NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11. Do'a dari mbak Kasir

Berada di dalam kamar yang masih terasa asing sepanjang siang, ternyata menjadi siksaan tersendiri bagi Habibah. Kamar kontrakan itu terasa terlalu sunyi, sementara pikirannya justru terlalu bising. Alih-alih mengusir lemas, duduk diam di tepi ranjang malah membuat bayangan pembicaraannya dengan Imam di dekat jemuran tadi terus berputar di kepalanya.

"Lebih baik aku menyibukkan diri," gumam Habibah pada diri sendiri.

Ia bangkit, mengambil buku catatan kecil dan bolpoin dari dalam tasnya. Habibah melangkah keluar kamar menuju meja makan mungil di dapur, mencoba bersikap biasa saja. Ia mulai memeriksa isi kulkas dan lemari penyimpanan darurat yang dibawa dari rumah lama.

Jemari Habibah lincah menuliskan beberapa daftar di kertas dari minyak goreng, telur, gula, kopi... Ia sempat tertegun saat menulis kata 'kopi'. Iseng, ia membuka toples kopi yang dibawa Ameera kemarin, isinya tinggal sedikit.

Imam yang sejak tadi duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka di pangkuannya, berpura-pura memeriksa e-mail pekerjaan yang diabaikannya langsung menegakkan punggung begitu mendengar gemerisik kertas dan langkah kaki Habibah. Matanya tidak lepas dari sosok anggun yang kini sedang serius mencatat sambil sesekali mengetuk-ngetuk bolpoin ke dagunya.

Aroma cendana lembut kembali mendekat. Imam menutup laptopnya, meletakkannya di sofa, lalu berjalan menghampiri area dapur.

"Mau ke mana, Bah? Kelihatannya sibuk sekali mencatat," tanya Imam lembut begitu jarak mereka hanya tersisa dua langkah di dekat meja makan.

Habibah sedikit tersentak, namun buru-buru menguasai diri dan merapikan buku catatannya. "Eh, ini, Mas... aku lihat stok dapur banyak yang kurang. Garam habis, minyak tinggal sedikit, kopi juga mau habis. Makanya aku niat mau ke minimarket yang ada di ujung jalan, atau sekalian ke pasar tradisional di dekat sini kalau tidak terlalu jauh."

Imam melirik kertas catatan di tangan Habibah, lalu beralih menatap mata wanita itu dengan binar yang sulit diartikan. Sebuah senyum tipis terukir di wajah paruh bayanya.

"Pasarnya lumayan jauh kalau jalan kaki, Bah, sekitar satu kilo dari sini. Jalannya juga menanjak," ujar Imam, nadanya sengaja dibuat penuh perhatian. Ia langsung meraba saku celananya, mengeluarkan kunci mobil. "Ayo, aku antar."

Habibah langsung menggeleng cepat, kepanikan kecil melanda dirinya. "Tidak usah, Mas! Tidak perlu repot-repot. Aku bisa naik angkot atau ojek yang ada di perempatan jalan saja. Lagipula, kan anak-anak bilang kalau siang kita..."

"Anak-anak bilang kalau siang kita bebas dengan urusan masing-masing, kan?" potong Imam cerdik, selorohnya terdengar sedikit jenaka namun penuh penekanan. "Nah, urusanku siang ini adalah memastikan calon besanku tidak kelelahan memanggul belanjaan sendirian. Ayo, jangan menolak, Bah. Ini demi kebutuhan rumah kita bersama juga, kan?"

Habibah tertegun. Kata "rumah kita bersama" yang diucapkan Imam terdengar begitu manis sekaligus berbahaya. Di bawah tatapan Imam yang mengunci pandangannya, Habibah kehilangan kata-kata untuk membantah. Jantungnya kembali berdegup kencang, meruntuhkan kebosanan yang ia rasakan sejak tadi, digantikan oleh debaran lemas yang kini terasa semakin familiar.

Mengingat lingkungan kontrakan baru ini masih terasa sangat asing baginya, Habibah akhirnya terpaksa menurunkan ego pertahanannya. Berkeliling sendirian di daerah yang belum ia hafal, tentu bukan pilihan bijak di siang bolong begini.

"Ya sudah kalau begitu, Mas. Maaf ya, jadi merepotkan," cicit Habibah pelan, sambil buru-buru memasukkan buku catatan dan dompetnya ke dalam tas jinjing.

Imam tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang berhasil membuat suasana hatinya yang mendung sejak semalam mendadak cerah seketika. "Sama sekali tidak merepotkan, Bah. Sebentar, aku ambil kunci mobil dan dompet dulu di kamar."

