Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam di desa tidak pernah benar-benar gelap. Bulan purnama menggantung rendah, menerangi halaman belakang gubuk yang penuh dengan tumpukan kayu bakar, alat-alat berkarat, dan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari diterpa angin.
Raka duduk bersila di atas tanah kering. Debu halus menempel di kulitnya yang berkeringat. Di pangkuannya, gulungan kulit tua itu terbuka lebar. Teksturnya kasar, berbau apek campuran darah kering dan ramuan herbal yang sudah berusia puluhan tahun.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma asap kayu dari perapian Laras di dalam gubuk. Suara gesekan jarum benang terdengar samar-samar dari balik dinding bambu yang tipis.
Raka menatap tulisan kasar di halaman pertama gulungan itu. Tinta hitamnya pudar, tapi goresannya tajam, seolah-olah ditulis dengan amarah atau urgensi yang tinggi:
"Jangan percaya bayangan. Tipu dia. Kalau musuh lihat bayanganmu, bunuh dia sebelum dia sadar itu palsu."
Tidak ada filosofi. Tidak ada puisi tentang keseimbangan cahaya dan kegelapan. Hanya instruksi brutal untuk bertahan hidup. Si Tua tidak mengajarkan seni. Dia mengajarkan pembunuhan.
Raka menghela napas panjang. Uap putih keluar dari mulutnya, menghilang cepat di udara dingin. Dia menutup mata. Mencoba merasakan energi di dalam tubuhnya seperti yang diajarkan Si Tua saat lari keliling gunung selama dua minggu terakhir.
Energi itu terasa berbeda sekarang. Dulu, energinya kacau, liar, seperti api yang membakar jerami kering. Sekarang, setelah latihan napas dan jatuh dari tebing, energinya lebih padat. Lebih berat. Mengalir lambat di pembuluh darahnya, seperti aliran lumpur kental.
[!] Deteksi aktivitas energi internal: Level 3.9.
[!] Pola aliran: Stabil.
[!] Kesiapan host untuk manipulasi eksternal: Rendah.
Raka mengabaikan notifikasi terakhir itu. Dia membuka mata. Menatap bayangannya sendiri yang memanjang di tanah karena cahaya bulan. Bayangan itu diam. Pasif. Hanya sebuah proyeksi optik yang tidak memiliki massa.
"Coba gerakkan," gumam Raka pelan. Suaranya serak karena tenggorokannya kering.
Dia memusatkan pikiran pada bayangan itu. Memaksa energinya mengalir keluar dari pusat dada, menyusuri lengan, dan menembus telapak tangan yang menempel di tanah. Tujuannya sederhana: membuat bayangan itu bergetar. Atau setidaknya, terlepas sedikit dari kakinya.
Hening.
Hanya suara jangkrik di semak-semak dan desau angin.
Bayangan itu tetap diam. Menempel mati di kakinya seperti noda tinta yang sudah kering.
Raka mengerutkan kening. Dia mencoba lagi. Kali ini dengan lebih keras. Otot-otot perutnya menegang. Urat-urat di lehernya menonjol. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, menetes ke atas gulungan kulit itu.
[!] Peringatan: Tekanan energi meningkat.
[!] Efisiensi transfer: 0%.
[!] Deteksi pemborosan energi: Tinggi.
Gagal.
Raka mengulanginya. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali.
Tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena ketegangan otot yang berlebihan. Tulang rusuk kirinya—yang masih retak halus sejak latihan jatuh di tebing lima hari lalu—mulai nyeri tajam setiap kali dia menahan napas terlalu lama untuk memfokuskan energi. Rasa sakit itu seperti duri yang menusuk-nusuk dari dalam.
[!] Deteksi cedera lama: Nyeri meningkat.
[!] Saran: Hentikan latihan untuk mencegah kerusakan jaringan permanen.
Raka mengabaikan peringatan itu. Matanya menyipit. Giginya bergemeretak.
"Diam," desisnya pada rasa sakit itu. "Aku yang mengendalikan tubuhku. Bukan kau."
Dia memaksa energinya keluar. Bukan dengan halus seperti aliran air, tapi dengan kasar. Seperti mendobrak pintu kayu yang terkunci. Dia membayangkan energinya sebagai palu godam, menghantam batas antara dirinya dan bayangannya.
Tesss.
Suara halus terdengar. Sangat halus. Seperti kain sutra yang disobek perlahan di ruangan yang sunyi.
Di ujung kakinya, bayangan itu bergetar. Sedikit. Hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Tapi Raka merasakannya. Ada koneksi tipis, rapuh, namun nyata, antara dirinya dan kegelapan di tanah itu. Rasanya aneh. Seperti menyentuh sesuatu yang dingin dan basah sekaligus.
Senyum tipis muncul di sudut bibir Raka. Bukan senyum kemenangan besar. Tapi senyum kepuasan kecil, pahit, karena akhirnya menemukan celah di tembok tebal itu.
Namun, euforia itu hanya berlangsung sepersekian detik.
Tiba-tiba, rasa sakit meledak di dadanya.
Energi yang dipaksakan keluar dengan kasar itu kehilangan kendali. Alih-alih membentuk bayangan, energi itu berbalik menyerang saluran napasnya sendiri. Paru-parunya terasa seperti diremas tangan raksasa.
