_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang.
Skip-
Di hari yang sama, sepulang dari rapat OSIS yang begitu melelahkan galih langsung ber istirahat di rumah eyang karena tak ingin diganggu oleh Louis, willy, dan roy di kosannya.
Rumah eyang adalah yang terbaik, galih selalu suka berada disana karena selain lingkungannya yang adem dan asri, disana cukup sepi dan sangat cocok dengan jiwanya yang tenang.
Selain itu sudah pasti galih menyukai kasih sayang kedua kakek neneknya disaat ia berkunjung disana, makanan selalu sedia, makanan kesukaan Galih tak pernah di skip oleh eyang anna.
Untuk sekarang, jam 8 malam galih kembali disibukkan dengan proyek pembuatan lagu barunya dengan tim.
Berjam-jam galih tak pernah absen duduk di depan PC nya, se cinta itu dia pada musik, meski kedua orang tuanya menentang.
" Hem, bagian roy too much adlibs.. coba tukar sama ini."
Ctak.. Ctak..
Ketikan keyboard menjadi saksi bahwa galih sangat bekerja keras dalam proyek musik kali ini. Namun ditengah idenya yang mengalir lancar tiba-tiba eyang anna mengetuk pintu kamar galih.
Tok.. Tok.. Tok..
" Leo, tolong buka pintunya sebentar saja, eyang mau tanya.. penting.." Seru anna dari luar pintu.
Langsung saja Galih bangkit dan membuka pintu untuk eyangnya.
Cklek..
" Tanya apa eyang?" Tanya Galih sekeluarnya.
Eyang anna nampak cemas sehingga membuat Galih heran.
" Kenapa eyang keliatan cemas begitu?"
Anna menggeleng dan berucap. " Di bawah ada bu sela, nanyain putrinya yang belum balik dari sekolahnya dari tadi sampe sekarang."
Hah? kening Galih reflek mengerut.
" Siapa eyang? Si ayya?" Tanya Galih.
Anna mengangguk. " Kamu ga liat ayya tadi pas pulang sekolah, leo?" Tanyanya cemas.
Galih pun menggeleng. " Tadi kayaknya udah pulang sih.. Emang ga ditelfon dulu ayyanya?"
" Udah tadi tapi nomernya ga aktif, ayo leo ikut eyang ke bawah, kasian bu sela khawatir banget." Ajak anna.
Galih pun mengekori eyangnya menaiki lift menuju lantai satu.
Sementara itu-
Di lain tempat ada seorang gadis remaja yang masih memakai seragam sekolah lengkap, ia tengah duduk sembari menunggu keajaiban datang padanya.
" Sial! Udah malem masih aja disini, sendiri di halte, mana hape mati, ojek pada cancel karena banjir gara-gara hujan deres, terus aku kejebak hujan sekarang.
Hmm, coba aja cerita di novel-novel kejadian ke aku sekarang, pas MC lagi ditengah ke chaosan begini tiba-tiba dijemput ML, cowok tampan idola semua cewek, bad boy pula!
Ugh pasti mantep!
Tapi sayangnya di dunia nyata itu hanyalah bualan, mimpi. Apalagi buat seorang NPC gak penting kek aku, hiks..
Ayah, bunda.. Jemput anakmu sekarang sebelum dijemput cogan."
Asbun terus demi mengusir kecemasan disaat hari semakin malam, jalan sepi dari kendaraan berlalu lalang karena hujan rintik yang sangat awet, matanya pun mulai sayup-sayup.
" Jangan tidur ayya! Jaga matamu biar ga merem, kejahatan ga ada yang tau kapan terjadi." Gumamnya waspada.
Tak lama kemudian, dari kejauhan ada satu pemotor yang datang.
Sedangkan ayya sudah putus asa dengan para ojek pengkolan yang ditunggu, kalau memang itu ojek pengkolan ayya sudah malas untuk menggunakan jasanya.
Namun sayang itu bukan, motor retro yang dikendarai oleh pemuda yang cukup tampan berhenti tepat di depan ayya.
Galih menoleh pada ayya, ia menghela lega setelah berputar mengelilingi daerah sekitar sekolah untuk mencari keberadaan ayya.
" Ternyata masih disini, syukurlah ketemu." Gumam Galih.
Namun sayangnya ayya masih belum sadar jika pemuda itu adalah Galih karena wajahnya tertutup helm full face.
Ayya mulai curiga saat melihat pemotor di depannya itu masih menaiki motor sembari memperhatikannya.
" Apasih liat-liat? Nakutin banget, Jangan-jangan dia penjahat, atau pemimpin mafia yang mau nyulik aku?" Gumam ayya menerka.
Sedangkan Galih mulai jengah saat ayya tak menyadari kedatangannya.
" Ayya.!" Seru Galih membuka kaca helmnya.
Ayya pun menyipitkan mata untuk memastikan seruan pemuda itu.
" Ayya, kamu ayya kan?" Tanya Galih membuat ayya seketika terdiam membeku.
" Malah diem?" Gumam Galih, melihat ayya yang masih berdiri di tempat membuatnya terpaksa turun menghampiri ayya.
Tak lupa ia membawa mantel untuk ayya, dan begitu sampai di depannya, Galih langsung menyodorkan mantel itu.
" Kak Galih??" Tanya ayya terkesiap.
