NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Deru mesin mobil Andry perlahan tenggelam di balik bisingnya kepakan sayap burung-burung pipit yang terbang rendah di atas hamparan sawah Desa Sukamaju. Santi masih berdiri di teras dengan sisa-sisa binar kebahagiaan yang membekas di wajahnya. Ia memandangi ujung jalan tempat mobil mewah itu menghilang, lalu menoleh ke arah Tina dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Ya ampun, Tina! Aku masih tidak percaya," cetus Santi sambil menepuk kedua pipinya sendiri. "Bulan depan aku akan pergi ke kota kabupaten. Menginap di hotel, ikut pelatihan, bertemu dengan orang-orang hebat dari yayasan. Ini seperti mimpi!"

Tina hanya tersenyum tipis, mencoba menyelaraskan energinya dengan kegembiraan sang senior meskipun hatinya sendiri masih terasa seperti padang gersang yang dihantam badai. "Iya, San. Semoga pelatihannya lancar, ya. Ini kesempatan bagus untukmu, dan juga untuk kemajuan PAUD kita."

"Tentu saja! Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh agar Pak Andry tidak kecewa sudah memilih sekolah kita," jawab Santi penuh tekad. Ia kemudian merapikan tas jinjing rajutnya. "Kalau begitu, aku mau langsung pulang dulu, Tin. Mau mencuci baju yang ku kenakan ini dan mulai memilah baju apa saja yang harus kubawa ke kota nanti. Kamu tidak apa-apa kan kalau aku pulang duluan?"

"Iya, tidak apa-apa, San. Silakan duluan saja. Aku masih harus merapikan beberapa berkas absensi anak-anak di dalam," ucap Tina lembut.

Setelah Santi melangkah pergi dengan senandung kecil yang riang, suasana PAUD seketika berubah menjadi sunyi senyap. Keheningan itu perlahan mengembalikan kesadaran Tina pada kenyataan pahit yang menunggunya di rumah. Rasa lega karena terbebas dari jerat kontrak Andry perlahan memudar, digantikan oleh rasa sesak yang kembali menghimpit dada saat bayangan kaleng celengannya yang kosong melompong kembali melintas di benak.

Tina melangkah masuk ke dalam kantor kecil, duduk di kursi kayu yang beberapa menit lalu diduduki oleh Andry. Ia menumpukan kedua sikunya di atas meja kayu yang kasar, menenggelamkan wajahnya di antara kedua telapak tangan. Air mata yang sejak pagi ia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh di depan murid-murid dan Santi, kini mengalir perlahan melewati sela-sela jarinya.

Uang tabungannya yang dikumpulkan dari sisa honor ratusan ribu per bulan, uang modal usaha Kak Rika, hingga uang jajan Lisa di kotak pensil—semuanya habis tak berbekas. Fandi telah menghancurkan segalanya demi kesenangan sesaat yang entah apa wujudnya.

"Tuhan... aku harus bagaimana?" Bisik Tina lirih di sela isak tangisnya yang tertahan di dalam ruangan sepi itu.

Sementara itu, di dalam kabin mobil SUV hitamnya yang melaju membelah jalanan aspal antar-kecamatan, Andry mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemeja katun biru mudanya yang necis kini terasa mengekangnya. Pandangan matanya lurus menatap jalanan di depan, namun pikirannya tertuju pada selembar kertas yang kini tergeletak di jok penumpang sebelah kiri—dokumen dengan nama dan tanda tangan Santi.

Andry menginjak rem, menghentikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang sepi di bawah deretan pohon mahoni. Ia menyandarkan kepalanya ke setir mobil, mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi.

"Mengapa dia tidak menerimanya saja? Kenapa dia malah melemparkan kesempatan itu kepada orang lain?" Bisik Andry pada kesunyian di dalam mobilnya.

