NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:38.3k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

"Cincin yang ini sangat cocok untuk calon istri anda, tuan. Cantik, sama seperti yang akan menggunakannya." Komentar pemilik toko perhiasan saat membantu Vania mencoba salah satu koleksi cincin berlian terbaik di tokonya.

"Bukan. Sepertinya anda sudah salah paham, nyonya. Saya bukan_."

"Baiklah. Saya pilih yang ini." Potong Sandi seraya memandang ke arah jari manis Vania, lebih tepatnya menatap cincin yang kini melingkar di jari manis Vania.

"Tidak perlu menjelaskan sesuatu yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Lagipula, apa sosok calon istriku penting baginya?." lirih Sandi tepat ditelinga Vania dan wanita itu pun spontan mengangguk pelan, seolah membenarkan bahwa siapapun calon istri Sandi pastinya tak terlalu penting bagi pemilik toko. Karena yang terpenting barangnya terjual, itu saja.

"Kenapa tidak mengajak calon istri anda untuk memilih cincin pernikahan?." Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Vania ketika mereka sudah berada di mobil.

"Saya tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak penting." Balas Sandi sambil memutar setir mobilnya keluar dari area parkiran mall.

Mendengar statement Sandi, Vania jadi teringat pada calon suaminya. Apa pria yang akan menikahinya nanti memiliki pemikiran seperti bosnya itu, menganggap dirinya tidak penting, mengingat Bu Dinda sempat menyampaikan padanya jika putranya sedang sibuk dan tidak sempat menemaninya mencari cincin pernikahan.

"Tidak perlu terlalu dipikirkan, Vania! Lagipula kau menikah hanya untuk memberikan figur seorang ayah untuk putrimu, bukannya untuk mencari kebahagiaanmu sendiri!." Batin Vania seolah menguatkan hati, jika kenyataannya nanti calon suaminya menganggap dirinya tidak penting.

Di sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di hotel, Sandi dan Vania tak lagi terlibat obrolan apapun.

*

Malam harinya, ibu menatap tajam ke arah Sandi yang baru kembali ke rumah pada pukul sepuluh malam.

"Untuk pekerjaan, kamu bahkan rela pulang hingga larut malam, tapi untuk sekedar menemani calon istrimu mencari cincin pernikahan saja kamu tidak punya waktu. Kamu benar-benar keterlaluan, Sandi." Wajah ibu terlihat sangat kesal.

"Sandi capek banget, mah. Boleh nggak kalau ngomelnya besok saja. Lagian, Sandi sudah membeli cincin buat pernikahan nanti."

"Apa maksud kamu?."

Sandi tak menjawab, namun pria itu mengeluarkan kotak berwarna merah dari saku jasnya kemudian menyerahkannya pada ibunya.

"Apa ini?."

"Cincin pernikahan. Bukankah mamah ingin Sandi membeli cincin pernikahan?."

Ibu geleng kepala dibuat oleh sikap putranya.

"Mamah memang meminta kamu mencari cincin pernikahan, tapi bukan berarti kamu pergi tanpa calon istri kamu, Sandi. Bagaimana jika ukuran cincinnya tidak_." Ibu tak melanjutkan kalimatnya setelah membuka kotak merah tersebut. Ibu memang tidak tahu pasti berapa ukuran lingkar jari calon menantunya, tapi jika dilihat sepertinya ukuran cincin yang dibeli Sandi sangat pas dengan ukuran lingkar jari Vania.

"Tunggu!." Seru ibu saat Sandi hendak berlalu dari hadapannya.

"Ada apa lagi, mah? Apa masih ada yang kurang atau tidak sesuai dengan keinginan mamah?." Tanya Sandi dengan wajah malas.

