Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Langkah kaki Summer dan Giana bergerak perlahan di atas jalan aspal yang sedikit berkelok menuju area kompleks kost yang terletak tidak terlalu jauh dari kampus. Udara sore hari terasa cukup sejuk, diselingi hembusan angin yang membawa aroma bunga mawar dari taman kecil di depan pintu masuk kompleks.
“Kost ini namanya Kost Bunga Bangsa,” ujar Summer sambil mengangkat tangan sebentar untuk menunjukkan arah depan. “kayak yang kubilang tadi pas kita di jalan, ada dua area yang benar-benar terpisah.”
Giana mengikuti pandangan Summer, matanya melihat dua bangunan dua lantai yang berdiri cukup ramping di tengah area yang ditata rapi. Tanah pekarangan ditanami berbagai jenis tanaman hias, mulai dari bunga kamboja hingga pepohonan kecil yang memberikan naungan. Jalan setapak kecil menghubungkan pintu masuk utama dengan masing-masing bangunan kost.
“Di sana kanan,” lanjut Summer sambil menunjuk ke arah bangunan yang didekorasi dengan tirai renda berwarna putih di setiap jendela. “Itu area kost perempuan, itu tempat kita tinggal. Sedangkan yang di kiri,” ia balik menunjuk ke arah bangunan lain dengan pintu kayu berwarna coklat tua, “itu untuk kost laki-laki.”
Giana mengangguk perlahan, matanya mengamati setiap sudut dengan penuh perhatian. “Wah, benar-benar terpisah ya. Kayak ada pembatasan yang jelas aja.”
“Ya,” jawab Summer sambil melanjutkan langkahnya. “Pemilik kostnya, Bu Siti, sengaja membuat tembok tinggi di antara kedua bangunan itu. Katanya biar nggak ada penghuni yang saling nyampur tanpa alasan yang jelas. Tahu sendiri kan, zaman sekarang pada doyan tinggal sekamar tanpa ikatan. Juga selain itu, juga untuk menjaga keamanan dan kenyamanan semua penghuni.”
Tembok yang disebutkan Summer memang terlihat jelas, tingginya sekitar dua meter, dengan beberapa tanaman merambat yang tumbuh di atasnya. Di pojok kanan tembok itu bahkan ada sebuah taman kecil yang diisi dengan tanaman herbal dan beberapa pot bunga yang terawat dengan baik.
“Wah, suasananya bagus sama enak banget ya,” puji Giana sambil menghela napas dalam-dalam. “Udara nya juga adem banget, dan gak ada suara bising kayak anak kost pada umumnya yang suka kumpul-kumpul atau nyanyi keras di malam hari.”
Summer sedikit tersenyum mendengar pujian dari temannya. “Nggak mungkin itu, disini satpamnya terkenal galak, juga Bu Siti memang ketat banget soal aturan. Nggak boleh berisik setelah jam sembilan malem, nggak boleh bawa tamu tanpa izin dulu, dan juga harus menjaga kebersihan area umum. Makanya lingkungannya tetap terjaga kayak yang lo lihat ini.”
Mereka sampai di depan pintu masuk bangunan kost perempuan. Pintu besi berwarna kuning emas itu terbuka lebar, dan di atas pintu tertulis tulisan kayu yang sudah agak pudar: “KOST PUTRI – BUNGA BANGSA”. Di samping pintu ada meja kecil yang biasanya digunakan oleh satpam penjaga atau Bu Siti sendiri untuk mengawasi masuk keluar penghuni.
“Bu Siti biasanya belum pulang sekarang,” kata Summer sambil membuka pintu gerbang kecil yang menghubungkan pekarangan dengan lorong menuju kamar-kamarnya. “Dia biasanya pergi ke warung teman nya yang ada di jalan raya, atau kadang ke pasar buat belanja sayuran. Biasanya baru pulang sekitar satu jam lagi dari sekarang.”
Giana mengangguk, matanya masih menikmati suasana sekitar yang tenang. Beberapa penghuni kost perempuan terlihat sedang duduk di teras depan kamar mereka, sebagian lagi sedang membersihkan baju di bak cuci yang terletak di sudut belakang bangunan. Semuanya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing, tapi tetap menyapa dengan ramah saat melihat Summer dan Giana lewat.
