NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Sinar matahari pagi telah menerobos masuk melalui jendela kamar hotel, menyinari kamar yang menjadi saksi bisu kehancuran hidup seorag gadis. Ananda perlahan terbangun. Tubuhnya terasa luar biasa remuk, menyisakan rasa kaku dan nyeri yang teramat sangat akibat gempuran bertubi-tubi yang diterimanya semalam. Di sampingnya, Tristan masih terlelap dengan tenang, mendengkur halus seolah tidak terjadi apa pun, masih berada di bawah kendali sisa-sisa obat dan alkohol.

Ananda menoleh, menatap wajah pria yang tertidur itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa benci yang mendalam. Dada Ananda sesak. Air matanya kembali berlinang saat menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkannya.

Pria di sampingnya ini... adalah pria yang sama yang sempat ia kagumi secara diam-diam sejak ia masih duduk di bangku SMU.

Memori masa lalunya mulai berputar kembali di benaknya. Pertemuan pertama mereka terjadi begitu singkat di sebuah minimarket, tak jauh dari tempat Ananda bekerja sebagai guru les privat anak SD. Kala itu, Ananda adalah siswi berprestasi yang ceria dan pantang menyerah. Meski hidup dalam himpitan ekonomi yang serba pas-pasan, ia rela menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk bekerja demi membantu ibunya.

Siang itu, saat sedang mengantri untuk membeli sebotol air mineral, perhatian Ananda teralihkan oleh sosok remaja laki-laki yang gagah dan tampan di sampingnya. Pria itu memakai jas almamater Universitas Airlangga, salah satu universitas elit dan paling bergengsi di negeri ini. Sejak detik itu, Ananda menanam mimpi besar. Ia bertekad akan belajar mati-matian demi menembus kampus tersebut lewat jalur beasiswa, dengan harapan bisa kembali melihat "pangeran" yang dikaguminya.

Namun, kenyataan justru menamparnya dengan begitu kejam. Ketika mimpi itu berhasil ia raih dengan cucuran keringat dan air mata, kampus impiannya justru berubah menjadi neraka. Pria yang selama ini ia bayangkan seperti pangeran dalam dongeng, rupanya tak lebih dari seekor monster berwujud manusia.

"Aku menyesal... aku sangat menyesal," bisik Ananda lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Enggan berlama-lama di dalam ruangan yang mencekam itu, Ananda memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dengan perlahan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari tempat tidur. Setiap pergerakan membuat area intinya terasa sangat perih dan sakit, namun ia menguatkan hatinya.

Ia memunguti selembar demi selembar pakaiannya yang robek dan berceceran di atas lantai dingin. Sambil menahan tangis yang siap pecah kembali, Ananda memakai pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat. Setelah memastikan penampilannya cukup tertutup, tanpa menoleh lagi ke belakang, ia melangkah cepat keluar dari kamar, meninggalkan Tristan yang masih tertidur, dan bersumpah dalam hati untuk mengubur malam jahanam ini dalam-dalam.

Sinar matahari yang semakin meninggi akhirnya memaksa Tristan membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pusing luar biasa, berdenyut-denyut seperti dihantam benda keras. Sambil meringis, ia menepuk-nepuk dahinya dengan kasar, mencoba mengusir rasa pening yang mendera. Namun, seiring meredanya rasa pusing, kepingan ingatan malam tadi mendadak berputar kembali di kepalanya bagaikan sebuah kaset yang rusak.

Tristan terhenyak. Kesadarannya pulih seketika.

"Aaarrkkhhh... Dasar brengsek! Kenapa aku malah melakukan itu terhadapnya?!" umpat Tristan pada dirinya sendiri. Suaranya frustrasi. "Itik... Maafkan aku... Aku benar-benar di luar kendali!"

Tristan menoleh cepat ke samping tempat tidur. Namun, sosok gadis yang kerap ia juluki 'si itik buruk rupa' itu sudah menghilang, hanya menyisakan ruang kosong yang dingin. Dengan tangan gemetar, Tristan menyibakkan selimut tebalnya. Detik itu juga, dadanya seperti dihantam godam melihat noda darah merah yang mengering di atas seprei putih.

Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghujam jantungnya. Tristan mengepalkan tangannya dan memukul kasur berulang kali untuk meluapkan kekesalannya.