"Maaf karena mamah baru sempat menyampaikan hal ini sama kamu. Mamah sudah mengurus semua berkas untuk keperluan pernikahan kalian. Sesuai dengan kesepakatan mamah dan calon istri kamu, pernikahan kalian akan dilangsungkan besok di kantor urusan agama." Melangsungkan pernikahan dikantor urusan agama merupakan permintaan Vania dan Bu Dinda menyetujuinya. Sebenarnya bu Dinda tidak sampai hati jika pernikahan tersebut hanya dilangsungkan di kantor urusan agama tanpa perayaan apapun, tetapi itu sudah menjadi kesepakatannya bersama Vania.

"Besok?." Cicit Sandi seakan tak percaya. Ibunya baru menyampaikan berita tentang pernikahannya malam ini, sementara hari pernikahan sudah akan dilangsungkan besok.

"Mamah tidak ingin mendengar protes apapun lagi, Sandi. Mamah mau kamu menyiapkan diri dan mental, karena besok status kamu akan berubah menjadi seorang suami!." Setelah mengutarakan kalimat tersebut, ibu berlalu begitu saja meninggalkan Sandi dengan wajah syok nya.

"Pilihan seorang ibu tidak pernah salah, nak. Sebaiknya kamu ikhlas menerima pernikahan ini!." Ditengah keheningan tiba-tiba terdengar suara bariton milik ayah.

"Kapan papah kembali?."

"Siang tadi."

Sandi kembali terdiam. Sang ayah yang biasanya menentang keputusan ibu, kali ini kelihatannya setuju dengan keputusan istri tercintanya. Buktinya, pria paruh baya tersebut menyarankan putranya untuk ikhlas menerima pernikahannya.

"Bagaimana jika hati Sandi tetap tidak bisa menerima dan mencintainya, pah?."

Ayah hanya tersenyum mendengar perkataan putranya itu.

"Papah nggak yakin dengan hal itu. Mamahnya Sesil cantik banget soalnya." Balas ayah di sisa senyumnya.

"Sandi serius, pah."

"Memangnya kamu pikir papah sedang bercanda? Papah juga serius, mamahnya Sesil memang sangat cantik makanya papah nggak yakin kamu akan tetap menutup hati untuknya." Ayah memang belum pernah bertemu langsung dengan calon menantunya itu, namun dari foto yang ditunjukkan oleh ibu, pria paruh baya tersebut sudah dapat menyaksikan betapa cantiknya calon menantunya tersebut.

Merasa berbagi cerita dengan sang ayah tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan ekspektasinya, Sandi lantas pamit ke kamarnya.

Sandi nampak duduk menyendiri di balkon kamarnya, dengan ditemani sebatang ro-kok yang terselip di antara kedua jarinya. Entah sudah berapa batang benda yang mengandung nikotin tersebut dihisap oleh Sandi, yang jelas asbak ro-kok dihadapannya hampir penuh dengan puntung ro-kok.

Tidak sampai dua puluh empat jam kedepan statusnya akan berubah menjadi seorang suami, namun Sandi belum yakin apakah ia sanggup menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami, mengingat tugas dan kewajiban seorang suami bukan hanya semata memenuhi kebutuhan finansial istri.

"Semoga wanita itu tidak menuntut sesuatu yang tidak bisa kuberikan padanya." Batin Sandi.

Tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga pagi. Sandi pun memutuskan meninggalkan balkon dan kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.

*

Keesokan paginya, dengan ditemani oleh mbak Atun dan juga putrinya, Vania mendatangi kantor urusan agama. Ya, Vania menyetir mobil sendiri tanpa bantuan sopir, karena faktanya ia tidak memilikinya.

Vania terlihat semakin cantik dengan balutan kebaya berwarna putih yang melekat pada tubuhnya, serta make up natural yang menghiasi wajah cantiknya. Semuanya nampak sederhana. Kalau saja di hari pernikahan ia boleh mengenakan pakaian kerja, mungkin Vania memilih mengenakan pakaian kerjanya biar setelah selesai ijab Kabul bisa segera lanjut ke hotel untuk bekerja. Sayangnya, itu pasti akan terlihat kurang sopan.

