yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Hari Raya Kami.
Suka cita menyambut hari raya semakin terasa. Anggota keluarga dengan semangat merapikan rumah nya untuk menyambut hari kemenangan yang esok tiba.
Anak-anak berlarian tertawa bahagia. Walau hanya di dalam rumah karena jam malam masih diberlakukan hingga pagi menjelang siang ini.
Mereka masih bersabar. Tak apa, insyaallah siang nanti sudah di buka kembali jam malam. Yang mana akan dimanfaatkan warga untuk mencari bahan makanan untuk merayakan hari raya idul Fitri sederhana di rumah-rumah mereka. Dan semoga saja mereka masih bisa bershilaturrahmi walau hanya ke tetangga sebelah.
Begitu pula di dalam rumah Laila sendiri. Ia dan anak-anak sudah sibuk sejak shubuh tadi. Setelah sholat shubuh berjamaah dan di lanjutkan dengan membaca Alquran, mereka melanjutkan aktivitas dengan merapikan barang-barang, menyapu, mengepel dan mengelap semua barang-barang yang terlihat kusam atau berdebu.
" Kakak bisa naik ke atas itu ngga? Kayak nya di atas pintu dan jendela kita kotor banget." tanya Abia pada Yaseer sambil menunjuk ventilasi pintu dan rumahnya.
" Iya ya.... Kotor banget itu. Sudah lama sekali ternyata kita ngga bersih-bersih rumah yah.. " setuju Yaseer.
" Iya dulu kan baba yang rajin nyuruh bersih-bersih rumah. Yang bersihin nya juga Abang. Abang kan tinggi. Jadi cuma pakai kursi aja udah sampe.. " Kenang Haniya yang terbiasa diam dirumah.
" Kalo kakak sampe ga?". Pertanyaan menohok buat Yaseer.
" Woo... Ya bisa lah .. ". Sewotnya tak terima.
" Pake apa?" tanya Abia lagi. Ngetes apa nguji nih anak..
" Tuh... kan ada sapu buat bersihin langit-langit..." Tunjuk Yasser pada sapu dengan gagang yang sangat panjang yang tersandar di pojokan rumah tamu.
" Ishh.... Jangan pake sapu. Nanti debunya malah beterbangan.... " Haniya tak setuju.
" Abang biasanya pake lap basah. Di lap gitu debu nya. Biar ga beterbangan nanti malah ngotorin yang lain.... " Jabar nya.
" Owh...gitu.. Ya udah akak yang ambilin lap nya ya.." Titah Yaseer pada Haniya sambil menaik turunkan alisnya.
" Ish kamu nih... Akak lagi ngepel kamar. Ga liat kamu apa yang akak pegang!". Haniya sewot sambil nunjukkan gagang pel nya.
" Ya Minta tolong sih kak. Akak sekalian mau bilas itu kan. Jadi sekalian ambilin lap nya hehe... " pinta nya cengengesan.
" Cih... Yaudah bentar...!!!" Kesal nya. Haniya berjalan dengan sedikit kesusahan membawa ember dan pel an di setiap tangan nya.
Mereka terus bekerja sama merapikan semua nya. Supaya besok saat Ied, mereka tinggal sholat saja dan bersantai. Tidak malu-maluin dengan rumah yang kotor dan berantakan.
Para anak-anak sibuk beberes dan bebersih. Sedangkan ummi menyiapkan suguhan untuk meramaikan suasana. Tepung yang di bawa Yaseer kemarin, diolah nya menjadi beberapa jenis kue kering dan roti. Tambahannya nnti akan ia cari lagi setelah jam malam berakhir.
Aroma sedap merebak hingga keruang depan. Membuat hidung yang menghirupnya mengirim sinyal pada otak, di otak diproses menjadi kata " aroma makanan dan lapar" dan melanjutkan sinyal pada usus di perut untuk bergetar keroncongan. Tangan respon mengusap perut. Dan mulut pun mengeluarkan suaranya.
" Hmmmm.... Aromanya... jadi lapar, perut ku udah demo ini.." respon Yaseer paling cepat.
" Sabar ...sabar...sabar...ini ujian.." celetuk Abia akan tingkah kakaknya.
