Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Satu Darah, Dua Takdir
Dunia ini penuh dengan teka-teki yang tidak masuk akal. Salah satunya adalah tentang rahim seorang ibu. Dari rahim yang sama, bisa lahir sebutir mutiara yang berkilau dan sebongkah batu hitam yang dingin.
Bei Yixuan.
Jika ada orang yang mampu merangkum kehangatan musim semi ke dalam sebilah pedang, orang itu adalah dia. Sebagai putra sulung penguasa kerajaan Hua Gu, namanya adalah jaminan bagi ketenangan. Ia ramah seperti angin pagi, cerdas seperti cahaya bintang, dan seni bela dirinya? Bukan sekedar gerakan, melainkan sebuah puisi yang di tulis dengan darah musuh-musuhnya. Baginya, pedang adalah alat untuk melindungi, bukan menyakiti.
Namun, di balik cahaya yang terang, bayangan selalu mengintai.
Bei Haotian.
Ia adalah bayangan itu. Jika kakaknya adalah matahari, maka Haotian adalah malam yang tidak berbintang. Kelahirannya mungkin sama, namun di dalam dadanya tidak ada detak jantung yang hangat, melainkan desisan ular yang licik. Baginya, kekuasaan bukan untuk di jaga, melainkan untuk di rampas. Sifatnya jahat bukan karena ia ingin, tapi karena ia merasa itulah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kegelapan bisa menelan cahaya.
Hari itu, salju turun di paviliun kerajaan, namun suasana di dalamnya lebih dingin dari pada di luar sana.
Bei Yixuan berdiri membelakangi adiknya, menatap lukisan yang baru saja ia selesaikan. "ada jenis minuman yang jika kau minum terlalu banyak akan membuatmu mabuk," ucap Yixuan pelan, suaranya setenang air di telaga tua. " Dan ada jenis ambisi yang jika kau peluk terlalu erat akan membakar dirimu sendiri."
Di belakangnya, di sebuah kursi berukir bunga-bunga indah, Bei Haotian hanya tersenyum. Senyumnya tipis, setajam mata pisau yang baru di asah.
"Kakakku yang bijak," sahut Haotian sambil memainkan cangkir giok di tangannya. "Dunia ini tidak butuh terlalu banyak orang baik. Langit sudah terlalu penuh dengan cahaya, sesekali butuh sedikit kegelapan agar orang-orang tahu artinya rasa takut."
Yixuan tidak berbalik. Ia tahu, meskipun mereka berbagi darah yang sama, jalan di depan mereka telah bercabang. Satu menuju puncak gunung yang suci, yang lain menuju jurang yang tak mendasar.
"Jika suatu hari kau harus menghunuskan pedangmu ke arahku," bisik Yixuan, "pastikan pedangmu lebih cepat dari rasa penyesalanmu."
Haotian tertawa kecil, suara tawa yang kering. "penyesalan adalah makanan bagi orang-orang lemah, kakak. Dan kau tahu pasti...aku tidak pernah merasa lapar."
Yixuan mendesah pelan. "Orang-orang tak bersalah yang kau korbankan, nyawa yang kau cabut tanpa kedip, keluarga yang hancur karena tipu muslihatmu...apakah kau pikir semua darah itu bisa di hapus hanya dengan mencuci tangan di baskom emas?"
Ia berbalik, matanya menatap tajam, namun bukan tatapan penuh kebencian, namun tatapan penuh kesedihan mendalam.
"Dunia ini tidak seperti yang kau kira, Haotian. apa yang kau lakukan, akan berbalik menyerangmu kemudian."
Haotian bangkit dari kursinya. Langkah kakinya tidak terdengar, seolah ia berjalan di atas udara. Ia berhenti tepat di depan kakaknya.
"Menyerangku?, apakah kau tidak tahu dengan statusku saat ini?, dan juga aku bukan pria lemah yang tak bisa melindungi diri sendiri."
Haotian mundur selangkah. Tangannya bergerak secepat kilat, dan tiba-tiba sebilah pisau pendek sudah menari di antara jemarinya.
"Kau melihat kota di bawah sana?" ujarnya sambil menunjuk ke arah jendela paviliun. "Dengan benda kecil ini, aku bisa mengubah hiruk-pikuk itu menjadi keheningan kuburan dalam hitungan detik. Dan semua ini...berkat Paman Im."
Ia mulai memperagakan keahliannya. Itu bukan sekedar teknik bela diri, itu adalah tarian maut yang memukau mata. Pisau yang semula hanya satu, tiba-tiba membelah diri. Dua, empat, delapan...hingga udara di sekitar Haotian seolah di penuhi oleh kilatan logam yang dingin. Entah dari mana pisau-pisau itu berasal, namun setiap bilahnya seolah memiliki nyawa sendiri, haus akan kehangatan darah.
Yixuan memperhatikan kilatan-kilatan itu tanpa gemetar sedikit pun. Ia tidak bergeser satu inci pun dari pijakannya, meski desing logam itu hanya seujung rambut dari kulitnya.
"Cukup indah" ucapannya pelan. Namun, ada sesuatu yang berubah dari matanya, kilatannya lebih tajam dari pedang mana pun, seolah ia sedang menatap lelucon yang membosankan. "Tapi...keahlian kecil ini hanya seperti mainan anak-anak di hari festival."
Tepat saat kata terakhir jatuh dari bibirnya, Yixuan mengayunkan lengannya. Itu adalah sebuah gerakan tunggal yang sederhana, namun mengandung kepastian yang mutlak.
prank!
...****************...