NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Alarm dan Air Mancur

​​"Sialan! Apa yang lo lempar ke atas sana?!" bentak Boni dengan mata melotot lebar.

​Detektor asap berbentuk bundar itu merespons seketika. Percikan api dari korek gas Riana menyentuh sensor sensitif di dalamnya. Bunyi peringatan melengking luar biasa keras langsung merobek gendang telinga semua orang di ruangan itu.

​Kring! Kring! Kring!

​Lampu utama ruangan HRD mati total, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah menyala yang berputar-putar cepat. Sedetik kemudian, sistem pemadam kebakaran otomatis dari langit-langit gedung pecah serentak.

​Byur!

​Pancaran air bertekanan sangat tinggi menyemprot deras dari puluhan titik di plafon ruangan. Air sedingin es itu menghantam karpet, meja kerja, dan wajah para pembunuh bayaran itu tanpa ampun. Visibilitas di dalam ruangan HRD langsung turun drastis menjadi nol persen. Jarak pandang terhalang tirai air yang sangat tebal dan rapat.

​"Mata gue! Air apa ini?!" teriak salah satu anak buah Boni panik sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup. Dia kehilangan arah seketika.

​"Jangan panik, bodoh! Cari perempuan culun itu dan tusuk lehernya sekarang juga!" raung Boni di tengah gemuruh suara air dan alarm yang memekakkan telinga. Dia mengayunkan pisau beracunnya membabi buta menembus guyuran air yang menghalangi pandangan.

​Pisau tajam dengan kilau kebiruan milik Boni menghujam keras menembus sandaran kursi kulit tempat Riana duduk tadi. Kapas dan busa kursi berhamburan keluar bercampur air. Tapi tidak ada darah. Tidak ada jeritan kesakitan. Kursi itu sudah kosong melompong.

​"Bos! Cewek itu hilang!" lapor anak buah Boni dari sisi kiri, suaranya nyaris tenggelam oleh derau air yang jatuh deras ke lantai.

​"Tutup pintu keluar! Jangan biarkan dia lari!" perintah Boni murka, memutar tubuh raksasanya mencari sosok Riana di tengah hujan buatan tersebut.

​Riana sama sekali tidak berniat melarikan diri. Mantan algojo pencabut nyawa itu justru merasa sangat hidup dalam kekacauan seperti ini. Air yang mengguyur tubuhnya menghapus identitas Manajer HRD culun yang kaku. Di tengah tirai air dan kedipan lampu merah darurat, Riana bergerak sangat lincah, ringan, dan mematikan layaknya hantu kelaparan.

​Sepatu pantofelnya sudah dia lepas sejak detik pertama air menyemprot turun. Dia bergerak tanpa suara di atas genangan air karpet dengan kaki telanjang.

​"Gue nggak bisa lihat apa-apa!" keluh pembunuh pertama yang berdiri di dekat rak dokumen tinggi. Dia memegang pisau birunya dengan tangan gemetar, matanya terus mengerjap menahan guyuran air dari atas.

​"Lo memang tidak perlu melihat apa-apa lagi."

​Suara bisikan sangat dingin itu terdengar tepat di belakang telinga si pembunuh pertama. Pria berpakaian hitam itu tersentak kaget dan refleks berbalik badan sambil menusukkan pisaunya ke belakang.

​Terlambat. Riana sudah berada di sana dengan posisi kuda-kuda merendah. Tangan kiri Riana menangkis keras pergelangan tangan pria itu dari bawah, mengunci gerakan pisau beracun itu agar menjauh dari tubuhnya. Bersamaan dengan itu, siku kanan Riana menghantam rahang si pembunuh dengan tenaga penuh yang mematikan.

​Bunyi retakan tulang rahang terdengar amat jelas di sela derau air. Pria itu pingsan seketika dan ambruk ke lantai basah dengan bunyi debuk yang sangat keras. Pisau mematikannya terpental jauh ke bawah meja.

​"Siapa yang jatuh?! Woi, jawab!" teriak pembunuh kedua yang berada di dekat meja mesin fotokopi, memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan panik.

​"Teman lo baru saja absen pulang duluan," jawab Riana.

​Pembunuh kedua berteriak marah dan mengayunkan pisaunya ke arah sumber suara Riana. Namun, Riana sudah berpindah posisi dengan sangat mulus. Perempuan itu melesat rendah menyusuri lantai. Dia menyapu kaki pria itu dengan tendangan putar mendatar yang sangat bertenaga.

​Pria berpakaian hitam itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang menabrak mesin fotokopi. Sebelum dia sempat berteriak minta tolong, telapak kaki Riana sudah menginjak ulu hatinya dengan sangat keras. Pria itu tersedak hebat, memuntahkan air dari mulutnya, kehabisan napas secara paksa, lalu kehilangan kesadaran dalam hitungan detik.

​"Komandan! Kita diserang balik!" teriak pembunuh ketiga panik luar biasa. Dia berlari mundur meraba-raba dinding kaca buram, berusaha mencari tuas pintu keluar. Insting memburunya berbalik menjadi insting mangsa yang ketakutan. "Cewek ini bukan orang kantoran biasa! Kita harus mundur!"

​"Buka pintunya! Kita keluar dari sini!" raung Boni yang juga mulai merasakan teror mencekam merayap di tengkuknya.

