Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut di Koridor Belakang
Di kegelapan malam yang berbatasan langsung dengan pembatas hutan site, penglihatan Rana semakin lama semakin kabur. Dunia di sekitarnya berputar seperti komidi putar yang rusak. Rasa getir dari tegukan soda tadi kini berubah menjadi gelombang panas yang membakar lambung dan naik ke kepalanya dengan brutal.
Langkah kakinya terseret-seret. Baru setengah jalan melewati koridor kontainer yang sepi, Rana merasakan pergelangan tangan kanannya dicengkeram dengan kasar dan ditarik paksa ke arah lorong buntu di sela-sela mesin genset cadangan.
Tubuhnya tersentak. Dalam kondisi kehilangan kendali atas motorik tubuhnya sendiri, Rana hanya bisa merasakan punggungnya menabrak dinding kayu dengan keras.
"Bagaimana? Apakah minuman itu enak?" bisik sebuah suara laki-laki yang sangat tak asing dan berbau tembakau pekat di telinga Rana.
Meskipun otaknya yang tersisa masih bisa berpikir jernih untuk melepaskan diri, namun otot-otot tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Kaki Rana terasa seperti jeli, lemas, dan mati rasa. Denyut jantungnya berpacu semakin cepat dan bergemuruh di dalam dada, membuat Rana terpaksa memegangi dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa.
Sapo, orang yang memegangi tubuh lemas Rana saat ini, tertawa kecil. Seringai kemenangan terukir jelas di wajah gempalnya yang menjijikkan. Ia merasa di atas angin. Tidak sia-sia dirinya mendekati Umi beberapa hari lalu, memberikan janji manis dan sedikit uang pelicin agar perempuan itu mau bekerja sama menjebak si admin pendiam ini.
Sayangnya, kesenangan dan bayangan kemenangan Sapo harus berakhir malam itu juga.
Langkah kaki tegap yang bergerak secepat kilat memecah keheningan koridor. Pradika, yang sejak tadi mengikuti dengan kewaspadaan penuh, muncul dari balik bayangan bangunan. Tanpa sepatah kata pun, dengan kemarahan yang sudah membumbung hingga ke ubun-ubun, Pradika segera melayangkan tinjunya dengan tenaga penuh.
Bug!
Tinjuan mentah dan keras dari kepalan tangan Pradika tepat mengenai rahang kiri Sapo. Suara hantaman itu terdengar begitu solid di tengah kesunyian lorong. Kekuatan pukulan itu membuat laki-laki gempal itu terhuyung beberapa langkah ke samping, hampir menabrak genset.
Rana yang terlepas secara mendadak, limbung dan hampir tersungkur ke atas tanah yang keras. Beruntung, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kekar Pradika segera menangkap tubuh mungil gadis itu dan membawanya ke dalam dekapan pelindungnya.
"Kamu kenapa? Rana, apa kamu dengar suaraku?" tanya Pradika dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan saat melihat Rana sama sekali tidak berdaya, dengan kepala yang terkulai lemas di pundaknya.
"Pusing... mual..." lirih Rana hampir berbisik. Napasnya memburu panas, dan sepasang kelopak matanya terpejam rapat menahan sakit yang mendera kepalanya.
"Sialan kamu, Pradika!" umpat Sapo dengan suara tertahan, memegangi rahang kirinya yang kini terasa berdenyut nyeri dan mulai membengkak.
Matanya menatap Pradika dengan kilatan amarah.
Pradika menatap ke arah Sapo. Tatapannya menajam, sedingin es kutub.
"Maju satu langkah lagi, maka malam ini juga kamu akan berurusan dengan polisi," ancam Pradika, suaranya rendah namun bergetar penuh penekanan yang mematikan.
Tanpa membuang waktu dan tanpa sudi melihat ke arah Sapo lagi, Pradika merogoh saku celananya dengan tangan kiri, mengambil ponselnya, dan segera menghubungi nomor Budi. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat.
"Halo, Mas Pradika? Ada apa?" suara Budi terdengar di seberang sana, samar-samar berlatar belakang keramaian.
"Ada yang salah dengan minuman Rana, Mas. Aku akan membawanya ke klinik mess sekarang," ucap Pradika cepat dan lugas, lalu langsung mematikan sambungan telepon sepihak sebelum Budi sempat melayangkan pertanyaan lebih lanjut.
Setelah mengantongi kembali ponselnya, Pradika segera membopong tubuh Rana yang sudah sepenuhnya lemas dengan mata terpejam. Posisi tangan Rana yang dingin bergelayut pasrah di leher Pradika saat laki-laki itu mengarahkannya.
