Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krisis Likuiditas
Arlan Valeska berdiri mematung di balik meja mahoninya yang luas, menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka merah menyala. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat tipis, seolah pendingin ruangan yang paling mahal sekalipun tidak mampu menghilangkan hawa panas kegelisahan. Aroma wiski murah dari gelas yang dibiarkan terbuka bercampur dengan bau kertas laporan yang berserakan.
Ponselnya bergetar di atas meja, mengejutkan syaraf-syarafnya yang sudah berada di ambang batas ketegangan. Ia segera menyambar perangkat itu, berharap ada kabar baik dari salah satu kolega perbankannya. Namun, nama yang muncul di layar justru membuatnya merasa mual karena ketakutan yang mendalam.
"Selamat pagi, Tuan Valeska. Saya baru saja menutup telepon dari Direktur Bank Central Neovault," ujar suara di seberang sana dengan nada sangat formal.
"Apa yang dia katakan? Prosedur pinjaman darurat kita sudah masuk ke tahap pencairan, bukan?" tanya Arlan dengan nada suara yang bergetar.
Hening sejenak di ujung telepon, sebuah kesunyian yang terasa seperti hukuman mati bagi Arlan yang sedang menunggu jawaban. "Mereka secara resmi menangguhkan permohonan kita, Tuan. Reputasi perusahaan yang digerogoti pergerakan 'V' membuat risiko gagal bayar kita dianggap terlalu tinggi."
"Bagaimana bisa? Mereka tahu siapa aku! Neovault adalah penopang ekonomi kota ini!" teriak Arlan sambil memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Masalahnya bukan hanya pada skandal limbah itu, Tuan. Ada laporan intelijen keuangan yang masuk ke meja mereka pagi ini tentang arus kas kita yang bocor," lapor asistennya.
Arlan memutuskan sambungan telepon dengan kasar, kemarahan yang meluap-luap membuat matanya merah dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia tahu betul siapa yang berada di balik semua ini, sosok misterius berinisial "V" yang terus menghantuinya dari bayang-bayang. Setiap langkah yang ia ambil seolah-olah sudah diprediksi dan dipatahkan sebelum sempat dieksekusi.
"Kurang ajar! Siapa sebenarnya dia? Bagaimana dia bisa tahu setiap sudut kelemahan finansialku?" geram Arlan sambil mondar-mandir di ruangannya.
Ia mendekat ke jendela kaca besar, menatap ke arah distrik Rust yang tampak kumuh di kejauhan, tempat di mana Asha seharusnya membusuk di dasar sungai. Pikiran itu membuatnya merasa tidak nyaman, sebuah getaran aneh merambat di punggungnya setiap kali ia teringat suara dingin V di panggilan telepon sebelumnya.
Pintu kantornya terbuka kasar, Elena masuk dengan wajah yang pucat dan langkah kaki yang sangat terburu-buru. "Arlan! Bank baru saja membekukan kartu kredit pribadiku dan aset operasional untuk butik! Apa yang terjadi dengan keuangan kita?"
Arlan berbalik dengan tatapan yang sangat tajam, menatap Elena seolah wanita itu adalah penyebab utama semua kehancuran ini. "Kau masih bertanya apa yang terjadi? Uang jutaan dolar yang kau buang untuk properti palsu itu telah menghancurkan rasio likuiditas kita!"
"Tapi itu bukan salahku sepenuhnya! Kau yang memberiku akses ke dana cadangan itu!" Elena membalas dengan teriakan yang melengking.
"Tutup mulutmu! Sekarang pergilah dan jangan biarkan aku melihat wajahmu sampai aku menemukan cara untuk mendapatkan pinjaman baru!" bentak Arlan.
Elena terisak pelan, namun ia segera keluar dari ruangan itu setelah melihat kilat kemarahan yang membahayakan di mata suaminya. Arlan kembali ke kursinya, menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan yang dingin dan lembap. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang mengerut, mengurungnya dalam sebuah kotak yang semakin lama semakin kecil.
Di sisi lain kota, di dalam sebuah apartemen yang dipenuhi dengan layar monitor yang berkedip, V mengamati grafik likuiditas Neovault. Ia melihat dengan kepuasan yang sunyi bagaimana arus kas perusahaan Arlan perlahan-lahan mengering hingga mencapai titik kritis. Bau kopi hitam yang pekat memenuhi ruangan yang remang-remang itu, menjadi teman setianya dalam setiap rencana.
"Arlan baru saja ditolak oleh bank ketiga pagi ini, Paman. Dia sekarang benar-benar terpojok tanpa ada jalan keluar," ujar V dengan nada rendah.
Nelayan tua di sampingnya memeriksa log transaksi perbankan yang baru saja mereka sabotase melalui peretas bayangan. "Krisis likuiditas ini akan memaksa dewan direksi untuk mengambil tindakan ekstrem besok pagi. Arlan tidak punya cukup uang bahkan untuk membayar gaji karyawan bulan ini."
