Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba menyelam lebih dalam.
Malam semakin larut, lampu ruang tengah Rumah Bayu menyala terang, dari luar terlihat bayangan pergerakan manusia yang masih beraktifitas.
Bayu sedang mempersiapkan langkah selanjutnya.
ia mulai duduk di meja kerjanya, kedua matanya menatap layar laptop, gerakan tangan mengetik pada papan ketik, terlihat sangat cepat, tak pernah ia tunjukkan kelihaian seperti ini sebelumnya pada seseorang.
Kali ini ia lakukan dengan cepat.
Mencoba mengorek informasi, memeriksa data bes keuangan, meretas Cctv.
Dua jam lebih ia kerjakan, matanya tetap terkunci pada layar yang bersinar redup di depan, "jalur keuangan ini banyak kejanggalan", gumamnya pelan, sudut bibirnya mulai terangkat sedikit.
Ada kepuasan diraut wajahnya.
Setelahnya ia kembali melihat pada cctv yang ia retas, melihat satu persatu, mengepause, melihat sampai selesai, lalu mengulang kembali.
Pikirannya bergerak, seluruh video itu seperti potongan pazel yang terpecah.
Bayu terdiam, kedua tangannya memegangi kepalanya, pikirannya mulai buntu, "sial gak ada satu pun petunjuk dalam video ini" ucapnya sambil menggeram.
Malam berganti pagi, namun bukan benar-benar pagi, hanya tanggal di ponsel yang telah berganti dari tanggal empat menjadi tanggal lima.
Bayu masih duduk terdiam diatas sofa di depan meja kerjanya.
malam ini sangat melelahkan baginya, yang jelas bagi pikiran yang bekerja keras didalam otaknya.
Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, "gak kusangka... Bakal sesulit ini mencari petunjuk".
Ia mulai memejamkan matanya, namun pikirannya tetap berputar-putar tanpa ia ingin melakukannya, potongan demi potongan video itu muncul kembali.
"Baik lah, jika memang tak ada petunjuk dalam video, berarti aku harus menyelam secara langsung", katanya bicara sendiri, berdiri dari tempat duduknya, menutup laptop lalu berjalan menuju kamarnya.
.............
Pagi telah datang.
Sinar matahari menembus cendela kaca gedung-gedung UJ elit yang berdiri kokoh menjulang tinggi.
Kendaraan di parkiran sudah berjejer rapi, para mahasiswa terlihat berlalu-lalang berjalan disetiap koridor, dihalaman, dan di tangga.
Aktifitas sehari-hari yang selalu tampak biasa.
Bayu melangkah ringan dari parkiran mobil menuju gedung fakultas, langkahnya sama seperti hari-hari sebelumnya, namun hari ini sesekali bayu melirik dan menyapu sekitar, mencari petunjuk.
Dari tangga indah berdiri bersandar di pagar pembatas gedung lantai dua. Ia langsung menoleh ketika Bayu berjalan menuju kearahnya.
"Pagi", kata indah.
Bayu menghentikan langkahnya, matanya menyapu kearah sekitar, seolah sedang mencari seseorang yang mungkin hadir secara tiba-tiba.
"Pagi", jawab Bayu datang melangkah semakin mendekat.
"Maaf tentang hari itu" lanjut indah tanpa ada senyum diraut wajahnya.
"Kenapa harus minta maaf" tanya Bayu.
"Gak apa-apa, mungkin kejadian kemarin sudah mengganggumu" jawab indah sekali lagi.
"Tak masalah," jawab Bayu sekali lagi.
"Tapi, kejadian gak seperti yang kamu pikirkan", jelasnya lagi.
"Gak masalah", jawab Bayu lagi, kali ini sambil tersenyum.
Namun dari belakang Bayu, Anita berjalan mendekati mereka berdua.
"Pagi..." Sapa Anita.
Bayu menoleh, lalu tersenyum.
"Pagi" jawab Indah sambil menatap ragu-ragu.
"Gimana masakan ibuku kemarin?", tanya Anita menoleh pada Bayu.
Senyum Bayu semakin lebar, dan mengangkat kedua jempolnya.
Anita membalas dengan senyum hangat.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Bayu kearah Anita.