"Kenapa? Apa kamu juga menginginkannya, hah?!" tanya Sapo dengan nada mengejek yang lantang, sebuah kalimat yang berhasil menghentikan langkah kaki Pradika selama satu detik.
Sapo mencoba memprovokasi sambil mengusap rahangnya yang sakit.
Pradika menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badan, ia menolehkan kepalanya sedikit.
"Jangan samakan aku dengan bajingan seperti dirimu!"
"Halah, apa bedanya kita? Laki-laki di tempat kerja seperti ini yang dicari hanyalah kepuasan fisik!" ketus Sapo sinis.
"Aku calon suaminya," kata Pradika dengan penuh penekanan di setiap suku katanya, suaranya menggelegar penuh otoritas mutlak di koridor gelap itu.
"Jika kamu berani menyentuh atau mendekatinya lagi seujung jari pun, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu di site ini."
Tanpa menunggu reaksi atau balasan dari Sapo yang seketika tertegun membisu mendengar pengakuan itu, Pradika melangkah lebar dengan langkah-langkah tegap, membawa Rana menuju ke klinik mess.
Beruntung, sepanjang perjalanan dari belakang kantin menuju bangunan klinik, mereka hanya melewati jalan setapak yang sepi dan minim penerangan, sehingga situasi darurat itu tidak mengundang kecurigaan atau perhatian dari karyawan lain yang masih asyik berpesta di depan.
Sementara itu, di dalam kantin utama yang masih riuh, Budi yang baru saja mendengar perkataan Pradika di panggilan telepon tadi mematung dengan wajah bingung sekaligus cemas. Ia menurunkan ponsel dari telinganya dengan perlahan.
"Kenapa, Mas?" tanya Dino yang menyadari perubahan raut wajah seniornya setelah menerima telepon singkat itu.
"Pradika bilang... ada yang salah dengan minuman yang diminum Rana tadi. Dan sekarang dia sedang membawa Rana ke klinik mess," ujar Budi, dahi dan alisnya berkerut dalam.
"Salah apanya?" Dino mengernyitkan dahi.
Pandangan matanya langsung tertuju pada gelas kaca milik Rana yang masih berdiri tegak di atas meja besi, isinya masih terlihat tak tersentuh.
Tanpa membuang waktu, Dino meraih gelas tersebut. Ia mendekatkan hidungnya ke bibir gelas, lalu menghirup aroma cairan soda berwarna cokelat pekat itu dalam-dalam. Seketika itu juga, urat-urat di sekitar pelipis dan rahang Dino menegang keras. Matanya membelalak penuh amarah.
"Kenapa, Din? Itu hanya soda biasa kan?" tanya Budi, mulai ikut merasa ada yang tidak beres.
"Oplosan," jawab Dino singkat dan dingin.
Kata tunggal itu segera membuat Budi berdiri tegak dari kursinya dengan sentakan kasar, hingga kursi besi yang didudukinya bergeser memicu suara derit nyaring. Sontak saja, tindakan Budi yang tiba-tiba dan sikap tegangnya langsung mengundang rasa penasaran serta pandangan heran dari beberapa karyawan divisi lain di sekitar meja mereka.
Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, Dino dengan cepat menarik tangan Budi, memaksanya untuk kembali duduk demi meredam perhatian publik.
"Tenang dulu, Mas Bud. Jangan bikin ribut di sini."
Setelah Budi kembali duduk dengan napas memburu, Dino mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada yang sangat serius.
"Minuman ini memang soda, Mas. Tapi ada campuran zat lain di dalamnya. Bau alkoholnya kuat sekali. Ini dicampur minuman keras bening yang biasa dijual ilegal di luar site."
"Gila! Siapa yang berani berbuat sekotor itu di sini?!" desis Budi, tangan kanannya mengepal kuat di atas meja, menahan gejolak amarah.
Rana adalah rekannya, gadis baik-baik yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Tanyakan itu pada Umi. Dia yang membawakan dan memaksa Rana meminumnya tadi," jawab Dino, pandangan matanya beralih menajam, mengarah lurus ke arah meja di seberang ruangan.
Di sana, Umi tampak masih asyik tertawa dan bercanda lepas dengan beberapa rekan sedivisinya dari bagian Plan, seolah-olah tidak ada kejadian mengerikan apa pun yang baru saja terjadi. Budi dan Dino menatap wanita itu dengan pandangan penuh selidik dan kemarahan.
Apa untungnya bagi seorang Umi melakukan tindakan sehina ini pada Rana? Begitu pikir keduanya gang bertekad untuk menyelesaikan urusan ini setelah kondisi Rana dipastikan aman.
