Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Dipecat Kedua Kalinya
“Abaty dan Tante, menikah, ya,” ucap Hamzah. Anak kecil yang menurutku begitu cerdas karena di usianya yang masih begitu belia, ia bahkan sudah paham apa itu menikah. Ustaz Afwan lantas membekap mulut Hamzah. Kemudian mengangguk pelan kepadaku seolah segan.
Aku membalas anggukan Ustaz Afwan dengan perasaan campur aduk. Antara malu, dan rasa canggung. Hingga tiba-tiba … Ustaz Afwan menyampaikan sesuatu.
“Makan saja dengan Hamzah di sini. Saya, makan di ruang tengah saja,” ujarnya sambil berlalu pergi dari meja makan. Aku dan Hamzah saling tatap. Satu senyuman terbit dari bibir Hamzah saat menatapku. Kemudian, tawa kecilnya terdengar mendominasi ruangan.
“Abi ngambek,” becandanya sambil tertawa renyah. Aku membalas tawa itu dengan tersenyum padanya seraya menaruh satu telunjukku ke mulut. Memintanya agar diam.
Malam kini kembali datang. Aku duduk di sebuah ruangan yang belakangan selalu menjadi tempatku menghabiskan waktu bersama Hamzah. Hamzah tengah asyik belajar dengan worksheet saat ini. Tanpa terasa, hampir satu jam kami menghabiskan waktu bersama. Hingga tiba-tiba … muncul sebuah suara yang kukenal memanggilku berulang kali di balik pintu depan.
Aku bergegas menghampiri pintu tersebut. Ternyata, sosok di balik pintu itu adalah … Dokter Deva. Ia baru saja kembali dari rutinitas bekerjanya. Kulirik paper bag berukuran lumayan besar itu di tangannya. Tanpa aku bertanya, ia tiba-tiba memberikannya padaku.
“Apa ini, Dokter?” tanyaku seraya memeriksa isi di dalamnya.
“Coba kamu kenakan, ya. Saya mau lihat,” perintah dokter Deva padaku. Aku mengangguk cepat kemudian berlalu ke dalam kamar.
Di kamar, aku mencoba melihat isi paper bag itu. Kubentangkan sebuah pakaian berwarna hitam yang ternyata adalah gamis, lengkap dengan jilbab dan cadarnya. Senyum merekah di bibirku. Hatiku seolah di isi oleh sesuatu yang menyejukkan. Sebuah tangis haru muncul di balik pelupuk mataku ketika aku mengenakan pakaian tersebut.
“Ini … benarkah ini kamu Adelin?” tanyaku pada diriku di pantulan kaca itu. Aku menyeka air mata yang sedari tadi tumpah tanpa permisi.
Tiba-tiba, suara dokter Deva memanggil namaku kembali. Aku bergegas keluar dari kamarku. Tak sabar ingin memperlihatkan gamis pemberiannya ini. Saat kakiku melangkah keluar, tiba-tiba di waktu yang sama ustaz Afwan baru saja masuk ke dalam rumah.
“Maa syaa Allah … cantik sekali,” puji Dokter Deva padaku seraya memelukku erat.
Kulihat dengan ujung mataku, ustaz Afwan mematung di pintu masuk. Hingga tanpa sadar, sepersekian detik mata kami bertamu. Satu … dua … tiga … empat … lima.
“Astaghfirullah.” Aku lantas mengalihkan pandanganku. Begitu juga dengan ustaz Afwan yang kini justru terlihat canggung dan berjalan cepat menuju kamarnya.
“Kamu kenapa istigfar?” tanya Dokter Deva heran seraya melihat ke arah pintu masuk. Untungnya, ustaz Afwan sudah berlalu pergi menuju kamarnya.
“Nggak, kok, Dok,” jawabku kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu. Pergi menuju kamarku kembali.
Di dalam kamar, aku mulai merenungi semua yang terjadi di hari ini. Dari mulai tingkah laku Hamzah yang suka sekali mencari celah agar aku dan ustaz Afwan bersatu. Hingga kejadian malam ini, di mana ustaz Afwan tak sengaja menatapku lebih dari tiga detik. Aku menunduk pasrah. Sekaligus menatap sosok diriku dengan cadar di pantulan kaca itu.
“Bahkan seorang ustaz pun, bisa goyah karenamu Adelin,” ucapku seraya memukul-mukul kepalaku pelan.
“Apa … aku mengundurkan diri saja, ya?” bisikku seraya menyimpan badai di dalam hati.
“Aku tahu, pekerjaan ini amat kubutuhkan. Tapi, bagaimana dengan kondisi yang akan di hadapi oleh ustaz Afwan setiap harinya? Aku tidak bisa terus di sini bukan?” gumamku seraya menahan gejolak badai yang sebentar lagi akan mengundang hujan.