Bayangan wajah Tina kembali berputar di dalam ingatannya, menariknya mundur ke beberapa tahun yang lalu. Ingatan Andry melayang pada masa-masa kuliah di kota besar. Saat itu, Tina masih menjadi seorang mahasiswa baru yang lugu, sementara dirinya adalah senior yang cukup disegani di kampus. Sejak hari pertama orientasi, Andry selalu memperhatikan gerak-gerik Tina dari kejauhan. Ada sesuatu pada ketulusan dan kesederhanaan gadis itu yang selalu menarik perhatiannya. berkali-kali Andry mencoba mencari kesempatan untuk memperkenalkan diri, mendekat, dan menyapa, namun ego sebagai senior dan berbagai situasi selalu membuat usahanya gagal total hingga akhirnya ia lulus kuliah tanpa pernah sempat melempar senyum pada gadis itu.

Siapa yang menyangka bahwa takdir akan mempertemukannya kembali dengan Tina di tempat yang sama sekali tidak terduga? Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja beberapa minggu lalu, saat Andry sedang mengendarai mobil melewati perkebunan cokelat di pinggir jalan desa ini dalam sebuah perjalanan dinas. Sosok gadis yang membawa keranjang kecil di bawah rimbunnya pohon cokelat itu seketika menghidupkan kembali obsesi lamanya yang sempat terkubur.

Andry berpikir rencana bantuan yayasan yang ia susun dengan begitu rapi kali ini akan berjalan lancar tanpa hambatan. Ia yakin umpan berupa masa depan sekolah dan jaminan finansial akan langsung membuat Tina masuk ke dalam genggamannya. Namun kenyataannya, benteng yang dibangun Tina jauh lebih kokoh dari perkiraannya.

Di belahan jalan yang lain, Tina melanjutkan perjalanan pulangnya. Tubuhnya masih terasa lemas dan tak bertenaga, seolah-olah seluruh energinya telah habis terkuras oleh kemalangan bertubi-tubi yang menimpa keluarganya. Ia berjalan menunduk, menyusuri jalanan kampung yang lengang.

"Tina... Tina!"

Sebuah seruan bernada riang memecah lamunan Tina. Ia mendongak dan mendapati Ibu Yuna sudah berdiri di atas teras rumah panggung kayunya yang besar. Wajah wanita paruh baya itu tampak semringah, seolah-olah ia memang sudah sejak tadi berdiri di sana, sengaja menunggu Tina lewat di depan rumahnya.

"Ayo sini, naik dulu ke rumah," lambai Ibu Yuna dengan ramah.

Tina sempat ragu, namun karena rasa hormatnya pada orang tua, ia memaksakan seulas senyum. "Iya, Bu," jawab Tina, lalu melangkah memasuki pekarangan dan menaiki satu demi satu anak tangga kayu rumah Ibu Yuna.

Begitu sampai di atas, Ibu Yuna langsung menyambutnya dengan hangat. "Ada apa, Bu?" Tanya Tina lembut.

"Ah, sini duduk dekat Ibu," ujar Ibu Yuna, menarik lengan Tina untuk duduk bersamanya di atas tikar anyaman yang digelar di ruang tamu.

Tanpa membuang waktu, Ibu Yuna meraih sebuah buku tebal berhiaskan pita satin dari atas meja sudut. "Coba kamu lihat ini, Tin," ucapnya penuh semangat, membuka halaman demi halaman buku tersebut yang ternyata adalah sebuah katalog eksklusif berisi jajaran foto gaun pernikahan modern bertabur payet dan renda. "Bagaimana? Cantik, kan?"

Tina mengerjapkan matanya, sedikit terkejut dengan apa yang disodorkan kepadanya. Namun, ia tetap mengangguk sopan. "Iya, cantik sekali, Bu."

"Kalau menurutmu, mana yang paling bagus dan cocok, Tin?" Tanya Ibu Yuna lagi, matanya berbinar-binar penuh selidik saat menatap wajah kuyu Tina.

