NovelToon NovelToon
Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Showbiz / Reinkarnasi
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: ILikeAll9

Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.

Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.

Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.

Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C012: Hari Paskah Pesta Makan Malam Bersama

...Selamat Baca...

Tanggal, 06 April pukul 15.30

Lokasi: Penjara

Suasana di ruang kunjungan penjara terasa dingin dan kaku, seolah menyatu dengan udara musim yang mulai berubah.

Di seberang meja kaca pembatas, Henry Blackwood duduk tegak dengan berkas tebal di tangannya, menatap tajam pada sosok pria paruh baya yang kini sudah kehilangan segalanya—paman Ethan, Allen Lucifer.

"Pengadilan sudah memutuskan, Tuan. Anda wajib memberikan ganti rugi sebagai pertanggungjawaban atas tindakan Anda sebelumnya," ujar Henry datar namun tegas.

"Ini adalah kesepakatan akhir. Tanda tangani, dan serahkan haknya kepada keponakan Anda, atas nama negara Aurelia."

Pria itu mendengus kesal, rahangnya mengeras. Dengan tangan gemetar karena menahan amarah dan keengganan, ia akhirnya membubuhkan tanda tangan di atas kertas hukum itu.

Sebuah angka bernilai 775 Juta Aurelia resmi berpindah tangan, meski hati pemilik sebelumnya penuh dengan kebencian.

***

Tanggal, 06 April pukul 16.30

Lokasi: Restoran

Sementara itu, suasana di ibu kota Adelia terasa jauh lebih hangat meski angin musim masih berhembus. Tanggal 6 April, hari Paskah tiba. Namun perayaan kali ini jauh dari kata mewah.

Ethan membawa Noah dan para trainee makan bersama di sebuah restoran sederhana, tempat yang nyaman namun tetap ramah di kantong.

Ia mengeluarkan sisa dana darurat sebesar 3,7 Juta Aurelia yang tersisa di rekening perusahaan hanya untuk membelikan makanan layak bagi mereka yang sudah bekerja keras.

"Ini bukan sekadar makan-makan," kata Ethan di tengah keramaian, wajahnya tampak tenang, matanya menyiratkan ketegasan yang diselimuti senyum hangat.

"Anggap ini sebagai perayaan kecil... upacara kebangkitan kita. Lucifer sudah bangkit, dan kita akan terus maju."

Para trainee tertawa riang, berceloteh tentang mimpi mereka, menikmati hidangan dengan lahap. Mereka tidak tahu apa-apa. Di hadapan mereka, Ethan adalah pemimpin yang sempurna—dingin, tenang, dan selalu punya rencana.

Namun, di balik senyum ramah dan obrolan santainya, pikiran Ethan justru sedang berputar kencang bagai badai.

'3,7 juta... ini hanya cukup untuk bertahan beberapa hari saja,' batinnya menganalisis tanpa jeda.

'Biaya sewa apartemen, gaji karyawan, honor mentor, perawatan trainee, kebutuhan latihan... semuanya butuh uang.'

'Debut masih setahun lagi ke depan, tapi arus kas kami seperti lubang tanpa dasar. Bagaimana caraku menutupi semua ini sampai saatnya tiba?'

Keringat dingin hampir menetes, tapi ia menyimpannya rapat-rapat di dalam dada. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan. Tidak di depan mereka.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ethan melirik layar, nama Pak Henry terpampang di sana.

"Maaf, aku ke luar sebentar," pamitnya pada yang lain dengan nada santai.

Ethan berjalan keluar restoran, mencari tempat yang lebih sepi. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya. Henry Blackwood turun dengan wajah profesional, lalu mengangguk hormat.

"Tuan Ethan, kita perlu bicara berdua. Secara pribadi. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui soal hasil tuntutan hukum..."

Angin sore berhembus cukup kencang, menusuk kulit meski matahari masih bersinar terang. Suara tawa dari dalam restoran samar terdengar, kontras sekali dengan suasana hening dan tegang di antara mereka berdua.

Ethan menawarkan Henry, pengacara profesional itu duduk, dengan sopan menatap Henry dengan tatapan menunggu yang sabar dan hormat.

"Ada apa, Pak Henry? Mengapa tiba-tiba datang?" tanya Ethan, suaranya tetap tenang meski hatinya mulai menduga-duga.