​Pembunuh ketiga berhasil menemukan tuas pintu kaca utama. Tangannya yang basah gemetar meraba kunci ganda yang tadi dia putar sendiri. Dia baru saja hendak memutar tuas tersebut, tapi sebuah tempat isolasi berbahan besi padat melayang keras dari arah tirai air dan menghantam tepat di pelipisnya.

​Pria itu terhuyung pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Riana melesat maju menembus guyuran air seperti peluru, mencengkeram kerah belakang baju pria itu, dan membenturkan kepalanya ke pintu kaca anti peluru dengan tenaga luar biasa.

​Kaca tebal itu bergetar lagi untuk kedua kalinya hari ini. Pembunuh ketiga merosot jatuh ke lantai tanpa daya, menyisakan noda darah tipis di kaca yang langsung luntur tersiram air dari langit-langit.

​Kini hanya tersisa Boni sendirian di tengah ruangan yang hancur lebur. Air membasahi seluruh tubuh besarnya. Kemeja taktisnya basah kuyup menempel di kulit. Mata merahnya menatap liar ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi kedipan lampu darurat berwarna merah. Ketiga anak buah andalannya sudah terkapar tidak berdaya seperti boneka rusak.

​"Keluar lo, jalang culun! Hadapi gue berhadapan muka kalau lo berani!" tantang Boni berteriak putus asa, suaranya pecah menahan takut. Dia mengayunkan pisaunya ke segala arah untuk melindungi diri dari serangan mendadak. "Lo pikir lo bisa main petak umpet sama gue?!"

​"Gue selalu berani menghadapi sampah organik seperti lo, Boni."

​Riana muncul begitu saja dari balik guyuran air lebat, berdiri tegap tepat di depan wajah Boni. Kemeja putihnya basah kuyup, rambutnya berantakan menempel di wajah, kacamata tebalnya penuh dengan tetesan air embun, tapi sorot matanya tajam setajam pedang algojo.

​Boni menggeram buas. Dia tidak membuang waktu satu detik pun untuk berpikir rasional. Pria raksasa itu menerjang maju, menusukkan bilah pisau beracunnya lurus ke arah dada Riana. Kecepatannya sangat luar biasa, didorong oleh rasa takut mati dan amarah yang meledak jadi satu.

​Riana tidak mundur selangkah pun. Dia memiringkan tubuhnya sedikit ke samping kiri, membiarkan mata pisau kebiruan yang sangat mematikan itu lewat hanya beberapa milimeter dari lengan kemejanya. Bersamaan dengan gerakan mengelak itu, kedua tangan Riana melesat cepat mengincar kelemahan musuh.

​Tangan kiri Riana menangkap pergelangan tangan Boni yang memegang pisau dari bawah, sementara tangan kanannya menekan punggung tangan Boni dari atas dengan cengkeraman baja. Dengan menggunakan momentum serbuan Boni sendiri, Riana memelintir pergelangan tangan pria raksasa itu ke arah luar dengan putaran sudut yang sangat ekstrem dan mustahil dilakukan orang biasa.

​KRAK!

​Suara tulang patah terdengar sangat keras dan ngilu, mengalahkan suara alarm kebakaran yang terus menjerit di ruangan itu.

​"Argh!" Boni menjerit kesakitan luar biasa dengan mata melotot mau keluar.

​Tulang pergelangan tangannya patah total, mencuat menekan kulit dari dalam dengan bentuk yang mengerikan. Jari-jarinya lemas seketika karena mati rasa. Pisau beracun itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting masuk ke dalam genangan air di karpet.

​Riana tidak berhenti sampai di situ. Dia menarik lengan Boni yang patah itu kuat-kuat ke arah bawah, memaksa tubuh raksasa itu membungkuk. Detik berikutnya, Riana mendaratkan tendangan lutut kanan yang sangat mematikan tepat ke arah tulang hidung Boni.

​Hantaman keras dari lutut Riana mematahkan hidung Boni dalam sekejap mata. Darah segar menyemprot deras bercampur dengan genangan air. Tubuh komandan tempur itu terpelanting ke belakang. Boni jatuh terlentang menabrak meja kerja Riana hingga sisa barang di atasnya berserakan berantakan. Pria itu mengerang parah di lantai, tidak mampu bangkit lagi karena rasa sakit yang luar biasa melumpuhkan seluruh jaringan saraf di otaknya.

​Air dari mesin pemadam kebakaran di langit-langit masih menyemprot deras tanpa henti. Riana berdiri tegak menatap sosok monster dunia bawah tanah yang kini terkapar mengenaskan menahan sakit di bawah kakinya. Napas Riana teratur, tidak terengah-engah sedikitpun walau baru saja menghabisi empat pembunuh bayaran elit dalam waktu kurang dari tiga menit.

​Riana melangkah maju mendekati tubuh Boni. Dia mengangkat kaki kanannya pelan-pelan, lalu menginjak dada Boni dengan telapak kakinya yang telanjang. Tekanan injakan itu sangat kuat hingga membuat Boni terbatuk mengeluarkan cairan darah dari mulutnya. Air terus mengguyur wajah Boni, membuatnya megap-megap kehabisan oksigen.

​Riana menunduk, menatap Boni dari balik kacamata basahnya dengan tatapan sedingin kutub es.

​"Pasal empat puluh ayat 2. Membawa senjata tajam ke area kerja," desis Riana pelan, suaranya menembus suara bising alarm dan rintik air yang sangat deras. "You are fired. Kamu dipecat."

1
FHR
Good luck 👍
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Savana Liora: makasih kk
total 9 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!