“Ya Allah. Berikan jalan yang terbaik dari-Mu. Agar aku bisa tetap berpenghasilan dan memberi Ibu uang bulanan. Tanpa harus menggoyahkan iman seseorang,” doaku pada Allah di malam hari.
Aku menyudahi doaku. Namun, saat aku hendak berlalu tidur, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan Hamzah di dalam kamar. Aku lantas berjalan menuju kamarnya. Membiarkan cadar ini tetap menutupi wajahku. Saat aku hendak menuju kamar Hamzah, tiba-tiba …
“Aduh!” Tanpa sadar, aku dan ustaz Afwan saling bertabrakan.
“Afwan!” ucapnya meminta maaf padaku.
“Saya mau lihat Hamzah.”
“Saya mau lihat Hamzah.”
“Dia kayaknya nangis.”
“Sepertinya dia menangis.”
Hening. Entah mengapa kami berbicara serempak. Aku lantas menghentikan langkahku menuju kamar Hamzah.
“Anti, nggak jadi lihat Hamzah?” tanya ustaz Afwan yang kulihat pada saat itu telah menanggalkan atribut ustaznya.
Aku menggeleng cepat. Kemudian berjalan tergesa sambil menunduk menatap lantai menuju kamarku kembali.
Hari demi hari berganti. Hingga kini, tepat tujuh hari sudah aku bekerja sebagai baby sitter bagi Hamzah. Siang itu, sebelum malamnya dokter Deva berangkat kerja, kami menghabiskan waktu saling cerita. Hingga muncul satu pertanyaanku sedari awal berada di rumah ini. Ke mana suami atau ayah dari ustaz Afwan? Tanpa menunda rasa penasaran, aku lantas bertanya.
“Dokter! Boleh saya bertanya satu hal yang mungkin privasi?”
“Boleh. Silakan!” jawab Dokter Deva.
“Suami, Dokter … di mana?”
Kulihat, Dokter Deva tampak terdiam. Ia terlihat sulit menyembunyikan raut wajah sedih itu di wajahnya. Lalu, satu kalimat terucap dari lisannya.
“Beliau … telah wafat. Saat Afwan berusia lima belas tahun.” Aku terdiam cukup lama. Kupandang Dokter Deva yang kini menampilkan senyum getir di wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Namun, segera ia tepis dengan senyum manis di bibirnya.
“Ya, itu sudah sangat lama. Sekarang, beliau in syaa Allah sudah panen pahala dari anaknya.”
Aku tersenyum mendengar kalimat itu. Kemudian meraih tangan Dokter Deva sebagai bentuk dukunganku. Tiba-tiba … Dokter Deva mengucapkan sebuah pernyataan yang membuatku kaget.
“Anakku, Afwan … bukanlah anak kandungku. Melainkan putra sambungku,” jelas Dokter Deva padaku.
“Maa syaa Allah. Tapi saya takjub dengan hubungan Dokter dan ustaz Afwan. Terlihat harmoni,” pujiku seraya menampilkan senyum di balik cadarku.
“Panggil Umi saja, Sayang. Biar kita lebih akrab.”
“Jangan, Dok. Saya jadi segan jika harus seintim itu,” tolakku halus seraya tersenyum canggung.
“Kamu sendiri … bagaimana perjalanan hidupmu?” Pertanyaan itu, membuatku terdiam. Tenggorokanku seolah tercekat. Bibirku kelu dan gemetar. Mataku mulai berkaca-kaca. Tampak dari sudut mataku dokter Deva tengah memerhatikanku serius. Seolah menanti jawabanku.
“A … aku—”
“Tak apa sayang. Kalau jalan hidupmu begitu pahit, tak usah diceritakan, ya.” Dokter Deva menenangkanku. Kemudian meraih tanganku dengan senyuman di wajahnya.
Malam itu, aku menidurkan Hamzah dalam dekapanku. Entah mengapa, anak ini begitu senang tidur dalam dekapan. Mungkin, beginilah cara ibunya dulu dalam menidurkannya semasa ia hidup. Kuperhatikan wajah lugunya. Di balik cerianya Hamzah, aku tahu satu hal … anak ini, sedang merindukan Ibunya.
Saat ia benar-benar telah terlelap, aku lantas menidurkannya di atas kasur. Membelainya lembut, kemudian bersiap keluar kamar. Namun, tiba-tiba … aku melihat ustaz Afwan baru saja kembali dari luar. Mungkin ia baru saja kembali dari mengisi kajian di masjid.
Tanpa sama sekali menoleh padanya, aku lantas berlalu ke dalam kamar. Namun, sebuah suara menghentikan langkahku.
“Maaf ….”
Aku menoleh ke asal suara. Suara Ustaz Afwan.
“Ya, Ustaz?”
“Mulai besok, kamu tidak lagi bekerja di sini.”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?