"Bedebah! Ini pasti ulah Andre dan Indra. Mereka benar-benar tidak takut mati di tanganku!" geramnya dengan rahang mengeras.

Tristan segera beranjak dari tempat tidur. Dengan amarah yang membakar dada, ia bergegas membersihkan diri dan keluar dari hotel. Fokusnya hanya satu, yakni menyeret dua teman laknatnya itu dan membuat mereka membayar apa yang telah terjadi malam ini.

*

*

Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil yang sunyi, Ananda melangkah masuk dengan tubuh gemetar dan jiwa yang hampa. Di sudut ruangan, ibunya, Bu Sharmila, sedang sibuk menjahit baju pesanan Ibu RT. Mendengar pintu terbuka, Bu Mila langsung menoleh. Wajah cemasnya yang terjaga semalaman seketika berubah panik.

"Ya ampun, Nduk! Kamu ke mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Mila sambil tergesa-gesa beranjak dari tempat duduknya.

Pertanyaan itu menjadi pemantik runtuhnya pertahanan Ananda. Tanpa aba-aba, tangisnya pecah. Ia langsung berhamburan memeluk erat tubuh ibunya, menumpahkan segala ketakutan yang sejak tadi ia tahan.

"Bu... Ananda ingin pergi dari sini. Nanda tidak mau kuliah di sana lagi, Bu!" rintih Ananda di sela tangis histerisnya.

Bu Mila terkejut bukan main. Ia mematung, seolah tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut putri semata wayangnya yang terkenal berprestasi dan tangguh itu.

"Kamu yakin, Nduk, dengan keputusanmu itu?" tanya Bu Mila dengan suara bergetar.

Ananda mengangguk kuat dalam dekapannya. "Yakin, Bu. Apakah... apakah program transmigrasi dari pemerintah itu masih bisa kita ikuti?"

Mendengar permintaan yang begitu ekstrem, Bu Mila perlahan melepaskan pelukannya dan merangkul kedua bahu putrinya. Ia menatap lekat-lekat wajah Ananda yang pucat pasi. "Nduk, coba jelaskan sama Ibu. Apa sebenarnya yang terjadi padamu?"

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Ananda akhirnya menceritakan seluruh neraka yang dialaminya. Tentang perundungan, taruhan, hingga malam jebakan saat ia bekerja paruh waktu di salah satu kafe dekat kampus. Mendengar penuturan putrinya, Bu Mila seketika syok. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Ya ampun, Nduk... Kenapa selama ini kamu diam saja? Jadi selama satu bulan ini kamu selalu dirundung oleh teman-temanmu?" Bu Mila menangis, hatinya tersayat. "Nduk, apa Ibu bilang tempo hari? Kamu tidak cocok kuliah di sana. Mending kamu kuliah di tempatnya Febi, Ibu masih punya tabungan untuk biaya masuk mu!"

"Tidak, Bu! Aku sudah tidak mau tinggal di kota ini lagi. Mereka semua jahat, dan semalam... semalam aku telah diperkosa, Bu!" jerit Ananda lirih, sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya yang basah ke dada ibunya.

Tangis Bu Mila semakin pecah menjerit kan kepedihan. Kakinya lemas, ia hampir saja pingsan mendengar kenyataan pahit bahwa kesucian putrinya telah direnggut paksa. Ingin rasanya ia melapor ke pihak berwajib, namun ia sadar akan tembok tebal kediktatoran yang menghadang. Tristan Bratadikara adalah putra dari pengusaha terkaya sekaligus pemilik yayasan kampus itu. Melaporkannya ke polisi sama saja dengan mengantar nyawa ke liang lahat. Mereka tidak akan pernah menang.

Dengan berat hati namun demi keselamatan mental putrinya, Bu Mila akhirnya menyetujui permintaan Ananda.

Hari itu juga, dengan sisa keberanian yang ada, Ananda resmi mengundurkan diri dari Universitas Airlangga, kampus megah yang ironisnya merupakan milik keluarga Tristan. Tanpa membuang waktu, Ananda dan ibunya segera mengemas barang-barang dan mengurus administrasi kepindahan mereka secepat mungkin. Mereka memilih lari sejauh mungkin, mengejar jadwal program transmigrasi ke pulau Sumatra, demi mengubur masa lalu dan memulai hidup yang baru.

Bersambung...

1
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!