Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Saudara... Tapi Lebih Berbahaya
📖 BAB 14: Bukan Saudara... Tapi Lebih Berbahaya
Aula keluarga Qin berubah kacau.
Para tamu berdiri serentak. Wartawan berebut merekam layar. Pelayan panik. Musik berhenti total. Suara orang-orang bercampur menjadi dengung liar.
Namun bagi Lin Qingyan, dunia justru terasa sunyi.
Ia hanya mendengar satu kalimat:
Dia adalah putri kandungku.
Ia menatap Gu Beichen seperti menatap jurang.
Jika itu benar...
maka pria yang berdiri di sampingnya—
yang memeluk pinggangnya di depan semua orang,
yang menciumnya beberapa kali di kepala,
yang membuat jantungnya kacau—
adalah saudaranya.
Darahnya surut dari wajah.
“...Kita saudara?”
Suara itu kecil.
Namun cukup untuk membuat Beichen akhirnya bergerak.
Ia menatapnya lurus.
“Tidak.”
Qingyan berkedip.
“Apa?”
“Tidak.”
“Video tadi bilang ayahmu—”
“Dan ayahku sering dramatis.”
Dalam situasi seperti ini, pria itu masih sempat terdengar menyebalkan.
Madam Qin berdiri mendadak.
“Matikan layar itu!”
Tapi layar sudah mati sendiri.
Han sedang memeriksa sistem dengan cepat di tablet.
“Sumber siaran dari server luar negeri. Sudah diputus.”
Armand menatap Beichen dengan ekspresi baru.
“Kalau ini benar, pesta malam ini lebih kacau dari harapanku.”
Serin tersenyum samar.
“Aku mulai suka keluarga Gu.”
Madam Qin membanting gelas ke meja.
“Diam!”
Ruangan langsung sunyi.
Ia menatap Beichen tajam.
“Kau merencanakan ini?”
Beichen tak memandangnya.
Ia menatap Qingyan yang masih pucat.
“Aku baru tahu video itu ada malam ini.”
Madam Qin mendecak.
“Kebohongan keluarga kalian selalu elegan.”
Beichen menjawab dingin.
“Kalau kami bohong, keluarga Anda tak akan hidup nyaman dua puluh lima tahun.”
Qingyan mundur selangkah.
“Aku ingin penjelasan. Sekarang.”
Beichen mengangguk sekali.
“Kita pergi.”
“Aku tak akan ke mana-mana sebelum tahu.”
Ia tak pernah melihat Qingyan seperti ini.
Biasanya marah. Tajam. Sinis.
Sekarang suaranya gemetar.
Dan itu lebih buruk.
Beichen menarik napas pendek.
“Baik.”
Ia menoleh ke seluruh ruangan.
“Semua yang tak relevan, keluar.”
Armand tertawa kecil.
“Sayang sekali, aku merasa relevan.”
“Kalau begitu duduk dan diam.”
Anehnya, Armand benar-benar duduk.
Mereka pindah ke ruang privat di belakang aula.
Hanya ada Qingyan, Beichen, Madam Qin, Armand, Serin, Han, dan Shen Zorui yang entah sejak kapan sudah masuk tanpa suara.
Qingyan berdiri di tengah ruangan.
“Mulai bicara.”
Beichen menatap Shen.
“Kau.”
Pria tua itu mengangkat alis.
“Lempar orang tua ke api. Bagus.”
“Kau suka sejarah. Ceritakan.”
Shen menghela napas panjang.
“Dua puluh lima tahun lalu, Elena Qin memang hamil.”
Qingyan menegang.
“Dengan siapa?”
“Dengan Gu Zhengyuan.”
Ruangan sunyi.
Madam Qin menutup mata sejenak, seolah muak mengulang masa lalu.
Shen melanjutkan,
“Mereka punya hubungan rahasia. Cinta, ambisi, atau kebodohan. Sulit dibedakan.”
Armand berbisik, “Klasik.”
“Diam,” kata tiga orang sekaligus.
“Lalu aku?” tanya Qingyan.
Shen menatapnya.
“Elena melahirkan bayi perempuan. Tapi malam itu juga terjadi kebakaran.”
“Dan?”
“Bayi itu... meninggal.”
Qingyan merasa lantai bergeser.
“Meninggal?”
Shen mengangguk.
“Namun pada malam yang sama, ada satu bayi perempuan lain dari program penelitian yang selamat.”
Ia menunjuk Qingyan.
“Itu kau.”
Ruangan tak bernapas.
Qingyan memandang kosong.
“Jadi aku bukan anak Elena?”
“Bukan secara biologis.”
“Bukan anak Gu Zhengyuan?”
“Bukan.”
Ia menoleh perlahan ke Beichen.
“Kita... bukan saudara?”
“Sudah kubilang.”
Nada suaranya datar, tapi mata pria itu sejak tadi tak pernah lepas darinya.
Qingyan hampir jatuh terduduk.
Emosi malam ini terlalu banyak untuk satu manusia.
Madam Qin tertawa pendek tanpa humor.
“Saudaraku Elena gila di akhir hidupnya. Ia kehilangan anaknya, lalu mengambil bayi proyek dan menganggapnya putrinya.”
Qingyan menatap wanita itu tajam.
“Kau bicara soal dia seperti objek.”
Madam Qin membalas dingin.
“Dia menghancurkan keluarga kami.”
“Dan kalian menghancurkan hidup banyak anak.”
Mata keduanya saling mengunci.
Serin bersiul pelan.
