––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(15) Ibu.. Ini..
Drrt drrtt
Hp Ailena yang sedang di isi daya nya nampak berbunyi di dalam kamar, membuat atensi Haikal tersita.
"Yang, ada yang nelpon tu nah, angkat dulu" seru Haikal masih dengan posisi tiduran nya di kasur yang sudah menjadi tempat tidur nya selama seminggu ini.
Tak ada sahutan dari orang yang Haikal panggil, hingga beberapa Haikal mencoba memanggil masih belum ada sahutan.
Drrt drrt
Sekali lagi dering telepon berbunyi membuat Haikal mau tak mau bangkit dan memeriksa hp Ailena.
"Ibu?" gumam Haikal dengan suasana tegang, ia mengangkat hp Ailena bahkan mencabut pengisi daya untuk menyamakan dengan wajah nya.
Tanpa sadar ia menekan tombol hijau dan langsung menampilkan wajah seorang wanita paruh dengan balutan mukena putih.
"Assalamualaikum Lena, akhirnya kamu jawab juga..loh Lena? Kamu potong rambut nak? Sejak kapan Ya Allah? Kenapa pendek sekali potongan nya seperti persis laki-laki"
"Waalaikumsalam Ibu.."
"Nah loh.. suara mu juga berubah berat Lena.. astaghfirullah nak, jangan merubah apa yang sudah menjadi takdir mu nak, Ya Allah"
Ibu nya Ailena terus memberi nasehat yang di tujukan pada Ailena yang sebenarnya ialah Haikal.
Ailena baru menyelesaikan sholat maghrib nya, lalu menghampiri Haikal yang duduk tegak di dalam kamar sambil mengangkat hp nya sejajar wajah nya.
"Kenapa?" tanya Ailena yang melirik ke arah layar memperlihatkan Ibu nya yang masih mengoceh memberi nasehat.
Haikal tersenyum melihat Ailena. Ailena menghela nafas pelan dan menjulurkan tangan nya meminta hp nya kembali.
"Loh kok muka kamu hilang Lena.."
"Halo Bu.. Assalamualaikum"
"Loh waalaikumsalam..kamu habis sholat nduk?"
"Iya Bu, tadi sholat maghrib dulu. Sedikit telat karna baru selesai masak"
"Loh terus tadi siapa? Lena yang rambut nya pendek kayak laki-laki itu"
Ailena melirik ke arah Haikal yang masih tegang.
"Kalau Lena kenalin orang itu, Ibu janji nggak akan marah, apalagi menilai orang secara luar nya ya"
"Ada apa to iki Lena..kok pakai janji-janji segala"
"Janji dulu, baru Lena kasih tau"
"Kamu ini ya..ya sudah Ibu janji sesuai ucapan mu tadi lah"
Ailena manggut-manggut dan segera duduk di samping Haikal di bantu Haikal agar tak terlilit mukena.
"Kasih tau cepat nduk, Ibu seperti melihat kembaran mu..padahal Ibu ingat lahirin kamu itu sendiri, nggak lahir kembar"
Ailena menghela nafas pelan sebelum menjauhkan hp nya sedikit agar wajah Haikal juga masuk ke dalam frame kamera.
"Loh? Beneran kembar toh.."
"Semirip itu kah kami?" tanya Ailena dengan nada malas, Ibu nya nampak menyipitkan mata menatap layar.
"Ibu.. Ini..suami Lena" jawab Ailena dengan nada ragu, lalu menurunkan sedikit hp nya, tangan nya terasa pegal tapi Haikal belum sadar dengan tatapan Ailena.
Tak ada jawaban dari Ibu. Ibu hanya terdiam dengan mata yang menyipit sesekali mengerjap mata.
Tut
Ailena dan Haikal tersentak saat panggilan video itu tiba-tiba mati secara sepihak, padahal pembicaraan belum selesai, bahkan belum mendapat reaksi yang mengejutkan.
"Aku sepertinya harus pulang ke kampung.. Aku takut Ibu kenapa-kenapa setelah dengar berita tadi" raut panik Ailena tak bisa tertutupi sekarang.
Haikal menahan pergerakan Ailena. "Tunggu besok Yang, ini udah malam nggak ada rute bus yang aman di jam malam" tahan Haikal membuat Ailena mencibir kesal.
"Sok tau, jam malam itu yang enak karna sampai ke tujuan nya pagi" oceh Ailena dengan ketus.
Lalu Ailena segera melepas mukena nya dan menyiapkan makan malam nya dan Haikal dengan menu lauk pauk yang sederhana tapi dapat membuat Haikal tambah.
Ailena tetap diam sepanjang kegiatan makan nya, walau dia ngambek pada Haikal. Haikal akan tetap mendapat perlakuan seperti biasa nya.
Seperti nasi yang sudah di siapkan di piring dengan porsi yang sesuai, padahal mereka makan bersama begitu jarang karena kesibukan Ailena yang terkadang absen makan bersama, tapi Ailena tetap tau apa yang suka dan tidak di suka oleh Ailena.
Yang membuat Ailena heran, dompet Haikal selalu terisi uang berwarna merah dan diri nya selalu di suruh untuk mengambil sebebas nya untuk di pakai.
Kerja apa dia? Dia terlihat pengangguran. Jika Ailena bertanya maka jawaban Haikal pasti "Yang pasti itu duit halal, jadi tenang aja. Nggak usah mikirin aku kerja apa"
"Kamu habisin aja" ujar Ailena yang tak berselera setelah panggilan video dengan Ibu nya terputus di tengah jalan.
Ia di landa khawatir dan kepikiran yang berlebihan inilah yang akan membuat nya susah tidur. Kayaknya.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️