evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ujian
Ketiga mobil berhenti tepat di depan gedung kantor milik Alberto Chaplin. Pintu mobil terbuka. Satu per satu mereka turun.
Udara pagi mulai terasa lebih hangat, namun suasana justru semakin menegang.
Belum lama mereka berdiri—langkah kaki cepat terdengar dari kejauhan. Hanya lima menit. Dan seseorang sudah tiba.
Seorang pria berlari mendekat, napasnya berat namun tetap terkontrol. Kemejanya basah oleh keringat, rambutnya sedikit berantakan, menempel di dahi.
Namun—yang paling mencolok adalah sorot matanya. Tajam dan Fokus. Seolah jarak lima kilometer itu… tidak berarti apa-apa.
Ia berhenti beberapa meter dari mereka, berdiri tegap meski tubuhnya masih mengatur napas.
Rachel Chaplin sampai membelalakkan mata.
“Oh my God…” gumamnya pelan.
Di sampingnya, Lauren Chaplin bahkan tidak berusaha menutupi reaksinya.
“He So sexy…” bisiknya tanpa sadar.
Keduanya menatap tanpa berkedip. Terpesona. Bukan hanya karena fisiknya—tapi juga aura yang terpancar dari pria itu.
Sementara itu di belakang mereka—Evelyn Valencia masih berjalan mendekat. Posisinya tertutup oleh tubuh kakak-kakaknya. Tingginya tidak setara dengan mereka, membuat pandangannya terhalang. Ia hanya bisa melihat punggung seorang pria di kejauhan.
Namun entah kenapa—jantungnya berdetak lebih cepat. Seolah sesuatu dalam dirinya…
mengenali kehadiran pria itu.
Evelyn Valencia melangkah perlahan, hingga akhirnya berdiri di samping ketiga kakaknya. Dan saat itulah—ia melihatnya.
Wajah pria di hadapannya. Rambut coklat gelap. Mata coklat yang tajam.Dan Dagu belah yang begitu familiar.
Tidak salah lagi. Itu dia... Cristian Noah Alexander.
Dunia seakan berhenti sesaat. Napas Evelyn tercekat. Dadanya terasa sesak. Ingatan tentang malam itu— tentang darah, tembakan, dan kematian—seolah kembali menghantamnya sekaligus.
Langkahnya goyah. Tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang hingga tangannya refleks memegang dada.
Lauren yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.
“Sudah tahu tubuhmu penyakitan… harusnya kamu di rumah saja,” ucap Lauren Chaplin sinis, tanpa sedikit pun rasa khawatir. Namun perhatiannya segera kembali pada pria di depan.
“Sangat menarik…” lanjutnya, menatap Cristian Noah Alexander dengan penuh penilaian.
Di sisi lain, Charlie Chaplin menyilangkan tangan. Ia ikut berkomentar.
“Menarik, iya,” katanya datar. “Tapi kita belum tahu kelihaiannya dalam bersenjata. Jadi jangan berspekulasi dulu.”
Nada suaranya dingin. Mengukur.
Sementara itu—Evelyn masih terpaku. Matanya tidak lepas dari sosok itu. Tangannya masih menggenggam dadanya. Namun perlahan—napasnya mulai teratur kembali.
Tatapannya berubah. Dari ketakutan…menjadi sesuatu yang lain. Yakni Kesadaran.
Satu per satu kandidat lain mulai berdatangan.
Napas mereka terengah. Langkah kaki terasa berat. Beberapa bahkan langsung menjatuhkan diri di atas paving, duduk selonjoran tanpa peduli lagi dengan penampilan. Keringat membasahi pakaian mereka. Wajah-wajah lelah jelas terlihat.
Namun—tidak dengan Cristian Noah Alexander. Ia tetap berdiri tegak. Punggung lurus. Pandangan pun lurus ke depan. Seolah lari lima kilometer itu… hanyalah pemanasan ringan.
Perbedaan itu terlihat jelas. Dan tidak luput dari perhatian.
Alberto Chaplin melangkah maju. Di tangannya, sebuah tongkat kayu.
Sederhana. Namun cukup untuk memberi kesan bahwa ini bukan sekadar ujian biasa.
Keempat anaknya menepi, memberi ruang.
Para kandidat yang tadi tergeletak segera bangkit, berdiri kembali dengan susah payah. Mereka berusaha merapikan diri, meski napas masih belum stabil.
Kini—sepuluh orang itu kembali berjajar. Menghadap langsung ke Alberto.