*

*

Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam milik Imam sudah membelah jalanan komplek yang cukup lengang. Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh embusan AC, keheningan yang tercipta terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam, melainkan ada getaran manis yang tak kasat mata di antara mereka berdua.

Habibah duduk di kursi penumpang samping kemudi. Pandangannya lurus menatap jalanan di depan, namun jemarinya meremas tali tasnya dengan gugup.

Aroma parfum cendana Imam yang maskulin memenuhi kabin mobil, bercampur dengan keheningan yang intim. Entah mengapa, atmosfer di dalam mobil ini terasa begitu familiar. Ingatan mereka berdua serasa ditarik paksa ke masa tiga puluh tahun lalu, saat Imam sesekali membonceng Habibah menggunakan motor tua pinjaman milik temannya untuk sekadar mencari buku bekas.

Sekarang, mereka duduk berdampingan di dalam mobil yang nyaman. Jika ada orang asing yang melihat mereka dari luar, siapa pun pasti akan mengira mereka adalah sepasang suami istri paruh baya yang sedang harmonis pergi berbelanja bulanan bersama di hari Minggu.

‘Kayak suami istri ya…’ Pikiran keliaran itu mendadak melintas di kepala Habibah, membuatnya reflek menggigit bibir bawahnya sendiri. Wajahnya seketika merona merah. Habibah merutuki hatinya yang mendadak bertingkah genit seperti remaja belasan tahun. ‘Astagfirullah, Habibah... ingat, kalian itu calon besan!’ batinnya menjerit, mencoba mengembalikan kewarasan.

Imam, yang fokus menyetir, sesekali melirik ke arah kiri. Ia menyadari kegugupan Habibah dan juga semburat merah di pipi wanita itu yang tampak sangat manis di usianya yang sekarang.

Saat mobil harus berhenti di lampu merah yang cukup lama, Imam memajukan tubuhnya sedikit ke arah kiri. Habibah menahan napas, badannya menegang mengira Imam akan melakukan sesuatu. Namun, Imam hanya mengulurkan tangan untuk menurunkan tuas penahan silau matahari atau sun visor, di sisi depan Habibah agar wajah wanita itu tidak kepanasan terkena terik matahari siang yang menembus kaca depan.

"Silau, Bah. Nanti kepalamu pusing lagi," ujar Imam lembut, suaranya terdengar sangat casual namun penuh perhatian yang tulus.

Habibah menelan ludah, dadanya bergemuruh hebat sampai-sampai ia merasa tenaganya menguap entah ke mana. "I-iya, Mas. Terima kasih."

Imam kembali memegang kemudi saat lampu berubah hijau, namun senyum tipis tidak lepas dari sudut bibirnya. Di dalam hatinya, Imam mengamini pikiran rahasia yang mungkin juga dipikirkan Habibah: berada di dalam mobil ini, hanya berdua tanpa bayang-bayang anak-anak, membuat Imam merasa seolah-olah ia sedang menjalani kehidupan rumah tangga impian yang dulu sempat dirampas paksa dari genggaman mereka.

*

*

Sesampainya di swalayan, suasana mendadak terasa jauh lebih mendebarkan bagi mereka berdua. Imam dengan sigap mengambil sebuah troli besi, lalu berjalan di samping Habibah dengan langkah santai, sementara Habibah berjalan sambil memegang buku catatan kecilnya dengan jemari yang masih agak gemetar.

Mereka melangkah menyusuri lorong demi lorong belanjaan. Di antara deretan rak tinggi dan ramainya pengunjung lain, dunia seolah menyusut hanya milik mereka berdua.

"Pertama apa dulu yang mau dicari, Bah?" tanya Imam, menundukkan kepalanya sedikit agar suaranya terdengar jelas di tengah bisingnya musik swalayan.

"Minyak goreng dan bumbu dapur dulu, Mas. Di lorong sebelah sana," jawab Habibah pelan, menunjuk ke arah kanan.

Saat tiba di bagian minyak goreng, Habibah berjinjit sedikit untuk menjangkau botol minyak berukuran dua liter yang berada di rak paling atas. Melihat itu, Imam langsung melangkah maju mendekat hingga punggung Habibah hampir bersentuhan dengan dada tegapnya. Imam mengulurkan tangannya yang panjang, dengan mudah mengambil botol minyak tersebut lalu memasukkannya ke dalam troli.