Henry tidak bertele-tele. Ia mengambil sebuah dokumen tebal dari tas kerjanya lalu menyerahkannya kepada Ethan.

"Proses hukum akhirnya selesai, Tuan Ethan. Saya baru saja datang dari penjara menemui paman Anda, Allan Lucifer."

Wajah Ethan sedikit berubah mendengar nama itu, namun ia tetap diam menyimak.

"Awalnya dia menolak keras, bahkan sampai detik terakhir dia masih enggan menyerahkan harta tersebut," lanjut Henry dengan nada datar.

"Tapi dengan bukti yang kuat dan keputusan pengadilan Aurelia, dia tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa menandatangani surat pernyataan ganti rugi ini."

Ethan membuka perlahan berkas itu. Matanya menyapu baris-baris tulisan hukum di sana, hingga akhirnya berhenti pada sebuah angka yang tertulis tebal di bagian bawah.

> 775.000.000 Aurelia

Jantung Ethan sejenak berhenti berdetak. Angka itu jauh lebih besar dari perkiraannya.

"Jadi... uang ini sudah masuk ke rekening perusahaan?" tanya Ethan memastikan, suaranya sedikit lebih rendah, berusaha menahan gejolak di dadanya.

"Sudah cair lima belas menit yang lalu, Tuan Ethan," jawab Henry singkat namun tegas.

"Ini adalah kompensasi resmi. Hak yang seharusnya sudah lama Anda miliki. Sekarang, kas perusahaan Anda tidak lagi kosong melompong."

Ethan menghela napas panjang, menatap langit kota Adelia yang biru. Beban berat yang tadi menghimpit dadanya seketika terangkat sebagian.

Uang sebanyak itu mungkin belum cukup untuk segalanya, tapi setidaknya... mereka punya napas baru. Mereka punya waktu untuk bertahan dan berkarya.

"Terima kasih, Pak Henry." ucap Ethan akhirnya, senyum tipis namun lega terukir di wajahnya. Senyum yang kali ini terasa lebih tulus daripada senyum pura-puranya tadi di dalam.

"Kewajiban saya, Tuan Ethan. Selamat, Lucifer Entertainment... kini benar-benar bangkit."

Ethan mengangguk dengan senyuman kecil, setelah itu Ethan mengajak Henry masuk untuk perayaan Lucifer Entertainment yang mulai bangkit.

Pada malam hari pukul 22.30 WAZ

Ethan belum pulang ke rumah, dia masih memikirkan untuk menutup lubang di perusahannya, tiba tiba ponselnya bergetar.

Ethan menoleh, ada nomor yang tertera dengan nama Arthur di ponselnya, Ethan bertanya tanya siapa itu. Karena dia tidak terlalu lengkap memiliki ingatan Ethan Asli.

Setelah ragu sejenak dengan ponsel yang kembali berdering dua kali, Ethan mengangkat telpon itu. Suara asing namun familiar terdengar di dalam sana.

"Halo?"

"Ethan, bagaimana kabarmu?"

"Baik baik saja, ada apa dan siapa?"

"Astaga?! Kamu tidak kenal sahabatmu sendiri?"

"..."

'Sahabat? Apakah ini sahabat Ethan Asli?'

"Sahabat?"

"Iya, aku sahabatmu teman masa kecilmu, kamu lupa?"

"Maaf aku tidak terlalu ingat."

"Kamu ada masalah? Aku akan datang dimana kamu?"

"Perusahaan."

Setelah itu Ethan mematikan ponselnya, pikirannya tetap kacau meski ada dana tambahan 775 juta Aurelia, dia masih kekurangan banyak dana.

Dan lubang perusahaan tidak tertutup sempurna, Ethan benar benar merasakan rasanya frustasi pada pekerjaan seperti orang dewasa.

"Jadi begini rasa bebannya? Apakah ini agar aku tidak memikirkan agar cepat dewasa?" Gumam Ethan, sambil mengurut keningnya.

"Haha... ternyata jadi orang dewasa itu sulit, mengapa dulu aku ingin cepat cepat dewasa? Aku terlalu berpikiran sempit... bagaimana kabar ibu dan ayah di dunia sana yah?" Bisiknya masih terus mengurut keningnya, dia sedikit lelah memikirkan cara untuk menutup lubang perusahaan.