Sunyi. Hanya suara napas yang masih berat terdengar di udara. Alberto tidak langsung bicara. Ia berjalan perlahan di depan barisan itu. Tatapannya menyapu satu per satu wajah mereka. Mengamati.Dan Menilai. Mencari sesuatu yang tidak bisa dilihat hanya dari kekuatan fisik.
Ketika ia sampai di depan Cristian Noah Alexander—langkahnya berhenti sejenak. Matanya sedikit menyipit. Seolah menangkap sesuatu yang berbeda. Namun ia tidak mengatakan apa pun. Ia melanjutkan langkahnya. Hingga kembali ke posisi awal.
Tongkat kayu itu diketukkan pelan ke tanah. Sekali.
Suara itu cukup untuk menarik perhatian semua orang.
“Ujian berikutnya,” ucapnya akhirnya, suaranya tegas dan berat, “akan menentukan siapa yang layak berada di dekat keluargaku.”
Suasana langsung berubah. Lebih tegang dan lebih serius. Dan di antara semua itu—dua pasang mata saling terhubung dalam diam. Evelyn Valencia dan Cristian Noah Alexander.
“Pengawal, bawa ke sini.” Suara Alberto Chaplin tegas.
Seorang pengawal segera maju membawa sebuah kotak besar. Saat dibuka—isinya terlihat jelas. Peralatan ujian berikutnya. Beberapa pistol.
Alberto mengambil satu per satu, lalu melemparkannya ke arah para kandidat.
Gerakannya tiba-tiba. Cepat. Mengagetkan. Beberapa pria sigap menangkapnya. Namun—dua orang gagal. Salah satunya hampir menjatuhkan benda itu, yang lain bahkan tidak siap sama sekali.
“Keluar.”
Hanya satu kata. Namun tidak bisa dibantah. Kedua pria gagal itu langsung disuruh pergi tanpa ada kesempatan kedua.
Kini—tersisa delapan orang. Suasana semakin tegang. Tidak ada yang berani lengah lagi.
Alberto kemudian bersiul pelan. Seekor anjing peliharaannya berlari mendekat, patuh dan terlatih.
“Duduk.”
Anjing itu langsung menurut. Diam. Tenang.
Alberto mengambil sebuah bola kecil, lalu meletakkannya di atas kepala anjing itu.
Bola ringan itu bertahan di sana. Semua orang mulai memahami. Ujian ini—bukan sekadar menembak.
“Jarak sepuluh meter,” ucap Alberto. “Kalian harus mengenai bola itu.”
Sunyi. Tidak ada yang berbicara. Ini bukan hanya soal akurasi. Ini soal kendali. Ketepatan. Dan… keberanian dalam situasi yang berisiko.
Satu per satu kandidat maju. Beberapa terlihat ragu. Beberapa mencoba menenangkan diri.
Di kejauhan—Evelyn Valencia menahan napas. Matanya tanpa sadar mencari satu sosok. Sementara itu—
Cristian Noah Alexander berdiri tenang. Tatapannya tidak goyah. Seolah ujian ini…sudah ia kenal sejak lama.
Alberto Chaplin mengangkat tongkatnya, lalu menunjuk salah satu kandidat.“Kamu.”
Pria pertama maju. Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat senjata. Ia membidik… cukup lama. Terlalu lama. Namun akhirnya—
dorrrr!
Bola kecil itu terpental. Berhasil. Meski jelas terlihat keraguannya.
“Berikutnya.”
Kandidat kedua maju. Ia mencoba terlihat tenang, namun napasnya tidak stabil.
"tembak!"
Meleset. Bola itu tetap diam di atas kepala anjing. Alberto tidak berkata apa-apa. Hanya satu isyarat kecil—dan pria itu mundur. Gugur.
Satu per satu kandidat berikutnya maju. Ketiga…keempat…hingga ketujuh—semuanya berhasil. Meski dengan tingkat kepercayaan diri yang berbeda.
Kini—tinggal satu orang terakhir.
Cristian Noah Alexander. Ia melangkah maju. Tenang tanpa ekspresi. Tangannya mengambil posisi. Mengangkat senjata. Tidak ada keraguan. Tidak ada jeda. Alberto bahkan belum sempat membuka mulut—
“Tem—”
DOR!
Suara tembakan memecah udara. Bola kecil itu langsung hancur. Tanpa goyah. Tanpa meleset sedikit pun. Cepat. Terlalu cepat.
Semua orang terdiam. Beberapa kandidat lain bahkan masih belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi.
Charlie Chaplin menyipitkan mata. Rachel Chaplin dan Lauren Chaplin saling pandang. Terkejut dan terkesima.
Sementara itu—di belakang mereka—Evelyn Valencia hanya bisa menatap. Jantungnya kembali berdetak keras.