evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hak memilih
Kini tersisa tujuh orang.
Suasana semakin menegang. Alberto Chaplin mengangkat tongkatnya, lalu bersuara tegas, “Sekarang tantangan terakhir. Jacob!”
Seorang pria maju.
Jacob. Tubuhnya tinggi dan berotot. Tatapannya dingin, langkahnya mantap. Ia berdiri di tengah lapangan, lalu perlahan melepas kemeja hitamnya.
Otot-ototnya terlihat jelas. Siap bertarung. Tanpa menggunakan senjata.
Sementara para kandidat—masing-masing diberi sebuah pisau lipat.
“Duel selama lima menit,” lanjut Alberto. “Kalian harus bisa… menggores kulitnya.”
Satu per satu maju.
Pertarungan dimulai. Suara langkah cepat, napas berat, dan gesekan pisau itu terdengar bergantian.
Dua orang gagal. Tidak mampu menyentuh Jacob sama sekali. Empat lainnya berhasil. Ada yang berhasil menggores lengan. Ada yang mengenai pipi. Dada. Bahkan punggung.
Meski hanya luka kecil—itu dinilai sudah cukup.
Kini—giliran terakhir.
Cristian Noah Alexander. Ia melangkah maju. Tenang seperti biasa. Pisau di tangannya terasa ringan.
Di hadapannya, Jacob sudah siap. Tanpa aba-aba panjang—pertarungan dimulai.
Hanya Lima menit. Gerakan cepat. Serangan. Tangkisan. Putaran tubuh. Namun—tidak seperti yang lain. Tidak ada luka yang muncul. Tidak ada goresan baru di tubuh Jacob. Hingga waktu habis.
Sunyi.
Charlie Chaplin tersenyum sinis.
“Lihat? Yang tadi kalian puji…” ucapnya pada Rachel Chaplin dan Lauren Chaplin. Nada suaranya penuh ejekan.
Alberto melangkah mendekat. Tatapannya dingin. “Aku pikir kamu berbeda,” ucapnya. “Pergilah.”
Namun—Noah tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempatnya. Tenang. Lalu suaranya terdengar rendah, namun jelas—
“Apakah Anda berpikir saya gagal?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Semua mata tertuju pada Cristian Noah Alexander.
Ia tidak bergeming. Tatapannya tetap tenang saat Alberto Chaplin menatapnya dalam diam, menunggu penjelasan.
“Belakang telinga bagian kiri,” ucap Noah datar. “Hanya goresan kecil… memang tidak terasa.”
Hening. Semua langsung menoleh ke arah Jacob.
Jacob mengernyit, lalu refleks mengangkat tangannya ke belakang telinga kirinya. Jarinya menyentuh sesuatu. Basah. Ia menarik tangannya perlahan—dan di ujung jarinya…terlihat sedikit darah.
Bisik-bisik langsung terdengar. Terkejut dan tidak percaya.
Alberto memberi isyarat.
Jacob segera mendekat.
Dengan teliti, Alberto memeriksa sendiri bagian yang dimaksud. Dan—benar. Ada goresan tipis. Sangat halus. Bahkan hampir tak terlihat. Namun cukup untuk membuktikan satu hal—Noah berhasil.
Bukan hanya berhasil—tapi melakukannya tanpa disadari lawan. Itu bukan sekadar kemampuan. Itu… presisi tingkat tinggi.
Reaksi langsung pecah.
“Penilaianku memang tidak salah!” seru Rachel Chaplin dengan mata berbinar.
“Dia untukku,” sambung Lauren Chaplin cepat, tidak mau kalah.
Keduanya langsung terlihat antusias. Tertarik. Berebut tanpa ragu.
Di sisi lain—Charlie Chaplin hanya menyeringai tipis. Namun— di belakang mereka, Evelyn Valencia berdiri diam. Tatapannya tertuju pada Noah. Namun pikirannya jauh lebih dalam.
Tidak bisa…Aku yang harus mendapatkannya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Jika aku tidak dekat dengan Cristian… bagaimana aku bisa menggali informasi dan memperbaiki semuanya?
Ingatan masa lalu kembali terlintas. Di kehidupan sebelumnya—Noah menjadi sopir pribadi Lauren.
Dan dari situlah—semua kedekatan itu dimulai. Kesempatan. Kesalahan. Dan akhir yang tragis.
Namun kali ini—Evelyn mengepalkan tangannya perlahan. Ia tidak akan membiarkan hal itu terulang.