Saat sedang bingung bingungnya, suara pintu kantornya terbuka. Ethan mendongak, yang dia lihat seorang pemuda tampan, seumuran dirinya datang dengan pakaian formal.

Ethan mengkerutkan kening, tidak ingat siapa itu. Yang Ethan ingat Trainee seumuran dengannya adalah Leo dari negara Levia, dan punya rambut khas.

Tapi pemuda di depannya ini, sudah tampan, rambutnya hitam, matanya hitam, tinggi, dan cara berpakaiannya rapi.

***

Seorang pemuda dengan pakaian formal berdiri di depan gerbang rumah Ethan, dia mendongak melihat rumah itu yang masih gelap dan belum di hidupkan dengan sebuah lampu.

Sangat gelap dan sepi, tangannya mengenggam ponsel menelpon seseorang. Nama nomor yang tertera adalah Ethan, sambil menunggu panggilannya di angkat dia masih tetap memandang rumah besar itu.

Saat telponnya di angkat, pemuda itu tersenyum tipis mendengar suara sahabatnya yang sudah lama tidak dia temui. Ethan, dia adalah sahabat masa kecilnya.

"Halo?" Suara jernih yang dia kenal terdengar, dari sebrang telpon.

Dengan senyum yang masih tertera, dia menjawab. "Ethan, Bagaimana kabarmu?" Dia bisa mendengar suara nafas Ethan yang pelan, dan dia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaannya.

"Baik-baik saja, ada apa dan siapa?" Tanya Ethan dari sebrang telpon dengan kebingungan yang jelas.

"Astaga?! Kamu tidak kenal sahabatmu sendiri?" Dia terkejut sejenak, karena Ethan tidak mengenalinya, suara di sebrang telpon terdiam lagi.

'Apakah dia ada masalah?' Tanya Arthur, khawatir. Dia adalah teman masa kecil Ethan, Arthur Lesson, berusia 18 tahun seusiaan Ethan, baru kembali dari luar negeri menjalankan study-nya.

"Sahabat?" Gumam Ethan, di sebrang telpon, wajah Arthur menjadi semakin khawatir dan ekpresinya menjadi berubah dalam sekejap.

"Iya, aku sahabatmu teman masa kecilmu, kamu lupa?" Arthur bertanya lagi, semakin cemas atas keadaan sahabatnya yang terdengar lelah dan tidak banyak bicara.

"Maaf, aku tidak terlalu ingat." Seperti disambar petir, Arthur merasa kecewa karena dilupakan oleh Ethan. Tapi dia juga mulai khawatir tentang Ethan yang terdengar lelah.

"Kamu ada masalah? Aku akan datang dimana kamu?" Tanya Arthur tergesa gesa, lalu bersiap naik mobil karena dia pastikan tidak ada di rumah.

"Perusahaan," kata Ethan, dan langsung mematikan telpon. Arthur menatap ponselnya sebentar, kalo dia ingat perusahaan Lucifer Entertainment itu sudah rusak parah beberapa bulan lalu.

Saat dia pulang kampung sebentar, dan kali ini dia pulang lagi setelah sudah lulus di sekolah negeri lain, jadi Arthur langsung menuju perusahan itu.

Saat tiba, dia mendengar gumaman di sebuah ruang kantor pribadi CEO Lucifer Entertainment. Setelah seseorang selesai menggerutu di dalam sana dia masuk.

Arthur melihat sosok Ethan yang jauh berbeda dari pertemuan terakhirnya setahun lalu, setahun lalu Ethan adalah pemuda ceria setahun kemudian saat ini, dia terlihat seperti orang dewasa yang frustasi.

Keadaannya lebih kacau dari yang ia bayangkan, dokumen berserakan, bekas minum, bekas makan sekali yang baru dibuka tersisa sedikit, di sofa ada bantal dan selimut. Dan pemuda di depannya mengenakan pakaian Formal juga, dan menyadari Ethan baru pulang dari sebuah pesta makan malam.

Acara paskah yang membawa keluarga, atau teman makan bersama. Saat pemuda itu mendongak, ada jejak kebingungan di wajah pemuda itu. Arthur mendekat, melihatnya lebih dekat.

"Ethan...." gumam Arthur pelan melihat sosok pemuda di depannya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!