Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teddy Bear Lusuh
"Bu Indah ini emang suka bikin tema aneh-aneh kalo kuliah. Yang kemarin objek lukisnya indah, syahdu. Hari ini bisa bikin sedih, horor gitu," komentar Bumi. Rasi dan Nia tersenyum.
"Yaaa... intinya, Bu Indah itu ngajarin kita kalo ngelukis itu nggak cuma niru objeknya aja, tapi juga ngasih rasa, kesan ke lukisan kita, biar orang yang liat lukisan kita itu ikut terbawa suasana pas ngeliat hasil karya kita," kata Rasi.
"Iya, iya, paham yang suka baper," kata Bumi.
"Baper? Bukannya kebalik? Perlu gue kasih cermin?" kata Rasi sebal. Nia hanya tersenyum.
"Nia,"
Panggilan Bayu mengejutkan Nia. Bayu sudah berdiri di lobi, dengan wajah yang tak pernah Nia lihat sebelumnya —campuran antara sedih dan kecewa.
"Kak Bayu?"
"Kita duluan ya, Ya. Ayo, Bum!" pamit Rasi sambil menarik lengan Bumi.
Bumi menatap Rasi dengan tatapan bingung. Nia tersenyum pada Rasi dan Bumi sambil melambaikan tangan. Nia berjalan perlahan ke arah Bayu.
"Ada apa, Kak?" tanya Nia perlahan. Bayu hanya diam, menunduk.
"Kak," panggil Nia lirih.
Seketika Bayu menjatuhkan kepalanya ke bahu Nia. Badannya bergetar. Nia dapat mendengar Bayu terisak perlahan. Nia menoleh ke kanan dan ke kiri merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian banyak orang di sekitar fakultasnya.
"Kak Bayu tenang dulu. Kita bisa ke kantin dulu buat bicara?" saran Nia.
"Ada apa?" suara dingin dan datar milik Angkasa mengagetkan Nia.
Nia lupa bahwa dia sudah mengirim pesan singkat kepada Angkasa lima belas menit sebelum kelas berakhir. Bayu mengelap airmatanya lalu menoleh ke arah Angkasa.
"Kenapa Tuan Muda Angkasa kemari?" tanya Bayu sambil menatap Angkasa tajam.
Angkasa diam, lalu menatap Nia seolah memberi isyarat agar Nia menjelaskan keberadaan dirinya dan Bayu di saat yang bersamaan.
"I-itu... tadi pagi Angkasa anterin aku ke kampus, Kak. Trus dia pesen kalo aku udah selesai kuliah, suruh chat dia, dia mau jemput," jelas Nia. Bayu mengerutkan kedua alisnya.
"Jemput? Sejak kapan kamu..."
"Sejak hari ini. Aku akan antar jemput Nia ke kampus," potong Angkasa.
Tatapan Angkasa tajam tertuju pada Bayu. Bayu membalas tatapan itu dengan sama tajamnya. Nia menatap dua pria di hadapannya dengan takut.
"Mmm..." Nia ragu-ragu. Bayu menoleh ke arah Nia.
"Kakak hubungi lagi nanti," kata Bayu lalu pergi berlalu meninggalkan Nia.
Nia menatap punggung Bayu dengan cemas. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Bayu yang coba Bayu sampaikan padanya.
'Apa rumah baik-baik saja, Kak? Aku rasa tidak setelah malam itu,'
***
"Kenapa Tuan Muda Kutub Utara itu sekarang jadi nempel ke Dunia terus sih?" protes Bumi dalam perjalanannya mengantar Rasi pulang ke kos.
"Bum, mereka itu tunangan. Horang kaya. Nggak level sama kita," kata Rasi mengingatkan posisi mereka dibandingkan dengan Angkasa.
"Kita? Lo aja kalik. Nggak usah ngajak-ngajak gue," kata Bumi tak terima.
"Idih!"
"Lagian Dunia kenapa mau dijodohin sama Tuan Muda Kutub Utara itu sih?" Bumi masih tak dapat menerima takdirnya.
"Bumi... Lo kan denger sendiri. Nia kenal Angkasa dari kecil. Mungkin saja mereka saling suka dari dulu, bisa aja kan?" kata Rasi membangun asumsi yang bisa diterima Bumi. Bumi terdengar menghela napas panjang, kecewa.
"Udaaah... Lo kalo mau pdkt sama cewek tuh yang realistis aja," kata Rasi.
"Maksud lo, Dunia itu halusinasi?" tanya Bumi dengan nada jengkel. Rasi mencoba menahan tawa.