“Hai, Summer,” suara seorang perempuan yang sedang menggantung baju di tali jemuran menyapa dari kejauhan. “Baru pulang dari kampus ya?”
“Ya, Kak Lina,” jawab Summer dengan ramah sambil mengangguk. “Ini temanku, Giana. Mau masuk sebentar ke kamarku.”
Perempuan itu yang bernama Kak Lina tersenyum ramah ke arah Giana. “Oh, hai Giana. Mau kost di sini juga ya?”
“Hehe, iya kak kalau ada yang kosong,” jawab Giana, disertai kekehan kecil.
“Mer, jangan lupa ya, kasih tahu dia aturan disini kalau jadi kost. Jangan ada yang kelewat, termasuk soal tamu cowok.”
“Iya kak, aman,” jawab Summer singkat.
Giana hanya bisa tersenyum malu-malu sambil mengangguk. Setelah menyapa, mereka melanjutkan langkahnya ke kamar Summer yang terletak di sisi kanan lorong, tepat di dekat tangga yang mengarah ke lantai dua.
“Kamar gue di sini,” ujar Summer sambil menarik kunci dari kantong tasnya. Pintu kamar berwarna putih itu terbuka dengan mudah, dan segera tercium aroma wewangian lembut yang berasal dari lilin aromaterapi yang diletakkan di atas meja kecil dekat jendela.
Giana masuk ke dalam kamar dengan mata yang terbuka lebar, tidak bisa menyembunyikan kagumnya. Kamar yang tidak terlalu luas itu diatur dengan sangat rapi. Kasur single dengan seprai berwarna biru muda terletak di sisi kiri kamar, dengan bantal dan selimut yang dilipat rapi di ujung kasur. Di samping kasur ada rak buku kecil yang diisi dengan berbagai buku pelajaran dan beberapa novel.
Di sisi kanan kamar terdapat meja belajar yang juga sangat rapi. Di atas meja terlihat buku catatan yang sudah ditutup rapi, beberapa pulpen yang tersusun rapi di wadah khusus, dan sebuah lampu meja yang masih menyala dengan cahaya yang hangat. Di sebelah meja ada lemari pakaian berwarna kayu yang pintunya tertutup rapi, dan di depan lemari terdapat rak kecil yang diisi dengan beberapa pot tanaman hias kecil seperti sukulen dan aloe vera.
“Wah, Summerrr… kamar lo cantik banget. Meski gak banyak aneh-aneh kayak kamar gue dulu, tapi sumpah… ini cakep banget!” teriak Giana dengan penuh semangat. “Mana bersih banget, wangi lagi, dan segala sesuatu teratur rapi kayak di rumah sendiri aja. Lo pasti rajin banget ya merapikan kamar waktu di rumah dulh?”
Summer hanya menggelengkan kepala dengan sedikit tersenyum. “lo terlalu berlebihan, Giana. gue cuma suka menjaga kamar agar tetap bersih aja. Kalau kamar berantakan, gue jadi gak bisa fokus belajar atau bahkan gak bisa tidur dengan nyenyak.”
Giana mengangguk paham, matanya masih melihat-lihat setiap sudut kamar. Ia lalu berjalan ke arah jendela, membuka tirai tipis yang menutupinya sedikit agar sinar matahari sore bisa masuk ke dalam kamar. Dari jendela itu bisa dilihat sebagian area kost laki-laki yang terletak di seberang tembok pembatas, serta pepohonan besar yang memberikan naungan pada area tersebut.
“Luasnya juga pas banget ya buat satu orang tinggal,” ujar Giana sambil bersandar lembut pada kusen jendela. “Gak terlalu sempit, tapi juga tidak terlalu gede sampe bikin susah dibersihin.”
“Ya,” jawab Summer sambil mengambil dua bantal kecil dari atas kasur. “Kamar ini ukurannya pas, buat satu orang kayak gue. Tapi cukup juga buat dua orang kalau dipaksain.”
Giana mengangguk. Belum sempat ia menjawab, suara seseorang di ambang pintu mengalihkan perhatiannya.
“Summer…”