Haniya yang mendengarnya jadi ikut tertawa. Ia masih sibuk mengepel kamar - kamar. 3 kamar sudah bersih. Sekarang tinggal ruang tamu dan dapur. Rasanya sudah haus sekali.
*****
" Ummi bikin apa, wanginya sampe ke depan... ". Tanya Haniya saat selesai mengepel dan akan membuang air nya ke kamar mandi dapur.
Ummi menoleh pada Haniya sejenak.
" Oh ini, ummi bikin maamoul isi kurma. Kmrn Yaseer bawa kurma banyak. Jadi bisa kita manfaatkan supaya tidak bosan." Terang ummi sambil memindahkan hasil kue yang sudah matang ke dalam wadah supaya cepat dingin.
" Wah... jadi kita lebaran makan kue. Alhamdulillah...." Serunya riang.
Ummi hanya tersenyum penuh syukur atas apa yang sudah di dapat. Mudah-mudahan rezeki Allah selalu menghampiri keluarganya dan keluarga lain sekitarnya.
" Boleh aku bantu mi?". Pinta Haniya selesai membuang air pel dan mencuci tangannya bersih.
" Ini, akak tolong masukkan selai kurma ini ke adonan ini ya. begini caranya.." Raha ummi nya sambil memberi contoh.
Haniya mengangguk paham. tidak sulit. (Mungkin kalau di Indonesia seperti membuat nastar hehe..)
Mereka hanya membuat sedikit saja. 3 loyang sedang mikrowafe. Tidak ketinggalan juga kue semolina dan mungkin besok akan membuat kunafa juga. Sungguh makanan khas hari raya yang wajib ada di meja.
****
Gema takbir sudah berkumandang dari selepas Maghrib tadi. Syukurnya jam malam tidak di berlakukan malam ini karena menghormati hari raya Ied. Masjid dan rumah-rumah terlihat ramai, orang-orang keluar masuk bertakbir bersama di dalam masjid.
Laila, Haniya dan Abia pun tak ketinggalan bertakbir di rumah selepas sholat Maghrib berjamaah. Menghayati kalimat takbir yang betul-betul menggetarkan hati mereka.
Seiring takbir yang berkumandang, tanpa dirasa lelehan airmata membasahi pipi. Bukan kesedihan. Tapi rasa kecilnya hamba akan Rabb nya. Akan Keagungan Allah semesta alam yang mengatur semua dengan Rahman dan Rahimnya.
" Ummi.. besok pagi kita sholat di masjid atau di lapangan di dekat sekolah baba?" Tanya Haniya selesai bertakbir.
" Ummi juga belum tau. Nanti kita tunggu kabar dari Yaseer ya. Semoga di perbolehkan sholat Ied". Jawab ummi.
" Ummi, lebaran kita sekarang ini sepi banget ya. Ga ada baba, Abang juga belum pulang-pulang...." lirih Abia sedih.
" Iya ummi. Abang kenapa belum pulang-pulang ya mi? Apa Abang baik-baik aja disana? Hiks..." Haniya tak kuasa menahan kesedihannya lagi.
Di tinggal baba nya dan juga Abang nya, sangat terasa di kala hari berkumpul keluarga seperti saat ini. Di setiap ucapan takbir, seakan dihadirkan kenangan demi kenangan kebersamaan mereka dengan keluarga.
Tangisan Haniya menular pada Abia dan juga Ummi. Terasa sekali perbedaannya. Kepergian yang tiba-tiba dan berdekatan seakan merebut kebahagiaan mereka.
" Kita doakan yang terbaik untuk baba dan Abang ya. Semoga saja Abang besok bisa pulang dan kita bisa berkumpul lagi. "
" Walau tanpa baba, kita harus tetap tegar dan semangat menjalani hari-hari kita. memang akan terasa berat, tapi jika kita ikhlas, Insya Allah pertolongan Allah akan selalu ada." Papar ummi pada kedua anak gadisnya.
Senyum lembut yang terbentuk di bibir umminya adalah salah satu ketenangan bagi Haniya dan Abia. Mereka merasa masih baik-baik saja selama masih ada ummi bersama mereka. Ntahlah apa yang akan terjadi jika umminya tiba-tiba pergi. Haniya seketika memeluk umminya merasa takut hal itu terjadi.
