NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Hubungan kita berakhir di sini!

​Liu Shen terpaku di ambang pintu. Kantong koin perak dan emas yang ia perjuangkan dengan menukar nuraninya jatuh berdenting ke lantai tanah, isinya berhamburan tak berguna. Semua darah yang ia tumpahkan, semua dosa yang ia tanggung, semua kegelapan yang ia rangkul… semuanya sia-sia.

​Ia tidak menangis secara histeris seperti Lu Ming. Matanya justru semakin meredup, kehilangan sisa cahaya kemanusiaannya, berubah menjadi gelap seperti sumur tanpa dasar yang hanya berisi kebencian.

​Keesokan harinya, di bawah langit yang masih kelabu dan muram, mereka mengubur Paman Han di atas bukit yang menghadap ke arah Kota Azure.

Tidak ada nisan mewah dari batu giok, hanya sebuah papan kayu sederhana bertuliskan nama seorang pria tua yang tidak pernah dianggap ada oleh dunia.

​Setelah tanah tertutup rapi, Liu Shen melangkah maju. Ia membungkuk, mengambil pedang besi berkarat milik Paman Han yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai penghormatan terakhir.

​"Kau mau ke mana?" tanya Lu Ming dengan suara serak. Matanya merah dan bengkak.

​Liu Shen menyampirkan pedang itu di punggungnya.

Ia menatap ke arah kemegahan Kota Azure di kejauhan dengan tatapan penuh kebencian yang murni. "Tempat ini… dunia ini… tidak pantas mendapatkan belas kasihan dariku. Kau ingin tetap menjadi anak baik yang menunggu keajaiban dari langit? Silakan. Tapi aku akan memastikan dunia ini merasakan sakit yang sama, kehinaan yang sama, dengan apa yang dirasakan Paman Han."

​"Liu Shen, jangan! Kita hanya punya satu sama lain sekarang!" Lu Ming mencoba menahan lengan saudaranya.

​"Jangan sentuh aku!" Liu Shen menepisnya dengan kekuatan yang membuat Lu Ming terhuyung. "Hubungan kita berakhir di sini, Lu Ming. Kau dan aku… kita berjalan di jalur yang berbeda sekarang. Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi di ujung pedang, jangan pernah ragu. Karena saat itu, aku tidak akan ragu untuk menebasmu."

​Liu Shen berbalik tanpa menoleh lagi. Ia berjalan menuruni bukit, rambut putihnya berkibar ditiup angin kencang seperti bendera kematian.

Ia pergi membawa amarah yang sanggup membakar jagat raya, meninggalkan Lu Ming yang berdiri sendirian di samping makam sunyi itu.

​Lu Ming jatuh terduduk di atas tanah makam yang masih basah. Ia memeluk lututnya, meraung memanggil nama Paman Han dan Liu Shen hingga suaranya habis, namun hanya gema kesunyian yang kembali kepadanya.

​Dalam satu malam, ia kehilangan segalanya. Ayah angkatnya, saudaranya, dan separuh jiwanya.

Di bawah rintik hujan yang kembali turun, Lu Ming bersumpah di depan makam itu: bahwa meski dunia ini mencoba menenggelamkannya dalam kegelapan, ia akan tetap menjaga api kecil yang ditinggalkan Paman Han tetap menyala di dalam dirinya sebagai manusia, bukan sebagai iblis.

​Tujuh hari telah berlalu sejak tanah merah menutupi jasad Paman Han.

Lima tahun lamanya Kota Azure menjadi penjara sekaligus rumah bagi harapan Lu Ming, namun kini kota itu terasa asing dan menyesakkan, seperti sebuah makam besar yang dipenuhi kenangan pahit.

Gerbang kota yang dulu ia pandangi setiap detik dengan mata berbinar, berharap melihat sosok ibunya muncul di antara iring-iringan kereta kuda, kini hanyalah bongkahan batu bisu yang menyaksikan kehancuran hidupnya.

​Lu Ming berdiri di depan pusara sederhana di atas bukit. Angin pegunungan yang liar menyapu jubahnya yang penuh tambalan, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa musim gugur.

Ia membungkuk dalam-dalam, membiarkan keningnya menyentuh papan kayu nisan yang ia ukir sendiri dengan jemari yang masih kasar.

1
Dhewa Iblis
Laaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Karya yang sangat mengesankan...
Dhewa Iblis
Maannttap...
Dhewa Iblis
Maaannttaapp...
Dhewa Iblis
Keereenn Thor, Lanjutkan.
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!