“Dua wanita ini menakutkan.”
Qingyan memegang kepala.
“Kalau aku bukan darah Qin... kenapa kalian mencariku?”
Armand menjawab kali ini.
“Karena kau lebih berharga daripada darah.”
Ia berdiri dan berjalan perlahan.
“Kau satu-satunya hasil sukses dari proyek itu.”
“Jangan bicara seolah aku barang laboratorium.”
“Aku bicara sebagai pebisnis.”
Beichen berdiri juga.
“Duduk lagi.”
Armand tersenyum.
“Aku hanya bicara.”
“Lalu bicara dari jauh.”
Shen menambahkan,
“Tubuhmu berbeda. Data medis menunjukkan respons imun, pemulihan sel, dan adaptasi neurologis jauh di atas normal.”
Qingyan menatap tangannya sendiri seolah baru melihatnya.
“Jadi selama ini aku... eksperimen hidup.”
“Tidak,” kata Beichen.
Semua menoleh padanya.
“Kau manusia.”
Suara itu rendah, tegas, dan tak memberi ruang bantahan.
“Jangan biarkan siapa pun di ruangan ini mendefinisikanmu dengan tabel data.”
Untuk pertama kali malam itu, mata Qingyan memanas.
Ia cepat memalingkan wajah.
Madam Qin kembali ke inti masalah.
“Terlepas dari asalmu, publik percaya kau Qin Yue. Itu cukup.”
“Jadi aku cuma simbol?” tanya Qingyan.
“Simbol memegang saham, pengaruh, dan legitimasi.”
“Menjijikkan.”
“Efektif.”
Qingyan hampir muntah mendengar cara wanita itu bicara.
Armand menyandarkan tubuh ke meja.
“Bibi ingin kau kembali dan berdiri di sisi keluarga Qin.”
Serin menambahkan santai,
“Atau setidaknya terlihat begitu.”
“Kalau aku menolak?”
Madam Qin menjawab tenang,
“Maka kami akan hancurkan keluarga Gu perlahan.”
Han langsung menegang.
Beichen tersenyum tipis.
Itu senyum yang sangat buruk bagi lawan.
“Coba.”
Ketegangan pecah saat pintu ruang privat dibuka kasar.
Seorang pria tua masuk dengan tongkat hitam dan pengawal di belakangnya.
Wajahnya keras, mata seperti pisau tua.
Semua orang langsung berubah sikap.
Bahkan Madam Qin berdiri.
“Paman.”
Armand menunduk sedikit.
Serin tak lagi tersenyum.
Han berbisik pelan pada Qingyan.
“Qin Taishan.”
“Siapa?”
“Pendiri bayangan keluarga Qin.”
Pria tua itu tak peduli siapa pun.
Ia berjalan lurus ke depan Qingyan.
Menatap wajahnya lama.
Lalu berkata,
“Kau memang mirip Elena.”
Qingyan menahan diri untuk tak mundur.
“Aku bukan dia.”
“Bagus.”
Ia mengangguk tipis.
“Elena terlalu lembut.”
Ia mengetuk tongkat ke lantai.
“Mulai hari ini, gadis ini tinggal di kediaman Qin.”
Beichen langsung menjawab.
“Tidak.”
Qin Taishan menoleh pelan.
Dan udara ruangan seolah turun beberapa derajat.
“Kau menolak perintahku?”
Beichen memasukkan tangan ke saku.
“Aku menolak kebodohan.”
Pengawal di belakang pria tua itu langsung maju setengah langkah.
Han pun bergerak.
Serin berbisik kagum, “Ini jauh lebih baik dari televisi.”
Qin Taishan menatap Qingyan lagi.
“Kau ikut kami, atau pria ini akan kehilangan segalanya.”
Qingyan menoleh ke Beichen.
Ia tetap tenang.
Tapi kini ia tahu tenang bukan berarti tak peduli.
Ia hanya pandai menyembunyikan badai.
Jika ia ikut Qin, ia masuk kandang serigala.
Jika ia tetap dengan Gu, perang terbuka terjadi.
Untuk pertama kalinya, keputusan ada di tangannya.
Ia mengangkat dagu.
“Aku akan pergi.”
Han membeku.
Madam Qin tersenyum tipis.
Beichen menatapnya tanpa ekspresi.
Lalu Qingyan melanjutkan:
“Tapi dengan syarat.”
Qin Taishan menyipitkan mata.
“Syarat?”
“Aku masuk rumah Qin sebagai tamu. Bukan tahanan.”
“Berani.”
“Aku belajar dari orang-orang yang suka memerintah.”
Ia melirik Beichen sekilas.
Pria itu hampir tersenyum.
“Hari kedua,” lanjut Qingyan, “semua arsip tentang proyek itu dibuka untukku.”
Qin Taishan diam.
“Dan ketiga...”
Ia menatap seluruh keluarga Qin.
“Siapa pun yang menyentuh Gu Beichen karena aku, akan menyesal mengenalku.”
Sunyi total.
Beichen menatapnya lama.
Untuk pertama kali, mata pria itu menunjukkan sesuatu yang sangat jarang terlihat.
Bangga.
Qin Taishan mengetuk tongkat.
“Menarik.”
Ia berbalik.
“Bawa dia besok pagi.”
Qingyan mengencangkan genggaman pada liontin di sakunya.
Ia baru saja masuk ke sarang musuh.
Dan entah kenapa...
yang paling ia khawatirkan justru wajah Gu Beichen saat harus melepaskannya.
BERSAMBUNG