NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Tertinggal

Rapat itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan yang terdengar formal dan sempurna di atas kertas. Jabat tangan terjadi, senyum profesional saling dipertukarkan, dan kerja sama resmi disetujui. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang runtuh tanpa suara. Sesuatu yang tidak masuk ke dalam laporan mana pun.

Perjalanan kembali ke kantor berlangsung seperti biasa. Tenang, hening, dan tanpa percakapan berarti. Aurora duduk di samping, menatap ke luar jendela. Pikirannya tidak lagi berada di mobil itu, melainkan tertinggal di ruang rapat tadi. Tepat di saat Rayden berjalan keluar tanpa menoleh.

Sesampainya di kantor, Aurora langsung kembali ke mejanya. Ia membuka laptop, mencoba membaca ulang dokumen yang tadi sempat ia kerjakan. Namun huruf-huruf di layar terasa kabur. Bukan karena ia tidak mengerti, tapi karena pikirannya tidak mau diam.

Tangannya beberapa kali meraih ponsel. Layar menyala, lalu mati lagi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Dan entah kenapa, itu terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar.

Jam terus berjalan. Detik demi detik terasa lebih lambat dari biasanya.

Aurora mencoba fokus, mengetik, membaca ulang, dan memperbaiki kalimat. Tapi semuanya terasa kosong, seolah ia hanya bergerak tanpa benar-benar hadir.

Hingga akhirnya, tepat setelah pukul dua siang, ponselnya bergetar.

Nama Rayden muncul di layar.

Aurora langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang, “Say-”

“Aurora.” Suara itu terdengar berbeda, lebih berat, dan lebih jauh.

Aurora langsung diam.

“Aku cuma mau bilang, kita cukup sampai di sini.”

Mendengar kata-kata itu, dada Aurora merasa ada yang berhenti di dalamnya.

“Aku nggak mau kamu ikut hidup susah sama aku. Kamu pantas dapet yang lebih baik.”

Aurora menelan ludah, “Rayden, aku nggak-”

“Maaf.”

Hanya satu kata itu. Dan telepon langsung terputus.

Aurora menatap layar ponselnya lama. Tangannya masih memegang erat, seolah berharap suara itu akan kembali.

Tapi tidak, yang tersisa hanya sunyi.

Ia menunduk pelan. Napasnya terasa berat. Dadanya sesak, tapi air matanya belum jatuh. Seolah ada sesuatu yang menahannya.

Aurora mencoba kembali ke pekerjaannya. Tapi kini, bahkan membuka file saja terasa sulit. Ia membaca satu paragraf berkali-kali tanpa mengerti isinya.

Pikirannya terus kembali pada satu kata putus yang keluar dari mulut Rayden.

Keputusan yang diambil tanpa penjelasan panjang, tanpa kesempatan untuk bicara. Dan itu… menyakitkan.

Pintu ruangan Zayn terbuka.

Zayn keluar dengan langkah tenang. Ia menuju pantry kecil di ujung ruangan. Tangannya mengambil dua gelas minuman tanpa suara. Lalu berjalan kembali.

Aurora bahkan tidak menyadari sampai gelas itu sudah berada di mejanya. Ia sedikit terkejut dan menoleh.

Zayn berdiri di sampingnya, “Kamu kelihatan nggak fokus.”

Aurora terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tanpa humor, “Gimana mau fokus kalau baru aja diputusin?”

Zayn tidak terlihat terkejut, “Apa hubungannya sama saya?” ucapnya datar.

Aurora langsung menatapnya, “Bapak yang bikin dia dipecat.”

“Dia dipecat karena kesalahannya sendiri. Dan yang memecat bukan saya” jawab Zayn tenang.

Aurora menggeleng pelan, “Tapi Bapak bisa nggak minta sampai sejauh itu.”

Zayn menatapnya lurus, “Walau saya nggak bilang, itu tetap akan terjadi.”

Aurora diam.

“Dan kamu juga harusnya nggak nangisin laki-laki yang mutusin kamu sepihak” lanjut Zayn.

Aurora menegang sedikit.

Zayn melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya, “Laki-laki itu nggak akan ninggalin perempuan yang dia anggap rumah. Kalau dia pergi saat ada masalah, berarti kamu bukan tempat dia pulang.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi terasa tajam.