" Kenapa masih disini? Kenapa ga hubungin orang rumah mu?" Tanya Galih.
Ayya pun menyatukan alis.
" Hape ku mati setelah beberapa driver grab cancel karena hujan deras, hujannya ga berhenti sampe setengah jam yang lalu dan akhirnya aku kejebak disini, sampe malem.."
Galih tak merespon dan kembali menuju motornya, ia menaiki motor itu dan kembali memanggil ayya.
" Ayo naik di belakang, aku anter pulang sekarang juga."
" Wait, apa?? dianter pulang? a-anu, maaf sebelumnya kak Galih ga perlu repot anter pulang, aku nunggu jemputan ayah aja.."
Galih mendesis menahan sabar, " Ayo naik di belakangku sekarang ayya, aku jemput kamu karena orang tuamu pada cemas anak perempuannya ga pulang dan ga bisa dihubungi."
Hemm, ayya menjadi tak enak sendiri, namun tak ingin membuat Galih kehilangan sabar akhirnya ia memberanikan diri untuk menaiki motor Galih di belakangnya.
" Maaf ya kak jadi ngerepotin banget.." Ucap ayya setelah duduk.
Galih pun menoleh. " Mantelnya ga dipake?"
Ayya menggeleng. " Hujannya ga deras, bajuku juga setengah basah."
Tanpa meresponnya lagi Galih menghidupkan motornya, menarik gas motor hingga derapan mesinnya itu menggaung di seluruh jalanan.
sungguh membuat hati ayya tak baik-baik saja, dan ia semakin dibuat jantungan saat Galih langsung menarik pedal gas hingga saat itu juga tubuhnya seakan melayang karena kecepatan Galih melajukan motornya.
Namun ayya panik, ia sangat takut dan bingung harus menjaga keseimbangan disaat yang sama.
" Kak galih? Jangan ngebut ngebut plis, jalanan licin kak.." Peringat ayya.
Tak ada respon, motornya pun masih dalam kecepatan laju yang sama sehingga membuat ayya kelimpungan untuk mencari pegangan tangan.
" Ya tuhan, aku harus pegang kemana? kalo ga pegangan bisa jatuh." Gumam ayya panik.
Sejak awal ayya berpegangan di belakang, namun begitu brutalnya Galih mengendarai motor hingga saat ada motor lain tiba-tiba keluar dari gang, Galih langsung nge rem dadakan.
Cyiiit..!
Motor Galih hampir menabrak dump truck yang terparkir di pinggir jalan.
Sedangkan ayya mulai gemetar, ia terkejut saat kedua tangannya memegang erat pundak Galih sehingga reflek ia melepaskan saat itu juga.
" Ah Tuhan! jadi awkward banget sih.." Gerutu ayya lirih.
Galih acuh dan kembali lanjut mengendarai motor nya dengan gila. entah apa yang ada dipikiran Galih sehingga membuatnya menjadi valentino rossi dalam semalam.
Di tengah laju kencang ayya merasa perih di lututnya.
" Aw.. Kak, lututku perih, kak Galih bisa pelan? aku mau periksa kakiku sebentar." Pinta ayya memohon.
Namun bukannya memelankan lajunya, Galih malah menggeram kesal.
" Kamu bisa diem ga?" Tanyanya menoleh.
" Maaf kak.."
Ayya pun terdiam, namun ia rasa moment ini sangat buruk terlebih saat ayya menyadari jika Galih memperlakukannya dingin sejak awal.
Melajukan motor dengan kencang dan tak mengindahkan permintaan ayya sama dengan Galih tak peduli dengan perasaannya yang sangat takut.
Tak lama kemudian sampai di depan pelataran rumahnya, Galih tak berucap kata apapun, ia hanya menunggu ayya untuk bergerak turun lebih dulu.
Kemudian Galih turun untuk langsung menyerahkan ayya pada kedua orang tuanya yang tengah cemas menunggu di ruang tamu.
" Temui orang tuamu di dalem." Ucap Galih mendahului ayya.
Ayya pun berjalan menuju teras dengan tertatih, pintu utama terbuka menghadirkan kedua orang tua ayya yang sudah menyambutnya dengan panik.
" Ayyaaa.. Kamu kemana aja sih naaak? ayah sama bunda khawatir banget, jangan begini lagi.. Kamu ga apa kan? apa ada yang terluka?" Tanya sela memeriksa keadaan ayya.
Ayya sontak menggeleng sembari menyembunyikan sakit di sekitar kakinya, tanpa berlama-lama di luar radit langsung menyuruhnya masuk ke dalam.
Usai tugasnya selesai, Galih pun berpamitan pada mereka.
" Terimakasih banyak ya nak leo, maaf sangat merepotkan di larut malam ini, maafin ayya juga ya nak.."
Galih menggeleng cepat. " Nggak tan, nggak apa-apa, nggak ada yang direpotkan kok, ya sudah saya pamit dulu om radit, tante sela.."
Begitu sampai di motornya lagi, Galih mengerutkan kening saat melihat sebuah inhaler di bawah motornya.
Galih langsung meraihnya, ia perhatikan inhaler berwarna pink pastel itu dan berpikir siapa yang menjatuhkan barang tersebut?
" Punya ayya kah?" Gumam Galih.
Ya, Galih yakin itu punya ayya karena pernah dengar jika ayya punya riwayat sakit sesak nafas.
_