“Baiklah, tersisa lima orang,” ucap Alberto Chaplin dengan suara tegas. “Saatnya kalian memilih.”
Belum sempat suasana benar-benar tenang—
“Ayah, aku memilih Cristian,” kata Rachel Chaplin cepat, tanpa ragu.
“Tidak bisa, aku yang menginginkan dia duluan,” potong Lauren Chaplin tajam.
Keduanya saling pandang. Tak ada yang mau mengalah.
“Hentikan!” suara Charlie Chaplin terdengar kesal. “Kalian ini nona di keluarga ini, kenapa terlihat serendah itu?”
Nada suaranya penuh muak. Namun—yang terjadi selanjutnya membuat suasana benar-benar berubah.
“Ayah… saya juga menginginkan Cristian.”
Suara itu—tenang dan sangat jelas. Semua kepala langsung menoleh. Ke arah Evelyn Valencia.
Beberapa detik—hening. Lalu tawa pecah. Keras. Penuh ejekan.
Rachel menutup mulutnya sambil tertawa, Lauren bahkan tidak berusaha menahan. Charlie hanya tersenyum sinis. Seolah itu lelucon paling aneh pagi ini.
Namun Evelyn tidak bereaksi. Ia tetap berdiri tegak. Tatapannya lurus. Tidak goyah.
“Sudah cukup!” Suara Alberto memotong semua itu. Seketika—hening kembali.
Tatapannya menyapu keempat anaknya. Dingin. Mengendalikan situasi.
“Karena kalian semua sangat menginginkan Cristian…” lanjutnya perlahan.
Semua kembali fokus. Menunggu keputusan.
“…maka aku akan memberikan Cristian hak untuk memilih tuannya sendiri.”
Keputusan itu—tidak biasa. Namun tidak bisa dibantah. Semua mata langsung beralih pada satu orang.
Cristian Noah Alexander yang kini dikenali dengan nama cristian Silas.
Bukan mereka yang memilih. Melainkan dia.
Cristian sedikit melangkah maju. Sepatu hitamnya beradu pelan dengan paving. Tatapannya tajam, beralih dari satu wajah ke wajah lain—tiga putri Alberto yang berdiri dengan karakter masing-masing.
Pertama, Rachel.
Gadis itu berdiri dengan dagu sedikit terangkat, senyum tipis menghiasi bibirnya seolah dunia memang sudah seharusnya memujanya. Dari cara ia menatap balik tanpa ragu, Cristian bisa membaca sesuatu dengan mudah—Rachel adalah tipe yang haus pengakuan. Ia menikmati pujian seperti bunga yang hidup dari cahaya matahari. Bukan hanya itu, ada aura dominan yang kuat. Ia terbiasa mengatur, terbiasa menjadi pusat.
Lalu, Lauren.
Berbeda dari Rachel, Lauren memainkan rambutnya santai, seolah situasi ini hanyalah permainan kecil yang menghiburnya. Matanya berkilat nakal, senyumnya penuh arti. Cristian tak butuh waktu lama untuk memahami—Lauren adalah tipe yang gemar bermain. Bukan permainan biasa, melainkan permainan hati. Ia tahu pesonanya, dan ia menggunakannya dengan bebas, tanpa rasa bersalah.
Terakhir… Evelyn.
Langkah Cristian terhenti tanpa sadar.
Mata abu-abu itu.
Saat pandangan mereka bertemu, waktu seakan melambat. Tidak ada senyum, tidak ada sikap menantang seperti dua saudarinya. Evelyn hanya berdiri diam, namun tatapannya dalam—terlalu dalam untuk sekadar pertemuan pertama.
Dan saat itulah dada Cristian terasa sedikit sesak. Aneh...
Perasaan itu datang begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Jantungnya berdetak lebih berat, seolah mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Mata itu…Familiar. Sangat familiar.
Seakan ia pernah melihatnya sebelumnya. Seakan ia pernah tenggelam dalam tatapan yang sama—di waktu lain, di tempat lain… atau mungkin dalam kehidupan yang berbeda.
Padahal ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
Cristian mengerjapkan mata, mencoba menepis perasaan ganjil itu. Namun anehnya, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat rasa itu mencengkeram.
Siapa sebenarnya gadis ini?
Dan kenapa… rasanya seperti aku sudah kehilangan sesuatu darinya, bahkan sebelum benar-benar mengenalnya?