"Baik," jawab Anita, tatapannya tenang sangat jelas terpancar aura kedewasaannya.
Indah hanya bisa menatap canggung kearah mereka berdua. Entah mengapa rasa sakit dihatinya tak bisa ia redam lagi.
"Aku duluan ya" kata Bayu pada indah, lalu berjalan bersama Anita, walau tak bergandengan tangan, namun kedekatan mereka sangat terlihat jelas.
Indah tak melepas pandangannya dari mereka berdua, ketika keduanya telah menjauh, pandangan matanya berubah menyipit, "jadi mereka udah sedekat ini" gumamnya sambil mendengus pelan.
Riuh para mahasiswa siswa masih terdengar jelas, berbagai percakapan, bahkan ada juga yang sambil berlarian.
"Kamu udah berapa lama kerja disini?" Tanya Bayu sambil berjalan.
"Baru satu tahun, kenapa?" Kata Anita bertanya.
"Hmmm... Gak papa..." Lanjut Bayu sambil menggeleng.
Keduanya tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika Pak Karim seorang dekan fakultas datang mencegat mereka berdua.
"Bu Anita, apakah sudah mempersiapkan perkembangan program kecerdasan buatannya?", tanya pak Karim, tatapannya menunjukkan keseriusan.
Anita terdiam, sesaat kemudian menghembuskan nafas pelan, "saya mohon beri waktu sedikit lagi pak, saya usahakan tiga hari lagi selesai" jawabnya pelan.
"Anda sudah berkali-kali memohon, dan ini sudah kesempatan terakhir, aku harap anda tidak mengecewakan kami" jawab pak Karim pergi begitu saja, tampak jelas dari raut wajahnya yang memerah memendam kemarahan... Pergi begitu saja.
Bayu melirik tajam, "Ada masalah?" Tanyanya.
Anita mengangguk pelan, "sebenarnya ada masalah di pendanaan, tapi..." Anita ragu.
"Jika ada masalah di pendanaan, harusnya kan tinggal bilang" potong Bayu.
"Gak semudah itu.." jelas Anita kelopak matanya Melayu.
"Aku bisa membantu" jawab Bayu datar.
"Emang kamu bisa?",
"Bisa, bahkan jika pendanaannya lancar, aku bisa sampai membentuk robot Ai" jawab Bayu ringan.
"Jangan sembarangan, serius dikit lah".
"Aku serius", jelas Bayu sekali lagi, kali ini dengan tatapan tajam.
Anita terdiam, tatapannya mengunci kedua mata Bayu.
Terdiam begitu lama tanpa ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Ia sekali lagi mengambil napas berat dan menghembuskan dengan serampangan.
"Baiklah... Aku akan bicarakan tentang ini pada LPPM" lanjut Anita.
Bayu tersenyum, "mungkin dengan cara ini aku bisa menyelam lebih dalam", pikirnya.
..........
Kelas suda penuh para mahasiswa ketika Bayu masuk.
Langkahnya pelan namun pasti, kemudian duduk di tempat biasa, namun kali ini Indah tak lagi duduk disampingnya.
Pintu dibuka, Dekan Karim memasuki ruang kelas itu, para mahasiswa seketika terdiam.
Atmosfir dalam ruangan sangat terasa berat.
"Kali ini aku yang membimbing kalian, Bu Anita tidak bisa masuk untuk sementara" kata pak Karim yang sedang berdiri di depan.
Bayu hanya bisa menatap kedepan, "apa karna program itu?" Gumamnya pelan.
"Saya dapat kabar, katanya ada salahsatu siswa jenius disini yang dapat mengembangkan kecerdasan buatan, saya ingin menguji apa kabar itu benar, apa hanya omong besar belaka", katanya, matanya menatap kearah mahasiswa dan melirik pada Bayu, lirikan tajam dan picik.
Bayu bersandar pada kursi, kedua lengannya ia lipat di dada, seolah tak mendengarkan kata-kata itu, duduk santai tanpa menjawab dan berkomentar.
Sedang para mahasiswa dan mahasiswi, mereka saling memandang satu sama lain.
"Siapa?"
"Siapa yang sok?"
"Entahlah"
"Sok banget... Dan berani"
Kata mereka saling bertanya satu sama lain.
