Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Arkana mengusap wajahnya kasar, frustrasi memuncak dalam dirinya. Matanya memerah, menatap nanar ke arah jalanan yang ramai di depan mini market. Bagaimana bisa wanita itu menghilang begitu saja? Seolah ditelan bumi.
"Sial!" umpatnya geram. Ia menendang kaleng minuman yang tergeletak di dekatnya, melampiaskan kekesalannya.
Devano hanya bisa menghela napas melihat sahabatnya yang sudah di ambang batas kesabaran. Ia tahu betul bagaimana perasaan Arkana saat ini. Kehilangan Alexie adalah pukulan berat bagi pria itu, terutama setelah tragedi yang menimpa keluarganya.
"Ar, tenang. Kita pasti bisa menemukannya," ucap Devano berusaha menenangkan. Ia meletakkan tangannya di bahu Arkana, memberikan dukungan.
Arkana menepis tangan Devano dengan kasar. "Bagaimana bisa tenang, Dev? Alexie hilang! Dia mungkin dalam bahaya!"
Devano mengerti, tapi ia juga tahu bahwa Arkana tidak akan bisa berpikir jernih jika terus dikuasai emosi. "Gue tahu lo khawatir, tapi kalau lo terus kayak gini, kita nggak akan bisa nemuin Alexie. Kita harus tenang dan berpikir logis."
Arkana terdiam, mencoba mengatur napasnya. Ia tahu Devano benar, tapi rasanya sulit untuk tetap tenang saat keponakannya dalam bahaya.
"Oke, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arkana dengan suara yang lebih tenang.
Devano berpikir sejenak. "Kita periksa CCTV di sekitar mini market. Mungkin kita bisa melihat ke mana wanita itu pergi."
Arkana mengangguk setuju. "Ayo."
Mereka berdua masuk kembali ke dalam mini market dan menemui kepala toko. Dengan menunjukkan kartu identitas dan sedikit penjelasan, mereka berhasil mendapatkan izin untuk melihat rekaman CCTV.
Mereka berdua terpaku di depan layar monitor, memperhatikan dengan seksama setiap detail rekaman CCTV. Mereka melihat wanita dengan hoodie kebesaran itu masuk ke dalam mini market, berbelanja, dan kemudian menghilang di lorong belakang.
"Lihat itu!" seru Devano tiba-tiba, menunjuk ke arah layar. "Dia keluar dari pintu belakang."
Arkana mendekat, memperhatikan dengan seksama. Benar, wanita itu keluar dari pintu belakang, membawa bayi dan diikuti oleh seekor kucing putih.
"Kita periksa area sekitar pintu belakang," perintah Arkana dengan nada tegas.
Mereka berdua keluar dari mini market dan menuju ke lorong belakang. Lorong itu sempit dan penuh dengan tumpukan kardus bekas. Aroma sampah dan pesing menusuk hidung.
"Bau banget di sini," keluh Devano sambil menutup hidungnya.
Arkana tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong, mencari petunjuk. Ia menemukan beberapa jejak kaki di tanah yang berdebu, tapi tidak ada yang istimewa.
"Ar, lihat ini!" seru Devano lagi, menunjuk ke arah sebuah kardus yang terbuka. "Ada bekas tapak kaki kucing di sini."
Arkana mendekat dan melihat bekas tapak kaki kucing di atas kardus. Ia ingat, wanita itu diikuti oleh seekor kucing putih.
"Sepertinya mereka bersembunyi di sini," gumam Arkana.
Mereka berdua memeriksa setiap sudut lorong, mencari petunjuk lain. Namun, mereka tidak menemukan apa pun. Wanita itu benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Sial! Kita kehilangan jejaknya," umpat Arkana frustrasi. Ia memukul dinding dengan keras, melampiaskan kekesalannya.
Devano menepuk bahu Arkana. "Jangan nyerah, Ar. Kita pasti bisa menemukannya. Kita coba cari informasi di sekitar sini. Mungkin ada yang melihat wanita itu."
Arkana mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keraguan. Ia tahu, mencari Alexie tidak akan mudah. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menemukan keponakannya itu, apapun yang terjadi.
Mereka berdua keluar dari lorong dan mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar mini market. Mereka menunjukkan foto wanita dengan hoodie kebesaran dan bayi bertopi biru muda, berharap ada yang mengenalinya.
Namun, hasilnya nihil. Tidak ada yang melihat wanita itu. Seolah ia hanya bayangan yang menghilang ditelan keramaian kota Jakarta.
Arkana menghela napas panjang, putus asa mulai menghantuinya. Apakah ia akan berhasil menemukan Alexie? Apakah ia akan bisa memenuhi janjinya pada mendiang kakaknya?
Ia menatap langit Jakarta yang mulai gelap. Bayangan malam semakin panjang, menutupi harapan yang mulai menipis.
Namun, di dalam hatinya, masih ada setitik api yang menyala. Api tekad untuk menemukan Alexie, api cinta kepada keponakannya yang telah menjadi yatim piatu. Ia tidak akan membiarkan api itu padam. Ia akan terus mencari, sampai ia menemukan Alexie.
"Kita tidak akan menyerah, Dev," ucap Arkana dengan nada tegas. "Kita akan menemukan Alexie."
Devano mengangguk setuju. "Gue selalu ada di samping lo, Ar. Kita akan menghadapi ini bersama-sama."
Mereka berdua berjalan pergi dari mini market, meninggalkan lorong belakang yang gelap dan sunyi. Mereka tidak tahu ke mana harus mencari, tapi mereka tahu, mereka tidak akan berhenti. Mereka akan terus mencari, sampai mereka menemukan bayangan yang menghilang itu.
Bersambung ....
Jaga ksehatan y, Adeq & kami tunggu Up slnjtx ❤️🤗😘
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus