NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAU BAGI MAKANAN,EH MALAH TERSESAT DI GANG

Keesokan harinya, suasana di kantor masih terasa enak mengingat buka puasa bareng kemarin. Meja masih rapi, dan sisa kue serta makanan kemarin masih ada sedikit yang tersimpan.

Tapi belum lama duduk, Pak Harun datang dengan ide baru.

“kemarin kita makan enak banget dan kebanyakan juga. Nah, daripada dibuang atau disimpan terus sampai basi, lebih baik kita bagi-bagi ke tetangga dan warga yang lewat saja. Nanti jadi pahala juga, apalagi bulan puasa begini,” katanya santai.

“Wah bagus tuh ide! Daripada mubazir,” jawab Ojak langsung setuju sambil berdiri.

“Baiklah, tugasnya begini.Bima sama Ojak bawa ke arah gang sebelah timur. Nina sama Kak Dedi ke arah gang sebelah barat. Pak Joko tetap jaga kantor, nanti kalau ada yang lewat langsung ditawari saja. Gampang kan?” perintah Pak Harun sambil menyiapkan kotak-kotak bekas yang bersih.

“Siap! Pasti lancar hari ini, kan cuma jalan sebentar saja,” kataku sambil mengangkat satu kotak yang sudah terisi rapi.

Aku dan Ojak berangkat duluan. Jalan keluar kantor lurus saja, terus masuk ke gang sempit yang biasa kami lewati. Katanya gang timur, tapi pas masuk ke dalam, ternyata banyak sekali cabang jalannya kiri ada gang, kanan juga ada, depan lurus juga ada.

"jak, kita belok mana nih?” tanyaku sambil mengintip ke depan.

“Yang mana aja lah, nanti ketemu juga warganya. Semua jalan kan bisa keluar,” jawab Ojak santai, seolah hafal betul.

Ternyata percaya sama kata Ojak itu salah besar. Belum lima menit jalan, kami mulai bingung sendiri. Tadi katanya belok kanan, eh malah ketemu tembok rumah. Mundur sedikit, belok kiri, malah masuk ke halaman belakang warga yang sedang menjemur pakaian.

“Wah maaf Pak! Salah masuk jalan!” teriak Ojak sambil menarikku cepat-cepat, malu setengah mati.

Kami keluar lagi, terus muter-muter. Gang-gangnya bentuknya mirip semua, dindingnya sama-sama terbuat dari batu bata, pohonnya juga banyak jenisnya. Rasanya kayak masuk ke labirin kecil yang gak ada ujungnya.

“Katanya jalan sebentar, kok malah keliling terus ya? Perut saya sudah mulai keroncongan lagi nahan lapar,” keluh Ojak sambil mengusap dahi yang mulai keringat.

“Kamu tadi bilang hafal, sekarang malah bingung juga,” balasku sambil ketawa lihat wajah bingungnya.

Untunglah ketemu seorang kakek yang sedang duduk santai di depan rumahnya. Kami langsung menghampiri sambil menawarkan makanan.

“Permisi Kek, kami mau bagi makanan, ini boleh diambil. Eh, sekalian tanya, jalan keluar ke arah timur lewat mana ya? Kayaknya kami muter-muter saja nih,” tanyaku sambil nyengir malu.

Si Kakek ketawa melihat kami. “Wah, ini jalan timur sudah lewat jauh tadi! Kalau terus lurus ke depan malah masuk ke kebun singkong. Balik saja ke pertigaan tadi, terus belok kanan, baru ketemu jalan besarnya.”

Kami mengucap terima kasih banyak, lalu buru-buru balik lagi. Akhirnya setelah muter-muter hampir setengah jam, baru sampai juga ke tempat yang dituju. Makanan terbagi semuanya, tapi kami sendiri yang jadi lelah karena jalan jauh gak perlu.