"Meski hanya berdandan sederhana, namun ibu tetap terlihat sangat cantik." Bukan sekedar memuji untuk menyenangkan hati majikannya itu, namun mbak Atun mengatakan yang sejujurnya.

"Mbak Atun bisa saja." Balas Vania dengan seulas senyum tipis, bahkan nyaris tak terlihat.

Mbak Atun lebih dulu turun dari mobil bersama dengan Sesil, kemudian di susul oleh Vania. Ketiganya berjalan bersama memasuki pintu utama gedung kantor urusan agama.

"Kamu cantik sekali, sayang."

Deg.

Vania terkejut setengah mati. Bukan karena mendengar pujian Bu Dinda, tapi karena menyaksikan keberadaan seseorang yang kini duduk di samping wanita paruh baya tersebut. Pria tampan bersetelan jas berwarna putih, senada dengan warna kebaya yang dikenakan oleh Vania.

1
Uba Muhammad Al-varo
bagus........akhirnya Sandi duluan yang pertama ada rasa ke Vania dan ini awal yang baik buat keduanya
Uba Muhammad Al-varo
maaf kakak Author terlambat mampir🙏🙏🙏💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
bagus 👍👍👌
Lia siti marlia
cie cie yang di ajak kencan sama suami 🤭🤭🤭 bahagia yah kalian sandi vania😍😍😍
Lia siti marlia
jangan kepedean kamu nathali sandi bukan pria bodoh yang gampang kamu tipu 🤭🤭🤭kayanya tuan bara sama cika ada sesuatu deh🤔🤔🤔
Sifa Dinieka
bahagia selalu vania sandi
Ariany Sudjana
have a nice moment Vania and Sandi 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu Natalie, kamu mimpi mau jadi nyonya Atmodjo? yang ada kamu akan dibinasakan, karena kamu kalah kelas dibanding Vania, kamu itu hanya pelacur murahan 🤣🤣😂😂
secret
knp ga mungkin ga mungkin, panikkkk yeaaaa
Lia siti marlia
nah loh nah loh apa yang gak mungkin nyonya yang terhormat 🤭🤭🤭apa anda gak nyangka yang nidurin vania sandi gitu 🤣
Syarifah
gk ada yang gk mungkin Bu,klw sudah keberuntungan itu berpihak pada,nya ,aq curiga si Vania ini sengaja di tukar sama mereka waktu mereka bayi dan nathali lah anak asli mereka,ayo sandi selidiki koneksi dan uang qm kn banyak 😁😁😁
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tuan Ikbal masih punya empati dan tidak melecehkan Vania, karena teringat akan putri kandungnya. dan kalian orang tua Vania, kalian harus dibinasakan
Sifa Dinieka
siap2 kena amukan sandi ortunya vania
Syarifah
Aq curiga Vania ini bukan anak kandung,nya mana ada seorang ibu tega menjual dan mengabaikan anak,nya apalagi anak nya perempuan
secret
ditunggu bgt kehancuran keluarga iblis itu
Lia siti marlia
untung nya sandi mengetahui keberanan dan sekaligus keburukan tentang mertuanya jadi sandi dari paman ikbal 👍 aku harap ledepan nya sandi berikan pelajaran buat mertua terkutuknya🤭🤭🤭🤭
Lusi Hariyani
mertuamu memang iblis san...
Felycia R. Fernandez
Tuuuh dengarkan Sandi...
setelah ini tolong kamu laporkan dua manusia iblis itu🤬🤬🤬
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tuan Ikbal masih punya hati nurani, teringat masih ada putri kandung di rumah. sudah sandi, binasakan saja tuan aidtra dan istrinya, juga saudara tirinya Vania itu
secret
ohh ternyata tuan ikbal pamannya tino, untung aja wktu itu tuan ikbal masi menggunakan akal sehatnya ga smpe nyentuh vania.. smg sandi segera mengungkap dalang yg jebak vania
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!