NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu di Ruang Makan dan Janji Sang Putra Sulung

Aroma sabun bergamot dan kayu cendana menguar tipis dari tubuh Zenix saat ia melangkah keluar dari kamar mandinya yang berlapis marmer hitam. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari pedalaman desa, menembus debu jalanan dengan mobil bak terbuka, dan puncaknya berjalan kaki mendaki sejauh dua kilometer menuju kawasan Blok Utara, tubuhnya benar-benar terasa rontok. Namun, guyuran air hangat di bawah pancuran mansion mewah itu berhasil mengembalikan sebagian staminanya.

Mengenakan pakaian santai berupa kaus hitam polos dan celana training abu-abu, Zenix mengeringkan rambut cokelat keperakannya yang setengah basah dengan handuk kecil. Ketika ia melepas handuk itu, anting hitam di telinga kirinya kembali berkilat, seirama dengan cincin perak yang setialah melingkar di jari tengah tangan kanannya.

Perutnya mendadak berbunyi nyaring, memprotes rasa lapar yang sangat hebat. Sepotong singkong bakar dan pisang rebus yang disuguhkan Anisa pada jam setengah lima subuh tadi jelas sudah menguap tak berbekas akibat energi yang terkuras sepanjang siang. Zenix melangkah menuruni anak tangga melingkar mansionnya, menuju ke arah ruang makan utama yang terletak di lantai bawah.

Di atas meja makan jati yang panjang, para pelayan rumah rupanya sudah menyiapkan berbagai hidangan mewah penambah tenaga. Zenix langsung duduk di salah satu kursi, mengambil piring, dan menyendok nasi putih hangat dalam porsi yang cukup banyak. Ia menambahkan lauk rendang daging yang empuk, perkedel kentang, dan sup ayam jago. Laki-laki yang biasanya makan dengan porsi estetis ala model itu kini menyantap makanannya dengan sangat lahap, meskipun tata krama makannya tetap terlihat tenang dan elegan.

Baru saja ,Zenix menghabiskan setengah dari porsi makannya, terdengar suara ketukan selop rumahan yang anggun berjalan mendekat dari arah ruang keluarga.

Dari balik pilar megah ruang makan, muncullah sosok wanita paruh baya bertubuh tinggi semampai dengan pembawaan yang sangat terhormat dan elegan. Wanita itu mengenakan tunik sutra berwarna pastel yang berkelas, dengan rambut yang disanggul modern dengan rapi. Beliau adalah Mama Sofia, ibu kandung Zenix sekaligus nyonya besar di mansion tersebut. Wajah cantiknya yang awet muda tampak menyiratkan gurat kecemasan yang mendalam selama beberapa hari terakhir, namun beralih menjadi kelegaan yang luar biasa saat melihat putra sulungnya kini duduk dalam keadaan utuh di depan meja makan.

"Zenix... ya ampun, Nak," ucap Mama Sofia, suaranya terdengar lembut namun bergetar oleh emosi. Beliau bergegas menghampiri meja makan, berdiri di samping kursi Zenix dan menyentuh pundak putranya dengan penuh kasih sayang. "Kamu ke mana saja beberapa hari ini? Mama dan Papa bingung setengah mati. Ponselmu mati total, teman-teman gengmu juga tidak ada yang bisa dihubungi. Lalu tadi laporan dari security depan, kamu pulang jalan kaki? Mobil SUV hitammu mana?"

Zenix menghentikan sendoknya di udara sejenak. Ia mendongak, menatap mata ibunya yang berkaca-kaca. Hati Zenix menghangat, namun ada begitu banyak beban misteri dan cerita luar biasa yang ingin segera ia tumpahkan.

"Ma, sebenarnya banyak sekali yang terjadi. Zenix mau cerita—"

Sebelum Zenix sempat melanjutkan kalimatnya, Mama Sofia dengan lembut memotong pembicaraan. Beliau mengusap rambut cokelat keperakan putranya yang masih agak lembap dengan penuh kasih. "Ssst... tidak usah cerita sekarang, Sayang. Selesaikan dulu makanmu. Mama tahu kamu pasti sangat lapar dan kelelahan setelah berjalan kaki sejauh itu. Makanlah sampai kenyang dan habiskan nasimu, setelah itu kita bicara di sofa santai."

Zenix menatap mata ibunya yang penuh perhatian, lalu mengangguk patuh. "Iya, Ma."

Sebagai putra sulung yang sangat menghormati ibunya, Zenix menuruti perintah tersebut. Ia kembali fokus pada piringnya, mengunyah makanannya dengan tenang hingga butir nasi terakhir bersih tak tersisa, lalu meneguk segelas besar air putih hangat hingga tandas. Rasa lapar di perutnya kini berganti menjadi kehangatan yang memulihkan tenaganya secara penuh.

