NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13. Tentang troli, pembalut, dan perasaan yang pelan-pelan hidup

Suara mesin mobil perlahan merendah sebelum akhirnya benar-benar mati ketika mobil milik Galang berhenti rapi di area parkir basement Ciplaz Garut. Lampu-lampu putih di langit-langit basement memantulkan cahaya samar ke bodi mobil hitam itu. Aroma khas semen dingin bercampur asap kendaraan samar memenuhi udara. Dari kejauhan terdengar bunyi troli beradu dan suara langkah kaki pengunjung yang berlalu-lalang menuju lift pusat perbelanjaan.

Galang melepas sabuk pengamannya lebih dulu. Jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh delapan menit siang.

"Udah sampai," ucapnya singkat.

Sekar yang sejak tadi duduk tenang di kursi penumpang langsung menoleh ke luar jendela. Matanya sedikit membulat melihat suasana ramai basement. Ia masih belum terlalu terbiasa berbelanja bersama seseorang, apalagi bersama laki-laki yang kini menyandang status sebagai suaminya.

"Oh..." sahutnya pelan.

Galang turun lebih dulu. Pintu mobil terbuka disusul hawa sejuk basement yang langsung menyapu wajahnya. Pria itu berjalan memutari depan mobil lalu membuka pintu untuk Sekar tanpa banyak bicara.

Sekar tampak terkejut.

"Makasih," gumamnya lirih sambil turun hati-hati.

Rok panjang warna krem yang ia kenakan bergerak pelan tertiup angin dari kendaraan yang lewat. Sekar merapikan tali tas kecilnya sebelum menutup pintu mobil perlahan.

Galang menekan tombol kunci otomatis. Bunyi bip singkat terdengar.

"Lantai bawah supermarket penuh kalau siang," katanya sambil mulai berjalan santai menuju pintu masuk lift. "Makanya parkir di sini aja."

Sekar mengangguk kecil meski sebenarnya ia tidak terlalu memikirkan soal parkiran. Fokusnya justru tertuju pada banyaknya orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Seorang ibu menggandeng anak kecil. Sepasang suami istri membawa kantong belanja besar. Suasana itu terasa hangat.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Galang, Sekar merasa dirinya sedang menjalani sesuatu yang sangat biasa.

Sesuatu yang normal.

Bukan pernikahan karena permintaan terakhir orang tua. Bukan hubungan canggung yang dipenuhi jarak. Bukan rasa sungkan setiap kali mereka duduk berdua.

Hanya pasangan suami istri yang datang untuk belanja bulanan.

Lift terbuka tepat ketika mereka sampai. Beberapa orang keluar lebih dulu sebelum Galang masuk sambil berdiri di sisi pintu, menahan tombol agar Sekar bisa masuk terlebih dahulu.

Sekar kembali mengucapkan terima kasih pelan.

Lift bergerak naik.

Hening.

Namun anehnya, hening kali ini tidak terlalu menyesakkan.

Sekar diam-diam melirik pantulan mereka di dinding lift berbahan stainless. Galang berdiri disampingnya dengan kaus pendek abu-abu gelap dan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggi tubuh pria itu membuat Sekar harus sedikit mendongak jika ingin menatap wajahnya.

Sedangkan Galang, diam-diam memperhatikan Sekar dari pantulan yang sama. Gadis itu cantik dengan cara yang tenang. Tidak berlebihan, tidak di buat-buat.

Dan mungkin karena itulah rumahnya terasa berbeda sejak Sekar datang.

Pintu lift terbuka.

Suara musisi terkenal Yovi and the Nuno dengan judul lagu manusia biasa menggema. Mereka berjalan memasuki supermarket besar di lantai dasar Ciplaz. Pendingin ruangan langsung menyambut kulit. Rak-rak tinggi penuh barang berjajar rapi dengan warna-warni kemasan yang mencolok mata.

Galang mengambil sebuah troli di dekat pintu masuk.

Krek.

Suara roda troli berbunyi pelan ketika ia menariknya.

"Nih," katanya singkat sambil mulai mendorong troli di samping Sekar.

Namun justru Sekar berhenti sebentar.

Galang menoleh, "kenapa?"

Sekar buru-buru membuka tas kecil cokelat yang menggantung di pundaknya. Jemarinya mencari sesuatu di dalam sana sebelum akhirnya mengeluarkan secarik kertas yang sudah sedikit terlipat.

Galang memperhatikan tanpa bicara.