"Itulah rencananya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan martabat karena tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan," sahut V.
V menyentuh bekas luka bakar di bahunya, sebuah pengingat fisik yang selalu membakar semangat balas dendamnya setiap kali ia merasa lelah. Ia telah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menanamkan benih keraguan di hati para investor, membuat reputasi Arlan hancur secara perlahan. Kini, pohon kehancuran itu sudah mulai berbuah pahit bagi pria yang pernah ia cintai.
"Apakah kau akan memberinya sedikit napas agar dia tidak benar-benar mati terlalu cepat?" tanya nelayan tua itu dengan nada selidik.
V menggelengkan kepala, senyumnya kali ini terasa sangat tipis namun mematikan seperti bilah pisau yang baru saja diasah. "Bernapas adalah kemewahan yang tidak pantas dia dapatkan. Aku ingin dia merayap di tanah, memohon pada setiap pintu bank yang telah aku kunci."
Kembali di menara Neovault, Arlan mencoba menghubungi mantan rekan bisnisnya yang dulu pernah ia khianati demi mendapatkan posisi puncak. Namun, setiap panggilan yang ia lakukan berakhir dengan penolakan yang dingin atau bahkan tawa mengejek yang merendahkan harga dirinya. Ia menyadari bahwa di dunia bisnis, tidak ada teman sejati, yang ada hanyalah hiu yang menunggu untuk memangsa yang sedang terluka.
"Halo, Tuan Prasetya? Saya butuh bantuan jangka pendek untuk menutupi selisih modal kerja perusahaan kami," Arlan mencoba berbicara dengan nada sopan.
"Maaf, Arlan. Saya mendengar kabar bahwa asetmu sudah tidak memiliki jaminan yang cukup kuat lagi. Hubungi saya jika kau sudah menjual menara itu," jawab suara di telepon sebelum memutus sambungan.
Arlan melemparkan ponselnya ke arah sofa kulit di seberang meja, napasnya tersengal-sengal karena amarah yang tidak tersalurkan. Ia merasa dikepung oleh musuh yang tidak terlihat, namun kehadirannya terasa nyata di setiap inci gedung yang ia bangun. Reputasi Neovault yang dulu perkasa kini hanyalah tumpukan kartu yang siap roboh oleh satu sentuhan kecil.
"V ... siapa pun kau, kau akan membayar semua ini dengan nyawamu!" teriak Arlan ke arah ruangan yang hampa.
Namun, hanya suara gema dari teriakannya sendiri yang menyahut, menciptakan suasana yang semakin suram di ruangan mewah tersebut. Arlan tidak menyadari bahwa di balik dinding-dinding kaca kantornya, ada kamera yang sedang mentransmisikan setiap keputusasaannya kepada musuh utamanya. V sedang menikmati setiap detik penderitaan mental yang dialami oleh sang penguasa Neovault yang jatuh.
"Waktu terus berjalan, Arlan. Dan likuiditasmu adalah pasir di jam pasir yang hampir habis," bisik V sambil mematikan monitor utamanya.
Malam itu, Neovault Metropolis tetap gemerlap dengan lampu-lampu neonnya, namun di dalam pusat kekuasaannya, sebuah keruntuhan sedang terjadi. Arlan Valeska terjepit dalam krisis yang paling mengerikan dalam hidupnya, di mana uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan oksigen yang sedang dicabut paksa. Dan di dalam kegelapan, V sudah menyiapkan jebakan terakhir yang akan membuat Arlan berlutut sepenuhnya.
"Besok pagi, aku akan melihatnya hancur berkeping-keping," gumam V pelan sebelum ia beranjak dari kursinya.
Bau hujan mulai turun membasahi jendela apartemennya, membawa kesegaran yang kontras dengan kekacauan yang ia ciptakan di pusat kota. Krisis likuiditas ini hanyalah permulaan dari akhir sejarah Arlan Valeska di bawah kendali identitas baru yang disebut "V". Rencana besar itu telah mencapai puncaknya, dan tidak ada yang bisa menghentikan arus balas dendam yang sudah meluap.
"Tidurlah yang nyenyak, Arlan, karena besok kau akan terbangun di neraka finansial yang kau bangun sendiri," batin V dengan dingin.
Keesokan harinya, pasar saham dibuka dengan berita tentang penolakan pinjaman massal terhadap Neovault, membuat harga sahamnya jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Arlan Valeska duduk terdiam di kantornya, menatap ke arah pintu yang sebentar lagi akan diketuk oleh dewan direksi untuk meminta pertanggungjawabannya. Krisis itu sudah mencapai puncaknya, dan penyelamat yang ia harapkan justru adalah orang yang paling menginginkan kehancurannya.