Aurora terdiam. Ada sesuatu yang terasa menusuk. Bukan hanya sedih, tapi juga kesal.

“Benarkah begitu? Jadi selama ini ini aku nggak dianggap rumah?” batin Aurora.

Zayn melihat perubahan itu. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan kembali ke ruangannya.

Pintu tertutup.

Zayn berjalan menuju mejanya. Ia duduk perlahan, menyandarkan tubuhnya dengan santai.

Tatapannya kosong sesaat. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis, “Akhirnya, nggak ada lagi yang berdiri di antara aku dan kamu, Aurora.”

Ia menatap lurus ke depan, “Kalau dunia nggak bisa ngasih kamu ke aku, aku yang akan ambil sendiri.”

Sore akhirnya datang.

Aurora masih duduk di mejanya, meskipun pekerjaannya tidak benar-benar selesai. Pikirannya terlalu penuh untuk bisa fokus.

Zayn keluar dari ruangannya, “Kamu belum pulang?” tanyanya singkat.

Aurora menggeleng pelan, “Nunggu Sheila.”

Zayn hanya mengangguk. Tidak ada paksaan. Ia berbalik dan pergi lebih dulu seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, Sheila datang.

Aurora langsung berdiri dan ikut bersamanya. Begitu masuk ke mobil, semua yang ia tahan sejak siang akhirnya keluar.

Ia menceritakan semuanya, tentang rapat, tentang Rayden, dan tentang telepon itu.

Sheila mendengarkan tanpa memotong.

“Sebenernya yang dibilang Zayn ada benernya juga sih” ucap Sheila pelan.

Aurora menoleh cepat, “Kamu ngebelain dia?”

Sheila mengangkat bahu, “Aku cuma jujur.”

Aurora menghela napas kesal.

Sheila tersenyum tipis, “Lagipula kamu bisa dapet yang lebih baik kok.”

Aurora menyipitkan mata.

Sheila meliriknya, “Misalnya Zayn.”

Aurora langsung menyubit paha Sheila.

“Au! Sakit!” protes Sheila.

Aurora mendengus, “Lagi serius malah bercanda.”

Sheila tertawa kecil, “Aku cuma pengen kamu ketawa.”

Lalu ia menoleh lagi, kali ini lebih serius, “Tapi jujur deh, kamu nggak punya sedikit pun perasaan ke dia?”

Aurora diam.

Pertanyaan itu menggantung.

“Aku nggak tau. Aku masih kepikiran Rayden” jawabnya akhirnya pelan.

Mobil terus melaju.

Sementara itu, di tempat lain, Rayden duduk sendiri di dalam kamarnya. Lampu redup, dan sunyi.

Tangannya memegang ponsel. Layar menampilkan foto dirinya bersama Aurora.

Senyum yang dulu terasa sederhana, kini terasa jauh.

Ia menghela napas panjang. Matanya mulai memerah, “Kalau aku nggak bisa memiliki kamu…” suaranya serak.

“Biar aku mengabadikanmu dalam setiap aksara yang tersisa di hidupku.”

Air matanya akhirnya jatuh. Ia memejamkan mata, “Biar semua tahu, kalau kamu pernah jadi bagian paling hidup dari jiwaku.”

Malam semakin larut. Aurora akhirnya sampai di rumahnya.

Ia masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Tubuhnya langsung jatuh ke atas kasur.

Ia menatap langit-langit. Kosong. Namun pikirannya penuh, tentang Rayden, tentang kata-kata terakhirnya, tentang Zayn, tentang semua hal yang terasa salah dan benar di waktu yang bersamaan.

Dadanya terasa sesak. Matanya mulai panas. Air mata perlahan jatuh, tanpa suara.

Tapi di antara tangis itu, ada satu hal lain yang ikut muncul. Tidak lain tidak bukan adalah rasa kesal.

Kesal karena ditinggalkan, kesal karena tidak dianggap cukup, dan entah kenapa, kata-kata Zayn terus terngiang di kepalanya.

Malam itu, Aurora tidak benar-benar tidur.

Dan tanpa ia sadari, hatinya mulai retak ke arah yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!