga. (Mbak nya ini, siapa nya mas Chris yah?)

“Maaf, Pak, sudah membuat keributan tengah malam begini. Perkenalkan, saya calon istrinya mas Chris." Maya memperkenalkan dirinya sendiri dengan senyum ramah.

“Saya yang tadi nangis. Soalnya tadi kami sempat bertengkar. Karena mas Chris tiba-tiba saja mau batalin rencana pernikahan kita, Pak."

Maya menunduk pelan, berakting dengan sangat meyakinkan. “Saya sedih, Pak. Padahal keluarga kami sudah saling kenal…”

Pak Jono terlihat tertegun. Sorot matanya perlahan melunak, meski masih ada sedikit keraguan. Ia melirik ke arah Chris yang masih bengong, lalu kembali menatap Maya. "Ya Allah, bener kuwi mas?" (Ya Allah, benar itu, Mas?)

Chris masih menatap Maya. Dan Maya yang merasa diperhatikan, memberikan sinyal kepada lelaki itu untuk mengangguk setuju.

"I- iya, Pak." Chris yang semula tegang, kini berubah santai dan terkesan senang sambil menyeringai nakal kepada Maya.

“Oh… ngono toh?” gumam Pak Jono. “Yo wis… tapi tetap wae, kosan iki dudu omah pribadi. Nek iso, ojok nganti ribut-ribut maneh. Opo maneh nganti nangis.” (Oh, begitu ya? Ya sudah, tapi tetap saja ini kos-kosan bukan rumah pribadi. Kalau bisa jangan sampai ribut-ribut lagi. Apa lagi sampai nangis.)

“Iya, Pak. Kami minta maaf,” jawab Maya dengan cepat, tangannya menggenggam lengan Chris seolah memperkuat sandiwara mereka.

Chris merasa gemas dengan Maya. Wajah Maya saat ini begitu dekat dengan wajahnya. Aroma khas vanilla tubuh Maya bahkan tercium lekat di indera penciumannya.

Chris sangat jarang bahkan hampir tak pernah berdekatan dengan Maya, apalagi melakukan kontak fisik dengannya. Sejak awal mereka dekat, Maya selalu menjaga jarak. Gadis itu memiliki batasan yang jelas, dan Chris menghargainya. Bahkan ketika mereka hanya duduk berdampingan, Maya kerap menarik sedikit tubuhnya menjauh jika merasa terlalu dekat. Sentuhan sekecil apapun, entah itu tak sengaja menyentuh jari atau bahu, sering kali dibalas Maya dengan cubitan atau tatapan tajam.

"Iya, Pak Jono. Dia calon istri saya." Tanpa banyak pikir, Chris menggunakan kesempatan dalam kesempitan itu dengan merangkul pinggang Maya. Membuat gadis itu refleks menegang.

Chris tidak tahan lagi, sebelum Maya sempat protes atau mundur, Chris mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup pipinya cepat. Dan itu adalah kontak fisik pertamanya dengan Maya. Sesuatu yang membuat Maya melotot.

“Tenang aja, Sayang,” ucap Chris lantang, memastikan Pak Jono mendengarnya. “Kita nggak jadi batalin pernikahan kok. Aku tadi cuma.. lagi stres aja.”

Pipi Maya langsung bersemu merah padam, mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Ia menoleh ke arah Chris dengan pandangan terkejut dan tidak percaya, lalu ke arah Pak Jono yang mengangguk-angguk penuh simpati.

“Oh, yo wis. Namanya calon penganten, yo wajar cekcok dikit. Sing penting akur maneh, to? Yo wes, tak pamit sek," ujar Pak Jono. Kemudian ia undur diri pergi meninggalkan area kos, setelah ia percaya dengan ucapan dan interaksi antara Chris dan Maya. (Oh ya sudah. Namanya calon pengantin ya wajar ribut sedikit. Yang penting baikan lagi, kan? Ya sudah, tak pamit dulu.)

Begitu suara langkah kaki Pak Jono benar-benar menghilang dan pintu pagar depan tertutup rapat, Maya kembali ke sikap aslinya. Maya langsung berbalik menghadapi Chris. Tatapannya tajam, dan alisnya menyatu membentuk garis tegas yang sudah sangat familiar bagi Chris pertanda badai akan segera datang.

Dipukul dan dicubitnya lengan Chris hingga lelaki itu meringis kesakitan. Maya tidak peduli jika nantinya lengan Chris lebam.

“Kamu—” Maya menunjuk wajah Chris dengan mata membelalak. "ISH!! DASAR MESUM!!!"

"Cukup, May! Maaf.. maaf.. aku khilaf, May!" Chris memohon ampun pada Maya agar berhenti memukulnya.

"Berani-beraninya kamu cium aku! Rasain!!!"

Chris mengangkat kedua tangan, mencoba tersenyum santai walau jantungnya mulai tak tenang. “Hey, hey, tadi kamu juga ikut akting, kan? Aku cuma… improvisasi sedikit buat meyakinkan Pak Jono.”

“Improvisasi apaan!” Maya berseru, suaranya meninggi. “Kamu tahu nggak kalau aku benci itu! Aku nggak suka orang nyentuh aku sembarangan, apalagi nyium!”

"Iya.. iya.. maaf."

Alif dan Riski yang telah lama melihat dua orang dihadapannya, hanya terbengong dengan wajah bodoh. Menurutnya ini seperti menonton adegan ‘drama rumah tangga’ kecil yang sedang berlangsung di ruang tamu. Maya terlihat sedang memukul-mukul bahu Chris dengan bantal kecil, lalu mencubit lengannya dengan ekspresi penuh amarah, sementara Chris hanya bisa meringis dan menghindar sambil mengangkat tangan seperti menyerah.

“Gila,” gumam Alif dengan wajah heran tapi geli. “Baru akting jadi calon istri, udah segalak itu. Gue yakin, Chris bakal cepat tua.”

Riski menyenggol lengannya, nyaris tertawa. “Tua sih iya, tapi kayaknya lebih ke... cepat mati. Mentalnya udah dihancurin dari sekarang.”

Alif mengangguk dramatis, seolah menemukan pencerahan. “Gue jadi ngerti sekarang kenapa banyak suami yang umurnya nggak panjang. Bukan karena tekanan hidup... tapi karena cubitan istri.”

Mereka berdua tertawa pelan, berusaha tidak menarik perhatian Maya yang mungkin bisa saja melempar bantal ke arah mereka kalau tahu sedang jadi bahan komentar. Sementara itu Chris hanya bisa menatap mereka sekilas dengan pandangan lelah antara ingin meminta tolong atau langsung mengusir dua temannya itu dari rumah.

“Ayo naik sebelum kita jadi korban selanjutnya,” kata Riski setengah berbisik, menarik Alif yang masih ingin menonton lebih lama.

“Setuju. Tapi teori gue harus dicatat. Ini bisa jadi bahan tesis.”

“Teori kematian dini akibat istri galak?”

“Judul yang menjual, Bro,” bisik Alif sambil tertawa pelan saat mereka naik tangga, meninggalkan Chris yang masih sibuk menenangkan Maya yang tak kunjung selesai mengomel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!