"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
"Paksu, kalau raket nyamuknya bunyi bzzzt keras banget sampai keluar percikan api, itu artinya nyamuknya berdosa banget ya?"
Suara Calla memecah keheningan sore di teras belakang rumah dinas. Matahari pangkalan mulai tenggelam, menyisakan langit berwarna jingga keunguan yang hangat. Calla duduk di ayunan besi putih, masih mengenakan blus sage-nya, dengan kaki yang berayun-ayun santai. Tangannya dengan lincah mengayunkan raket nyamuk listrik ke udara, memburu serangga kecil yang mulai bermunculan.
Alaric yang sedang duduk di kursi kayu sambil membaca berkas laporan mingguan pangkalan hanya bisa menghela napas panjang. Ia meletakkan kertas berkas itu di atas meja, lalu menoleh menatap istri kecilnya.
"Itu artinya tegangan listrik dari baterai raket mengenai tubuh serangga dengan sempurna, Calla. Tidak ada hubungannya dengan dosa," jawab Alaric dengan suara baritonnya yang tenang, berusaha logis.
"Ih, Paksu kaku banget deh ah! Padahal kan seru kalau dibikin teori konspirasi begitu," cibir Calla, mematikan tombol raket nyamuknya lalu berjalan mendekati kursi Alaric. Tanpa permisi, ia langsung mendudukkan dirinya di lengan kursi kayu yang diduduki Alaric, membuat pria itu mendadak menegang.
"Calla, duduk yang sopan. Ada kursi lain yang kosong," tegur Alaric kaku, walau tangannya refleks bergerak menahan pinggang Calla agar gadis itu tidak terjatuh.
"Nggak mau, di sini lebih anget," sahut Calla santai, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Alaric yang terbalut kaus loreng. "Paksu... berkas pernikahan kantor kita beneran udah beres kan minggu ini?"
Alaric meraba jemari kecil Calla yang berada di atas lututnya, menggenggamnya perlahan. "Sudah. Tadi staf personel mengonfirmasi bahwa dokumen kita sudah dikirim ke markas besar. Tinggal menunggu jadwal pengarahan untukmu dari ketua Persit pangkalan."
"Persit? Itu perkumpulan ibu-ibu tentara yang seragamnya warna hijau daun pisang itu, ya?" Calla mendongak, menatap dagu tegas Alaric dari bawah.
"Hijau pupus, Calla. Bukan hijau daun pisang," koreksi Alaric, menahan senyum di sudut bibirnya. "Kamu akan menjadi bagian dari mereka. Sebagai istri Komandan Pasukan Khusus, tanggung jawabmu nanti akan sedikit lebih banyak."
"Hwaaa! Calla harus jadi bos ibu-ibu dong?" Calla langsung mendadak melow, wajah cerianya berganti cemberut. "Paksu... Calla kan masih muda, masih suka pakai daster kuning matahari, masih suka cegil-cegil godain Paksu. Nanti kalau ibu-ibu itu takut sama Calla gimana? Atau malah Calla yang diceramahin karena kurang berwibawa?"
Alaric memutar tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata kucing Calla yang mulai berkaca-kaca karena panik dadakan. Tatapannya melembut, sangat teduh.
"Tidak ada yang akan menceramahimu, Ismut," ucap Alaric pelan, menggunakan panggilan khusus itu untuk menenangkan istrinya. "Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Di depan anggota, saya yang akan menjagamu. Kamu tidak harus langsung menjadi sempurna."
Calla tertegun mendengarnya. Jantungnya berdesir hebat setiap kali Alaric mengeluarkan mode dewasa dan pelindung seperti ini. "Beneran, Paksu? Paksu nggak malu punya istri yang otaknya agak ajaib kayak Calla?"
"Kalau saya malu, saya tidak akan membiarkanmu menggandeng tangan saya di tengah pangkalan siang tadi," jawab Alaric datar, namun jemarinya meremas pelan tangan Calla, menyalurkan keyakinan.
Calla langsung tersenyum lebar lagi, mode melownya menguap secepat kilat. Ia memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga embusan napasnya terasa di pipi Alaric. "Aww, manis banget sih om-om ini kalau lagi mode pahlawan! Jadi pengen kasih hadiah deh."
Alaric langsung menahan napas, jakunnya naik turun dengan cepat. "Hadiah apa, Calla?"
"Hadiah kecupan di pipi kayak di studio foto kemarin, tapi kali ini... boleh di bibir nggak?" bisik Calla terlampau frontal, matanya melirik nakal ke arah bibir tipis suaminya.
Wajah Alaric seketika merona merah padam sampai ke leher untuk kesekian kalinya. Ia buru-buru memalingkan wajah, menepuk dahi Calla dengan ujung telunjuknya dengan pelan. "Jangan memancing di waktu sore, Calla. Masuk ke dalam, mandi. Udah hampir magrib."
"Ih, dibilang memancing! Memangnya Ismut itu umpan ikan apa?" Calla mengerucutkan bibirnya kesal, namun ia tetap berdiri dari lengan kursi. "Ya udah, Ismut mandi dulu. Tapi Paksu yang siapin baju ganti Ismut di atas kasur, ya?"
"Kenapa harus saya?" Alaric mengernyitkan dahi.
"Kan koper Ismut belum dibongkar! Ismut nggak tahu baju yang mana yang cocok buat malam jumat begini," celetuk Calla sambil mengedipkan sebelah matanya dengan sangat genit sebelum berlari kecil masuk ke dalam rumah.
"Callanta!" panggil Alaric dengan suara tertahan, namun yang dipanggil sudah menghilang di balik pintu sambil tertawa cekikikan.
Alaric menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap langit sore yang kini sudah menggelap sepenuhnya. Ia menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang, lalu menggelengkan kepala dengan senyum tipis yang akhirnya lolos. Memiliki istri seorang Calla benar-benar membuat hidup militernya yang monoton berubah menjadi penuh warna dan... penuh ujian iman di setiap detiknya.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