Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13: Kunjungan Di Balik Kabut Pabrik
Udara sore di kawasan industri Tangerang selalu menyisakan rasa lengket di kulit.
Bau limbah tekstil yang samar bercampur dengan debu batu bara dari pembangkit listrik swasta terdekat menciptakan kabut tipis yang menyesakkan dada.
Namun, bagi Doni Salman, lingkungan yang tidak ramah ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menemukan kedamaian sejati.
Tiga hari setelah ia membenamkan seluruh dana sepuluh setengah miliar rupiah ke dalam lantai bursa, Doni memutuskan untuk mengambil cuti paruh waktu dari gudang PT Mitra Kilat.
Ia membutuhkan waktu untuk menjenguk dunianya yang paling berharga: Zahra.
Doni berdiri di dekat deretan warung tenda yang menjual es kelapa muda dan gorengan, tepat di seberang gerbang utama PT Garmen Busana Indah.
Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima sore. Lima belas menit lagi sebelum lonceng pabrik berbunyi.
Sambil menunggu, Doni memperhatikan interaksi di sekelilingnya.
Beberapa mandor pabrik dengan seragam rapi tampak berlalu-lalang, memberikan perintah dengan nada tinggi kepada para kuli angkut kain yang bermandikan keringat.
Di kehidupan lalunya, Doni melihat orang-orang berpangkat mandor ini sebagai sosok yang tinggi dan patut disegani.
Namun sekarang, dengan isi kepala seorang CEO yang terbiasa bernegosiasi dengan menteri dan komisaris asing, Doni hanya melihat mereka sebagai sekrup kecil dalam mesin industri yang usang.
Teng... Teng... Teng...
Suara lonceng besi yang dipukul dengan pipa besi menggema, memecah kebisingan mesin jahit dari dalam gedung-gedung beton panjang.
Detik berikutnya, gerbang besi raksasa setinggi dua meter itu terbuka lebar.
Ribuan buruh wanita seolah tumpah ruah ke jalanan sempit, menciptakan lautan warna-warni dari jilbab dan jaket murah yang mereka kenakan.
Doni menajamkan pandangannya. Ia tidak butuh waktu lama untuk menemukan sosok yang dicarinya.
Di antara ratusan wajah yang tampak lesu dan kelelahan, Zahra berjalan perlahan bersama dua orang teman kerjanya.
Wajahnya yang tulus tampak bersih tanpa riasan bedak mahal, hanya ada sisa keringat yang membasahi anak rambut di pelipisnya.
"Zahra," panggil Doni,
tidak terlalu keras, namun frekuensi suaranya entah bagaimana langsung menembus kebisingan massa dan sampai ke telinga wanita itu.
Zahra menoleh.
Begitu melihat Doni berdiri di samping gerobak es kelapa, seulas senyuman manis langsung merekah di bibirnya yang tipis.
Rasa lelah yang sempat tergambar di wajah tirusnya seolah menguap begitu saja.
Ia membisikkan sesuatu kepada teman-temannya, lalu berjalan setengah berlari menyeberangi jalanan aspal yang ramai.
"Mas Doni! Kamu kok ke sini lagi?"
"Bukannya kemarin baru saja kita ketemu?"
tanya Zahra dengan napas yang sedikit terengah-engah.
Ia membetulkan posisi tas kain lusuh yang diselempangkan di bahunya.
Doni tersenyum, sebuah senyuman hangat yang hanya ia berikan khusus untuk wanita ini. Ia mengulurkan sebotol air mineral dingin yang baru dibelinya dari warung sebelah.
"Aku kebetulan ada urusan pengiriman barang di daerah dekat sini, jadi sekalian mampir untuk melihatmu."
"Ini, minum dulu. Kamu kelihatan sangat haus."
Zahra menerima botol itu dengan mata berbinar.
"Terima kasih, Mas."
"Hari ini target jahitan kemeja ekspor sedang naik, jadi mandor tidak memberikan kami banyak waktu untuk istirahat minum."
Ia meneguk air itu dengan rakus, memperlihatkan jakun kecilnya yang bergerak turun naik di lehernya yang jenjang.
Doni merasakan sepercik amarah membakar dadanya saat mendengar kata 'target' dan 'mandor'.
Di kehidupan masa depannya, ia bersumpah tidak akan membiarkan jari-jari halus Zahra terluka karena jarum jahit atau punggungnya bungkuk karena duduk berjam-jam di depan mesin konveksi demi upah minimum yang tidak manusiawi.
Namun, ia tahu ia harus menahan diri. Semuanya harus berjalan sesuai dengan lini masa yang telah ia susun.
"Zahra, ikut aku sebentar."
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu,"
kata Doni sambil mengambil alih tas kain dari tangan Zahra, sebuah gestur kecil yang selalu membuat Zahra merasa dihargai sebagai seorang wanita.
"Mau ke mana, Mas?"
"Jangan jauh-jauh ya, aku harus pulang sebelum magrib."