Raka terbatuk keras. Tubuhnya oleng. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, menetes ke atas gulungan kulit tua itu, menciptakan noda merah cerah di atas tulisan hitam pudar.
Dia terjatuh telentang ke tanah berdebu. Napasnya tersengal-sengal, dangkal, dan menyakitkan. Pandangannya kabur. Bintang-bintang di langit berputar pelan.
[!] Status: Gagal.
[!] Cedera internal minor: Pembuluh kapiler paru pecah.
[!] Efisiensi teknik: 2%.
[!] Kerugian energi: 15%.
Raka tertawa kecil. Tertawa sambil kesakitan, sambil membersihkan darah di dagunya dengan punggung tangan.
Dua persen.
Itu semua yang dia dapatkan setelah satu jam menyiksa dirinya sendiri. Satu jam menahan napas, memaksa otot, dan mengabaikan rasa sakit tulang rusuknya.
Dua persen untuk menggerakkan bayangan sebesar kelingking.
"Sialan," gumamnya. Tapi tidak ada kemarahan di suaranya. Hanya penerimaan dingin terhadap realitas.
Pintu gubuk terbuka. Cahaya kuning dari lampu minyak menyembur keluar, menerangi sosok Laras yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar. Tidak ada kecemasan berlebihan di matanya. Dia sudah mendengar suara batuk Raka. Dia sudah tahu apa artinya.
Laras berjalan mendekat, langkahnya tenang di atas tanah berkerikil. Di tangannya, ada mangkuk kayu kecil yang masih mengepul.
Dia tidak bertanya "Apakah kamu baik-baik saja?" atau "Sudah berhasil?"
Dia hanya meletakkan mangkuk itu di samping kepala Raka. Isinya air rebusan akar pahit berwarna cokelat pekat. Baunya menyengat, seperti tanah basah dicampur obat kuat.
"Minum," kata Laras singkat. Suaranya datar, tanpa nada.
Raka menegaknya. Rasanya pahit sekali. Membuat lidahnya mati rasa seketika, tapi panasnya menjalar cepat ke dada, meredakan nyeri akibat energi yang kacau dan pembuluh darah yang pecah. Batuknya perlahan reda.
"Berhasil?" tanya Laras. Matanya menatap bayangan Raka yang kini sudah diam kembali di tanah, seolah-olah tidak pernah bergerak sama sekali.
"Belum," jawab Raka serak. Dia berusaha duduk, meski tubuhnya pegal semua dan tulang rusuknya masih berdenyut nyeri. "Cuma dua persen."
Laras mendengus. Suara yang khas. Dia duduk di samping Raka, mengambil baju Raka yang tergeletak di dekat tumpukan kayu. Baju itu sobek di bagian bahu, bekas gesekan dengan tanah saat dia terjatuh tadi.
Laras mengeluarkan jarum dan benang dari saku bajunya. Mulai menjahit robekan itu dengan gerakan cepat dan presisi. Jarumnya masuk-keluar kain dengan ritme yang menenangkan.
"Dua persen lebih baik dari nol," katanya tanpa menoleh, fokus pada jahitannya. "Tapi kalau kamu mati karena memaksakan diri malam ini, aku yang repot nyerahin mayatmu ke orang kampung. Mereka pasti bakal nanyain macem-macem. Aku malas jelasin."
Raka menatap punggung Laras. Gadis itu tidak sedang memuji. Dia sedang mengeluh. Dia sedang menghitung beban kerja tambahan jika Raka mati.
Tapi jarinya yang menjahit baju Raka dengan hati-hati, memastikan setiap tusukan rapi dan kuat, mengatakan hal lain. Dia peduli. Dengan caranya sendiri yang kasar, pragmatis, dan tanpa drama.
Raka tidak menjawab. Dia tidak perlu. Kata-kata terima kasih akan terasa murahan di sini.
Dia hanya mengambil gulungan kulit itu lagi. Membersihkan noda darahnya dengan ujung baju. Membuka halaman kedua.
Kosong.
Halaman ketiga.
Kosong.
Hanya ada gambar sketsa kasar di halaman keempat: Seorang pria yang bayangannya terpisah dari tubuhnya, menusuk leher musuh dari belakang. Tidak ada penjelasan cara melakukannya. Hanya hasil akhir yang diinginkan.
Raka menatap sketsa itu. Lama. Otaknya mulai menganalisis posisi kaki, sudut tangan, dan aliran energi yang mungkin dibutuhkan.
Besok, dia akan mencoba lagi.
Dan besok, rasa sakitnya mungkin akan lebih hebat. Mungkin tulangnya akan retak lebih parah. Mungkin darahnya akan lebih banyak.
Tapi dia akan terus mencoba. Sampai dua persen itu menjadi lima. Sepuluh. Seratus.
Api unggun di dalam gubuk berderak, mengirimkan percikan api kecil ke udara. Angin malam semakin dingin, menusuk tulang.
Raka memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Tapi untuk mengingat rasa sakit itu. Untuk menyimpannya di memori ototnya. Agar besok, dia bisa mengendalikannya. Agar besok, dia tidak lagi menjadi korban dari tubuhnya sendiri.
Di kejauhan, anjing desa menggonggong sekali. Lalu hening kembali.
Desa itu tidur. Tapi Raka tidak.
Bersambung.