"Kalau butuh yang tinggi-tinggi, bilang aku, Bah. Jangan dipaksa," bisik Imam tepat di dekat telinga Habibah. Embusan napas hangat Imam membuat tengkuk Habibah meremang. Jantungnya berdegup gila-gilaan, membuat lututnya terasa semakin lemas.

Skenario belanja ini benar-benar menjelma menjadi jebakan memori. Saat tiba di lorong minuman dan sarapan, Habibah berhenti di depan deretan toples kopi. Tanpa sadar, jemarinya terulur mengambil sebungkus kopi bubuk hitam tanpa ampas dengan merek legendaris yang kemasannya masih tradisional.

Imam yang melihat hal itu langsung tertegun. Matanya menghangat. "Kamu... masih ingat merek kopi kesukaanku, Bah?"

Habibah tersentak, baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Wajahnya seketika memerah sempurna seperti kepiting rebus. "Eh? Ini... ini aku... aku cuma asal ambil, Mas. Kebetulan ini yang paling depan," kilah Habibah gugup, berniat mengembalikan bungkus kopi itu ke rak dengan tangan gemetar.

Namun, tangan Imam bergerak cepat menahan pergelangan tangan Habibah. Sentuhan itu hangat dan kokoh. "Jangan dikembalikan. Tolong masukkan ke troli. Aku memang tidak pernah mengganti merek kopi hitamku sejak tiga puluh tahun lalu, Bah. Sama seperti rasaku yang tidak pernah berganti."

Deg.

Habibah menahan napas, buru-buru menarik tangannya dengan canggung lalu berjalan mendahului Imam ke lorong berikutnya demi menyembunyikan air matanya yang nyaris menetes karena haru sekaligus takut.

Tidak mau kalah, saat berada di bagian buah-buahan, gantian Imam yang beraksi. Tanpa bertanya pada Habibah, Imam langsung memasukkan beberapa butir buah melon hijau yang sudah matang ke dalam plastik, lalu menimbangnya.

"Mas Imam suka melon?" tanya Habibah mencoba mencairkan kecanggungan.

Imam menatap Habibah dengan tatapan dalam yang mengunci jiwa. "Bukan aku yang suka, tapi kamu, Bah. Dulu kamu selalu bilang, kalau sedang pusing atau lelah, makan buah melon dingin bisa membuat hatimu tenang lagi, kan? Makanya aku belikan ini untuk persediaan di kulkas ."

Habibah membeku di tempatnya berdiri. Dadanya sesak oleh rasa bahagia yang membuncah sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat. Pria di hadapannya ini... bagaimana bisa ia menyimpan setiap detail kecil tentang dirinya selama puluhan tahun terpisah?

Puncak dari segala debaran siang itu terjadi saat mereka mengantri di depan kasir. Imam berdiri tepat di belakang Habibah, menjaga jarak agar tubuh wanita itu tidak tersenggol oleh antrian pengunjung lain yang mulai padat.

Saat tiba giliran mereka, kasir swalayan seorang wanita muda dengan ramah menyapa sambil sibuk memindai kode batang barang-barang belanjaan mereka.

"Ada kartu anggotanya, Bu?" tanya kasir itu manis.

"Oh, tidak ada, Mbak," jawab Habibah.

Saat total harga muncul di layar, Imam langsung mengeluarkan dompet kulitnya, menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke hadapan kasir sebelum Habibah sempat mengeluarkan dompet kainnya sendiri.

"Ini, Mbak. Pas ya," ujar Imam tegas.

Melihat kekompakan dan gestur protektif Imam sepanjang proses pembayaran, sang kasir tersenyum hangat sambil menyerahkan kantong belanjaan besar kepada Imam.

"Ini belanjaannya, Pak. Wah, ibunya beruntung sekali ya, suaminya pengertian dan romantis sekali, mau menemani belanja bulanan di hari libur begini. Semoga langgeng terus ya, Pak, Bu, sampai kakek-nenek," puji kasir itu tulus tanpa tahu latar belakang mereka.

Uhuk!

Habibah nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk merapikan tas jinjingnya padahal wajahnya sudah matang menahan malu dan salah tingkah yang luar biasa.

Sementara Imam? Pria paruh baya itu justru tidak membantah ucapan sang kasir. Ia hanya tersenyum lebar, menerima kantong belanjaan dengan dada membusung bangga.

"Terima kasih atas doanya, Mbak," jawab Imam santai, melirik Habibah yang sudah berjalan cepat-cepat keluar dari area kasir karena sudah tidak sanggup menahan rasa lemas di sekujur tubuhnya, akibat serangan debaran jantung yang bertubi-tubi sejak tadi siang.

*****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!