NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Setelah berpisah dengan Nia dan Lala, aku memilih langsung pulang. Matahari sudah mulai condong ke barat, jalanan padat, dan kepalaku cukup lelah dengan segala rutinitas hari ini.

Ojek online yang kutumpangi melaju tenang,motor yang biasa aku gunakan masih di rumah mama, belum sempat aku ambil. Hari ini entah kenapa aku benar-benar lelah sekali.

Sesampainya di depan pagar, aku turun sambil menghela napas. Aku membuka pintu dengan kunci cadangan yang Reihan berikan, lalu masuk pelan.

Suasana di dalam rumah sepi. Sepertinya Reihan belum pulang. Aku meletakkan tas di sofa, mengganti sepatu dengan sandal rumah, lalu langsung menuju dapur. Perutku terasa lapar meski tadi sudah sempat makan di kafe bersama Nia dan Lala.

“Kayaknya enak kalau bikin jus,” gumamku pelan.

Aku membuka kulkas disana ada beberapa macam buah. Aku mengambil buah alpukat, mengupasnya dan memasukkan ke dalam blender.

" Kenapa sih alpukat enak banget" gumangku

'Hmm, nanti malam aku masak aja sekalian buat Reihan kalau dia pulang.'

Entah sejak kapan aku mulai terbiasa menyiapkan makanan biarpun sederhana. Kami menikah memang kontrak tapi di mata agama kami sudah sah, aku hanya melakukan kewajibanku. Toh ngga ada salahnya juga aku masak.

Masak apa ya malam ini? pikirku. Aku membuka kulkas, menemukan sisa bahan: ayam, wortel, sedikit sawi, bawang merah, bawang putih. Tidak banyak, tapi cukup. Aku tersenyum kecil.

“Yah, ayam kecap dan tumis sayur aja deh. Simpel tapi lumayan.”

Selesai memasak, aku menata meja makan. Dua piring, dua sendok, dan lauk sederhana. Tidak ada lilin atau hiasan mewah, tapi cukup untuk makan malam hangat.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sedik.

Beberapa saat kemudian suara mesin mobil terdengar dari luar, diikuti pintu pagar yang terbuka. Aku refleks menoleh ke arah pintu. Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar.

Reihan muncul.

Ia masih mengenakan jas kerja yang rapi, dasinya sedikit longgar, wajahnya tampak lelah. Tapi meski begitu, aura dinginnya tetap melekat.

“Kamu sudah pulang?” tanyaku pelan, nyaris ragu.

Reihan hanya mengangguk, melepaskan sepatu dan jasnya. “Iya. Kamu belum tidur?”

“Belum… aku masak. Kalau lapar bisa makan dulu.” Aku menunjuk meja makan.

Tatapannya bergeser ke arah meja. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berjalan mendekat, menatap sebentar piring-piring yang sudah kutata.

“Kamu masak?”

Aku mengangguk cepat. “Iya, kebetulan ada bahan.”

Tanpa komentar lagi, ia duduk, mengambil sendok, dan menyendok ayam kecap. Aku menahan napas, menatap diam-diam dari seberang meja. Rasanya jantungku berdebar lebih kencang daripada saat sidang proposal.

Reihan mengunyah pelan. Wajahnya tetap datar. Setelah beberapa detik yang terasa seperti sejam, ia meletakkan sendoknya.

“Rasanya… lumayan.”

Aku hampir tersenyum lega. “Kalau tidak suka, aku bisa beli makanan lain,” kataku cepat, takut kalau ternyata lidahnya tidak cocok dengan masakanku.

“Tidak perlu. Sudah cukup.”

Hanya begitu jawabannya. Tapi di balik dinginnya, aku merasa ada sesuatu.

Aku ikut duduk, mengambil piring, dan makan bersamanya. Tidak ada obrolan, hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan. Sesekali aku meliriknya diam-diam. Cara ia makan rapi, teratur, seolah setiap gerakan sudah diukur.

Setelah makan malam selesai. Aku segera membereskan meja, mencuci piring. Reihan tanpa banyak bicara naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya.