"Iya. Halu. Soalnya Nia nggak pernah liat lo sebagai cowok," kata Rasi.
"Hah?! Trus? Selama ini Dunia liat gue sebagai apa?" tanya Bumi heran sendiri.
"Sebagai bumi, tempat dimana kaki berpijak,"
"Sial lo, Ras!"
Rasi terbahak.
"Puas lo?"
"Puas banget!"
Hening.
"Kenapa sih lo kek obsessed sama Nia?" tanya Rasi penasaran.
"Cantik," jawab Bumi singkat.
"Hah?!"
"Cantik dari segi mana aja. Wajah, nama, perilaku. Semua," jelas Bumi. Rasi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Proporsinya sempuna," lanjut Bumi.
"Emang dasar Master Proporsi,"
Bumi meringis.
"Dah sampe," kata Bumi, menghentikan motornya tepat di depan kos Rasi.
"Thanks," ucap Rasi saat turun dari motor Bumi.
"Besok Tuan Muda Kutub Utara pasti nganter jemput Dunia lagi," kata Bumi kecewa.
"Ya udah sih. Bumi nganter jemput Rasi Bintang Kejora aja gimana?" goda Rasi sambil menahan tawa. Bumi memicingkan matanya ke arah Rasi.
"Lo tau nggak?"
"Nggak,"
Bumi menghela napas panjang.
"Apa?" tanya Rasi terkekeh.
"Nama lo tu cantik," kata Bumi. Rasi tiba-tiba terdiam, pipinya sedikit terasa panas.
"Sayangnya..."
Raut muka Rasi seketika berubah.
"Apa?" tanya Rasi.
"Lo kurang cewek," jawab Bumi. Seketika tangan Rasi menoyor kepala Bumi yang terbungkus helm.
"Pulang sono! Yang jauuuuh sampe ke ujung bumi," kata Rasi kesal lalu masuk ke dalam kosnya meninggalkan Bumi.
'Bumi suruh pergi ke ujung bumi? Entahlah,'
***
Bayu menimang-nimang ponsel dalam telapak tangannya. Dia sudah sangat ingin menelepon Nia. Namun, bayangan tatapan tajam Angkasa masih terasa menghujam ke hatinya seolah menegaskan bahwa Nia adalah miliknya seorang.
Bayu melirik jam dindingnya. Pukul 20.10. Bayu yakin Nia sudah di dalam kamar kosnya sedang beristirahat atau mengerjakan tugas kuliahnya. Bayu menekan tombol panggilan di layar ponselnya.
"Ya, Kak?"
"Kamu dimana?" tanya Bayu.
"Di kos ini. Kenapa? Kak Bayu tadi siang kenapa?" tanya Nia. Nada suaranya terdengar begitu khawatir. Bayu tersenyum, lega mendengar Nia masih mengkhawatirkannya.
"Maaf ya udah buat kamu khawatir," kata Bayu. Nia terdiam.
"Mama minta aku urus perceraian Mama sama Papa," lanjut Bayu. Nia masih terdiam.
"Tapi... Papa bersikeras nggak mau cerai dari Mama," Bayu menjeda kalimatnya. Dia mencoba menahan agar dirinya tak menangis seperti siang tadi.
"Bukan karena Papa mencintai Mama..."
"Tapi karena... Papa akan kehilangan segalanya jika Papa bercerai dengan Mama. Bisnis, saham, semuanya," lanjut Bayu. Nia masih terdiam.
Hening.
"Maaf, Kak," Nia akhirnya bersuara.
"Harusnya... aku nggak pernah masuk ke keluarga ini," lanjut Nia.
"Aku udah hancurin semuanya... Cinta Papa ke Mama... Keluarga utuh Kak Bayu... Harusnya aku nggak pernah ada,"
Sambungan telepon terputus. Bayu merosot, terduduk, tertunduk di lantai. Harusnya dia tidak mengatakannya pada Nia. Harusnya dia paling tahu bagaimana perasaan Nia mendengar semua itu.
Di sisi lain, Nia tengah terduduk di lantai kamar kosnya sambil memeluk lututnya. Airmatanya mengalir. Dia merasa sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri tentang yang terjadi di keluarga Nyonya Lestari. Dia merasa seperti objek lukisnya pagi tadi di studio lukis kampusnya.
'Bahkan sejak kelahiran ku, aku sudah tak diinginkan. Mengapa aku berharap mempunyai keluarga yang bahagia? Aku... teddy bear lusuh di studio lukis pagi ini,'
***
ternyata aku punya tanamannya, tapi gak tau namanya😅
makasih lho thor🤭
maaf malah salfok ke bunga😅