Sekar membuka lipatan kertas itu pelan. Ternyata sebuah daftar belanja yang ditulis tangan menggunakan pulpen biru.

Galang sempat mengernyit kecil.

"Kamu bikin list?"

"Iya..." Sekar mengangguk kecil sambil membaca isi kertas itu serius. "Biar nggak lupa."

Galang tidak menjawab, tatapannya justru jatuh pada tulisan kecil-kecil rapi di sana.

Beras. Minyak goreng. Minyak wijen. Sabun cuci. Teh. Gula. Kecap. Stok obat maag. Vitamin. Kopi kesukaan Galang. Dan tulisan lainnya.

Ada juga catatan kecil di samping beberapa barang.

Jangan lupa cek diskon :)

Ayam untuk stok seminggu.

Buah buat A Galang.

Pria itu diam beberapa detik. "Aneh." gumamnya dalam hati.

Sangat aneh bagaimana hal sekecil itu bisa membuat dadanya terasa sesak samar. Sekar terlihat begitu terbiasa mengurus orang lain. Padahal usia gadis itu jauh lebih muda darinya.

Namun cara Sekar memperhatikan detail-detail kecil rumah tangga membuat Galang seperti sedang melihat seseorang yang telah hidup bertahun-tahun sebagai seorang istri.

"Kita mulai dari kebutuhan dapur dulu aja ya," ucap Sekar pelan tanpa sadar kalau Galang tengah memperhatikannya.

Galang hanya mengangguk.

Mereka mulai berjalan menyusuri lorong supermarket.

Sekar beberapa kali berhenti untuk membandingkan harga, membaca label kemasan, atau mengecek tanggal kedaluwarsa dengan sangat teliti. Sedangkan Galang berdiri di samping troli sambil mempersilahkan gadis itu diam-diam.

"Yang ini lebih murah tapi isinya sedikit..." gumam Sekar pelan sambil memegang dua kemasan sabun cuci berbeda.

Galang menatap wajah serius itu beberapa detik.

Lucu!

Sekar terlihat benar-benar memikirkan semuanya.

Bahkan untuk hal remeh seperti sabun cuci.

"Ambil aja yang kamu mau," ujar Galang akhirnya.

Sekar langsung menoleh, "tapi harus hemat. A Galang kerja sampe pulang malam terus, emangnya gak capek nyari uang?"

"Kamu tuh..." Galang menghela napas pendek nyaris menahan senyum. "Kaya ibu-ibu banget."

Pipi Sekar langsung memerah.

"Aku emang lagi belajar jadi istri baik."

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa membuat Galang terdiam sesaat.

Sekar sudah kembali fokus memasukkan barang ke troli tanpa menyadari perubahan ekspresi pria di sampingnya.

Sedangkan Galang memandang punggung kecil itu diam-diam.

Ada sesuatu dalam dirinya yang bergerak samar.

Kagum.

Mungkin juga hangat.

Namun semua perasaan itu seperti tertahan oleh tembok besar yang selam ini ia bangun sendiri. Perasaannya sudah lama mati rasa. Ia terlalu terbiasa hidup sendiri, terlalu terbiasa menutup diri.

Dan sekarang hadir seorang gadis yang sibuk memikirkan stok gula, vitamin, dan kopi kesukaannya seolah semua itu penting.

Padahal bahkan Galang sendiri jarang memperhatikan hidupnya sedetail itu.

"Eh..." Sekar mendadak berhenti di depan rak mie instan. "A Galang sukanya yang kari ayam atau soto?"

Galang tersadar dari lamunannya.

"Terserah."

Sekar mengerutkan hidung mancungnya. "Nggak boleh terserah. Nanti kalau salah beli gimana?"

Galang hampir tersenyum.

Hampir.

"Kari ayam."

"Oke."

Sekar langsung mengambil beberapa bungkus lalu memasukkannya ke troli dengan ekspresi puas kecil.

Troli mulai penuh.

Dan tanpa mereka sadari, langkah keduanya mulai berjalan sejajar dengan lebih natural.

Tidak secanggung biasanya.

Kadang Sekar bertanya sesuatu.

Kadang Galang menjawab pendek.

Kadang mereka diam sambil sama-sama melihat daftar belanja. Namun di situlah rasanya seperti nyata. Seperti pasangan suami istri pada umumnya.

.

.

.

Di sini ada yang sama gak kalau belanja kaya Sekar? Buat list dan membandingkan harga???

Jawab di kolom komentar ya😉

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!