Sementara itu, Nina dan Kak Dedi juga gak kalah ceritanya. Mereka masuk ke gang sebelah barat yang katanya lebih luas dan gak bercabang banyak. Awalnya lancar, sampai tiba-tiba ada gerombolan anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, langsung lewat di depan mereka sampai menghalangi jalan.

“Wah, hati-hati Nak! Bawa makanan lho!” teriak Nina sambil menahan kotak yang dipegangnya.

Belum sempat jalan lagi, tiba-tiba ada seekor kambing yang lepas dari ikatannya, berjalan santai melintang di tengah gang, seolah menjadi raja jalanan. Kak Dedi langsung berhenti dan mundur pelan.

“Waduh, ini kambingnya juga ikut menghalangi jalan ya? Sudah pernah ketemu kambing lari dulu, sekarang ketemu yang menghalangi jalan,” gumamnya sambil melirik ke kiri kanan cari jalan memutar.

Untung kambingnya cuma berdiri saja, gak berbuat apa-apa. Setelah dipanggil pelan oleh pemiliknya yang datang menyusul, baru jalan itu kembali bisa dilewati.

Tapi masalah belum selesai. Pas mereka akan menawarkan makanan ke rumah pertama, tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah seorang ibu yang tangannya penuh membawa ember berisi air cucian. Ibu itu kaget melihat mereka di depan pintu, sampai hampir menumpahkan isinya kalau saja tidak cepat ditahan.

“Waduh! Maaf Bu, kami cuma mau bagi makanan saja, bukan mau minta apa-apa,” kata Nina buru-buru menjelaskan sambil jantungnya berdegup kencang.

Si Ibu ketawa lega. “Wah, saya kira tamu dari jauh yang gak bilang-bilang. Terima kasih ya, baik sekali kalian ini.”

Setelah itu mereka berjalan lebih hati-hati, dan akhirnya berhasil membagikan semuanya juga meskipun butuh waktu lebih lama dari perkiraan.

Saat kami semua balik ke kantor, wajah masing-masing terlihat lelah tapi tetap senyum-senyum sendiri.

Pak Harun dan Pak Joko yang sudah menunggu dari tadi langsung menyambut. “Lama banget ya? Padahal cuma bagi makanan sebentar saja. Ada apa saja nih?”

Kami pun cerita semuanya: aku dan Ojak tersesat muter-muter masuk gang sampai nyasar ke halaman rumah, sedangkan Nina dan Kak Dedi sempat dihalangi anak-anak, kambing, sampai hampir kena air cucian.

Mendengarnya, Pak Harun dan Pak Joko langsung ketawa terbahak-bahak.

“Wah, baru mau berbuat baik saja, dapat jatah cerita lucu lagi rupanya! Untung tujuannya baik, jadi meskipun jalannya berbelok-belok, tetap selesai juga kan?” kata Pak Harun sambil menepuk bahu kami satu per satu.

Sore harinya, seperti biasa, Sari dan Rara lewat dan singgah sebentar. Begitu dengar ceritanya, mereka berdua sampai terpekik ketawa.

“Wah, ini baru namanya jalan kebaikan yang berliku-liku! Nyasar, dihalangi anak, dihalangi kambing, semuanya dialami!” kata Rara sambil mencatat lagi di buku kesayangannya.

“Tapi bagus juga kan? Kalau semuanya mulus terus, rasanya kurang berkesan,” tambah Sari sambil menawarkan minum.

Aku duduk bersandar sambil menghela napas lega, dalam hati cuma berpikir sederhana saja:

Ternyata niat baik pun jalannya gak selalu lurus ya. Kadang nyasar, kadang ada halangan kecil, tapi selama kita tetap sabar dan gak menyerah, ujungnya pasti sampai juga.

Lagipula, kalau cuma jalan lurus tanpa kejadian apa-apa, mana ada cerita yang seru buat diceritain lagi nanti? Hari ini tetap jadi hari yang menyenangkan kok.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!