"Ibu pasti nunggu di rumah,"
jawab Zahra patuh, melangkah beriringan di samping Doni menyusuri trotoar yang penuh dengan genangan air hujan semalam.
Doni membawanya menuju ke sebuah area perumahan toko (ruko) baru yang terletak sekitar lima ratus meter dari komplek pabrik.
Ruko-ruko itu masih tampak sepi, sebagian besar bangunannya baru selesai dicat dan masih memasang papan pengumuman "DIKONTRAKKAN" di bagian dinding depan.
Doni berhenti di depan sebuah ruko berlantai dua yang memiliki halaman parkir cukup luas.
Cat dindingnya berwarna putih bersih dengan pintu gulung (rolling door) besi yang masih mengkilap.
"Bagus tidak ruko ini, Ra?"
tanya Doni sambil menunjuk ke arah bangunan tersebut.
Zahra mengernyitkan dahinya, bingung dengan pertanyaan kekasihnya.
"Ya bagus, Mas."
"Ini kan ruko baru."
"Tapi buat apa Mas Doni tanya begitu? Harganya pasti mahal sekali."
"Kontraknya saja mungkin bisa belasan juta setahun. Uang dari mana kita?"
Doni menatap ruko itu dengan pandangan yang penuh dengan kalkulasi masa depan.
"Ruko ini akan menjadi kantor pusat dari perusahaan logistikku sendiri dalam beberapa bulan ke depan, Zahra."
"Dan di lantai dua itu... aku akan menyiapkan sebuah ruangan khusus yang nyaman untukmu."
Zahra seketika menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Doni dengan tatapan cemas sekaligus heran.
Tangan halusnya menyentuh lengan kemeja Doni.
"Mas Doni... kamu sehat, kan?"
"Akhir-akhir ini omonganmu tinggi sekali."
"Kemarin bicara soal tidak akan membiarkanku kekurangan uang,"
"sekarang bicara mau punya kantor sendiri."
"Kamu tidak ikut-ikutan investasi bodoh atau judi bola di pelabuhan kan, Mas?"
"Aku takut."
Doni bisa merasakan kekhawatiran yang tulus dari getaran tangan Zahra. Di masa lalu, ketakutan Zahra selalu terbukti karena Doni muda sering kali tertipu oleh janji-janji manis skema cepat kaya.
Tapi kali ini, pria yang berdiri di depannya adalah seorang penguasa finansial yang telah memegang lembar saham penentu arah ekonomi.
Doni menggenggam jemari Zahra dengan kedua tangannya, meremasnya lembut untuk menyalurkan rasa percaya diri yang mutlak.
"Zahra, lihat mataku,"
kata Doni dengan suara yang rendah namun sangat bertenaga.
"Aku bersumpah demi sisa hidupku, aku tidak melakukan hal-hal haram atau ilegal."
"Semua yang aku katakan adalah rencana nyata yang sedang aku bangun."
"Aku hanya minta satu hal darimu: percayalah padaku."
"Bisakah kamu melakukan itu untukku?"
Zahra menatap lurus ke dalam sepasang mata Doni.
Di dalam manik mata hitam yang dalam itu, ia tidak menemukan keraguan, kebohongan, atau bualan kosong yang biasanya ia dengar dari para pemuda sebayanya.
Mata Doni memancarkan sebuah kepastian yang begitu pekat, seolah-olah masa depan yang cerah itu sudah berada di dalam genggaman tangannya.
Zahra menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan dengan seulas senyuman pasrah yang manis.
"Aku selalu percaya padamu, Mas Doni."
"Sejak awal aku memilihmu, aku tahu kamu bukan pria yang akan selamanya tinggal di dalam gudang berdebu itu."
"Hanya saja... jangan memaksakan dirimu terlalu keras, ya?"
Doni merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dadanya.
Kepercayaan Zahra adalah fondasi emosional terkuat yang ia miliki.
Sementara uang di bursa adalah senjatanya, cinta Zahra adalah tameng yang menjaga jiwanya agar tidak sepenuhnya tenggelam ke dalam kegelapan dendam kepada keluarga Santoso.
"Terima kasih, Zahra," bisik Doni.
"Sekarang ayo kita cari makan."
"Aku tahu kamu pasti sangat lapar setelah bekerja seharian."
Malam itu, saat mengantar Zahra naik ke atas angkutan kota, Doni Salman berdiri di tepi jalan dengan tekad yang kian mengkristal.
Di dalam hatinya, ia mencatat ruko putih itu sebagai koordinat pertama dari ekspansi fisik Salman Group.
Waktu terus berjalan, saham BUMI di lantai bursa terus mengumpulkan kekuatan, dan Doni siap untuk mengeksekusi fase berikutnya dari rencana besarnya.
Tidak akan ada satu pun air mata Zahra yang tumpah sia-sia di kehidupan kedua ini; ia akan memastikan hal itu dengan seluruh kekuatan finansial yang sedang ia bangun.