"Kamu kedepan" kata pak Karim menunjuk Bayu. Kata itu jatuh, seketika keributan yang sedari tadi riuh kini berganti tanpa suara.
Bunyi ketukan dimeja terdengar jelas, seperti seorang yang sedang menghitung, pelan dengan ritme.
Ketukan itu datang dari tangan Bayu, sedang tatapan matanya berubah serius menatap kedepan. "Orang ini membuat masalah, baiklah jika kamu ingin mempermalukan ku, aku akan lebih mempermalukanmu," gumamnya mengangkat sudut bibirnya.
Bayu berdiri hendak maju kedepan, namun langkah itu berhenti ketika mendengar sebuah komentar datang dari belakang.
"Jangan maju, jangan permalukan dirimu sendiri", kata Angga meledek.
"Ia benar, jika kamu memang jenis ngapain jadi mahasiswa, langsung jadi Dosen sana" sahut salah satu mahasiswa yang ada di dalam ruangan.
"Benar-benar, cepat minta maaf", lanjut yang lain.
Indah yang duduk di sudut pojok paling depan menoleh pada Bayu, "cepatlah minta maaf bahwa klaimmu gak bener" katanya pelan namun sangat jelas ditelinga Bayu.
Bayu menanggapi hanya dengan tersenyum datar, melanjutkan langkahnya kedepan.
"Anak ini nekat juga" pikir pak Karim.
"Hai Bodoh.... Jangan permalukan diri sendiri" teriak Angga lagi.
Senyum pak Karim semakin lebar.
Bayu kembali berhenti, lalu menoleh kebelakang, tatapannya tajam, menunjuk pada Angga dengan jari membentuk sebuah pistol tembakan. "Boom" gumamnya pelan, berbalik dan melanjutkan berjalan menuruni tangga kedepan.
Kali ini indah hanya bisa bergumam, "Bodoh... Ai itu sangat berbeda dengan main saham".
"Biarin aja, nanti juga malu sendiri" sahut teman sebangkunya seorang gadis rambut berponi panjang sebahu.
Langkah Bayu berhenti di depan para mahasiswa yang sedari tadi sedang menertawakan kebodohannya.
Senyum pak Karim semakin lebar, "sebelum kamu menjawab, aku ingin mengetahui dulu sejauh mana kamu mengetahui tentang Ai?" Tanya pak Karim, tatapan lurus kearah Bayu.
"Boleh saja" kata Bayu datar.
"Silahkan jelaskan" lanjut pak Karim.
"Ai yang sekarang memang gak sempurna, jika ditanya tentang berita yang paling update kadang salah, jika diperintah menulis terlalu kaku dan bahkan gak tepat cara memakai kosakatanya." Jelas Bayu datar.
Pak Karim terdiam, "lanjutkan" katanya.
"Bukan tentang itu saja... Masih banyak kelemahan yang lain, dan aku bisa menyempurnakan bahkan bisa mirip seperti manusia" lanjut Bayu lagi, ucapan itu ringan, namun terdengar sangat bodoh dan tak meyakinkan bagi yang lain.
"Jangan konyol, coba jelaskan gimana cara mengembangkannya" teriak Angga yang duduk paling belakang.
Pak Karim kembali tersenyum lebar.
"Aku gak bisa menjelaskan disini" lanjut Bayu.
Para mahasiswa semakin tertawa keras.
"Jika kamu gak bisa menjelaskan, akui saja bahwa kamu hanya berbohong dan cepat minta maaf" teriak Angga lagi.
Bayu terdiam.
"Jadi.... Sekarang apa kamu mau mengakui bahwa dirimu memang gak bisa dan mau meminta maaf?" Kata pak Karim, kali ini tatapan mata itu berubah sangat tajam seperti mata tombak yang baru di asah.
Bayu tersenyum, "enggak juga" katanya.
"Jika demikian, cepat jelaskan, jangan bertele-tele", kata pak Karim semakin mendesak.
Dari belakang Angga tersenyum lebar.
Sedang dari pojok depan Indah menggelengkan kepalanya.
Ruangan itu kembali terisi penuh tawa mengejek, namun di depan sebagai pembimbing pak Karim seolah menikmati momen ini, senyumnya semakin melebar dan giginya sampai terlihat.
........
Bersambung.