Tina membolak-balik halaman kertas tebal itu dengan canggung. Baginya, semua gaun sutra putih dan brokat megah di dalam katalog itu tampak terlalu mewah untuk ukuran matanya yang terbiasa melihat pakaian sederhana. "Kalau Tina lihat... semuanya bagus dan kelihatan mewah, Bu."

Ibu Yuna tertawa kecil, mencubit pelan lengan Tina. "Ih, kamu ini. Masa bagus semua? Harus pilih satu yang paling spesial dong."

"Iya, serius, Bu. Semuanya benar-benar bagus," sahut Tina jujur.

"Iya juga sih, memang bagus semua. Tapi masa mau dipakai semua sekaligus di pelaminan? Kan tidak mungkin," gurau Ibu Yuna, lalu terkikik kegirangan sendiri.

Tina hanya bisa tersenyum kaku. Di dalam hatinya, ia merasa sangat heran dan bingung dengan tingkah laku Ibu Yuna hari ini. Di tengah otaknya yang sedang sarat memikirkan masalah uang tabungan yang dicuri Fandi, ia malah disuruh memilih baju pengantin. Tina sama sekali tidak tahu-menahu tentang apa yang sedang terjadi, dan satu-satunya hal yang melintas di pikiran polosnya adalah dugaan bahwa Ibu Yuna mungkin berencana untuk menikah lagi di usianya yang sekarang.

Menyadari perubahan ekspresi Tina yang tampak kelelahan, Ibu Yuna buru-buru menutup katalog tebal itu dengan perasaan agak sungkan. "Ah, maaf ya, Tina. Tante jadi menghalangi jalan pulangmu, habisnya Tante dari tadi bingung sekali mau memilih yang mana."

"Iya, tidak apa-apa, Bu," jawab Tina sopan, bersiap untuk pamit berdiri.

Ibu Yuna langsung memotong perkataan Tina dengan kibasan tangan, disusul tawa renyah yang memenuhi ruangan. "Eh, kamu ini... mulai sekarang panggil Tante saja, ya. Jangan panggil Ibu lagi, supaya hubungan kita ini jadi terasa lebih dekat dan akrab," ujarnya penuh arti, wajahnya tampak sangat gembira.

Tina agak kikuk, namun ia mengangguk patuh. "Iya... Tante."

"Nah, begitu dong! Bagus," sahut Ibu Yuna puas, menepuk-nepuk lutut Tina.

"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya... Bu eh, maksud saya, Tante," ucap Tina meralat kalimatnya dengan cepat, membuat mereka berdua sempat melempar senyum geli.

"Iya, iya. Silakan pulang, Nak. Sampaikan salam Tante untuk orang tuamu di rumah, ya."

"Baik, Tante. Kalau begitu saya pamit, mari Tante," ucap Tina, melangkah mundur dengan sopan sebelum akhirnya menuruni anak tangga rumah panggung tersebut.

Dari atas teras rumahnya, Ibu Yuna berdiri bersandar pada pagar kayu, memandangi punggung Tina yang berjalan menjauh menyusuri jalanan desa. Senyum-senyum simpul terus terkembang di wajah wanita paruh baya itu, membayangkan alangkah serasinya jika gadis seanggun Tina bersanding dengan keponakan kesayangannya.

Namun, di tengah lamunan indahnya, Ibu Yuna mendadak menepuk dahinya sendiri dengan keras. "Ya ampun! Aku sampai lupa memberikan bingkisan kue dan buah yang sudah kusiapkan di dapur untuk Tina!" Serunya panik, menyesali kelalaiannya karena terlalu asyik memamerkan katalog baju pengantin tadi.

Ibu Yuna tidak pernah tahu bahwa di belahan jalan yang lain, keponakan kebanggaannya—Andry—baru saja mengalami kegagalan besar dalam rencana pertamanya. Dan di atas meja kayu kantor PAUD, sebuah benang takdir yang baru telah terikat atas nama Santi, meruntuhkan seluruh skenario pernikahan impian yang saat ini sedang dirajut dengan penuh suka cita oleh sang bibi di atas rumah panggungnya.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!