NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Pukulan yang Mematahkan Ego

Langit pagi di Sekte Langit Biru tampak jernih. Kabut tipis yang biasa menyelimuti puncak gunung perlahan sirna, digantikan sinar matahari keemasan. Suara lonceng besar menggema dari menara pusat sekte—tanda dimulainya sesi latihan umum untuk murid-murid baru.

Lin Feng bangun lebih awal. Malam sebelumnya ia kembali berlatih hingga larut, menjaga api kecil dalam tubuhnya agar tetap hidup. Tubuhnya masih terasa pegal, namun semangatnya tak tergoyahkan. Ia tahu, hari ini adalah pertama kalinya ia akan berlatih bersama ratusan murid lain.

Di pelataran luas, ratusan murid berdiri berbaris. Mereka mengenakan jubah biru sederhana, lambang Sekte Langit Biru. Sebagian sudah terlihat kuat, dengan tubuh tegap dan wajah penuh percaya diri. Sebagian lain masih gugup, jelas baru pertama kali mengikuti latihan resmi.

Lin Feng berdiri di barisan paling belakang. Tubuh kurusnya mencolok, apalagi dibandingkan dengan murid-murid yang berasal dari keluarga kaya atau bangsawan daerah. Bisikan mulai terdengar.

“Itu dia… murid yatim piatu yang ditinggalkan Tetua Qingyun.”

“Haha, aku dengar dia bahkan butuh berhari-hari hanya untuk merasakan qi pertama. Payah sekali.”

“Mungkin dia hanya diterima karena belas kasihan Tetua Yunhai.”

Lin Feng menggenggam jimat gioknya di dalam saku, menahan diri untuk tidak menanggapi. Kata-kata itu menyakitkan, tapi bukan hal baru.

***

Seorang instruktur memasuki pelataran. Dialah Instruktur Wu, seorang pria berumur tiga puluhan dengan tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tegas, suaranya lantang.

“Baik, kalian yang baru masuk, hari ini akan menjalani uji latihan pertama. Ingat baik-baik, di Sekte Langit Biru, kekuatan bukan hanya soal asal-usul, tapi soal ketekunan dan keberanian. Namun jangan salah, sekte tidak punya waktu untuk memelihara orang malas. Siapa yang tidak kuat, akan tersingkir dengan sendirinya.”

Sorot matanya tajam saat menyapu barisan, hingga berhenti pada Lin Feng. Ia mengernyit, seakan bisa membaca keraguan bocah itu.

“Latihan pertama—latihan bebas. Setiap murid akan maju bergantian, memperlihatkan apa yang sudah kalian kuasai.”

Riuh kecil terdengar. Sebagian murid terlihat antusias, sebagian lagi tegang.

Pertarungan demi pertarungan berlangsung. Dua murid maju, memberi salam, lalu mulai bertarung. Ada yang memamerkan kekuatan fisik, ada yang sudah mampu mengeluarkan teknik dasar pengendalian qi. Tepuk tangan dan sorakan terdengar dari para murid lain.

Lin Feng menyaksikan dengan seksama. Matanya berbinar, mencoba mengingat setiap gerakan, setiap pola langkah, setiap cara mereka menyalurkan qi. Ia sadar betapa jauhnya jaraknya dengan mereka, tapi hatinya justru semakin membara.

Ketika giliran hampir habis, salah satu murid tiba-tiba mengangkat tangan. Ia melangkah ke depan dengan senyum menyeringai. Tubuhnya tegap, wajahnya penuh kesombongan.

“Aku Zhao Liang,” katanya lantang. “Instruktur Wu, izinkan aku memilih lawanku sendiri.”

Instruktur Wu menatapnya, sedikit ragu. “Apa maksudmu?”

“Aku ingin menguji anak itu.” Zhao Liang menunjuk ke barisan belakang—tepat ke arah Lin Feng.

Bisik-bisik langsung terdengar.

“Hahaha! Bagus, aku ingin lihat bocah itu dipermalukan.”

“Dengan tubuh ringkihnya? Sekali pukul pun mungkin sudah tumbang.”

Lin Feng terdiam. Dadanya berdegup kencang, namun ia melangkah maju.

Di tengah arena, dua sosok berdiri berhadapan. Zhao Liang dengan tubuh kokoh, senyum mengejek, dan Lin Feng dengan tubuh kurus, mata penuh tekad.

Instruktur Wu memberi isyarat. “Mulai.”

Zhao Liang langsung menyerang. Langkahnya cepat, tinjunya diarahkan ke dada Lin Feng. Bocah itu mencoba menghindar, tapi gerakannya terlambat. Pukulan keras mendarat, membuat tubuh Lin Feng terhempas ke tanah.