Setelah merapikan posisi piringnya, Zenix bangkit berdiri dan berjalan bersama Mama Sofia menuju area ruang santai keluarga yang dilengkapi dengan sofa kulit beludru yang nyaman. Setelah pelayan menyuguhkan secangkir teh chamomile hangat untuk Mama Sofia dan segelas kopi hitam tanpa gula untuk Zenix, suasana berubah menjadi lebih intim dan serius.

Zenix meletakkan cangkirnya, memutar cincin perak di jarinya sejenak untuk menata kalimat, lalu menatap lurus ke arah mata ibunya.

"Ma, liburan kami ke villa beberapa hari lalu berubah menjadi mimpi buruk," buka Zenix dengan suara beratnya yang tenang namun tegas. "Malam itu, saat temanku Jovanka sedang menyetir mobil SUV hitam ku di perbatasan luar kota, jalanan sangat sepi. Tiba-tiba mobil yang ditumpangi kami dihadang oleh sekelompok bandit jalanan yang membawa senjata tajam dan balok kayu. Mereka menyerang mobil, dan kami sempat mencoba melawan. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, para bandit itu memukuli Jovanka dan Deandra ma, lalu Zenix juga terluka akibat sayatan senjata tajam dari salah satu bandit itu ma, karena bandit itu menyerang secara tiba tiba dengan senjata tajam nya karena Zenix belum siap akhirnya lengan Zenix yang tersayat".

Mama Sofia seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memucat mendengar cerita kekerasan yang menimpa putra sulungnya. "Ya Tuhan, Zenix... lalu bagaimana kalian bisa selamat? Di mana para penjahat itu sekarang?"

"Itu bagian yang paling tidak masuk akal, Ma," lanjut Zenix, tatapannya menerawang mengingat malam mistis itu. "Sebelum Zenix benar-benar kehilangan kesadaran, Zenix melihat ada seseorang yang misterius datang menghajar para bandit itu dengan kecepatan kilat. Tapi, saat kami semua terbangun... kami tidak lagi berada di jalan raya itu, dan mobil SUV hitam Zenix sudah hilang entah ke mana. Kami berlima mendadak terbangun di tengah-tengah inti perut Hutan Sangker."

"Hutan Sangker?!" Mama Sofia terbelalak, bulu kuduknya ikut meremang mendengar nama hutan legendaris yang terkenal sangat angker dan terisolasi itu. "Itu... itu kan hutan terkutuk yang sangat berbahaya? Bagaimana bisa kalian berpindah ke sana?"

"Logika kami juga tidak sampai ke sana, Ma. Malam itu hawa hutan sangat dingin, kabut tebal, dan banyak suara-suara gaib yang mencoba menyerang kewarasan kami. Kami mengira kami akan mati di sana. Tapi di tengah keputusasaan, muncul sebuah fenomena ganjil. Ada sesosok roh putih bercahaya yang murni datang menolong kami. Roh itu mengatakan harus mengikuti nya jika ingin selamat dan ia juga mengatakan jangan pedulikan suara apapun dan jangan menoleh ke belakang, dan dialah yang menuntun kami berjalan menembus kegelapan hutan, melindungi kami dari mahluk-mahluk jahat, hingga akhirnya mengantar kami dengan selamat tepat di depan sebuah pondok bambu sederhana."

Zenix menjeda ceritanya, menghirup kopi hitamnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering karena emosi yang meluap. "Pondok itu milik seorang gadis desa berhijab yang hidup sebatang kara. Namanya Anisa."

Mendengar nama 'Anisa' disebut, Mama Sofia meluruskan posisi duduknya, menatap putranya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang mendalam.

"Anisa yang merawat luka-luka kami, memberi kami makan, dan menampung kami selama beberapa hari di sana karena di desa itu sama sekali tidak ada listrik dan tidak ada sinyal ponsel. Bahkan semalam, saat mahluk-mahluk gaib dari hutan itu mengamuk dan mencoba mendobrak pintu pondok, Anisa menyelamatkan nyawa kami semua dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tilawah yang sangat merdu hingga hawa jahat itu hancur dan terusir pergi," cerita Zenix dengan binar kekaguman yang sangat nyata terpancar dari sepasang matanya.

Mama Sofia mendengarkan setiap bait cerita putra sulungnya dengan takjub. Beliau mengenal Zenix sejak bayi, Zenix adalah anak yang sangat skeptis, logis, dingin, dan tidak pernah memercayai hal-hal mistis apalagi membual tentang hal-hal gaib. Jika Zenix sampai menceritakan hal ini dengan nada serius dan binar mata seperti itu, artinya semua kejadian luar biasa itu benar-benar nyata terjadi.

