DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: TAMPARAN YANG MELESET
**
Sore itu, di rumah Anto yang penuh kabel berserakan dan bau kopi instan yang sudah dingin, David masih sibuk menatap layar laptop, mencoba memahami diagram struktur perusahaan yang dijelaskan Camelia sejak tadi siang, ketika ponselnya bergetar di atas meja.
"Mama Melati," David membaca nama yang muncul di layar, lalu mengangkatnya, "halo, Ma?"
"David, sayang, jangan dulu pulang ya. Papa lagi ngamuk banget di rumah, Mama takut kalau kamu pulang sekarang malah tambah parah."
Tanpa sengaja, atau mungkin sengaja, jari David salah pencet, dan suara di telepon berubah keras, menggelegar lewat speaker, terdengar jelas oleh Anto dan Camelia yang duduk di sofa seberang.
Tiba-tiba, dari kejauhan suara itu, terdengar suara lain menyela, suara perempuan yang manis tapi penuh sengat, suara Serlina.
"Udah, Mel, gak usah dibelain anak kurang ajar itu. Biar dia rasain sendiri akibatnya, biar tau diri."
David, mendengar itu, mengangkat tangannya ke arah ponsel, mengacungkan jari tengah ke layar, seolah-olah Serlina bisa melihatnya langsung dari seberang sambungan telepon.
Dan dari belakang, terdengar suara Junaedi yang menggelegar lebih dahsyat, "SURUH PULANG ANAK SETAN ITU! DASAR ANAK SETAN! ANAK DAJAL, DIKASIH HATI MALAH NGELUNJAK!"
David mematikan telepon perlahan, wajahnya datar sesaat, dan Anto sudah siap-siap menenangkan, mengira sahabatnya akan marah besar.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Ppffttt..."
David menahan sesuatu, bibirnya bergetar, lalu,
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Dia tertawa terbahak-bahak, badannya membungkuk, tangannya memegangi perut yang mulai terasa sakit karena tawa yang tidak berhenti.
"Anjeng, anjeng, anjeng! Bapak macam apa itu, manggil anak sendiri anak setan, anak dajal? Lah, kalau anaknya setan, dia juga sama aja dong, dia kan bapaknya setan itu, jadi dia hina diri sendiri, anjir, lucu banget!"
Tawanya makin keras, sampai matanya berair, "Gue, gue tot, gue gak tahan lagi, ah, keluarga macam apa ini, tot, entot..."
"WOY!" Anto langsung berdiri dari sofa, wajahnya merah, "nama gue Anto! A-N-T-O! Bukan entot, anjir!"
David masih ngakak, sambil menyeka air mata, "Iya iya, Anto, maaf, kebawa."
Anto, walau merajuk soal namanya yang disebut salah, tetap mendorong David untuk segera pulang, "Udah, udah, lo pulang sana, daripada masalahnya makin runyam."
Camelia ikut bangun, merapikan tasnya, "Iya, David, pulang aja dulu, nanti kita lanjut lagi besok."
Setelah David dan Camelia pamit pergi, Anto berdiri sendirian di ruang tamunya yang berantakan, menatap pintu yang baru ditutup, dan tanpa sadar tersenyum sendiri.
"Sialan emang ini anak. Tapi, entah kenapa, gue lebih suka David yang sekarang. Lebih hidup. Lebih, lebih bahagia, walau kadang absurd banget kelakuannya. Walau ini bukan David yang asli, tapi gue, gue seneng liat dia kayak gini."
***
Sampai di rumah, David baru melangkah masuk lewat pintu utama, ketika tangan Junaedi sudah terangkat, melayang cepat ke arah wajahnya.
David sudah membaca pergerakan itu jauh sebelum tangan itu benar-benar mendekat, tapi dia memilih tidak menangkis dengan tangan, hanya menggerakkan kepala sedikit ke samping, secukupnya saja.
"PLOOSS."