" Kenapa sayang?". Heran ummi nya.
" Ummi jangan tinggalin kami ya. Kami ga tau harus bagaimana kalo ummi pergi. Rasanya....a-akupun gak..sanggup..kalo gak...ada ummi... Hiks..." Sesak sekali dada haniya walau hanya membayangkannya saja.
Abia pun turut memeluk umminya ikut menangis. Mereka bertiga saling berpelukan saling menguatkan satu sama lain.
" Weh ada apanih kok peluk-pekukan tapi sambil nangis... ?" komen Yaseer di depan mereka bertiga.
" Apalah kakak ini. Kami lagi sedih-sedih malah di tanya-tanya". Jawab Abia terusik momen sedihnya.
" Lho lagi sedih kenapa?" heran nya.
" Lebaran sekarang udah ga ada baba sama Abang... !." Jawab Abia polos saja sambil menyeka ingusnya dengan bajunya.
" Iuuh... Jorok ih dek. Masak pake baju.. ". Celetuk Yaseer atas tingkah Abia. Ia hanya mengalihkan kesedihan itu agar tidak berlarut.
Ia pun sebenarnya merasa sedih. Ia sudah nangis Bombay tadi saat takbiran dimasjid. Sekarang ia lah laki-laki yang ada di rumah nya. Dan akan sebisa mungkin menggantikan peran baba dan abangnya.
Kepergian baba dan Abang nya, seolah mewarisi tanggungjawab di pundaknya. Walau ia slengean dan banyak tingkah random. Tapi tau bahwa tanggung jawab laki-laki sangat besar dan berat.
" Kamu udah ketemu malaikat nya dek?". Tanya Yaseer random... tuh kan..
" Malaikat apaan?" tanya Abia jadi bingung sambil mengerutkan alisnya.
" Lha kamu kan puasanya full. Trus minta ketemu malaikat. Udah ketemunya?". (Apa pula yaseer nih.)
" Memang kita bisa ketemu malaikat mi?" tanya Abia pada umminya. (nah loh kok jadi nanya dia)
" Tid-..
" Ya bisalah... Tapi nanti kalo kita mau mati..!". Sela Yaseer cepat.
" Ih aku belum mau mati. Masih mau main dulu. Mau nemenin ummi sampe aku gede.." Abia terisak lagi. Ummi sampai geleng-geleng kepala.
" Kakak kok bicaranya begitu..?" tegur ummi. Yaseer nyengir saja.
" Ya kamu minta ketemu malaikat mau ngapain sih...?" tanya Yaseer heran. Permintaan nya kok nyeremin.
" Aku mau titip salam buat baba. Trus minta Abang suruh pulang." jawabnya polos aja. Namanya anak-anak yah. Apa yang dipikirkan di cetuskan saja.
" Berdoa aja yang banyak adeek..... Plak" Saran Yasser menyerah sambil tepok jidat. (hadiah macam apa itu...ckckck..)
****
Hari raya telah tiba. Sejak shubuh semua sudah bersiap-siap dengan autfit " baru" mereka.
Haniya dengan gamis coksu mix hitam dan jilbab hitam, Abia dengan potongan celana kulot coklat atasan Tunik pich dengan jilbab dan cardigan hitam. Ummi dengan abaya krem dominasi hitam dan jilbab baru hitam. Dan Yaseer Koko gamis putih.
Hampir semua hitam..ya karena warna itu yang tidak mudah kotor dan awet. Walau bagimu ini sedikit ga nyambung. Tapi bagus juga di kulit putih mereka.
Gema takbir bersautan. Sholat Ied diperbolehkan di masjid. Dan mereka berbondong-bondong mendatangi masjid. Hari raya kemenangan membawa harapan baru. Semoga kehidupan kedepan semakin baik.
Sholat Ied dilakukan dengan khusuk dan khidmat. Dilantunkan ayat suci Alquran dengan suara merdu. Berharap Allah akan menjawab doa dan harapan mereka akan penjajahan. Dan Kemenangan bersama mereka.
Selesai sholat, mereka mendengarkan khutbah dan berakhir bersalam-salaman. Saling memaafkan dan saling mendoakan kebaikan.
Ditengah keharuan hari raya Ied.
Duaarrrr...
Allahu Akbar....!!!!!
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.