Beberapa Minggu tinggal dirumahnya, aku mulai terbiasa dengan kegiatanku. Berbeda saat pertama kali aku menginjakkan kaki ku disini rasanya asing dan membuatku canggung.

POV Reihan

Aku mendorong pintu kamar, melepas dasi dan kemeja, lalu duduk di kursi dekat jendela. Lampu kamar menyala lembut. Dari sini aku bisa melihat pekarangan luar yang gelap.

Tapi pikiranku tidak sepenuhnya ke sana.

Aroma ayam kecap tadi masih tercium samar. Masakan Alya.

Aku tidak pernah terlalu peduli dengan makanan. Selama ini, makananku disiapkan oleh asisten rumah tangga atau langsung dipesan dari restoran. Semua terasa sama saja: hanya kebutuhan untuk mengisi perut.

Tapi masakan Alya… entah kenapa berbeda.

Bukan karena rasanya luar biasa enak—jujur saja, masih ada yang kurang dari segi bumbu. Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku tidak bisa mengabaikannya.

Aku mengingat wajahnya saat menatapku menunggu komentar. Matanya penuh cemas, seolah satu kata dari mulutku bisa menjatuhkan atau mengangkat perasaannya.

Dan ketika aku mengatakan “lumayan,” aku melihat jelas ekspresi lega di wajahnya.

Aku menghela napas panjang.

“Kenapa aku jadi memikirkan hal-hal kecil begini…” gumamku pelan.

Tapi ada satu hal yang sulit kupungkiri: kehadiran Alya membuat rumah ini terasa berbeda. Tidak lagi sekadar bangunan dingin dengan dinding putih. Ada kehidupan. Ada kehangatan kecil yang sebelumnya tidak pernah kurasakan.

.

.

.

.

Di sisi lain Alya sedang rebahan di atas kasur nya. Alya membuka ponsel, sekadar mengecek pesan. Nia dan Lala seperti biasa mengirim chat di grup.

Tapi kemudian—sebuah notifikasi muncul di layar.

Farel.

Aku sempat terdiam beberapa detik sebelum menekan pesan itu. Jujur saja walaupun kami berteman cukup lama tapi setelah beberapa tahun tidak bertemu aku jadi merasa canggung.

Farel

Ly, besok kamu ada waktu? Ketemuan yuk, aku pengen ngobrol

Udah lama juga kan kita ngga jalan bareng

Gimana?

Aku diam sejenak memikirkan jawabannya

To farel

Oke

Jam empat ya

Tapi kamu yang nentuin lokasinya

Farel

Aman besok aku kabari ya.

To farel

Oke

Malam semakin larut mataku mulai memberat, aku meletakkan ponselku di atas nakas. Dan Muali memasuki alam mimpi.

Berbeda dengan Reihan yang masih sibuk dengan handphonenya. Beberapa menit yang lalu mamanya meneleponnya menanyakan kabarnya.

" Menantu mama dimana" tanya Laras di seberang sana

"Dia udah tidur ma"

" Sampaikan salam mama ya, mama belum sempat ngomong sama istrimu setelah kalian menikah"

" Iya ma"

" Ohh ya mama sama papamu dua bulan lagi baru pulang, kalian disana baik-baik ya jaga kesehatan masing-masing "

" Iya ma "

" Kalo gitu mama tutup dulu ya"

Setelah menutup telpon Reihan berdiri di atas balkon kamarnya mengeluarkan sebatang nikotin dan membakarnya. Akhirnya akhir ini dia merasa beban pikirannya semakin banyak. Apalagi setelah menikah ini, mungkin jika mamanya tidak mendesaknya untuk menikah, dia mungkin akan menjomblo se umur hidupnya.

Reihan mempunyai kisah cinta yang tragis. Beberapa tahun yang lalu dia akan bertunangan dengan kekasihnya yang sudah menjalankan hubungan lebih dari tiga tahun itu. Tapi takdir justru berkata lain mantan kekasihnya itu ketahuan selingkuh beberapa hari sebelum mereka bertunangan. Yang lebih parah mereka sudah berpacaran dua tahun. Saat mengetahui fakta itu Reihan merasa di bodohi selama ini.

Mungkin itu juga alasan mamanya menjodohkannya dan menyuruhnya segera menikah.

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!