Tamparan itu hanya mengenai angin, melewati pipi David tanpa benar-benar menyentuhnya sama sekali.
Junaedi terbelalak, kaget dengan kecepatan reaksi anaknya, tapi amarahnya belum padam.
"Papa yang terhormat," David berkata tenang, suaranya datar tapi tegas, "sebelum Papa bertindak lebih jauh, alangkah baiknya Papa cek dulu rekaman CCTV kejadian tadi pagi. Papa sudah tua, sudah dewasa, harusnya lihat dulu duduk perkaranya, bukan langsung main tangan. Orang tua yang baik itu harus adil, Pa, bukan pilih kasih. Silakan dicek dulu."
Junaedi terdiam, matanya menyipit, lalu memerintahkan satpam untuk memutar rekaman CCTV di ruang keamanan.
Begitu video itu diputar, terlihat jelas, Reza, Albert, dan Surya yang lebih dulu menyerang David dari tiga arah, sementara David hanya menggeser badan, menangkis seadanya tanpa membalas satu pukulan pun.
Junaedi menyaksikan itu dalam diam, rahangnya mengeras, dan dia mengakui dalam hati, anak-anaknya dari Serlina yang lebih dulu bersalah. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa hanya dengan tangkisan sederhana seperti itu, ketiga anaknya sampai terkilir dan patah.
"Ini gimana ceritanya, David? Lo cuma nangkis, tapi mereka bertiga sampai luka kayak gitu?"
David mengangkat bahu, "Mungkin mereka jatuh sendiri, Pa. Saya kan cuma orang culun, mana bisa nyakitin orang."
Junaedi menatap David lama, ada keraguan di matanya, tapi gengsinya lebih besar daripada rasa penasarannya. Dia tidak mau mengakui kesalahan secara langsung, apalagi di depan istri mudanya.
"Hmph," dia hanya berdecak, lalu berbalik ke arah Reza, Albert, dan Surya yang berdiri di belakang dengan wajah penuh harap akan pembalasan.
"Masuk kamar kalian."
"Tapi, Pa, David yang—"
"MASUK KAMAR!" Junaedi membentak, suaranya lebih keras dari sebelumnya, membuat ketiga anak itu dan Serlina yang ikut protes, langsung diam, tidak berani melawan lebih jauh.
Serlina menatap David dengan tatapan tajam, penuh kebencian yang ditahan, sebelum akhirnya berbalik mengikuti anak-anaknya menuju kamar masing-masing.
Saat berjalan melewati David, dari balik punggung Junaedi yang sedang menunduk merapikan kertas di meja, Reza berbisik pelan, "Awas lo, ini belum selesai."
Albert menambahkan dengan tatapan sinis, "Kita tunggu waktu yang tepat."
David hanya tersenyum tipis, dan begitu Junaedi masih menunduk tidak melihat, dia mengangkat tangannya, mengacungkan jari tengah ke arah tiga bersaudara itu, membuat wajah mereka semakin merah menahan amarah yang tidak bisa diluapkan saat itu juga.
Junaedi yang akhirnya berdiri tegak kembali, menatap David dengan ekspresi campur aduk antara kesal dan masih menyimpan kebingungan.
"Lo tidur. Besok pagi, lo langsung gue suruh belajar di kantor pusat. Lo harus belajar jadi pewaris yang pantas, David. Gue gak mau lihat lo bersantai-santai terus."
David, yang sebenarnya sudah menduga arahan ini akan datang lebih cepat dari perkiraan, sedikit terkejut juga, tapi untungnya dia sudah mempersiapkan diri sejak pagi sampai sore tadi, belajar bersama Anto dan Camelia.
"Siap, Pa," jawabnya singkat, lalu melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Junaedi yang masih berdiri sendirian di ruang tengah, menatap kepergian anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara curiga, bingung, dan entah kenapa, sedikit rasa hormat yang baru pertama kali muncul sejak bertahun-tahun terakhir.
*(bersambung)*