Di sisi lain, di dalam ruang klinik mess yang berbau antiseptik, Pradika baru saja meletakkan tubuh lemas Rana di atas ranjang periksa berbantal putih. Keringat dingin tampak membasahi keningnya.
Namun, baru saja Pradika ingin membaringkan kepala Rana dengan posisi yang nyaman, tiba-tiba...
Huekk...
Rana menggeliat kesakitan, dan dalam gerakan refleks yang tidak terbendung, ia memuntahkan seluruh isi perutnya yang terasa bergolak hebat. Cairan muntahan bercampur aroma getir menyengat itu keluar dengan deras, tepat mengenai bagian depan kaos polo milik Pradika, mengotori dada hingga ke bagian perutnya.
Dokter jaga klinik yang baru saja masuk ke dalam ruangan sampai terkejut setengah mati melihat pemandangan darurat tersebut. Namun, sebagai seorang profesional yang sudah bertahun-tahun menangani kasus medis di kawasan industri tambang, begitu hidungnya mencium bau menyengat dari muntahan tersebut, sang dokter sudah bisa langsung menebak dengan akurat apa yang sedang terjadi.
"Segera bantu saya miringkan tubuhnya, Mas! Cepat, agar cairan muntahannya tidak menyumbat jalan napas dan masuk ke paru-paru!" perintah dokter itu dengan sigap sembari meraih baskom medis di dekat meja.
Pradika tanpa memedulikan kondisi pakaiannya sendiri yang kotor dan bau, langsung membantu dokter memiringkan tubuh Rana ke sisi kiri, mengusap punggung gadis itu dengan lembut namun cekatan. Setelah beberapa kali mengeluarkan muntahan cairan bening berbusa hingga lemas, tubuh Rana perlahan-lahan berhenti mengejang. Kedua matanya sangat sayu sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya, pingsan di atas bantal.
Dokter segera memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rana dan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan detak jantungnya, lalu memeriksa refleks pupil matanya dengan senter kecil.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Pradika dengan nada suara yang bergetar cemas.
Dokter menghela napas panjang, meletakkan stetoskopnya kembali ke leher, lalu menatap Pradika dengan raut wajah serius.
"Bagaimana bisa gadis ini meminum alkohol dosis tinggi seperti itu?"
"Sepertinya... ada orang yang sengaja menjebak dan memasukkan zat itu ke dalam minumannya di kantin tadi," jujur Pradika, rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang kembali tersulut.
Dokter paruh baya itu menatap ke arah Pradika, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh rasa prihatin sekaligus lemah.
"Gadis ini memiliki riwayat masalah lambung, terlihat dari asam lambungnya yang sangat tinggi. Ditambah dengan hantaman minuman keras bercampur minuman berkarbonasi, kemungkinan besar dinding lambungnya mengalami iritasi dan peradangan."
Dokter berjalan menuju lemari obat, mengambil sebotol cairan infus dan menyiapkannya.
"Untuk saat ini, tidak ada obat oral yang bisa membantu meredakan kondisinya. Saya hanya bisa memberikan cairan infus penambah nutrisi ini untuk menstabilkan kondisinya agar tetap terhidrasi. Nanti, saat dia sudah mulai sadar, beri dia minum air putih hangat sedikit demi sedikit, dan kompres area perutnya dengan handuk yang direndam air hangat untuk mengurangi kram lambungnya," jelas dokter itu panjang lebar.
Setelah selesai memasang jarum infus pada punggung tangan kiri Rana yang tampak pucat dan dingin, dokter tersebut berbalik menatap penampilan Pradika yang tampak berantakan dan kotor dari dada hingga paha.
"Lebih baik Anda bersihkan diri dulu. Ada kamar mandi di belakang klinik. Baju Anda sudah tidak layak pakai. Biar OB yang membersihkan muntahan di lantai, "
Pradika terdiam, tangannya bergerak menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Pikirannya mendadak buntu menghadapi situasi canggung ini. Bagaimana ia bisa membersihkan diri dan meninggalkan Rana sendirian di ruangan ini?
Dan yang paling krusial menjadi beban pikirannya sekarang adalah: pakaian Rana juga ikut terkena noda muntahan di bagian kerah dan dada atas. Dalam kondisi seperti ini, meminta bantuan kepada siapa di area mess yang penuh gosip ini untuk mengganti pakaian Rana dengan pakaian yang bersih tanpa mengundang desas-desus liar yang bisa menghancurkan reputasi gadis itu esok hari?