“Bangunlah, bocah lemah!” Zhao Liang mencibir. “Kalau hanya segini, lebih baik kau pulang saja.”

Sorakan dan tawa meledak dari kerumunan. Namun Lin Feng tidak menyerah. Ia berdiri kembali, meski tubuhnya gemetar.

“Aku belum kalah,” katanya lirih.

Zhao Liang mengangkat alis. “Keras kepala rupanya.” Ia kembali maju, kali ini dengan tendangan. Lin Feng berusaha bertahan, mengangkat lengannya, namun tenaga Zhao Liang jauh lebih besar. Tubuhnya terlempar lagi, lututnya berdarah saat menghantam tanah.

Instruktur Wu hendak menghentikan, tapi melihat Lin Feng bangkit lagi, ia menahan diri. Dalam hatinya, ia ingin tahu seberapa kuat tekad anak itu.

Lin Feng terengah, darah menetes dari sudut bibir. Namun di dalam tubuhnya, api kecil di dantian bergetar. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan hangat itu. Aku tidak boleh kalah begitu saja.

Dengan sisa tenaga, ia mencondongkan tubuh ke depan. Ketika Zhao Liang kembali menyerang, Lin Feng berusaha menghindar dengan gerakan sederhana. Kali ini ia berhasil menangkis sebagian serangan, meski tetap terpukul mundur.

Sorakan kecil terdengar. “Hei, dia bisa menangkis!”

“Tapi tetap saja dia akan kalah.”

Pertarungan berlangsung tidak seimbang. Zhao Liang berkali-kali menghajar Lin Feng, sementara bocah itu hanya bisa bertahan seadanya. Tubuhnya penuh memar, nafasnya tersengal, tapi matanya tidak pernah redup.

Akhirnya, dengan satu pukulan keras ke bahu, Zhao Liang menjatuhkannya untuk terakhir kali. Lin Feng terkapar di tanah, hampir tidak bisa bergerak.

Instruktur Wu melambaikan tangan. “Cukup! Zhao Liang, mundur.”

Sorakan bergema. Murid-murid bersorak melihat kemenangan Zhao Liang. Namun sebagian kecil justru terdiam, menatap Lin Feng yang masih mencoba bangkit meski tubuhnya lemah.

Zhao Liang mendekat, menatap Lin Feng dari atas. “Kau lihat? Dunia kultivasi bukan tempat untuk anak lemah sepertimu. Kalau kau pintar, tinggalkan sekte ini sebelum kau mati sia-sia.”

Lin Feng menatapnya dengan mata berkilat. Meski tubuhnya tidak bisa bergerak banyak, suaranya tegas. “Aku mungkin lemah sekarang. Tapi suatu hari… aku akan berdiri di atasmu.”

Zhao Liang mendengus, lalu pergi.

Instruktur Wu membantu Lin Feng berdiri. Ia menatap bocah itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Kau kalah telak, tapi tidak menyerah. Itu… lebih berharga daripada kemenangan kosong.”

Lin Feng hanya menunduk. Tubuhnya sakit, harga dirinya tercabik, namun ada api yang justru semakin menyala di dadanya. Ia sadar betapa lemahnya dirinya, tapi ia juga sadar satu hal: setiap pukulan yang ia terima hari ini bukan akhir, melainkan awal.

***

Malam itu, di kediaman Yunhai, Lin Feng berbaring dengan tubuh penuh memar. Namun matanya tidak terpejam. Ia terus mengingat setiap serangan Zhao Liang, setiap rasa sakit, setiap ejekan yang terdengar.

Bukan untuk meratapi. Tapi untuk mengingat.

“Pukulan ini… bukan untuk menghancurkanku,” gumamnya pelan. “Pukulan ini ada… untuk membentukku.”

Jemarinya menggenggam jimat giok. Api kecil di tubuhnya bergetar, kali ini lebih stabil daripada sebelumnya. Ia tersenyum tipis meski tubuhnya sakit.

“Suatu hari… aku akan membuktikan. Api ini tidak akan padam, dan aku… akan berdiri lebih tinggi dari siapapun.”

Di luar, angin malam bertiup lembut, membawa harum bunga plum. Api kecil dalam tubuh Lin Feng terus menyala, menolak padam meski dunia berusaha memadamkannya.

Hari itu, Lin Feng kalah. Tapi di balik kekalahan, lahirlah tekad baru—tekad yang akan menuntunnya menapaki jalan panjang penuh darah dan takdir.

Malam itu, di tengah rasa sakit dan keputusasaan, ia merasakan sesuatu lahir di dalam dirinya: kerendahan hati. Sebuah pukulan telah mematahkan egonya, namun dari retakan itu, muncul ruang untuk pertumbuhan.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!