Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kesya Diculik, Musuh Mulai Bergerak
Kesya diculik.
Tiga kata itu membuat suasana kamar berubah mencekam.
Naya yang berdiri di dekat jendela langsung memucat. Sementara Adrian menatap Dimas dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudmu diculik?" tanya Adrian dingin.
Dimas menarik napas panjang.
"Menurut laporan penjaga, listrik di lokasi penahanan sempat padam selama lima menit."
"Lalu?"
"Saat generator cadangan menyala, Kesya sudah menghilang."
Rahang Adrian mengeras.
"Rekaman CCTV?"
"Dihapus."
"Penjaga?"
"Dua orang ditemukan pingsan."
Keheningan memenuhi ruangan.
Semua itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Seseorang telah merencanakan penculikan itu dengan sangat matang.
Adrian mengepalkan tangannya.
"Berarti orang itu mulai panik."
Dimas mengangguk.
"Karena Kesya hampir membuka identitasnya."
Tatapan Adrian berubah gelap.
Semakin dalam mereka menggali kebenaran, semakin jelas bahwa ada pihak yang berusaha menutupi sesuatu.
Dan pihak itu memiliki kekuasaan besar.
Sangat besar.
"Tingkatkan keamanan rumah."
"Baik, Tuan."
"Tambahkan penjaga."
"Siap."
"Lipatgandakan pengawasan terhadap Naya."
Mata Dimas sempat melirik ke arah Naya.
"Baik, Tuan."
Naya yang mendengar namanya langsung menoleh.
"Saya?"
Adrian mengangguk.
"Kamu."
"Tapi kenapa?"
Karena kemungkinan besar target berikutnya adalah kamu.
Kalimat itu nyaris keluar dari mulut Adrian.
Namun ia menahannya.
Dia tidak ingin membuat Naya semakin takut.
"Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu."
Naya terdiam.
Perasaan hangat sekaligus cemas muncul di hatinya.
Perhatian Adrian semakin jelas dari hari ke hari.
Namun situasi di sekitar mereka justru semakin berbahaya.
Tak lama kemudian Dimas pamit keluar untuk mengurus penyelidikan.
Kini hanya Adrian dan Naya yang tersisa di dalam kamar.
Keheningan terasa canggung.
Naya memainkan ujung lengan bajunya.
Sedangkan Adrian menatap ke arah jendela.
Hingga akhirnya Adrian membuka suara.
"Naya."
"Iya?"
"Kamu takut?"
Naya terdiam beberapa saat.
Lalu mengangguk pelan.
"Saya takut."
Jawaban jujur itu membuat Adrian menoleh.
"Bukan karena penculikan Kesya."
"Lalu?"
Naya menggigit bibir bawahnya.
"Saya takut semua ini terjadi karena saya."
Tatapan Adrian langsung melembut.
Untuk pertama kalinya dia menyadari betapa berat beban yang dipikul wanita itu.
Selama ini Naya selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Padahal dia adalah korban.
Bukan pelaku.
Adrian mengulurkan tangannya.
Perlahan.
Hati-hati.
Seolah takut membuat Naya menjauh.
"Naya."
Wanita itu mengangkat wajah.
"Semua ini bukan salahmu."
Suara Adrian terdengar rendah namun tegas.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
Mata Naya langsung memanas.
Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal itu kepadanya.
Sejak kecil, dia selalu dianggap penyebab masalah.
Penyebab pertengkaran.
Penyebab kesialan.
Namun sekarang seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Melihat itu, dada Adrian terasa nyeri.
Dia benar-benar ingin menghapus semua luka yang pernah diberikan kepada wanita itu.
Namun dia tahu hal tersebut tidak bisa dilakukan dalam semalam.
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukan pintu kembali terdengar.
Kali ini seorang petugas keamanan masuk dengan wajah tegang.
"Tuan Adrian."
"Ada apa?"
Petugas itu terlihat gugup.
"Kami menemukan sesuatu di gerbang depan."
"Apa?"
Petugas itu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Seseorang meninggalkannya sepuluh menit yang lalu."
Adrian langsung menerima amplop tersebut.
Perasaan tidak nyaman muncul di dadanya.
Perlahan dia membuka isi amplop.
Di dalamnya terdapat sebuah foto.
Wajah Adrian langsung berubah.
Naya yang penasaran ikut melihat.
Tubuhnya membeku.
Foto itu memperlihatkan Kesya.
Masih hidup.
Namun kedua tangannya terikat.
Mulutnya ditutup lakban.
Dan di belakangnya berdiri seseorang berpakaian hitam.
Tidak terlihat wajahnya.
Namun orang itu memegang pistol yang diarahkan ke kepala Kesya.
Di bagian belakang foto terdapat sebuah tulisan merah.
Tulisan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
"Berhenti mencari kebenaran jika tidak ingin kehilangan Naya."
Deg!
Jantung Adrian seolah berhenti berdetak.
Tangannya langsung mengepal.
Tatapan matanya berubah mengerikan.
Untuk pertama kalinya ancaman itu tidak ditujukan kepada dirinya.
Melainkan kepada Naya.
Dan siapa pun yang berani menyentuh wanita itu...
Akan menjadi musuh terbesar Adrian Wijaya.
Bersambung...