Namun, perhatian Mama Sofia kini teralih pada perubahan ekspresi wajah Zenix saat menyebut nama gadis desa tersebut. Garis wajah Zenix yang biasanya kaku dan tak tersentuh mendadak melunak, memancarkan kehangatan emosional yang belum pernah beliau lihat seumur hidup putranya.

Zenix memajukan tubuhnya, menatap mata ibunya dengan tatapan paling bersungguh-sungguh yang pernah ia miliki sebagai seorang laki-laki.

"Ma... di dalam hati Zenix yang paling dalam, Zenix menyadari satu hal. Zenix sangat menyukai Anisa," ungkap Zenix jujur tanpa ragu sedikit pun. "Selama ini Mama tahu sendiri bagaimana Zenix di kampus. Zenix tidak pernah tertarik pada gadis mana pun, tidak peduli seberapa keras mereka menggoda atau mengejar Zenix. Menurut Zenix mereka semua sama saja. Tapi Anisa... dia benar-benar berbeda."

Mama Sofia terdiam, menyimak dengan saksama penuturan putra sulungnya.

"Anisa hidup sebatang kara setelah ditinggal wafat kakek dan orang tuanya, tinggal di tepi hutan yang angker, tapi dia sangat mandiri bekerja sebagai buruh cuci warga dan mengobati orang sakit. Dia memiliki keteguhan iman yang luar biasa, kesucian hati, dan keberanian yang tidak dimiliki gadis kota mana pun. Suara mengajinya semalam benar-benar meluluhkan hati dingin Zenix, Ma. Zenix mengaguminya, Zenix menghormatinya, dan Zenix telah jatuh cinta padanya."

Zenix menarik napas dalam, lalu mengucapkan kalimat yang menjadi inti dari pembicaraan mereka. "Tadi pagi di pondok, sebelum pulang, Zenix sudah mengutarakan perasaan Zenix pada Anisa. Dan Anisa juga memiliki perasaan yang sama. Tapi Anisa adalah gadis yang menjaga kehormatan dia menegaskan bahwa dia tidak mau mengenal hubungan pacaran. Dia bilang, jika Zenix serius, Zenix harus langsung menikahinya setelah siap."

Zenix menggenggam tangan ibunya dengan erat, anting hitamnya berkilat tegas di bawah pencahayaan lampu ruang tamu. "Oleh karena itu, Ma... Zenix memohon dengan sangat, tolong restui hubungan Zenix dengan Anisa. Rencana Zenix sekarang, Zenix mau fokus kuliah dulu dengan sungguh-sungguh. Zenix tidak akan main-main lagi. Zenix akan kejar kelulusan secepat mungkin, fokus pada setiap mata kuliah, dan tidak akan melirik wanita lain di kota ini. Begitu Zenix lulus kuliah dan memegang gelar sarjana, Zenix mau kembali ke desa itu untuk langsung melamar dan menikahi Anisa secara resmi. Zenix mohon restu Mama."

Mendengar ikrar janji yang begitu matang, bertanggung jawab, dan penuh komitmen dari mulut putra sulungnya, air mata haru perlahan menetes di pipi Mama Sofia. Beliau tidak menyangka bahwa putra sulungnya yang selama ini dikhawatirkan akan menjadi pria berhati batu, kini telah bertransformasi menjadi seorang laki-laki sejati yang menghormati kesucian sebuah hubungan pernikahan berkat bimbingan tidak langsung dari seorang gadis desa berhijab.

Mama Sofia tersenyum sangat hangat, membalas genggaman tangan Zenix dengan penuh kasih sayang. "Zenix, putra ku Mama... jika gadis bernama Anisa itu sekian mulia hatinya, telah menyelamatkan nyawamu, dan mampu membuat putra Mama berubah menjadi pria dewasa yang penuh komitmen seperti ini... bagaimana mungkin Mama tidak merestuinya?"

Beliau mengusap air matanya dengan tisu, lalu mengangguk mantap. "Mama merestui hubungan kalian, Sayang. Mama bangga dengan keputusanmu untuk tidak berpacaran dan memilih fokus kuliah terlebih dahulu demi masa depan kalian. Pegang janjimu, selesaikan kuliahmu dengan prestasi terbaik, dan buktikan pada Anisa bahwa kamu adalah laki-laki kota yang layak untuk ia tunggu di tepi hutan sana. Begitu kamu lulus nanti, Mama sendiri yang akan mendampingimu pergi ke Desa Beringin Sakti untuk melamarnya secara resmi."

Mendengar restu murni yang keluar dari bibir ibunya, Zenix mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang. Senyuman kemenangan dan kebahagiaan terukir indah di wajah tampannya, memantapkan langkah kakinya untuk memulai babak kehidupan baru di kota metropolitan dengan satu tujuan pasti berjuang demi menjemput sang belahan jiwa yang setia menanti di seberang batas Hutan Sangker.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!